
Bang Edgar memicingkan matanya dengan curiga. Tapi Key kemudian mengangguk dan berterimakasih pada atasan baru mereka.
"Ba-aik kalo begitu pak." ucap Bang Ed yang masih menatap rekan kerja yang sudah bagai adik perempuannya ini dan sosok bos baru silih berganti dengan penasaran.
"Key... Anu-", bang Ed menggaruk kepalanya, entah kenapa dia canggung sesaat dan Key hanya bisa memejamkan mata, "Duluan kalau gitu."
"Iya."
Sepergian bang Ed, gadis itu hanya bisa pasrah digiring masuk ke dalam mobil Benz milik si Bos tanpa banyak cingcong. Mobil Aldrian berjalan sunyi diantara hiruk pikuk perkotaan yang masih begitu ramai.
Dunia mulai berubah. Key bagai kembali ke masa pacaran mereka kala itu. Mereka berdua masih anak sekolah, kemana-mana naik motor bebek, dan jika mereka tidak sengaja lewat jalan berlubang, mereka bisa tiba-tiba pelukan dan kemudian merasa canggung seperti sekarang. Kalau hujan mengguyur, Key dan Ken akan meneduh sambil makan jajan di warkop dekat sekolah. Mereka bisa seromantis itu lho, namun itu ketika Key berada bersama Ken bukan dengan Aldrian yang berubah 180 derajat saat ini.
Entah kenapa hingga lima belas menit perjalanan, di dalam mobil tidak ada salah satu dari mereka yang berniat berbicara.
Dalam benak Key hanya terbayang sosok Ken yang dulu. Apakah dunia dan takdir bisa sebecanda ini? Sialnya dulu Aldrian Keanuval cuma bocah ingusan yang kalau jam pelajaran kosong doyan makan buku ke perpustakaan bareng roti sobek rasa sarikaya kesukaannya.
Image kutu buku culun yang melekat sekarang udah habis digilas roda kehidupan. Dia, mungkin bukan lagi Ken yang Key kenal dulu. Dibalik baju seragam yang selalu dimasukkan celana, dan ikat pinggang yang membelenggu pinggang gemuknya. Ken yang punya tubuh tinggi besar macam satpam komplek itu menjelma sebagai pak Aldrian yang kaku, dingin, berwibawa, dan penuh misteri dibalik setelan suitnya dan juga tubuh kekarnya.
Key menepis kenangan masa lalu dengan memalingkan kepala keluar jendela kala Aldrian berdeham memecahkan suasana.
"Kamu, udah makan?" tanyanya dan aku bingung.
"Bukannya tadi acara makan-makan pak?" balas gadis itu berbalik tanya.
Ken berdeham lagi, "Maksudnya beliin orang rumah kamu makanan."
"Makasih pak, tapi nggak usah. Mereka udah makan malam."
Aldrian hanya terdiam sambil menepikan mobil pada gerai martabak yang lumayan terkenal punya anak pak presiden lalu mengajak Key mampir untuk membelinya. Satu yang tetap sama pada dirinya sampai sekarang adalah Aldrian yang jika dilarang melakukan apapun, dia akan tetap melakukan apa yang dia inginkan.
__ADS_1
Menunggu kurang lebih lima belas menit karena, gadis itu cuma bisa terdiam sambil memeriksa pesan-pesan yang masuk di ponsel, lalu mematikannya dan memasukkannya kedalam tas. Setelah pesanan sudah datang, mereka akhirnya berjalan memasuki mobil dan melanjutkan perjalanan yang penuh kediaman ini.
"Nih, buat bunda kamu. Saya sudah lama tidak bertemu beliau." ucapnya yang lalu hanya bisa Key balas dengan terimakasih seperti biasanya.
"Cie bapak, masih kayak pacar yang suka jajanin orang tua pacarnya martabak kalau mau main ke rumah." lirih Key dalam benaknya.
Suasana hening lagi, sampai ketika Aldrian kembali membuka suara, "Soal kepergian kakak kamu, saya turut berduka cita." ucapnya tulus.
