Kembalinya Si Gaun Merah

Kembalinya Si Gaun Merah
Salah Paham


__ADS_3

“Via kamu gak sarapan dulu sayang?” tanya Ayu yang masuk ke dalam kamar Via.


Via hanya menggelengkan kepalanya, Via tersenyum sambil memandangi Ayu.


“Via kamu kenapa? Kamu sakit?” tanya Ayu.


Via lagi-lagi terdiam lalu memalingkan wajahnya ke arah dinding kamarnya.


Ayu sedikit heran dengan sikap Via, Ayu pun menghampiri suaminya yang tengah sarapan.


“Mas ... Mas,” ucap Ayu.


“Ada apa sayang kok kelihatannya kamu takut begitu,” sahut Dimas.


“Sikap Via kok aneh Mas, dari tadi aku ajak bicara tapi dia cuma diam,” ucap Ayu.


“Mungkin Via sakit, sebentar biar Mas lihat dulu.”


Dimas pun menghampiri Via, dan benar saja Via tengah duduk di pojok kasurnya sambil menghadap ke arah dinding.


“Via kamu sakit Nak?” ucap Dimas.


“Via,” ucap Dimas lagi sambil mencoba menepuk pundaknya.


Namun Via tetap tidak ada respon, beberapa saat kemudian Via terkekeh tertawa tanpa sebab.


“Via kamu kenapa?” Dimas langsung membalikkan tubuh anaknya itu.


Terlihat raut wajah Via berubah menjadi sedikit pucat dengan mata yang melotot ke arah Dimas.


“Kini kita bertemu lagi,” ucap Via.


Spontan Dimas mundur, “Siapa kamu?” ucap Dimas.


Terdengar tawa yang cukup aneh keluar dari mulut Via, ia tertawa bak kuntilanak suaranya itu sampai membuat bulu kuduk Dimas merinding.


“Kamu mawar kan? Keluar dari tubuh anakku!” 


Suara bentakkan itu terdengar sampai ke telinga istrinya yaitu Ayu. Dengan cepat Ayu menghampiri suaminya itu di kamar Via.


“Ada apa Mas?” tanya Ayu yang masuk ke dalam kamar Via.


“Hantu sialan itu masuk ke tubuh Via,” ucap Dimas.


Seketika saat Via yang tengah kerasukan itu berdiri lalu menghampiri Ayu.


Via menyeringai dan langsung mencekik Ayu dengan keras hingga membuat wajah Ayu memerah, spontan Dimas menariknya dan melemparkan tubuh Via ke lantai hingga via tak sadarkan diri.


“Mas jangan kasar sama Via!” bentak Ayu.


“Maaf sayang aku refleks karena dia mencekik mu,” sahut Dimas.


Dimaa dengan cepat mengangkat tubuh Via ke atas kasur. Dimas lalu berlari ke arah gudang untuk mengambil tali.

__ADS_1


Saat kembali ke kamar, Dimas langsung mengikat tangan anaknya itu.


Ayu yang tidak tega pun menahan aksi suaminya tersebut.


“Mas Via mau di apain?” tanya Ayu.


“Ini untuk jaga-jaga saja takutnya Via kabur atau melukai kamu sayang,” ucap Dimas.


“Tapi Mas, Via itu anak kita.”


“Sayang percaya sama aku, aku tidak mungkin menyakitinya.”


Ayu pun akhirnya mengizinkan suaminya tersebut untuk mengikat kaki dan tangan Via.


Setelahnya mereka pun keluar kamar dan Dimas pun berpamitan kepada istrinya itu untuk berangkat bekerja.


“Mas berangkat dulu ya, kamu hati-hati di rumah. Dan ingat jangan pernah buka ikatan Via walaupun dia memohon,” ucap Dimas.


“Iya Mas, hati-hati.”


Dimas pun masuk ke dalam mobilnya dan melaju keluar dari halaman rumahnya.


Via mengambil ponselnya dan menghubungi Wisnu untuk memberi tahukan jika Via tidak bisa masuk untuk bekerja.


“Halo nak Wisnu,” ucap Ayu di balik telepon.


“Halo tante ada apa?” tanya Wisnu.


“Tante boleh minta tolong?”


“Kamu bisa gak kasih tahu ke atasan Via kalau Via hari ini gak bisa masuk kerja?”


“Kalo masalah itu sih gampang tante, tapi kenapa Via gak masuk?” tanya Wisnu.


