Kembalinya Si Gaun Merah

Kembalinya Si Gaun Merah
Terjebak di lantai dua


__ADS_3

“Mas aku lihat akhir-akhir ini Via sering murung dan kadang sering melamun,” ucap Ayu sambil memberikan segelas kopi kepada Dimas.


“Mungkin saja Via ada masalah dengan pekerjaannya,” sahut Dimas.


“Apa kapan-kapan kita kunjungi dia Mas?”  


“Ide bagus, sekalian ....”


Dimas tersenyum sembari menaik turunkan kedua alisnya, seakan menunjukkan kode kepada istrinya itu.


“Sekalian apa Mas?” tanya Ayu.


“Sekalian kita menikmati waktu berdua di hotel itu,” ucap Dimas.


“Halah ... Bilang saja mau minta jatah kan,” ucap Ayu.


“Ya ... Itu juga perlu,” sahut Dimas.


“Kita cuma mengunjungi Via mas bukannya menginap,” sahut Ayu.


“Ya ... Sekali-sekali kita tidur dengan nuansa berbeda. Mas akan pesan kamar yang view nya menghadap ke kota gimana?” tanya Dimas.


“Ya sudah kalau begitu,” sahut Ayu.


Keesokan harinya, tanpa di ketahui oleh Via, kedua orang tuanya itu telah memesan sebuah kamar di lantai 9.


Di sisi lain Via mendapatkan info jika status kamar di lantai 9 ada yang terisi.


Dalam formulir room report itu tertulis jelas nama yang mirip seperti nama Ayahnya yaitu Dimas Aditya.


Via tidak terlalu menghiraukan masalah itu, ia lebih fokus pada pekerjaannya.


Tidak lama Rosa mengetuk pintu ruangan Via.


“Permisi Bu,” ucap Rosa.


“Iya masuk aja Rosa.”


Terlihat Rosa masih mengenakan baju biasa, belum memakai seragamnya.


“Bu, ini surat pengunduran diri saya,” ucap Rosa sambil menyodorkan sebuah amplop.


“Kenapa kamu mengundurkan diri?” tanya Via.


“Saya mau pulang kampung Bu,” ucap Rosa berdalih.


“Pulang kampung? Berarti kamu gak balik ke sini lagi?” tanya Via.


“Ti-tidak Bu, saya mau kerja di ladang saja,” sahutnya.


“Apa kamu tidak ingin mempertimbangkannya lagi?” 


“Tidak Bu, saya mau resign saja,” sahutnya.

__ADS_1


“Kalau begitu saya permisi dulu Bu,” ucap Rosa sambil beranjak pergi.


Hal ini semakin membuat Via stres, belum lagi banyak orang yang memojokkannya atas insiden Ismail.


Kini kantor itu semakin sepi, hanya ada Via sendiri di jam itu. 


Via bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju pantry, Via memeriksa persediaan bahan-bahan lalu mencatatnya di buku kecil.


Baru saja Via ingin menghitung persediaan, Via di kejutkan oleh salah satu benda di belakangnya yang tiba-tiba terjatuh rupanya itu adalah sebuah botol sampo kecil yang biasa di gunakan untuk tamu.


Via mengembalikan botol itu lalu melanjutkan pekerjaannya. Saat selesai mencatat Via keluar dari ruangan itu dan kembali ke ruangannya.


Duk! Duk! 


Terdengar suara gedoran di balik pintu ruang laundry, Via terkejut dengan suara itu karena suaranya cukup kencang.


Via pun memeriksanya, namun tidak ada siapa pun di ruangan itu.


‘Sepertinya aku harus keliling dulu,' pikir Via.


Via tidak ingin larut dalam perasaan tegang ini, ia memutuskan untuk berkeliling hotel sembari mengontrol kinerja para stafnya.


Via memulainya dari public area terlebih dahulu, saat berjalan di area lobi Via melihat jika pengerjaan ruang tambahan itu terhenti. Tidak ada aktivitas pembangunan lagi di sana.


Via kemudian naik ke lantai dua, ia memeriksa setiap detail sanitasi serta kebersihan yang ada di sana.


Saat di lantai itu Via tidak ingin memandangi lukisan tersebut dan memilih untuk langsung naik lagi ke lantai berikutnya.


‘Loh kok terbuka lagi,' batin Via.


Padahal di depan lift tersebut tidak ada siapa pun.