"Iya pak, udah lama juga. Sedihnya sudah hilang. Nggak ada yang perlu dicemaskan. Kita sudah punya jalan yang masing-masing sekarang da-"
"Key..." potong Aldrian.
"So, It was made you leave me?"
Key terdiam, bukan. Jika Aldrian bisa mendengarkan hal itu mungkin jawabannya adalah tidak. Bukan kematian kakaknya yang mrmbuat Key meninggalkan Aldrian ketika mereka bersama dan bahagia. Bukan alasan yang seperti itu yang menyebabkan mereka bisa berakhir seperti ini.
"Aku begini maybe, memang keinginanku."
"Kamu nggak perlu gugup kalo sama saya." ujar Ken sambil menunggu Key membawa tasnya sekaligus martabak yang dia belikan.
"Saya nggak gugup kok, pak. Terima kasih tumpangannya kalau nggak ada bapak, nggak mungkin saya ngesot sampai rumah."
Aldrian hanya mengangguk diam.
"Terimakasih juga dengan martabaknya. Masih ingat bunda suka martabak wijs man keju kismis."
Aldrian mengangguk lagi dengan sedikit rona yang entah Key takut salah melihatnya karena mereka berada dalam remang malam.
"Kamu nggak berniat nawarin saya segelas kopi buat mampir gitu?"
__ADS_1
Key menghela nafas kasar, harusnya dia tidak banyak cingcong. Key lupa jika Aldrian ataupun Ken sama-sama suka memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan.
Alamat Key diberondongi bundanya karena pulang dengan seorang cowok ganteng, konglomerat, kaya raya, berwibawa. Bisa-bisa Key disuruh menikah dengannya. Maklum, kadang bunda Key suka khawatir karena teman-teman kerja Key kelihatan tidak ada yang benar. Satunya duda, yang dua kelihatan biasa tapi agak menyebalkan, dan yang terakhir gembrot. Bunda takut Key salah pilih pasangan.
"Kopi?" Key mengerutkan dahinya sambil mengingat-ingat. "Nggak ada orang dirumah saya yang minum kopi pak."
"Maaf ya pak, dirumah saya cuma ada susu Indomilk cokelat sama roti sobek sarikaya, nggak ada kopi."
Secepat cahaya Key langsung buru-buru melangkah dan memasuki gerbang kecil rumahnya meninggalkan Aldrian yang terkekeh sambil memukul perlahan kap mobilnya,"Masih ingat saja."
Mobil hitam itu akhirnya meninggalkan jalan depan rumah Key. Key pun menghembuskan nafas pelan dan terkejut ketika mengetahui bundanya berdiri nyaris didepannya ketika membuka pintu. Jantungnya bagai terantuk sesuatu sampai hampir lepas rasanya.
"Siapa yang nganterin kamu, Key?" tanya Bunda penuh selidik.
"Temen mah, biasa."
"Mobil Edgar nggak sepelan ini. Dia kan suka nyalain klakson pas mau belok kesini." Sial, Bunda Key hapal betul bang Edgar yang suka menyalakan klakson ketika lewat rumah kosong di sebelah rumahnya yang konon angker dan suka ada penghuni gaibnya untuk sekedar permisi mau lewat.
Entah apakah bunda tahu bahwa Key pulang dengan orang lain. Jam menunjukkan pukul 23:15 WIB, tidak lain tidak bukan Bunda menonton academy dangdut, makanya Key dengan wajar akan ketahuan.
"Yuk makan bun, aku bawain martabak buat temen lihat Lesti." sela Key dan sesuai dugaan, tak kira-kira bundanya tidak lagi curiga ketika mulutnya dipakai untuk mengunyah makanan.
Dasar Bunda...mungkin kecurigaannya delay beberapa hari sampai dia ingat sendiri.
Like 👍
Favorite ❤️
Comment📝
__ADS_1
Tip (for author spirit!) 💰