“Via sakit jadi gak bisa masuk hari ini,” ucap Ayu.


Wisnu terdiam sejenak, dan sepat berpikir ini adalah salah satu cara agar Via tidak bekerja lagi di hotel yang ia kelola.


“Halo nak Wisnu kok diam?” tanya Ayu.


“Iya baik tante, nanti saya akan sampaikan ke atasan Via. Dan anti saya juga akan jenguk Via tante,” sahut Wisnu.


“Gak usah, kami pasti kan sibuk Wisnu tante gak mau repotin kamu,” tolak Ayu.


Ayu sebenarnya tidak ingin Wisnu mengetahui tentang kondisi Via yang sebenarnya bukan sakit, melainkan tengah kerasukan hantu wanita yang ada di dalam lukisan itu.


Namun tidak dengan pemikiran Wisnu, Wisnu semakin yakin kalau Ayu memang berusaha untuk mencegah Via bekerja di hotelnya.


“Baik tante kalau begitu,” sahut Wisnu singkat.


Telepon pun langsung terputus akibat ponsel Ayu yang saat itu mati karena kehabisan baterai.


Di sisi lain Wisnu semakin salah paham terhadap Ayu, ia merasa kesal kepada Ayu yang langsung mematikan teleponnya. Wisnu menganggap Ayu sangat membencinya.

__ADS_1


‘Sebenarnya aku ini salah apa sih sana tante Ayu, sampai sebegitu bencinya sama aku?’ Wisnu bermonolog.


Wisnu pun menghubungi pihak atasan Via dan memberi tahu jika Via tengah sakit dan tidak bisa masuk bekerja.


“Pak Anton,” ucap Winsu yang masuk ke ruangan personalia.


“Silahkan duduk  Wisnu. Ada apa nih tumben ke sini,” ucap Anton.


“Saya mau kasih info aja kalau executive housekeeper hari ini gak bisa masuk,” ucap Wisnu.


“Kok ibu Via gak hubungin aku langsung. Kok harus melewati kamu sih? Apa jangan-jangan-”


“Gak perlua pikir negatif, tadi orang tuanya hubungi saya dan bilang kalau Via tengah sakit,” sahut Wisnu.


“Kamu peduli banget sih sama dia,” ucap Anton.


Anton sendiri adalah teman satu fakultas Wisnu dulu, karena kinerja Anton yang menurut Wisnu cukup bagus makanya sekarang Anton bisa bekerja di hotel tersebut.


Tidak heran Anton seakan akrab dengan Wisnu walau terkadang dia sering tidak bisa membaca  situasi.


Anton bersikap seolah Wisnu itu temannya bukan atasannya, terkadang Wisnu kesal karena sikap Anton tersebut.


“Loh saya mau peduli atau tidak apa urusannya sama anda?” ucap Wisnu dengan formal.


Wisnu mendengus kesal lalu keluar dari ruang personalia tersebut.


Ia turun ke area basemen melalu lift tamu. Saat lift terbuka Wisnu langsung masuk ke dalam mobilnya.


Wisnu pun melaju menuju rumah Via untuk memastikan jika Via benar-benar sakit atau tidak.


Wisnu melaju dengan kecepatan tinggi, ia menyalip beberapa mobil di depannya dengan mudah.


Hingga ia sampai di depan rumah Via.


Wisnu bergegas keluar dan mengetuk pintu rumah Via.


Tok Tok.


“Via,” ucap Winsu sambil mengetuk pintu.


Tidak lama Ayu membukakan pintu untuk Wisnu, raut wajah Ayu seakan sinis saat Wisnu datang.


“Bukannya tante sudah bilang tidak perlu ke sini,” ucap Ayu ketus.


“Saya cuma mau memastikan saja tante kalau Via itu sebenarnya gak sakit. Ini cuma alasan tante aja kan biar Via gak kerja lagi,” ucap Wisnu langsung.


“Maksud kamu apa Wisnu? Via itu memang benar-benar sakit!”


“Gak saya gak percaya!”


Winsu dengan lancang menerobos masuk ke dalam rumah Ayu dan berlari ke beberapa kamar untuk mencari Via.


“Wisnu kamu jangan lancang di rumah saya!” bentak Ayu.

__ADS_1


Wisnu tetap berusaha mencari Via, hingga ia menemukan Via di sebuah kamar dengan keadaan kaki dan tangannya di ikat.


__ADS_2