Kembalinya Si Gaun Merah

Kembalinya Si Gaun Merah
Wanita itu Meninggal


__ADS_3

Pukul 16.10 sore, Via bersiap untuk pulang, para karyawan shift ke-2 pun mulai berdatangan untuk mengambil seragam.


“Mas Ari saya pulang dulu ya,” ucap Via sembari memasukkan seragam kotornya ke dalam keranjang.


“Siap Bu,” sahut Ari.


Ari adalah staf linen yang mendapat giliran shift ke-2.


Via berjalan menuju pintu lift dan turun ke area basemen, Via masuk ke dalam mobil dan melaju menuju rumahnya.


Hingga ia sampai di rumah, saat itu ia melihat sebuah mobil BMW hitam terparkir di dalam garasi rumahnya.


‘Ayah udah pulang rupanya,' batin Via.


Via masuk ke dalam rumah, saat masuk terlihat Dias tengah menikmati secangkir teh di temani dengan pisang goreng.


“Ayah,” ucap Via sambil mencium punggung tangan Dimas.


“Gimana kerjaan kamu hari ini?” tanya Dimas.


“Alhamdulillah lancar Yah, hanya ada sedikit kendala aja.”


“Ya sudah kamu mandi dulu sana, Bunda kamu sebentar lagi selesai masak,” ucap Dimas.


“Siap bos.”


Via berjalan masuk ke dalam kamar dan menarik handuknya yang tergantung di atas pintu.


Via pun masuk ke dalam kamar mandi, saat berada di kamar mandi ia mendengar ponselnya terus berdering.


‘Siapa sih yang telpon, gak tahu apa orang lagi mandi,' Via bermonolog.


Usai mandi dan berganti pakaian Via langsung merogoh tasnya untuk mengambil ponsel yang sejak tadi terus berdering.


Saat dilihat terdapat 8 panggilan tak terjawab oleh nomor yang sama.


‘Siapa nih? Kayanya penting. Aku coba telpon balik deh,' Via bernomolog.


Telepon pun terhubung dan diangkat, terdengar suara pria di balik telepon tersebut.


“Halo,” ucapnya di balik telepon.


“Maaf, ini siapa ya?” tanya Via.


“Ini saya, tamu kamar 304.”


“Oh bapak, saya kira siapa. Bagaimana pak ke adaan istrinya?” tanya Via.


Terdengar sedikit hening sejenak, samar-samar Via mendengar pria itu seperti menahan tangisnya.


“Halo pak?” ucap Via sekali lagi.


“Istri saya meninggal bu.”


Mendnegar hal itu Via terduduk di atas kasurnya, seakan tidak percaya dengan apa yang ia dengar.


“Bapak serius?” 


“Untuk apa saya bohong, saya sudah laporkan masalah ini ke polisi saya tidak terima jika istri saya harus meninggal dengan cara seperti ini. Saya akan tuntut hotel kalian!” bentaknya.

__ADS_1


Telepon langsung di putus oleh pria itu, Via terperangah tidak percaya.


Dengan cepat Via menghubungi Wisnu yang saat itu juga naik ke lantai 3 bersamanya.


Hanya dalam hitungan detik telepon Via tersambung dan diangkat oleh Wisnu.


“Halo Via ada apa?” tanya Wisnu dalam telepon.


“Ada yang ingin aku kasih tahu ke kamu,” ucap Via.


“Apaan kayaknya penting banget, masalah hotel?”


“Ya itu juga termasuk. Kamu ingat wanita yang di tantai 3 kan?”


“Iya. Yang pingsan terus hidung berdarah itu kan?” sahut Wisnu.


“Iya. Dia meninggal.”


“Hah? Kamu serius jangan becanda dong Via.”


“Aku serius, barusan aku dapat telpon dari suaminya.”


Wisnu pun terdiam sejenak, terdengar dari balik telepon dia seperti menghela nafas.


“Oke ... Lalu dia bilang apa?”


“Dia mau usut kasus ini dan menuntut pihak hotel.”


“Ya sudah. Aku bakalan minta bukti rekaman CCTV sama operator. Lagian dia gak bisa juga tuntut kita toh gak ada bukti kongkret yang nunjukin itu kesalahan kita.”


“Tapi ... Ini bisa bikin nama baik hotel kita jadi tercoreng,” sahut Via.


