Ken And Key

Ken And Key
Part 19 : Bertemu Bigboss


__ADS_3

"...Will you marry me?"


Telinga Aldrian mulai memerah entah karena terpaan udara dingin malam hari atau gejolak rasa dalam dirinya yang ia utarakan dengan segenap keberanian yang mendebarkan. Sebuah tanda bahwa lelaki ini mengalami kegelisahan. Key hapal dengan kebiasaannya itu.


Key terperagah mendengarnya. Aldrian hanya bisa terdiam cukup lama menunggu respon dari gadisnya itu untuk sebuah proposal dadakan yang Aldrian ajukan.


"Duh, kayaknya kuping gue dengung apa gimana, ya?" ucap Key salah tingkah dan malah berjalan pelan-pelan lalu kabur. "Gur nggak bisa dengar!"


"Kuping kamu tidak dengung, Key."


Kedua telapak tangan Aldrian yang hangat tiba-tiba menempel ke kedua pipi gadis itu sambil mengarahkan wajah Key untuk melihatnya. Kesempatan, kapan lagi coba.


Lah, ditungguin pria tampan, mapan, memikat seperti Aldrian malah membuat Key ingin melarikan diri. Key bergidik takut, karena setahunya Aldrian dekat dengan beberapa gadis yang bersliweran sana-sini malah mau melamarnya, ini Al yang gila atau kesurupan jin panah asmara rumah sebelah sih?


"S-SAYA TIDUR DULU PAK!! BESOK BAPAK MEETING KE BANDUNG BERANGKAT JAM 5 PAGI! SAYA NGGAK IKUT."


"Kamu kan sekretaris saya, Key jadi harus ikut!"


"Pokoknya saya nggak ikut!" Key sudah menghilang dibalik tembok putih.


"Big boss bilang saya nggak boleh ikut, jadi sama Farham aja!"


Aldrian terpongah dengan senyum yang membuntuti keterkejutannya dengan respon pura-pura tak mendengar lamarannya itu. "Saya tunggu jawaban kamu, Key. Awas saja nanti."


Gelapnya malam tanpa bintang kini melingkupi dirinya yang berdiri di balkon teratas lingkup pribadinya. Aldrian bertahan untuk berjalan mendapatkan point-point impian yang dia harapkan akan datang suatu hari dimana ia membawa gadis yang melarikan diri tadi kembali padanya.


.


.


.


Key berada di meja bundar ikea yang sering kali dipakai team croco untuk berunding masalah penting dengan situasi genting seperti ini.


"Terimakasih sudah menolong gue walau gue kagak tahu gimana kalian bisa tahu gue dalam keadaan terhimpit, terdesak, dan tertindas."


Mereka mengangguk, bang Ed berdiri menggeser air akua gelas dan toples cemilan Key yang diwariskan ke Adam yang kini berisi kacang goreng bawang yang menggugah selera.


"Itu gue ada feeling. Aura lo suram beberapa kali gue lihat pas lewat depan kubikel lo. Farham mah mana ngerti kalau lo kepentok perjodohan bunda. Emang ya disini gue yang ikatan batinnya kuat ketimbang yang lain." kata bang Ed dengan bangga. Pak Manaf berjalan melewati ruangan mereka yang transparan oleh kaca, beliau berserobok pandang dengannya yang kemudian mereka bersamaan mengangguk ramah lalu tersenyum, hapal pasti pak ketua satu itu bila anak-anak Alpha berkerumun bagai gula mengerubungi semut, eh kebalik. Mereka manis soalnya.


"Kalo nggak gue minta makan dulu, kita nggak bakal ketemu Key di sushi musim semi." Adam menggerutu, Key yang melihat itu kini menoleh pada si rekan gembulnya itu, "Anak gue jadi lebih berguna setelah puasa Suriroti nyaris kadaluarsa."


"Lu anaknya toxic emang Key. Kampret."


"Lewat sehari kagak ada jamurnya, Adam!" bela Wawan lalu bertos ria dengan Key.


"Ya karena roti gue elu jadi bergizi, emang enak ditinggal sama gebetan mulu setelah tahu porsi makan lo bikin bangkrut." ujar Key mengena di hati Adam yang langsung kicep. "Harusnya elo bersyukur!"


"Gue mending ngga punya cewek ya, ogah punya cewek haus skincare kayak jaman sekarang. Apa itu glowing? Muka minyakan gitu bangga! Minum aja tuh skincare, kagak bikin glowing diusus juga."


