Ken And Key

Ken And Key
Part 13 : What We Do Last Night


__ADS_3

Crip Crip Crip


Suara burung-burung kecil bernyanyi menyambut pagi, Key tersenyum dalam posisi yang masih terpejam. Belum pernah ia merasakan tidur selena ini karena beberapa hari belakangan ia dikejar deadline, lemburan, dan juga ia harus pasrah dipermainkan oleh bos barunya, Aldrian.


Udara dingin seakan menembus masuk kedalam tubuh Key. Kain selimut yang oke punya pastilah mengingatkan bahwa Key kini memang tak lagi ada dikamarnya yang berada di rumah lama. Bed yang tak berdecit begitu lembut memantul-mantul saat ia berbaring disana, kekuatan uang didunia ini memang sebegitu powernya. Yang banyak uang memang biasa merasakan nikmat, dan kini seolah-olah Key terbangun dari 'tidur'nya orang-orang kaya. Tapi Key tetap Key, si babu mantan yang seperti diingatkan kembali hal pertama yang terbesit dalam pikirannya adalah... Ini jam berapa? Apakah ia kesiangan masuk kerja, mata dengan bulu lentik itu terbuka.


Hal pertama yang dilihatnya adalah punggung telanjang seorang pria kekar namun tidak terlalu mengerikan tengah memunggunginya, bahkan mereka tengah berbagi selimut bersama dan yang pasti juga mereka telah melewati malam di tempat tidur yang sama. Kepala dengan potongan cepak yang khas dengan sosok menyebalkan beberapa minggu ini mulai menampakkan rupanya.


"Sudah bangun?" ujarnya serak. Suara nyebelin itu.


Key menatap Aldrian terpaku, "Kita berdua tidur bareng tadi malam?"


"Sepertinya..."


Aldrian mengedipkan matanya untuk mengumpulkan cahaya, "...lebih dari itu."


Pria itu masih memasang raut kosong tak berekspresi, ia menelungkupkan badannya dan memeluk bantal berwarna navy yang tampak seragam dengan nuansa ruangan ini. Hidung Aldrian memerah, setitik noda darah ada disalah satu lubang hidungnya.


"Hidungku masih berdarah?"


Gadis itu mengangguk, Aldrian kembali menyekanya, "Apa seintens itu kita semalam sampai kamu berdarah?" ucap Key sedikit tersirat akan khawatir.


"Tidak sebelum kamu yang kubuat berdarah-darah, kalau kamu memang belum pernah..."


Brak


Key menegakkan badannya, tak merasa ada rasa nyeri atau sakit diantara pahanya, ia menggelengkan kepalanya lalu meringkus tubuhnya dengan selimut tebal itu membawanya pergi ke kamar mandi.


"Hei, itu selimutku." ucap Aldrian menyeru pelan. Lalu ia tersenyum, "Aku telanjang, Key."


"Bodo amat!"


Padahal bohong, Aldrian masih mengenakan celana training nike yang baru saja ia pakai untuk berolahraga. Ya, Aldrian sudah bangun sedari tadi.


.


.


.


Key meminjam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Ia terkejut dengan celana dan pakaiannya kemarin yang tersampir disalah satu tempat menggantung handuk. Ia benar-benar ingin menghantamkan kepalanya untuk mengingat apa yang terjadi kemarin.


"Kenapa gue bego banget sih, Tuhan !?" serunya lirih.


"Ups, nggak etis nyebut Tuhan di kamar mandi, mana setengah telanjang pula. Duh...bunda..."


Ia masih mengenakan panty dan juga branya. Tapi yang jelas, Aldrian dengan tubuh kekarnya yang telanjang itu, dan juga perut rata berpetak delapan mirip sawahnya petani, perpotongan antara perut dan 'bawah perut' yang menghilang tertutup selimut navy... Bayangan itu benar-benar menghantui Key saat ini.


Tuk tuk tuk


Pintu terketuk dan tubuh Key terjengit kaget.


"Key, cepat! Saya kebelet." suara pria itu benar-benar membuatnya miris. Ini orang udah ganteng nggak ada apa jaga imagenya didepan cewek yang semalam dia tidurin.


"Sssshhh Iya sebentar." Ia langsung bergegas memakai pakaiannya dan juga menghampiri wastafel untuk sekedar cuci muka.


Pintu dibuka. Satu hal yang terlihat pertama kali adalah Perut rata itu. Key mendesah, malu lihat wajah Aldrian malah dapat melihat badannya yang shirtless. Kekar. Tapi ya malunya keubun-ubun.


"Minggir..." ucap Aldrian sedikit menggeram.


"Kita nggak ngapa-ngapainkan tadi malem?" tanya Key menghalangi akses masuk dengan lengan kurusnya dan juga pertanyaan impulsif itu.


Pak Al mulai mengeluarkan smirknya, "Pikir aja sendiri... Saya mau buang air."

__ADS_1


"BAPAK BISA NGGAK SIH JAIM GITU! SAYA YANG MALU LHO!?" teriak Key mendesah.


Apasih yang ada dipikiran Aldrian selain mau 'boker' untuk saat ini. Masa depan dan tekanan batin Key tentang status keperawanannya mulai dipertanyakan.


