Kembalinya Si Gaun Merah

Kembalinya Si Gaun Merah
Via kembali mengamuk


__ADS_3

Pukul 02.20 Wisnu belum bisa tidur akibat suara-suara yang terus ia dengar dari balik dinding. 


Wisnu tidak mau menghampiri kamar Via karena takut akan membangunkannya. Wisnu memilih untuk membuka ponselnya sambil melihat sosial media. 


Hingga matanya berat dan akhirnya Wisnu pun tertidur, sebelumnya Wisnu sudah mengatur alarm agar ia bisa bangun tepat waktu.


Beberapa jam berlalu, denting alarm dari ponsel Wisnu pun berbunyi berulang kali. Wisnu pun membuka matanya lalu mematikan alarm yang ada di ponselnya.


Matanya masih sepat, ia bangkit dari tempat tidur lalu masuk ke dalam kamar mandi. Saat itu juga Wisnu mandi untuk menghilangkan kantuknya.


Dinginnya air saat dini hari tidak menggoyahkan niatnya untuk mandi, tubuh Wisnu mulai mengigil. 


Usai mandi dan berganti pakaian, Wisnu keluar kamar. Terlihat Ayu tengah sibuk mondar-mandir di meja makan.


Rupanya Ayu terlebih dulu bangun, bahkan pakaiannya juga sudah rapi terlihat ia tengah menyiapkan makanan di atas meja.


“Tante masak?” tanya Wisnu.


“Eh ... Sudah bangun mamu Wisnu,” ucap Ayu.


“Perjalanan kita jauh, kalau kemana-mana perut jangan sampai kosong bahaya,” sambungnya.


‘Di jam seperti ini tante sempat-sempatnya masak,' pikir Wisnu.


“Om mana?” tanya Wisnu.


“Lagi mandi katanya biar di jalan seger gak ngantuk,” sahut Ayu.


“Kamu makan aja duluan, Tante mau suapin Via dulu,” ucap Ayu.


Ayu berjalan menuju kamar Via sembari membawa sepiring makanan.


Tidak lama Dimas pun muncul sambil mengeluarkan sebuah tas dari kamarnya.


“Udah bangun kamu, om kira masih tidur,” ucap Dimas yang duduk di meja makan. 


Mereka berdua pun menyantak makanan  yang di masak Ayu hingga habis lalu mencuci piring bekas makan mereka masing-masing.


Karena tidak sempat Ayu memilih makan di mobil.


Ayu membawa Via keluar dari kamar menuju mobil. Ayu memasukkan Via di kursi belakang bersama dengan Wisnu.


Di kursi belakang Wisnu terdapat lukisan wanita gaun merah, semua barang telah di masukkan ke dalam bagasi, mereka pun berangkat.


“Syukurlah beberapa hari ini Via gak mengamuk,” ucap Ayu.


“Iya, tapi kondisi Via sedikit berbeda dengan kondisi yang kamu alami dulu,” ucap Dimas.


“Entahlah Mas, aku hanya bisa berharap kalau jiwa Via masih berada di tubuhnya,” ucap Ayu.


Mobil terus melaju menyusuri jalan kota, hingga mereka masuk ke perbatasan kota lain, perjalanan cukup lancar saat itu hingga mata hari mulai memperlihatkan cahayanya. 


Ayu yang duduk di kursi depan tidak henti-hentinya memandang ke arah jendela mobil, menikmati keindahan mata hari terbit yang jarang ia lihat.


Ayu sedikit membuka kaca jendela mobil untuk menikmati udara segar. 


Wisnu yang berada di kursi belakang melihat reaksi Via, Via memandangi ibunya yang tersenyum kala melihat matahari. 


Via terlihat tersenyum kecil beberapa detik lalu kembali dengan raut datarnya.


‘Apa sebenarnya Via juga berusaha melawannya? Apa ini sebabnya ia tidak mengamuk,’ pikir Wisnu.


Perjalanan terus berlanjut hingga mereka memasuki pedesaan, hamparan sawah membentang sepanjang mata memandang, serta susunan gunung yang tinggi dan hijau membuat mata serasa di manjakan.


“Lama banget aku gak pernah lewat jalan seperti ini Mas,” ucap Ayu.


“Anggap saja kita sedang di perjalanan untuk liburan,” sahut Dimas.


Hingga mereka melewati lokasi yang cukup sepi, hanya ada beberapa pengendara melintas, jalan itu ditumbuhi pepohonan dengan daun dan ranting yang rimbun.