“Masalah itu biar aku yang urus, mau gak mau kamu harus kasih tahu room boy yang saat itu tugas di lantai 3. Pastinya dia bakalan di jadikan saksi.”


Via menutup teleponnya, lalu mencoba mengabarkan hal tersebut kepada Ronald melalui pesan singkat.


Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu.


Tok tok.


“Via,” ucap suara itu.


“Iya bunda masuk aja,” sahut Via.


Ayu membuka pintu, “Via ayo kita makan malam, ayah kamu sudah nungguin,” ajak Ayu.


Via beranjak dari kasurnya dan berjalan berdua bersama Ayu menuju meja makan.


Via duduk di meja makan dan mengambil makanannya, saat di meja makan Via terlihat tidak bersemangat hal itu membuat Dimas penasaran.


“Kenapa gak enak ya?” tanya Dimas.


Via menggeleng, “Gak kok Yah,” sahut Via.


“Lalu kenapa makananya gak dimakan? Lagi mikirin kerjaan ya?” tanya Dimas lagi.


“Iya Yah, salah satu tamu di hotel ada yang meninggal.”


“Innalillahi wainnailaihi rojiun,” ucap Ayu.

__ADS_1


“Kok bisa?”


“Via juga gak tahu kronologinya gimana, pokoknya saat Via sama Wisnu cek CCTV ibu itu tingkahnya aneh lalu teriak terus tiba-tiba terpental ke dinding dengan sendirinya.”


Mendengar hal tersebut Ayu seperti teringat akan suatu kejadian yang menimpanya dulu.


“Ayah yakin kamu bisa melewati ini,” ucap Dimas.


Via tersenyum dan menganggukkan kepalanyanya. Via pun melanjutkan makan malam lalu kembali masuk ke dalam kamar.


Waktu sudah menunjukkan pukul 22.00, mata Via juga mulai terasa berat.


Hingga tanpa sadar Via tertidur lelap di atas kasur empuknya itu.


Waktu terus berjalan, suara dari jarum jam yang bergerak pun terdengar jelas.


Semua orang sudah terlelap dan masuk ke alam mimpi, termasuk Via.


Kali ini Via bermimpi ia melihat dirinya sendiri saat masih berusia 7 tahun, berjalan sendirian di sebuah taman hingga ada seorang wanita cantik bergaun merah memanggilnya.


‘Wanita itu ... Dia mirip dengan yang ada di lukisan,' batin Via.


Via terus mengikuti mereka berdua, tiba-tiba wanita itu berhenti dan membalikkan badannya.


Saat itu wajah cantik wanita itu berubah dengan wajah dan tubuh penuh darah, mulutnya menganga lalu menyeringai ke arah Via.


Via berteriak dan langsung terbangun dari mimpinya itu.


Dengan jantung yang masih berpacu dan tangan yang gemetar Via cepat-cepat menyalakan lampu kamarnya.


‘Tadi itu apa?’ Via bermonolog.


“Untungnya cuma mimpi, tapi rasanya nyata banget,” ucapnya.


Karena sudah terbangun dan tidak bisa tidur lagi, Via memutuskan untuk membuka ponsel dan menonton video yang ada di media sosial agar bisa kembali tertidur.


Kurang lebih 30 menit Via langsung tertidur dan terlelap sampai pagi hari.


Pukul 06.00 tepat alarm yang ada di ponsel Via berdering sangat nyaring hingga membangunkannya.


Dengan mata yang terlihat sayu, Via beranjak dari kasurnya dan pergi ke kamar mandi.


Usai mandi dan berpakian, Via berjalan menuju meja makan untuk sekedar mengisi perutnya.


Via menyedih secangkir teh dan memakan selembar roti dengan selai.


Via melihat ke arah jam tangannya.


‘Udah jam 7 aja, perasaan aku baru duduk,' Via bermonolog.


Tidak lama Ayu datang menghampiri Via yang tengah buru-buru mengunyah rotinya.


“Makannya pelan-pelan,” ucap Ayu.


“Ayah belum bangun Bun?”


“Belum, Ayah kamu tadi malam begadang karena kerjaanya belum selesai,” ucap Ayu.


Via berdiri dan menghampiri Ayu. “Bun, Via berangkat ya,” ucapnya sambil mencium punggung tangan Ayu.

__ADS_1


“Iya hati-hati jangan ngebut kalau bawa mobil.”


Via pun berjalan ke garasi dan masuk ke dalam mobil. Mobil melaju menuju hotel.


__ADS_2