Kembalinya Si Gaun Merah

Kembalinya Si Gaun Merah
Kejadian di masa lalu


__ADS_3

Dimas sedikit meredakan emosinya lalu kembali bicara, Wisnu hanya diam karena ia mengetahui jika ia bersalah atas kejadian ini.


“Saya menyesal Om, harusnya saya tidak berbuat seenaknya saat itu, saya minta maaf atas kesalahan saya,” ucap Wisnu dengan kepala yang menunduk.


Rasa sakit dan sesak jelas masih Dimas rasakan, ia begitu marah atas apa yang menimpa istrinya tersebut. Namun nasi telah menjadi bubur, semua telah terjadi dan tidak dapat dikembalikan seperti semula.


“Sudah lah, setidaknya kamu mengakui dan berani berhadapan langsung dengan saya.”


“Lagi pula saya juga bersalah karena harusnya saya libur bekerja saja kemarin,” sambung Dimas.


“Om, apa sebenarnya yang terjadi?” tanya Wisnu.


“Via telah dirasuki iblis sialan yang ada di lukisan, itu sebabnya saya mengikat kaki dan tangannya agar tidak terjadi hal buruk seperti istri saya dulu,” tutur Dimas.


“Tante Ayu pernah mengalaminya juga? Sebenarnya apa yang ada di balik lukisan itu om? Saya tadi siang menyuruh seorang security untuk membakar lukisan itu tapi bukannya lukisannya yang terbakar malah security itu yang terbakar,” tutur Wisnu.


Mendengar hal tersebut Dimas menjadi sangat waswas, pasalnya di hotel itu sangat banyak orang.


“Bagaimana pun kamu tidak akan bisa memusnahkan lukisan itu,” sahut Dimas.


“Dulu saya membelikan rumah ini untuk istri saya sebagai hadiah, di dalam rumah tepatnya di dalam kamar yang kami tempati ada sebuah lukisan wanita bergaun merah dengan memegang setangkai bunga mawar dan di pojok bawah lukisan itu terdapat nama Mawar serta tanggal pembuatan lukisan tersebut.”


20 tahun yang lalu, saat Dimas dan Ayu masih menjadi pengantin baru.


“Kamu suka rumah ini sayang?” ucap Dimas.


“Iya aku suka Mas,” sahut Ayu.


Ayu melihat-lihat seluruh area rumah tersebut hingga sampai ke sebuah kamar, di sanalah tempat terpajangnya lukisan tersebut.


Lukisan itu seakan menghipnotis setiap mata yang memandangnya termasuk Ayu dan Dimas, mereka begitu menyukai lukisan tersebut.


Hingga suatu hari sikap Ayu tiba-tiba berubah drastis, ia menyukai segala yang berwarna merah ia juga mulai menyukai mawar merah serta wewangian mawar.


Dimas tidak sadar saat itu yang di hadapannya bukanlah istrinya melainkan sosok wanita yang ada di lukisan tersebut.

__ADS_1


Sebelumnya di rumah mereka terjadi suatu insiden yang menewaskan pembantu  mereka dan itu karena ulah wanita bergaun merah tersebut.


Sinta, sahabat Ayu juga tidak luput dari amukan sosok wanita bergaun merah tersebut hingga membuatnya meninggal dunia.


Tubuh Ayu yang saat itu berada di bawah kendali makhluk itu pun akhirnya di antar ke rumah sakit kejiwaan oleh suaminya sendiri karena di kala itu Dimas masih berpikir realistis dan menganggap istrinya itu mengalami depresi.


Hingga akhirnya Dimas menyadari bahwa lukisan itu lah penyebabnya, ia menyadarinya saat beberapa kali bermimpi istrinya berada di dalam lukisan tersebut. Serta ia mendapati wajah Ayu berubah menjadi wanita yang di lukisan tersebut saat tengah berhubungan.


Beruntung Ayu memiliki orang tua yang memiliki kemampuan spiritual serta paham tentang dunia mistis dia bernama Baskoro. Ayu di berikan sebuah gelang oleh Baskoro untuk penangkal agar sosok itu tidak dapat masuk lagi ke tubuh Ayu.


