Ken And Key

Ken And Key
Part 1


__ADS_3

Dari awal saat briefing pagi ini belum diselenggarakan, apalagi sebelum kabar menggemparkan itu sampai di kupingnya. Seorang gadis sudah merasakan melilit di perut tidak karuan kayak orang mau lahiran diajak main billyard.


Gadis itu bernama Key. Tidak usah dikenal, nanti sayang lagi.


Setelah pak Marko, pimpinan HRD mengatakan bahwa GM mereka diganti, sisanya Key sudah loyo kayak orang salah milih zonk di acara super deal 2 milyar. Acara yang kadang bikin orang kesel sambil misuh-misuh sendiri. Acara itu kesukaan bundanya. Seorang wanita yang melahirkannya berhijab cantik, namun kurang bisa mengontrol umpatan. Maklum mantan anak jalanan, walaupun anak pak kyai tapi telat masuk pesantren.


Udah bisa dibayangkan bagaimana bunda Key yang berumpat dibawah kontrol dan alam sadar. Dari anjing tetangga sampai babi ngepet tetangga pun keluar.


Balik ke topik dimana Key yakin bahwa mules diperutnya adalah bagian dari takdir. Semua takdir yang terjadi pasti punya alasan dan sebabnya.


Seorang pria berdiri dengan senyum jumawa membuat semua orang bertepuk tangan karena kata-kata perkenalan dirinya yang bak perfecto nomero uno. Tapi bagi Key sih, beliau adalah pria yang 'sok' berwibawa, suara 'sok' ditegas-tegasin saat menyampaikan sambutan pertama sudah seperti janji-janji capres penuh iming-iming.


Cukup dulu dia dirayu, rakyat jangan juga kali, Mas.


Bedanya, ini iming-imingnya bukan kesejahteraan rakyat, tapi kesejahteraan karyawan yang haus belaian kayak jejeran karyawati haus belaian seperti Gina ataupun Riana. Tipikal cewek haus perhatian, cita-cita mereka bukan naik pangkat melainkan naik kasur bareng anak konglomerat.


Asli nih, kalau acara briefing dan sambutan ala-ala ini selesai. Kedua ondel-ondel itu udah lari menempel pada GM baru atau paling nggak tanya-tanya pak satpam mana mobil milik atasan baru untuk sekedar tau kadar kekayaannya. Lihat usahanya aja, mereka dandan di salon mahal. Mereka sudah tau kalau ada mangsa baru.


Key menatap Gina dan Riana bolak-balik. Key ini bukan pick me girl. Tapi untuk menenteng tas LV padahal gaji tidak mencukupi atau beli Iphone 14 dengan empat belas kali bayar rupanya bikin geli juga. Key lebih menatap mereka mengenaskan, tapi melihat sorot mata Riana yang amat benci kepada Key, dia sudah bagai kerupuk kulit nyemplung kedalam kuah rawon. Melempem.

__ADS_1


Riana mencolek bahunya dan berbisik, "Bilang aja lo ngiri sama gue. Setelah ini gue bakal sering tuh pertemuan manja sama pak GM."


"Kayak lo berhasil aja." ucap Key kecut, tidak tau saja kalau General Manager itu adalah lepehan hatinya Key bahkan sejak beberapa tahun yang lalu.


"Duh idaman banget tau nggak, anak bos malah terjun jadi GM dulu buat tau seluk-beluk perusahaan, bukan langsung aja jadi CEO atau Chairman."


Mata key melotot, Chairman mamak kau itu. Key ingin teriak begitu. Tapi sayangnya Key udah buang jauh-jauh niatnya. Bisa gempar seisi gedung ini kalau tahu si GM itu mantan seorang kasta sudra yang suka mojok di rumah nasi Padang di foodcurt perusahaan. Apa kata mbak Angel, asisten managernya kalau Key ini mantannya si bos baru.


Semua bawahan pun membubarkan diri saat jam operasional perusahaan dimulai. Key hanya berjalan santai meskipun rasanya kakinya terpaku, jari kakinya kaku dibalik flatshoesnya. Kena asam urat kayaknya.


Key hanya menekuri langkah pak Manaf dan mbak Angel dengan gontai. Key ini tidak menonjol sama sekali. Mukanya pas-pasan, baju pun standar tanpa punya warna yang terlalu jreng bagai cewek kue. Tubuhnya mungil tapi cukup manis kok buat di peluk. Key tidak seperti Riana yang punya modal cantik, badan bagus, mulut manis yang suka menarik perhatian semua divisi mereka sampai bisa menjadi seperti social butterfly kantor ini. Walau kalau malam, udah kayak kupu-kupu malam sih. Sedangkan Key hanya punya mbak Angel, rekan wanitanya yang kini hamil tua di divisi IT.


Dia satu-satunya anggota team wanita dari 3 orang wanita di divisi IT yang amat langka itu. Maklum, jarang ada wanita yang nyasar di divisi ini. Hanya Luna, Ceressa, dan Key. Tapi Key tak pernah berteman dekat dengan mereka karena Luna anaknya introvert tingkat akut, dia bekerja dari rumah alias work from home. Sedangkan Ceressa lebih horor, dia mengaku lesbian, dia takut terbawa perasaan bisa berteman dengannya.


Team alpha pertama adalah Abang semua orang. Bang Ed, alias bang Edgar. Usia 30, duda, haus belaian, dan Senior. Tiap kumpul sama karyawan lain nggak jauh-jauh ngomongin tonjolan-tonjolan tubuh wanita yang empuk-empuk kata dia.


Heran, apa semua lelaki itu mikirin kenikmatan yang iya-iya aja di otaknya tiap setengah jam sekali, sih?


Bodoh deh. Lanjutkan langkahmu, Key. Masih kerjaan diatas mejamu, deadline mepet, Key belum setor laporan juga.

__ADS_1


Lift yang akan mereka gunakan memang beda Lift khusus atasan dan dewan direksi karena divisi kami memang satu lantai dengan lantai pimpinan.


Tidak tau kenapa bisa seperti itu, tapi sepertinya mereka ingin memberikan keamanan ekstra untuk data penting perusahaan. Kalau ada serangan tiba-tiba, jadi gampang lapor ke bawahan. Karena memang jelas, perusahaan key bekerja adalah perusahaan berbasis teknologi.


Namun tanpa Key sadari kalau seonggok tubuh tinggi tegap yang terbalut setelah kerja necis berdiri didepannya. Seorang yang sok tegas dan sok berwibawa tadi yang baru pertama kerja hari ini sebagai General Manager. Mantan pacarnya Key alias lagi momok menyeramkan yang membuat perut Key mules berada didepannya sambil tersenyum sinis.


"Halo, Key. Nice to meet you."


Bah, alamat mental yang sudah Key persiapkan terkocar-kacir di lantai. Begitu Key melihat lelaki jangkung yang berdiri sedikit membungkuk di sisi kananku agak membelakanginya, aku udah kenal siapa sosok gerangan yang bikin jantung ini jumpalitan.


"Senang bertemu denganmu lagi, Key."


Aldrian Keanuval Wijayakusuma alias Ken yang bukan pasangannya Barbie, tapi mantan pacarnya, dan sekarang atasan kerjanya.


Like 👍


Favorite ❤️


Comment📝

__ADS_1


Tip (for author spirit!) 💰


__ADS_2