Tanpa sepengetahuan dan kesadaran mereka, salah satu personil trio kwek-kwek yang sedari tadi bersembunyi, kini berlari karena sakit hati.


Adam berdecih lalu memilih untuk merangkul toples kacangnya, "Ogah bagi-bagi lagi."

__ADS_1


"Kuburan lo sempit!" timpal Wawan.


"Gue tinggal diet kalo udah tua, bakal cukup. Nggak bakal ngap kepanasan, gue orang baik kuburannya ada ACnya."


"Njir."


"Boro-boro tua Dam, makhluk kayak lo dua lobang jadi satu. Sekalian aja bikin makam massal sana." ucap Dimo membuat Adam sedikit tersinggung.


"Awas aja kalau gue diet berhasil, gue minta jatah makan kalian selama sebulan utuh pagi-siang-sore. Key sarapan, wawan makan siang, Dimo makan malam."


"OGAH!" tolak Key, Wawan, dan Dimo.


"UDAH!" lerai bang Edgar.


Dimo berdeham, "Gue mau ngomong sama Key. Gue mau minta maaf soalnya pernah secara nggak langsung-"


"Langsung kali, lo suruh Rofyan pepet Key dalam beberapa misi. Lo juga yang ngasih tau kapan Key pulang ke Pian pas masih satu divisi." ucap Adam membuat hati Dimo semakin berat dengan rasa bersalah.


Key terdiam dan hanya mengangguk sambil menyentuh pundak Dimo dan berkata tidak apa-apa. "Gue juga mulai ngerasa kalau Pian itu ngelihat gue lebih daripada teman. Tapi Pian itu bukan tipe gue."


Dimo mendongak menatap Key yang masih bercerita kepada semua teman-temannya. Sesi ini sepertinya lebih ke seorang adek yang sedang menumpahkan segala unek-uneknya pada kakak-kakaknya. "Maksud gue, gue nyaman Pian itu cuma sebagai teman dan ngga lebih."


Bahu Wawan yang merasa dicolekpun menoleh kearah Adam lalu berbisik "Udah pasti seleranya se high level pak Aldrian."


"Lo jangan julid didepan muka ya, dam."


"Canda julid, gue cuma penasaran soalnya elo udah melewati beberapa kandidat dari bunda lo yang beraneka ragam."


Wawan menunjuk, "Mbah-mbah itu misalnya."


"Si duda yang anaknya bandel itu gimana?" tanya Dimo tiba-tiba.


Key hanya ingat pak Ervan yang usianya mungkin seumuran dengan bang Andro tapi sudah punya satu anak dari mendiang istrinya yang meninggal saat melahirkan. Memang sih anak pak Ervan itu manis, tapi nakalnya nggak ketulung karena bapaknya cuma bisa kerja dan urusan anak sudah ditangani oleh susternya. Rambut Key sempat hampir dioles slime yang lengket oleh Fiara, nama anak itu. Key agak trauma dan memutuskan untuk tidak melanjutkan perjodohan. Bunda masih merong-rong jika perjodohan kali ini akan gagal lagi. Memang Key masih umur 25 tahun, tapi seusia itu jaman sekarang banyak yang sudah turun mesin 2 kali alias punya 2 anak. Key mah boro-boro anak, calon aja tidak punya.


"Gue masih penasaran sama anaknya tante Ermala." pancing Bang Ed yang membuat mereka berempat menatap respon Key yang biasa saja.


"Riandreas Elsyah Danuarta, Kalian cari aja namanya di google. Muncul kok."


Tatapan Mereka kini menyusuri laman Nikipedia yang menjabarkan profil seorang Rian-rian itu.


Masih ingin menerima penjelasan, si Adam memancingnya lagi. Aksi pancing memancing ini bertujuan untuk melihat respon Key, apakah mereka sih diperlukan dalam misi pembatalan perjodohan atau tidak. "Katanya si Rian anak Tansky Ermala punya bisnis properti. Dia punya banyak resort di Bali sama Jawa. Menjanjikan itu Key."


"Gue... Nggak taulah." Key sedikit bernafas gusar sambil meremas-remas jari tangannya sendiri, "Tapi kayaknya gue harus pasrah deh."


.


.


.


"Kamu nggak ketemu Key?" tanya Rofyan pada Rara yang berada di ruang fotokopi.


"Gue tadi bareng Ririn sama Reni lewat Divisi team Alpha. Kayaknya si Key Ada disana." jawab Rara. Rofyan masih menunggu giliran memperbanyak dokumen setelahnya.

