Kembalinya Si Gaun Merah

Kembalinya Si Gaun Merah
Kedatangan Dukun Gadungan


__ADS_3

Kuncoro berusaha mencari-cari seseorang yang bisa menolong cucunya tersebut, bahkan tidak segan ia memberikan bayaran yang fantastis.


Hingga Kuncoro di datangi  oleh seorang paranormal di rumahnya dia mengaku memiliki ilmu tinggi namanya mbah Anjar,


“Saya mbah Anjar, saya dengar anda sedang mencari orang pintar untuk menyembuhkan cucu anda,” ucapnya.


“Iya benar. Apa anda bisa?” tanya Kuncoro agak ragu.


“Tentu. Saya bisa segalanya. Santet, guna-guna, pelet, pesugihan saya bisa. Bahkan menyembuhkan orang dari gangguan makhluk gaib pun bisa.”


“Beneran bisa?” tanya Wisnu.


“Kamu meragukan saya?” ucapnya.


“Zaman sekarang cukup mudah untuk bicara seperti itu, saya pun kalau hanya modal omongan saja juga bisa,” ucap Wisnu.


“Maksud kamu apa? Kamu pikir saya penipu?” mbah Anjar mulan terlihat kesal.


“Sudah ... Sudah. Mari saya antar untuk melihat kondisi cucu saya,” ajak Kuncoro.


Kuncoro pun memperlihatkan kondisi Via kepada paranormal tersebut. Bagaikan dukun sakti ia seperti melakukan pergerakan tiba-tiba seakan sedang menarik energi jahat di tubuh Via.


“Ini mudah, tapi harus bayar di depan dulu,” ucapnya.


Kuncoro yang juga memiliki kemampuan supranatural itu pun melihat jika yang bernama mbah Anjar ini adalah seorang penipu. Kuncoro juga tidak melihat ada apa pun di tubuhnya.

__ADS_1


Namun Kuncoro masih menghargai niatnya untuk membantu, hingga saat di dalam kamar Via mbah Anjar meminta semua orang untuk keluar. 


Mereka semua pun keluar namun tetap memantau gerak gerik dukun gadungan tersebut, dan benar saja saat Wisnu mengintip di balik lobang kunci pintu terlihat mbah Anjar itu seperti akan melecehkan Via.


Dengan cepat Wisnu menerobos masuk ke dalam kamar.


“Ngapain kamu?” pekik Wisnu.


“Saya sedang ritual anda tunggu saja diluar,” ucapnya.


“Ritual apanya. Udahlah kamu keluar!” 


“Kamu jangan macam-macam sama saya, saya ini perewangannya macan putih milik petapa di gunung Lawu!” ucapnya.


“Gak usah banyak omong cepat keluar!” 


“Lihat saja kalian akan menyesal!” ucapnya.


“Pergi! Kalau tidak kamu aku panggilkan polisi,” ucap Wisnu.


Wisnu mendengus kesal, Ayu yang baru datang dari luar pun bingung melihat Wisnu seperti sedang marah.


“Pak ada apa?” tanya Ayu.


“Ada dukun gadungan kemari katanya bisa sembuhin Via. Bapak sebenarnya sudah curiga tapi ucapannya sangat meyakinkan,” tutur Kuncoro.

__ADS_1


“Memang apa yang dia lakukan?”


“Dia hampir melecehkan Via tante, jadi saya usir dia,” sahut Wisnu.


Mendengar hal itu Ayu terkejut, dan bersyukur anaknya tidak jadi korban dukun cabul. Hingga malam hari, saat semua orang menunggu adzan magrib.


Dari kamar Via terdengar suara menggeram yang cukup keras, bahkan sesekali Via tertawa.


Semua orang hanya diam dan menunggu Via berhenti. Biasanya Via akan berhenti setelah waktu shalat magrib.


Adzan magrib pun berkumandang, terdengar sangat jelas di telinga. Suara adzan itu berasal dari mushola dekat rumah Kuncoro.


Saat adzan berkumandang, Via tiba-tiba mengamuk dan berteriak histeris. Semua orang hanya terdiam dam membiarkannya.


Beruntung rumah Kuncoro yang besar itu berjauhan dengan rumah warga, jadi saat Via berteriak atau mengamuk para warga tidak akan terganggu.


“Bagaimana ini Pak, sampai kapan kita harus membiarkan Via seperti ini,” ucap Ayu.


“Kamu sing sabar Nduk, Bapak akan berusaha. Sepuluh hari lagi pada malam jumat Kliwon, Bapak akan melakukan ritual dan bapak membutuhkan bantuanmu Nak Wisnu,” ucap Kuncoro.


“Baik Pak saya akan siap untuk membantu.”


“Ini cukup berisiko, tapi kita tidak memiliki pilihan lain.”


“Apa pun risikonya akan saya tanggung Pak, selagi itu bisa untuk mengembalikan Via,” sahut Wisnu.

__ADS_1


“Baiklah, besok saya akan mulai puasa pati geni selama tujuh hari jadi jangan ada yang mengganggu dulu mengeri.”


Wisnu yang tidak terlalu mengeri tentang hal tersebut pun hanya mengangguk seakan sudah mengerti apa yang dimaksud Kuncoro.


__ADS_2