Hingga tiba-tiba mesin mobil Dimas mati secara tiba-tiba.


“Loh kenapa ini Mas,” ucap Ayu.


“Gak tahu, sebentar Mas cek dulu,” ucap Dimas sambil keluar dari mobil.


Dimas membuka kap mobil dan memeriksa seluruh mesin, namun tidak ada masalah terhadap mesinnya.

__ADS_1


Dimas mencoba kembali menyalakan mobil namun tetap saja tidak bisa menyala.


Dimas mulai kebingungan dengan apa yang terjadi pada mobilnya.


“Bagaimana kalau kita pancing aja om, kita coba dorong biar tante Ayu yang pegang kemudi,” usul Wisnu.


“Ya sudah kita coba,” sahut Dimas.


Wisnu dan Dimas pun keluar mobil dan berjalan menuju belakang mobil, mereka berdua mulai mendorong mobil tersebut lalu Ayu menyalakan mesin.


Saat Dimas dan Wisnu mendorong mobil, tiba-tiba pintu belakang terbuka dengan cepat Via keluar dari mobil dan berlari menuju hutan.


Karena Dimas dan Wisnu berada di belakang, mereka tidak menyadari jika Via keluar hingga teriakan Ayu membuat mereka tahu.


“Mas Via keluar!” pekik Ayu.


Terlihat Via berlari dengan cepat masuk ke dalam hutan di pinggir jalan sebelah kanan. 


Spontan Wisnu langsung mengejar Via masuk ke dalam hutan. 


“Kamu tunggu di sini, kunci pintunya dan tunggu sampai kami kembali!” pinta Dimas.


Ayu pun menutup semua jendela dan mengunci pintu.


Dimas dan Wisnu mengejar Via hingga masuk ke dalam hutan, mereka masuk semakin dalam hingga hampir jatuh ke bawah sungai. 


“Kemana dia pergi?” tanya Dimas.


“Gak tahu Om, jelas-jelas dia tadi lari ke sini. Tapi kok hilang,” ucap Wisnu.


“Apa dia terjun ke sungai?” tanya Dimas.


“Gak mungkin Om, kalaupun tercebur pasti ada suaranya,” sahut Wisnu.


Di sisi lain Ayu yang tengah berada di mobil merasa ada yang janggal, ia merasa ada orang lain selain dia. Dan benar saja rupanya Via masih berada di dalam mobil.


Via duduk sambil memandangi Ayu dengan tatapan mengerikan hingga membuat Ayu ketakutan.


Rupanya yang keluar dari mobil tersebut bukanlah Via, melainkan sosok wanita bergaun merah yang mengelabui pandangan semua orang.


Ayu panik dan berteriak sekencang mungkin.


“Mas ... Mas Dimas!” teriak Ayu.


Tanpa Ayu sadari tangan Via mulai bergerak dan menjambak rambut panjang Ayu dari belakang.


“Aahh ... Sakit Via. Sadar Via ini Bunda Nak!” teriak Ayu.


Via pun mulai membenturkan kepala Ayu ke setir mobil berkali kali dengan cukup keras hingga kepala Ayu mengenai klakson mobil berkali-kali.


Tidak hanya sampai di situ, Via kemudian membenturkan kepala Ayu ke jendela mobil.


Ayu berusaha meraih tangan Via agar Via bisa melepaskan genggamannya.


Pelipis Ayu mulai berdarah, Pipi Ayu yang masih belum sembuh total pun mulai membiru.


“Via tolong hentikan Nak, tolong sadar!” ucap Ayu.


Saat mendengar Hal itu tiba-tiba tangan Via melepas rambut Ayu dan mundur. 


Via berteriak sangat nyaring, ianjuga membenturkan kepalanya ke kaca mobil berkali-kali hingga kepalanya berdarah.


Beruntung saat kepala Ayu di benturkan klakson mobil Dimas tidak sengaja tersentuh oleh kepala Ayu, alhasil Dimas dan Wisnu langsung berlari kembali menuju mobil.


Pintu mobil terbuka, Ayu langsung keluar mobil sambil menagis.


“Tante Ayu,” ucap Wisnu terkejut.


“Mas Via didalam Mas,” ucap Ayu.


Melihat pelipis istrinya itu berdarah, ia langsung mengambil sapu tangan dan membersihkan darah dari pelipis istrinya.


Sedangkan Wisnu mencoba menenangkan Via.


“Via ... Via tenang!” ucap Wisnu.