__ADS_1


Rara jadi teringat sesuatu yang ada pada kepalanya, "Gila juga kalau gue jadi Key."


"Emang kenapa?"


"Itu, si Key kan kerja langsung sama pak Aldrian. Asem banget ya hidup kalau udah jadi kacungnya mantan sendiri, apalagi pak Al suka bawa-bawa cewek-cewek cantik yang highquality." ungkap Rara membuat Rofyan kini menoleh sepenuhnya padanya.


"Lo nggak tau?"


Rofyan hanya menatap Rara yang kembali berdecih.


"Key itu mantan pacarnya pak Aldrian." tekan Rara yang seperti tidak menyadari bahwa ada sembilah bambu yang sepertinya menusuk relung dada Rofyan. Atau jangan-jangan pindahnya tugas Key yang semula di Team Alpha menjadi Sekretaris adalah campur tangan Aldrian sendiri. Kirain tidak ada saingan Rofyan untuk mendapatkan hatinya Key, General Manager baru itu mulai mencari cara-cara untuk mendapatkan hati Key kembali.


"Yakin deh gue, Riana sebel banget karena dia kan agak sentimen sama Key apalagi tau bahwa cowok yang jadi incarannya adalah lepehan musuhnya."


"Bukannya lo dayang-dayangnya? Kok ngomongin bos lo sendiri?" ketus Rofyan yang kini mulai memperbanyak dokumennya untuk segera digunakan dalam meeting seusai makan siang.


Rara tertawa pelan, "Kalo itu medusa nggak licik, udah dari dulu gue jambak rambutnya. Si Riana itu pendendam banget. Dia bisa fitnah seorang lewat kuasanya dan para cowok iyain aja deh apa katanya itu udah dipercaya aja. Lo ngerti aja cowok sekarang kalo udah disodorin ***** plastik udah tak berkutik."


Rara kembali menata kertas-kertasnya, "Udah gue mau lanjut lagi, oh ya bilangin si bang Ed, kutang medusa hari ini warna cokelat susu tumpah-tumpah. Gue heran kenapa Bang Ed selalu minta update warna kutang."


Selepas kepergian gadis itu Rofyan kini mulai memikirkan langkah apa yang akan dia gunakan untuk menyatakan perasaannya pada Key. Memang mungkin dia terlalu lama mengulur waktu untuk lebih bisa berdekatan dengan gadis itu. Dimo rupanya sudah tidak bisa membantunya lagi, mendapatkan momen yang tepat untuk mengutarakan perasaannya pada Key menjadi Pe-eR berat untuk Rofyan saat ini.


Kutang


"Gila, jadi selama ini Bang Ed menang taruhan berkali-kali dari bocoran si Rara."


.


.


.


Istirahat makan siang membuat ruang-ruang di kantor menjadi lenggang, hanya tersisa beberapa karyawan yang berusaha mengejar target pekerjaan memutuskan untuk makan siang di kubikelnya. Suasana yang lenggang dan menolak ajakan para croco ke RMP Sambalado membuat Key sedikit menghembuskan nafas lega. Langkahnya tergolong biasa, tidak begitu sembunyi-sembunyi untuk menggapai lift yang akan menuntunnya ke parkiran B1.


Bunyi ting seiring dengan terbukanya pintu membuat sosok Key kembali melangkahkan kaki jenjangnya lalu mencopot kacamata baca yang telah ia pakai selama menyusun laporan dan jadwal GM seminggu terakhir.


Seorang ajudan tersenyum begitu melihat sosok gadis yang sudah ia anggap seperti putrinya itu. Pak Sobirin yang sudah seperti saudara yang begitu sabar dan mengabdi pada keluarganya sejak dahulu.


"Non Key, udah ditunggu bapa- big boss." ucap Pak Sobirin mengarahkannya pada sebuah alphard hitam selegam malam ditambah cahaya basement tak begitu terang.



Key terdiam hanya mengikuti hingga sampailah ia didepan mobil yang ditunjuk dan terbuka menampakkan sosok pria paruh baya yang begitu menawan dengan beberapa rambut uban dan jas hitamnya.



"Lama nggak ketemu kamu lagi, nak!" seru pria itu tampak bersemangat.


Key hanya tertawa canggung sekaligus sedikit tak menutupi terkejutannya.


Dia Big Boss


Bukan Song Jong ki sih, tapi bapak Ardhiagam Wijayakusuma.

__ADS_1


Bapak sang Mantan.


__ADS_2