
Seminggu telah berlalu, luka Ayu pun telah berangsur pulih, Ayu merasa lega karena dokter melakukan yang terbaik untuk wajahnya.
Saat di rumah, Ayu dan Dimas bergantian menjaga Via. Ikatan Via juga sudah dilepas karena mereka merasa tidak sanggup jika harus berlama-lama mengikat Via.
Kondisi Via saat ini belum ada perubahan bahkan seperti orang linglung.
Via hanya diam termangu dengan tatapan mata yang kosong.
“Mas coba telepon bapak lagi,” pinta Ayu.
“Ya sudah, biar Mas coba hubungi bapak lagi,” sahut Dimas sambil membuka ponselnya.
Dimas kembali menghubungi Kuncoro, teleponnya tersambung namun tidak pernah diangkat.
‘Ada apa dengan bapak, sudah seminggu aku menghubungi tapi tidak pernah di angkat,' batin Dimas.
Dimas pun pergi menghampiri istrinya, “Gak diangkat,” ucap Dimas.
“Ada apa ya sama bapak,” ucap Ayu yang merasa khawatir.
Ayu mengambil ponselnya lalu terus menggulir layar ponselnya hingga ia berhenti di sebuah nama kontak yang ada di ponselnya.
Ayu mulai menghubungi kontak tersebut berharap mendapat informasi tentang Kuncoro.
Telepon akhirnya tersambung dan beberapa detik kemudian telepon Ayu diangkat.
“Halo Aldi,” ucap Ayu di telepon.
“Iya mbak ada apa?” tanya Aldi.
“Kamu sekarang di mana?” tanya Ayu.
“Di rumah mbak,” sahutnya.
“Bapak sehat? Soalnya Mas Dimas telepon bapak tapi gak pernah diangkat,” ucap Ayu.
“Bapak sehat. Hp bapak layarnya rusak Mbak gelap semua, kemarin mau dibenerin tapi tukang service nya belum balik dari kota,” sahut Aldi.
“Astagfirullah pantas saja, kasih HP mu ke bapak Di, mbak mau ngomong sama bapak,” pinta Ayu.
“Sebentar mbak.”
Beberapa menit kemudian terdengar suara pria paruh baya dari balik telepon.
“Halo Yu,” ucap Kuncoro.
“Ya Allah Pak, Ayu kira Bapak itu kenapa gak angkat telepon dari Mas Dimas,” ucap Ayu.
“HP Bapak rusak gara-gara HP-nya jatuh dari tangga. Ada apa Yu?”
“Pak masih ingat makhluk yang ada di lukisan itu?” tanya Ayu.
“Iya Bapak ingat, tapi kenapa kamu tanya masalah itu?” tanya Kuncoro.
“Sekarang Via Pak. Via yang jadi korbannya,” ucap Ayu.
“Astagfirullah, kok bisa bukannya lukisan itu sudah di buang?”
__ADS_1
“Ceritanya panjang Pak, Ayu gak bisa ceritakan ini di telepon.”
“Ya sudah besok Bapak berangkat ke sana.”
“Jangan. Biar kami yang datang ke sana Pak, Ayu hanya ingin mengabari saja,” sahut Ayu.
“Ya sudah kalian kapan mau berangkat?”
“Besok Pak, kami mungin lewat darat saja karena kalau naik pesawat takutnya akan menganggu penumpang lain.”
“Berarti kalian harus berangkat pagi-pagi biar tidak terlalu malam sampainya.”
“Baik Pak, kalau begitu terima kasih pak. Assalamualaikum.”
“Walaikumsalan.”
Telepon pun di tutup, Ayu berjalan menuju kamarnya untuk mengemasi semua barang yang di perlukan.
“Sayang apa Via akan aman jika kita bawa dia dengan mobil? Karena perjalanan kita cukup jauh,” ucap Dimas.
“Biar aku yang menjaganya Mas di kursi belakang,” sahut Ayu.
“Gak. Kondisi kamu belum pulih sayang,” sahut Dimas.
“Aku tahu siapa orang yang tepat untuk kita pintai bantuan,” sambung Dimas.
“Siapa Mas?”
“Wisnu, aku akan mengajaknya untuk menjaga Via di kursi belakang.”
“Aku gak mau repotin orang Mas.”
Dimas pun mengirim pesan singkat kepada Wisnu.
‘Wisnu besok sebelum sholat subuh kami akan berangkat untuk mengobati Via, bisa kamu ikut dan bawa lukisan itu juga,' tulis Dimas di pesan.
