Kembalinya Si Gaun Merah

Kembalinya Si Gaun Merah
Tersesat di alam gaib


__ADS_3

“Ayu musnahkan lukisan itu!” pinta Kuncoro.


Dengan cepat Ayu menginjak lukisan itu lalu mematik sebuah korek api. Sambil menatap ke arah Via Ayu membakar lukisan itu.


“Musnahlah kamu!” teriak Ayu.


Api dengan cepat membakar lukisan tersebut, seketika Via berteriak kepanasan. 


Via meronta-ronta hingga ikatan tali itu terlepas.


Via langsung menyerang Ayu dengan membabi buta, Via menginjak kobaran api yang memakan sebagian lukisan itu dengan mudahnya tanpa merasakan apa pun.


Celana panjang yang saat itu Via kenakan pun ikut terbakar, beruntung api itu tidak menghanguskan kakinya karena api di celana jeanz panjang itu langsung mati karena pergerakan Via.


Via menjambak kepala Ayu lalu membenturkannya ke kaca jendela rumah Kuncoro hingga kaca itu pecah.


Semua orang panik, Dimas berusaha memegangi tubuh Via sedangkan Aldi adik dari Ayu itu membangunkan Ayu dan membawanya ke samping Kuncoro.


Via mengerang tak karuan.


“Om sepertinya kita harus membuat Via pingsan agar dia tidak mengamuk,” ucap Wisnu.


Sambil meminta maaf kepada Via, Wisnu memukul keras bagian tengkuk Via hingga Via terjatuh dan tak sadarkan diri.


Tubuh Via diangkat dan di bawa masuk kembali ke dalam kamar dengan kaki dan tangan yang terikat.


Sementara itu Ayu kembali mendapatkan luka di wajah dan kepalanya akibat terkena pecahan kaca.


“Aldi cepat ambilkan kotak obat,” pinta Kuncoro.


Aldi dengan cepat mengambil kotak P3K, Kuncoro langsung mengobati luka yang dialami oleh Ayu.


“Untung lukanya tidak serius,” ucap Kuncoro.


Ayu meringis menahan sakit dan perih, hingga luka Ayu selesai di obati.


“Sebaiknya kalian istirahat, masalah Via biar Bapak yang urus,” ucap Kuncoro.


Ayu dan Dimas pun masuk ke dalam kamar yang sudah di sediakan sebelumnya oleh Kuncoro.


“Kamu istirahat saja Nak Wisnu,” pinta Kuncoro yang melihat Wisni masih duduk di sofa.


“Nanti saja Pak, saya belum mengantuk juga,” sahut Wisnu.


Kuncoro pun menemani Wisnu duduk dan meminta Aldi untuk membuatkan kopi untuk mereka.


Saat duduk, mereka mengobrol serta membahas masalah leluhur Wisnu.


“Sepertinya kamu dilindungi oleh leluhurmu, dan energinya sangat tinggi,” ucap Kuncoro.


“Saya tidak mengeri sama sekali tentang hal seperti itu Pak,” ucap Wisnu.


“Tidak apa, kelak lambat laun kamu akan tahu dan paham,” sahut Kuncoro.


“Pak. Apakah Via bisa benar-benar sembuh?” tanya Wisnu.

__ADS_1


“Entahlah. Kita hanya bisa berdoa saja.” 


“Apa dulu tante Ayu juga seperti ini?” 


“Tidak sebrutal ini. Tapi sepertinya wanita itu semakin kuat karena dendam yang begitu besar dia bisa menjadi seperti ini.”


“Apa bisa kita lakukan negoisasi dengannya pak?” tanya Wisnu.


“Saya rasa dia tidak akan bisa, tapi jika Nak Wisnu mau mencoba silahkan saja. Karena pada dasarnya kita dan dia sama, sama-sama makhluk ciptaan Allah,” tutur Kuncoro.


Tidak lama Aldi datang membawakan dua gelas kopi hitam.


“Silahkan diminum,” ucap Kuncoro.


Tanpa pikir panjang Wisnu langsung menenggak kopi yang masih mengeluarkan uap itu sampai habis.


“Astaga Mas itu masih panas banget kopinya,” ucap Aldi yang terkejut.


“Hah? Saya gak tahu,” sahut Wisnu.


“Tidak apa. Yang minum juga bukan dia,” ucap Kuncoro kepada Aldi.


Aldi yang merasa bingung hanya bisa menggaruk kepalanya. 


“Gimana rasanya Mas?” tanya Aldi kepada Wisnu.