Via kembali menekan tombol tiga, saat itu lift yang akan menutup kembali terbuka lagi hal itu terulang sampai beberapa kali.


“Ini lift nya rusak apa gimana sih?” omel Via sambil keluar dari lift.


Tiba-tiba terdengar suara tawa seorang wanita, suaranya seperti jauh dari posisinya saat itu.


Bulu kuduk Via langsung berdiri tanpa sebab, Via akhirnya memutuskan untuk naik lewat tangga darurat.


Via membuka pintu besar dari besi itu, lalu masuk dan langsung menaiki anak tangga.


Suasana di bagian tangga darurat cukup membuat tubuh bergidik ngeri pasalnya tempat itu cukup gelap serta sangat jarang di lalui orang.


Langkah demi langkah Via menaiki anak tangga, suara langkahnya pun menggema.


Hingga Via merasa ada suara langkah lain selain dirinya di tangga itu, Via terdiam dan perlahan menoleh ke arah belakang.


Namun nyatanya hanya ia saja lah yang berada di tempat itu.


Via kembali melangkahkan kakinya ia menaiki satu anak tangga dengan kaki kananya.


Terdengar hentakkan sebanyak dua kali, saat itu juga Via merasa seperti ada seseorang di belakangnya.

__ADS_1


Dengan jantung yang berdegup cepat, Via mencoba menoleh lagi.


Tepat di hadapannya berdiri seorang wanita bergaun merah dengan wajah pucat dan penuh darah, wanita itu menyeringai ke arahnya.


Spontan Via berteriak dan berlari naik ke atas.


Saat sampai di lantai tiga, rupanya pintu darurat lantai tiga terkunci. Via pun harus naik lagi ke atas agar bisa keluar.


Via naik dengan cepat walaupun ia hampir kehabisan nafas, ia tetap menaiki anak tangga itu dengan secepat mungkin hingga ia menemukan pintu darurat yang tidak terkunci.


Via langsung keluar dari tangga darurat itu.


Hal tak masuk akal kembali terjadi, bukannya naik ke lantai atas Via malah kembali lagi ke lantai dua.


Kaki Via gemetar akibat kelelahan menaiki tangga di tambah lagi Via mengenakan sepatu dengan hak yang cukup tinggi hal itu membuat kaki Via kesakitan.


‘Kenapa aku jadi balik ke lantai dua lagi sih?’ batin Via.


Via teringat dengan wanita yang ada di lukisan tersebut. 


Saat Via menghampiri lukisan tersebut, terlihat darah segar mengalir keluar hingga menetes ke lantai.


Via pun berlari menuju lift tamu, dan menekan tombol untuk naik ke lantai atas.


Di dalam lift Via terduduk lemas, ia tidak menyangka akan terjadi hal aneh seperti ini.


Wajah wanita itu juga masih terbayang jelas di pikirannya.


‘Kenapa dia selalu mengikutiku?’ pikir Via.


Lift terbuka, saat keluar lift Via malah kembali ke lantai dua lagi tempat di mana lukisan itu berada.


Berkali-kali Via mencoba naik lagi namun tetap saja ia kembali ke lantai dua itu.


Karena kesal, Via menghampiri lukisan itu lalu membanting lukisan itu ke dinding.


Tapi anehnya, lukisan itu tidak rusak sama sekali bahkan tergores pun tidak.


‘Siapa kamu sebenarnya? Kenapa kamu menganggukku sialan!” ucap Via sambil melempar lukisan tersebut.


Usaha Via rupanya sia-sia, lukisan itu tetap utuh seperti sedia kala tanpa ada goresan atau pun kerusakan.


Saat Bia ingin melemparkan lukisan tersebut, jari Via tertusuk sesuatu dan mengakibatkan jarinya berdarah hingga menetes ke bagian wajah wanita itu.


Darah yang keluar cukup banyak, Via merasa bingung apa yang membuat jarinya berdarah padahal di bingkai lukisan itu tidak ada benda tajam atau semacamnya.


Saat diperhatikan lukisan itu seperti menyerap darah Via hingga tetesan darah itu menghilang dengan sendirinya.


“Via kamu ngapain?” Wisnu tiba-tiba datang.


“Wisnu ....”


Mata Via berkaca-kaca saat Wisnu datang, ia berpikir jika ia akan terus terjebak di lantai dua itu tanpa ada seorang pun di sana karena beberapa fasilitas di sana di tutup oleh pihak hotel.

__ADS_1


__ADS_2