Kembalinya Si Gaun Merah

Kembalinya Si Gaun Merah
Korban Si Gaun Merah


__ADS_3

Sesampainya di rumah sakit Ayu langsung di tangani oleh dokter serta beberapa perawat.


Luka menganga itu di bersihkan lalu langsung di lakukan penjahitan.


Ayu meringis kesakitan, perih dan sakit begitu terasa. Kini wajah Ayu harus menerima jahitan sebanyak lima jahitan.


Dimas menitikkan air mata melihat wajah cantik istrinya itu kini harus menerima jahitan di wajahnya.


“Sayang setelah lukamu sembuh kamu akan aku bawa ke luar negeri,” ucap Dimas sambil mencium kening istrinya.


Sampai saat ini Dimas belum menanyakan perihal lepasnya ikatan Via karena ia lebih mementingkan kesehatan Ayu.


Dimas meminta agar Ayu di rawat dulu di rumah sakit selama beberapa hari karena Ayu terlihat sangat pucat karena kehilangan banyak darah.


Keesokan harinya Dimas pulang ke rumahnya, saat itu ia berpapasan dengan Sanusi ketua Rt di komplek.


“Selamat pagi pak Sanusi,” ucap Dimas.


“Selamat pagi pak Dimas,” sahutnya.


“Oh iya bagaimana apa anak muda yang kemarin kembali lagi?”


Dimas bingung apa yang sedang di bicarakan oleh Sanusi.


“Pemuda? Siapa Pak?” tanya Dimas.


“Loh Pak Dimas tidak tahu?” tanya Sanusi.


“Saya gak tahu Pak soalnya saya baru pulang antar istri saya ke rumah sakit,” sahut Dimas.


“Kemarin ada pemuda yang gotong anak Bapak si mbak Via dan mau di masukkan ke dalam mobil. Ibu Ayu histeris saat itu minta tolong sama warga dan akhirnya pemuda itu balikin mba Via lagi ke dalam. Posisi anak Bapak sendiri itu gak sadarkan diri,” tutur Sanusi.


“Bapak bisa kasih tahu saya ciri-cirinya,” pinta Dimas.


“Badannya tinggi, kulitnya di bilang putih enggak di bilang hitam juga enggak, lalu saya sempat dengar ibu Ayu panggil pemuda itu Wisnu,” tutur Sanusi.


“Wisnu? Kurang ajar lancang sekali dia berbuat seperti itu!” ucap Dimas geram.


“Gara-gara dia istri saya sekarang di rumah sakit. Baik pak terima kasih atas informasinya dan terima kasih juga karena telah mau membantu istri dan anak saya,” ucap Dimas sambil menjabat tangan Sanusi.


“Sama-sama pak Dimas. Sudah sepatutnya saya membantu jika ada yang sedang kesusahan.”


Sanusi pun berpamitan lalu berjalan pergi menuju depan komplek.


Dimas bergegas masuk lalu berjalan menuju kamar anaknya Via.


Terlihat Via sudah tersadar namun dengan tatapan yang kosong serta wajah yang pucat.


Dimas perlahan membangunkan Via untuk menyuapinya makan.

__ADS_1


Sebelumnya Dimas sudah membeli makanan untuk Via.


Dimas menyuapi Via makan dengan perlahan. Awalnya Via tidak ingin makan, tapi karena di bujuk oleh Dimas Via akhirnya mau makan walau pun hanya sedikit.


Di sisi lain di hotel Pesona, Wisnu tengah berjalan menuju lift. Saat lift terbuka Wisnu pun masuk lalu menekan tombol lantai dua.


Saat sampai di lantai dua, Wisnu langsung menghampiri lukisan tersebut dia menurunkan lukisan itu lalu membantingnya ke dinding.


Brak! 


Bantingan keras itu terdengar menggema hingga ke lobi. 


Saat itu Wisnu emosi dan menginjak-injak lukisan tersebut hingga ada sesuatu yang menusuk kakinya.


“Arrrgh sialan!” pekik Wisnu.


Wisnu membuka sepatunya itu lalu memeriksa kakinya, ia meraba telapak kakinya yang terasa basah itu dan saat ia lihat itu adalah darah.


Dengan cepat Wisnu melepas kaos kakinya dan memeriksa kakinya.


Terdapat luka seperti tusukan mirip tertusuk paku di telapak kakinya.


Rasanya begitu nyeri hingga membuat Wisnu meringis.