“Rasanya kaya minum air,” sahut Wisnu.


Kuncoro hanya tersenyum simpul mendengar sahutan dari Wisnu.


“Tak saya sangka saya akan kedatangan tamu yang seperti ini,” ucap Kuncoro.


“Huss! Ndak sopan tanya-tanya orang begitu!” tegur Kuncoro kepada Aldi.


“Aldi cuma penasaran saja Pak.”


“Bukan. Saya rekan kerjanya saja,” sahut Wisnu.


“Tapi suka kan?” tanya Kuncoro.


Wisnu hanya tersenyum malu tanpa membalas ucapan Kuncoro, obrolan mereka semakin mengasyikkan hingga malam semakin larut.


“Sudah malam, lebih baik Nak Wisnu istirahat,” ucap Kuncoro.


“Baik Pak. Kebetulan saya sudah mengantuk,” sahut Wisnu.


“Saya permisi tidur duluan ya Pak,” sambungnya


“Silahkan Nak Wisnu.”


Saat Wisnu masuk ke dalam kamar yang sudah di sediakan, Kuncoro berdiri di depan pintu kamar Via. 


Ia meletakkan telapak tangannya ke arah pintu kamar Via lalu membaca mantra, sedangkan Aldi membersihakan sisa-sisa pembakaran dari lukisan tersebut.


‘Sementara aku hanya bisa memagarinya dari luar. Semoga wanita itu tidak bisa masuk,' batin Kuncoro.

__ADS_1


Setelah melakukan pemagaran, Kuncoro masuk ke dalam kamarnya, semua orang pun tertidur lelap apalagi Ayu dan Dimas yang terlihat lelap karena kelelahan.


Pukul 03:00 pagi, di kamar Via.


Via terbangun, ia membuka matanya seraya melihat ke sekeliling ruangan. Ia menarik tangannya dan ternyata telah di ikat.


“Aku dimana? Kok tempatnya beda? Dan kenapa aku diikat?” ucap Via yang bertanya-tanya.


‘Apa aku lagi di culik?’ batin Via.


Rupanya Via tersadar, namun saat tersadar ia malah berada di tempat lain.


“Ayah ... Bunda.” 


“Bunda,” teriak Via.


Via berada di sebuah ruangan gelap tanpa penerangan namun ia masih bisa melihat seisi ruangan itu.


“Aku dimana? Bunda?”


Via terus memanggil Ayu dan juga Dimas.


Rupanya Via bukan sedang berada di kamar rumah Kuncoro melainkan si sebuah tempat yang tidak dapat di tembus oleh siapa pun.


“Dingin, dingin banget,” ucap Via sembari mengigil.


Ikatan tangan serta di kaki Via tiba-tiba terlepas dengan sendirinya. Via menyusuri seluruh tempat tersebut.


‘Aku kenapa bisa ada di tempat aneh seperti ini?’ batin Via.


Via terus menyusuri tempat tersebut, semakin jauh Via berjalan tempat itu semakin gelap serta berkabut.


Di samping kanan kirinya terdapat banyak ruangan tanpa pintu, Via bisa dengan leluasa melihat setiap isinya.


Karena penasaran Via masuk ke dalam sebuah Ruangan dengan perlahan, disana ia melihat segerombolan wanita berpakaian putih melayang-layang sambil tertawa cekikikkan.


Wajahnya pucat ada juga yang hancur serta penuh darah namun tidak ada satu pun dari mereka yang menghiraukan Via.


Karena takut, Via keluar dari tempat itu lalu terus berjalan menyusuri jalan.


Ada banyak makhluk yang Via lihat, di setiap tempat memiliki jenis makhluk yang berbeda.


‘Apa ini alam makhluk halus yang sebenarnya?’ batin Via.


Via terus berjalan lurus, semakin dalam hawanya semakin dingin dan mencekam. Ada perasaan aneh yang Via rasakan.


Ia tiba-tiba merasakan perasaan sedih, putus asa, depresi, tertekan hingga hampir membuatnya menangis. 


Semua perasaan itu tiba-tiba muncul begitu saja ketika Via terus berjalan masuk ke dalam.


Hingga Via menemukan seorang wanita memakai gaun berwarna putih, wajah wanita itu begitu pucat.


Ia menangis sembari duduk memeluk lututnya.


Via pun penasaran dan menghampiri wanita itu.

__ADS_1


“Kamu kenapa?” tanya Via.


“Aku tidak bisa pulang. Aku ingin pulang,” ucapnya sambil menangis.


__ADS_2