Hingga akhirnya Dimas dan Baskoro menemukan siapa pelukis dari lukisan tersebut yang tidak lain adalah teman lama Baskoro, rupanya wanita di dalam lukisan itu adalah calon istrinya yang bernama Mawar, Mawar meninggal akibat kecelakaan yang menimpa mereka berdua.


Pelukis itu mengambil darah Mawar dan menggunakannya sebagai campuran cat untuk melukis mendiang calon istrinya tersebut.


Pelukis itu berharap mendiang Mawar bisa bersamanya hingga ia tua namun karena faktor ekonomi pelukis itu menjual rumah beserta isinya. 


Dan Dimas adalah pemilik ketiga, karena pemilik sebelumnya menjual rumah itu juga.


Berkat Baskoro dan juga bantuan oleh pelukis itu, akhirnya Ayu bisa di selamatkan dan menjalani hidup secara normal.


Hingga suatu hari Darma yaitu atasan Ayu, menceritakan jika ia mendapatkan lukisan yang sangat bagus dan meminta Ayu untuk memeriksanya. Mengingat Ayu memiliki ketertarikan serta pengetahuan tentang seni.


Saat itu Ayu terkejut, Darma memberi tahukan ciri-ciri dari lukisan itu.


“Lukisan itu menurut saya sangat indah, saya bingung kenapa ada yang membuang lukisan sebagus itu,” ucap Darma.


“Memangnya lukisan seperti apa Pak? Abstrak?” tanya Ayu.


“Bukan, lukisan ini seperti nyata dan sengat detail. Di dalamnya ada seorang wanita mengenakan gaun merah dan tengah memegang setangkan bunga mawar yang juga berwarna merah. Lalu di pojok kanan bawah ada tulisan Mawar tahun 1966.”


“Maaf pak sepertinya saya tidak bisa ke rumah bapak, karena sebenarnya saya ke sini untuk resign,” ucap Ayu.


Ayu memang sudah lama berencana mengundurkan diri dan baru terealisasikan sekarang.


Ia ingin fokus di rumah, mengerjakan pekerjaan rumah tangga serta mengurus suami.

__ADS_1


Hingga Ayu hamil dan melahirkan seorang gadis cantik yang di beri nama Olivia.


Di sisi lain Wisnu tercengang dengan apa yang di ceritakan oleh Dimas, ia tidak menyangka jika sebuah lukisan juga memiliki ilmu magis yang dapat mencelakai orang.


Dimas beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju kamar Via di ikuti oleh Wisnu.


Dimas membuka pintu dan memperlihatkan keadaan Via kepada Wisnu.


“Lihatlah Via sekarang, Via hanya diam dengan tatapan kosong,” ucap Dimas.


Wisnu pun berjalan masuk ke kamar Via dan menghampirinya.


“Via maafin aku, kalau saja aku dengerin ucapan kamu tentang lukisan itu kamu pasti gak kaya gini,” ucap Wisnu sambil memegangi tangan Via.


Bukannya membalas ucapan Wisnu, Via malah terkekeh tertawa terbahak.


“Kalian semua akan mati!” ucap Via sambil tertawa.


Wisnu dan juga Dimas hanya terdiam mendengar ucapan yang terlontar dari mulut Via tersebut. Mereka memilih keluar kamar lalu Dimas mengunci pintu.


“Om, saya akan berusaha untuk mengembalikan Via seperti semula,” ucap Wisnu.


Dimas menepuk pundak Wisnu, “Kita lakukan yang terbaik mulai dari sekarang,” sahut Dimas.


“Oh iya, sepertinya kamu harus meminta maaf dengan istri saya dulu,” sambungnya.


“Baik om saya akan meminta maaf langsung sama tante Ayu,” sahut Wisnu.


Wisnu pun beranjak dari rumah Via dan masuk ke dalam mobil untuk melaju menuju rumah sakit tempat Ayu di rawat, sebelumnya Dimas sudah memberikan alamat rumah sakit itu.


Sementara Dimas duduk di ruang tamu sambil membuka ponselnya, ia mencari nomor di kotaknya.


Ia terus menggulir layar ya tersebut hingga berhenti di satu nama kontak yaitu bertuliskan bapak. 


Dimas pun melakukan panggilan telepon namun saat itu telepon Dimas tak kunjung di angkat, hingga Dimas menghubungi sampai 10 kali.

__ADS_1


__ADS_2