Di tempat lain Wisnu yang tengah menerima pesan dari Dimas pun bingung kenapa harus membawa lukisan itu, terlebih lagi lukisan itu sudah ia buang.
Wisnu pun iseng menanyakan masalah lukisan itu kepada salah satu karyawan hotel. Ia meminta kepadanya untuk memeriksa lantai dua.
Tidak lama ia mendapatkan kabar jika lukisan itu masih terpajang rapi.
Tanpa pikir panjang Winsu yang saat itu masih berada di rumah Darma pun langsung tancap gas menuju hotel untuk mengambil dan membawa lukisan itu bersamanya.
Sesampainya di hotel Wisnu langsung mengambil lalu memasukkan lukisan itu ke dalam mobilnya dan melaju menuju rumah Via.
Sesampainya di depan rumah Via, Wisnu langsung mengetuk pintu rumah.
“Om ... Tante ini saya Wisnu,” ucapnya.
Tidak lama terlihat Dimas membukakan pintu.
“Loh om kan bilangnya besok,” ucap Dimas.
“Om saya nginap di sini boleh ya, biar sekalian berangatnya langsung bareng,” ucap Wisnu.
“Ya sudah kamu masuk dulu.”
__ADS_1
Wisnu pun masuk ke dalam sambil menenteng lukisan itu.
“Om buat apa lukisan ini, bukannya ini biang masalahnya?” tanya Wisnu.
“Dulu waktu istri saya mengalami hal yang sama, jiwanya yang asli masuk ke dalam lukisan ini.”
“Jadi ini semacam pertukaran jiwa?” tanya Wisnu.
“Ya bisa dibilang begitu,” sahut Dimas.
“Tapi semakin lama lukisan ini semakin aneh, sebelumnya saya udah membuang lukisan ini jauh dari kota. Tapi tadi pagi lukisan itu kembali dengan sendirinya,” ucap Wisnu.
“Saya tidak heran, bagaimana pun kamu berusaha memusnahkannya dia akan semakin membuatmu celaka,” ucap Dimas.
“Tapi Om, selama saya yang mencoba memusnahkannya hal itu tidak berlaku di saya. Saya tidak pernah mengalami hal aneh sedikit pun,” ucap Wisnu.
“Tapi ... Saat saya menyuruh seseorang untuk memusnahkannya malah oarng itu yang celaka,” sambung Wisnu.
Mendengar penjelasan Wisnu, Dimas menemukan titik terang dari masalah lukisan pembawa bencana itu.
“Sepertinya tidak salah saya meminta kamu untuk ikut,” ucap Dimas.
“Saya akan melakukan apa pun itu asal bisa membantu Om dan Tante. Ini sebagai bentuk permintaan maaf saya juga,” sahut Wisnu.
Waktu terus berjalan hingga malam hari pukul 19.30, Ayu, Dimas dan juga Wisnu duduk bersama di meja makan untuk makan malam.
Sebelumnya Ayu sudah menyuapi Via untuk makan malam.
Di meja makan mereka membahas tentang perjalanan yang akan di lalui besok.
“Wisnu perjalanan kita cukup jauh, kurang lebih 18 jam,” ucap Ayu.
“Memangnya kita akan pergi kemana tante?” tanya Wisnu.
“Desa Gunung Sari, tempat tinggal bapak saya,” sahut Ayu.
“Oh iya, saya sempat dengar cerita dari Om Dimas kalau yang menyembuhkan Tante dulu itu adalah bapak Tante,” sahut Wisnu.
“Iya, itu sebabnya kami membawa Via ke sana,” sahut Ayu.
Makan malam pun selesai, Wisnu dan semua orang masuk ke dalam kamar masing-masing. Kebetulan kamar Wisnu bersebelahan dengan kamar Via.
Saat pukul 01.00 tepat, ia mendengar suara-suara dari kamar Via.
Suara seperti wanita sedang berbicara, “Aku membenci pernikahan yang bahagia! Mereka harus hancur!”
Karena penasaran Wisnu akhirnya mendekatkan telinganya ke dinding kamar.
Saat itu Wisnu mendengar Via menangis.
Dengan cepat Wisnu keluar kamar dan membuka kunci kamar Via yang masih terpasang di pintu.
Saat Wisnu membuka pintu, terlihat Via masih tertidur dengan nyenyak.
Wisnu pun kembali menutup pintu lalu mengunci ya kembali.
Wisnu pun kembali ke dalam kamarnya.
__ADS_1
‘Tadi yang ngomong terus nangis siapa?’ batin Wisnu.
‘Dan apa itu penyebab hantu dalam lukisan itu menyimpan dendam?’ gumam Wisnu.