Wisnu melihat lukisan tersebut tidak ada satu paku pun yang keluar, hal itu membuatnya kebingungan.


Ia menenteng satu sepatunya sambil membawa lukisan itu bersamanya masuk ke dalam lift. 


Wisnu menekan tombol LB atau lobi, saat sampai di lobi Wisnu berjalan ke luar hotel dan menuju pos penjagaan.


“Rifki saya minta tolong kamu bakat lukisan ini ya,” pinta Wisnu.


“Lukisan bagus kaya gini kenapa harus dibakar?” tanya Rifki.


“Lukisan ini bawa sial hotel kita. Bakar aja cepetan di belakang sana!”


Dengan cepat Rifki berlari sambil membawa lukisan tersebut. Rifki menaruh lukisan itu ke dalam tong sampah dan menyiramnya dengan minyak tanah.


Rifki menyalakan korek lalu membakar lukisan tersebut.


Api langsung menjilati setiap jengkal lukisan tersebut. Rifki mulai memperhatikan kalau lukisan tersebut tidak terbakar padahal api yang di hasilkan sangat besar.


‘Kok gak terbakar, apa kurang aku menyiram minyak tanahnya,' Rifki bermonolog.


Rifki menyiram lagi lukisan itu dengan minyak tanah hingga api semakin membesar dan malah menyambar tubuh Rifki.


Seketika Rifki berlari dan berguling di tanah sambil berteriak.


Semua orang yang ada di lokasi itu pun panik dan histeris.

__ADS_1


Api melahap pakaian Rifki kemudian rambut, wajah hingga sekujur tubuh.


Beruntung Wisnu datang dan menyemprotkan hidra ke arah Rifki hingga api yang ada di tubuh Rifki padam.


Terlihat tubuh Rifki mengalami luka bakar yang serius, Wisnu langsung menghubungi ambulan untuk membawa Rifki ke rumah sakit.


Selang hampir 15 menit mobil ambulan pun datang dan mengangkat tubuh Rifki.


Saat itu Wisnu berjalan ke arah tong sampah, dan betapa terkejutnya dia melihat lukisan tersebut masih utuh tanpa ada lecet sedikit pun.


Di saat itu juga Wisnu langsung percaya dengan apa yang di katakan oleh Via beberapa minggu yang lalu.


Wisnu mencoba merusak lukisan itu dengan cara menusukkan pisau yang ia bawa, tapi lagi-lagi itu adalah hal yang sia-sia.


Lukisan itu seakan kebal dengan setiap macam pengrusakkan.


Wisnu kewalahan dan akhirnya melempar lukisan itu ke tempat pembuangan sampah besar.


Beberapa menit kemudian Wisnu mendapat telepon dari nomor yang tidak di kenal, Wisnu pun mengangkatnya.


“Halo?” ucap Wisnu saat mengangkat telepon.


“Apa kamu yang namanya Wisnu?” tanya suara itu.


“Iya benar. Ini siapa?”


“Saya Dimas Ayah dari Via,” sahutnya.


“Saya mau menanyakan sesuatu dan saya minta kamu ke rumah saya sekarang juga,” ucap Dimas tegas.


“Baik om saya akan ke sana,” sahut Wisnu.


Wisnu sudah mengira hal ini akan terjadi, ia harus menerima segala konsekuensi atas kelancangannya saat itu.


Wisnu masuk ke dalam mobil dan menuju rumah Via, Wisnu melaju dengan kecepatan tinggi agar bisa cepat sampai.


Sesampainya di depan rumah, Wisnu pun masuk di sana ia sudah di sambit oleh Dimas dengan wajah sangat serius.


“Duduk kamu,” pinta Dimas.


“Kamu tau kenapa kamu saya suruh ke sini?” 


“Iya saya tahu Om, ini pasti karena kejadian kemarin saat saya menerobos masuk ke kamar Via dan ingin membawa Via pergi.”


“Karena kamu istri saya masuk rumah sakit! Wajahnya di jahit. Kamu melepas ikatan Via dan akhirnya Via mengamuk saat saya tidak ada!” bentak Dimas.


“Saya hanya berniat ingin melepaskan Via dari siksaan tante Ayu saat itu.”


“Siksa? Kamu kira istriku menyiksa Via hah? Asal kamu tahu saja lukisan yang ada di hotel kamu itu membawa bencana! Itu sebabnya kami melarang Via untuk bekerja lagi di hotelmu!”

__ADS_1


__ADS_2