“Om kita lanjutin perjalanan aja Om, Via biar saya yang urus.”

__ADS_1


Ayu dan Dimas masuk ke dalam mobil, ia mencoba menyalakan kembali mobilnya dan akhirnya mau menyala.


Mobil melaju menuju desa, perjalanan masih beberapa jam lagi. Selama di perjalanan Via terus berteriak namun Wisnu tidak henti-hentinya mencoba menenangkan Via.


“Via aku mohon lawan! Kamu bisa melawannya!” ucap Wisnu.


“Ingat orang tuamu Via! Kamu juga harus bisa melawannya. Jangan biarkan iblis itu menguasai tubuhmu!” 


Entah karena ucapan Wisnu atau Via tengah kehabisan tenaga, Via tiba-tiba kehilangan kesadaran. Wisnu dengan sigap menurunkan sandaran kursi hingga Via bisa berbaring.


Situasi mobil pun menjadi hening, akhirnya mereka bisa beristirahat sejenak. 


Desa demi desa mereka lalui, matahari pun sudah berada tepat di atas, menandakan sudah tengah hari.


Terlihat Ayu tengah tertidur, Dimas pun dapat melaju dengan kecepatan tinggi. 


Karena biasanya Ayu tidak ingin jika suaminya kebut-kebutan di jalan.


Waktu sudah menunjukkan pukul 17.20, jalanan desa juga mulai ramai.


Dari dalam mobil terlihat penduduk desa sedang duduk berkumpul di depan rumahnya sambil bersenda gurau.


Dimas hanya berharap perjalananya lancar hingga sampai dengan selamat.


Langit mulai gelap, jalanan pun mulai sedikit sepi hanya ada beberapa mobil angkutan serta truk yang melintas. 


Untungnya Dimas tidak merasakan kantuk, begitu pula dengan Wisnu. Ia terus terjaga untuk Via agar tidak terjadi hal yang tidak di inginkan lagi.


Pukul 21.40 mobil Dimas akhirnya sampai di depan gapura usang bertuliskan desa Gunung Sari.


“Sayang bangun,” ucap Dimas.


“Iya Mas, udah sampai?” tanya Ayu.


“Kita udah masuk desanya, lalu ini kemana lagi ya Mas lupa,” ucap Dimas.


“Lurus aja mas ikutin jalan,” ucap Ayu.


Ayu mengambil ponselnya untuk menghubungi Aldi adiknya dan mengabarkan jika mereka akan segera sampai.


“Halo Aldi, mbak udah masuk desa sebentar lagi sampai,” ucap Ayu di telepon.


“Iya Mbak, Bapak udah nungguin dari tadi,” ucap Aldi.


Ayu pun menutup telepon dan memberi tahukan kepada suaminya.


“Mas kalau ketemu pertigaan belok kiri ya,” ucap Ayu.


Tidak lama mereka pun berhenti di sebuah rumah besar berwarna hijau dengan halaman yang cukup luas.


‘Kayaknya bapaknya tante Ayu bukan orang sembarangan,' batin Wisnu.


Mereka semua pun keluar dari mobil, Wisnu juga mulai mengangkat tubuh Via yang sedari tadi tidak sadarkan diri. 


Ia menggendong Via dan langsung di persilahkan masuk ke dalam kamar.


Wisnu pun membaringkan tubuh Via di kasur lalu meninggalkannya di dalam kamar lalu menguncinya.


Saat Ayu datang Kuncoro terkejut melihat kondisi wajah anaknya yang lebam serta ada bekas jahitan di pipi kanannya.


“Ya Allah muka kamu kenapa Nduk,” ucap Kuncoro.


“Ini ... Akibat iblis wanita itu merasuki tubuh Via dan menyerang Ayu menggunakan pisau Pak,” tutur Ayu.


“Sepertinya lukisan itu pun kalian bawa ke sini,” ucap Kuncoro.


Tiba-tiba Kuncor memperhatikan Wisnu.


“Ini siapa?” tanya Kuncoro.


“Saya Wisnu Pak, Saya pengelola hotel tempat Via bekerja,” sahut Wisnu.


“Wisnu juga anak dari Darma, bos Ayu dulu Pak,” sambung Ayu.


Kuncoro terus memperhatikan Wisnu, “energi positifnya sangat besar, dan pendampingnya pun lebih tinggi dariku,” ucap Kuncoro.


‘Pantas saja dia tidak pernah mengalami apa pun saat berusaha menghancurkan lukisan itu,' batin Dimas.

__ADS_1


__ADS_2