
Kuncoro mengeluarkan sebuah gelang yang pernah ia gunakan untuk menangkal wanita gaun merah tersebut, ia memakaikan gelang itu ke tangan kanan Via.
Saat gelang itu di pakaikan Via tidak menunjukkan reaksi apapun bahkan Via malah menyeringai sembari menatap tajam ke arah Kuncoro.
“Hahaha ... Benda busukmu itu tidak mempan denganku tua bangka!” ejek Via.
Kuncoro meletakkan telapak tangannya ke atas kening Via, lalu membacakan mantra dalam bahasa Jawa.
Ayu dan juga Dimas memegangi tangan Via agar Via tidak menyerang Kuncoro.
Mantra demi mantra di ucapkan oleh Kuncoro hingga sampai ke mantra terakhir Via mulai menunjukkan reaksinya.
“Aarrghh! Panas! Sakit!” teriak Via.
“Sakit! Hentikan!”
Via terus mengerang serta berteriak histeris, usai mengucapkan mantra Via terlihat tertunduk dan lemas, Ayu dan Dimas pun melepaskan pegangannya dari Via.
Beberapa menit terlihat Via mulai menegakkan kepalanya, wajahnya berubah menjadi sangat pucat.
“Kalian semua akan mati!” ucap Via.
Seketika pintu rumah Kuncoro terbuka seperti ada yang mendobraknya, angin berembus sangat kencang masuk ke dalam rumah Kuncoro dan meluluh lantahkan barang-barang di dalamnya.
Tubuh Via terangkat dan mengambang di udara.
“Hahaha ... Aku tidak akan melepaskan kalian!”
Sebuah bambu runcing yang berada di belakang pintu terbang melesat menuju ke arah Ayu, beruntung Dimas menarik tubuh istrinya tersebut hingga mereka berdua berguling di lantai.
Via pun melihat ke arah Kuncoro, dengan cepat Kuncoro mengeluarkan kerisnya sambil membaca mantra.
Kuncoro mengarahkan kerisnya ke arah Via, terlihat Via mundur perlahan.
__ADS_1
Via pun menghampiri Ayu lalu mencekiknya hingga wajah Ayu memerah. Dimas berusaha melepas cekikan Via namun tidak bisa.
Tiba-tiba Wisnu berjalan lalu memegang tangan Via dengan kuat dan menariknya.
“Keluar dari tubuh Via!” ucap Wisnu.
Dalam mata Kuncoro melihat di seluruh tubuh Wisnu di kelilingi oleh cahaya keemasan hingga muncul seseorang dari tubuh Wisnu.
Sosok pria berpakaian seperti pada zaman kerajaan, sosok itu mengambil alih tubuh Wisnu.
Wisnu mendorong Via dengan tangan kananya hingga sosok wanita bergaun merah itu terpental keluar dari tubuh Via.
Via langsung terkulai lemas dan tak sadarkan diri.
Kini bukan Kuncoro lagi yang akan berhadapan dengan wanita itu melainkan Wisnu.
“Wanita itu sudah bertambah kuat, tidak bisa melawannya dengan hanya menggunakan mantra,” ucap Wisnu kepada Kuncoro.
“Siapa kamu sebenarnya?”
“Pak Wisnu kenapa?” tanya Ayu.
“Sepertinya dia di lindungi oleh leluhurnya, tapi dia tidak sadar,” sahut Kuncoro.
Wanita bergaun merah itu terlihat berbeda dari pertama kali Ayu melihatnya, wajahnya lebih menyeramkan dengan mata yang menyala.
“Sepertinya kasus ini lebih sulit dari yang bapak duga, hati wanita itu penuh dendam sehingga hal itu di manfaatkan oleh iblis jahat,” tutur Kuncoro.
Saat itu tiba-tiba Wisnu mendapatkan kesadarannya kembali, ia sangat terkejut melihat sosok wanita yang ada di dalam lukisan itu ternyata memang benar nyata.
Tubuh Wisnu lemas karena mengeluarkan banyak energi, hingga wanita bergaun merah itu bisa kembali merasuki Via.
Ayu dan Dimas dengan cepat mengikat kaki dan tangan Via agar Via tidak bisa berontak.
__ADS_1
Wajahnya yang pucat itu mulai meronta, mengerang dan berusaha melepaskan diri dari ikatan itu.
Ayu pun keluar laku mengambil lukisan yang masih berada di dalam mobil.
“Sepertinya Jiwa Via masih berada di tubuhnya dan Via juga sepertinya sedang melawannya,” jelas Kuncoro.
Aldi adik dari Ayu melihat Wisnu terduduk lemas di lantai, ia pun bergegas membopong Wisnu untuk duduk di sofa.
“Ayo Mas duduk dulu,” ucapnya.
Wisnu berusaha untuk tetap tersadar walau ia merasa kepalanya sangat pusing akibat benturan energi.
Ayu kembali sembari membawa lukisan tersebut.
“Keluar dari tubuh anakku atau lukisan ini aku musnahkan!” ancam Ayu.
Via tetap mengerang tak karuan, Ayu mengambil pisau lalu menusuk-nusukkan pisau tersebut ke lukisan itu dan ajaibnya pisau itu menembus dan berhasil merobeknya.
Seketika Via berteriak, mulutnya mengeluarkan darah yang menghitam.
Ayu dan semua orang pun terkejut pasalnya selama ini mereka semua tidak pernah berhasil memusnahkan lukisan tersebut.
Wisnu berdiri lalu menghampiri Ayu dan mengambil lukisan tersebut, ia mencoba mematahkan bingkai lukisan tersebut namun anehnya tidak bisa.
Dan Via kembali memperlihatkan reaksi ia berteriak dan memohon.
“Jangan! Jangan hancurkan!” teriak Via.
Kuncoro yang sedari tadi memperhatikan pun sekarang memahami apa penyebabya.
“Yang bisa memusnahkannya hanyalah Ayu, karena darahnya dan darah Ayu menyatu,” ucap Kuncoro.
“Maksud bapak gimana?” tanya Dimas.
__ADS_1
“Dulu darah Ayu menetes tepat di bagian bunga mawar, di situ lah letak darah Mawar,” ucap Kuncoro.
“Biadab kalian semua! Aku tidak akan pernah bisa di musnahkan!” pekik Via.