"Buang air itu manusiawi. Kamu minggir kalau nggak ya terserah kalo mau kecium juga baunya"


"Shit!"


.


.


.


Aldrian sampai di Lobby perusahaan masih dengan sosok Farham yang berjalan penuh keheranan sebab ada senyum yang asing diraut wajah beku nyaris es batu seperti biasa milik bosnya selama ia bekerja dengannya.


Beberapa karyawan dan karyawati mulai berkerumun. Berita tentangnya heboh dan mulai tersebar merata diseluruh lapisan lantai dan kalangan satu gedung dengan headline 'Pak GM yang berjuluk Harta, Tahta, Pak Al rupanya adalah anak dari Presdir WJ corporation, perusahan induk WJ technology'


"WJ itu Wijaya kusuma?"


"Wah, makin gencar ini antek-antek Riana menepatkan sasaran pada pak Al."


Riana yang mendengar hal itu sontak tersungging licik, "Enak aja antek-antek pada gegatelan. Ikan asin mah dianggurin kalau didepan kucing persia ada ikan Salmon yang lebih menggiurkan."


"Pantes aja mobilnya gonta-ganti, emang sultan." ucap Karyawan yang kini menunggu lift terbuka.


Barisan para karyawan membungkuk pada sosok Aldrian Keanuval Wijayakusuma yang berjalan bersama Farham. Minus Key, gadis itu masih marah dan kesal dan memutuskan untuk naik kendaraan umum menuju kantor bahkan sebelum Aldrian turun ke lantai satu rumahnya untuk sarapan. Dari usahanya, kelihatannya Key benar-benar ingin menghindarinya.


.


.


.


Key benar-benar tidak bisa menghindari sosok bos menyebalkan itu dari hidupnya. Aldrian tengah menatap ujung kaki hingga ujung rambutnya yang sedikit tak rapi sebab harus berdesakkan dengan penumpang saat di perjalanan.


"Tapi pak, 10 menit lagi meeting-"


"Materi sudah siap, kamu menyedihkan untuk bersanding dengan saya waktu meeting. Malu-maluin didepan klien. Kalau bau kamu memengaruhi konsentrasi saya dan orang-orang gimana? Rugi!? " ucap Pak Aldrian yang membuat Key benar-benar ingin meledakkan satu kantor ini, terutama ruangan ini. Key masih merasa wangi, downy pelembut dan pewangi pakaiannya diusap langsung berbunga-bunga kok kata iklannya.


Key mengangguk. Menatap sebal Aldrian yang kini tak lagi menatap padanya. Sebuah ayunan kosong di udara ingin sekali rasanya Bosnya itu merasakannya. Betapa kesal Key saat ini.


Setelah sepuluh menit Key kembali dengan pakaian baru, cadangan pakaian kantornya bila masalah pada penampilan. Itupun saran Aldrian beberapa waktu yang lalu, hanya heran saja masalah besar yang dimaksud adalah keringatnya yang bahkan tidak ada dari 1 liter.




Blazer dark grey dan dipadukan dengan cotton white T-shirt polos. Key mengurai rambut hitamnya yang lurus sedikit basah karena terciprat air shower. Aldrian memiringkan wajahnya dan menatap Key yang baru saja kembali keruangannya, "Sudah selesai?"


Key mengangguk, enggan berkata-kata sebab yang ingin ia katakan hanyalah umpatan saja.


Suasana meeting berjalan seperti biasanya, namun yang membedakan adalah Karyawan yang mulai sedikit terkocar-kacir setelah mendengar berita tentang sosok GM yang berada didepan layar dan menjelaskan apa yang ditayangkan pada projektor. Bahkan berkali-kali wajah dingin nan tampan itu menerangkan materi meeting kali ini, beberapa wanita yang berada diruangan tersebut sedikit goyah akan kesadarannya.


"Baik, cukup dari saya. Ada yang perlu dipertanyakan?"


Hening...


"Meeting selesai, dan selamat melanjutkan pekerjaan kalian masing-masing. Terimakasih." tutup Aldrian dan bergegas meninggalkan ruangan karena sebuah panggilan pada ponselnya.


Farham mencatat hal-hal dalam meeting yang sekiranya harus dilengkapi mengharuskan ia untuk tinggal sejenak di kursinya, meninggalkan sosok Key yang berjalan ingin menyusul pak Aldrian sebab janji bertemu klien tidak sebelum tiga wanita mendekatinya dan menatapnya penuh maksud yang aneh.


"Enak ya jadi lo?" ucap wanita satu, divisi pemasaran... Antek Riana, itu yang terlihat dalam nametag yang menggantung di lehernya, "Kenalin dulu, kami Rara, Ririn, dan Reny."

__ADS_1


"Saya Key, salam kenal." jawab Key sekenanya.


Ririn beringsut mendekati bahu Key dan menepuknya sok akrab, "Nama kamu Key yang sekertaris apa Farham-farham yang jadi Asisten Personalnya pak Aldrian sih?"


"Personal Asisten, mbak." Key tersenyum mencoba ramah.


"Yaudahlah sama aja. Kebalik doang."


"Saya sekretaris, mbak."


"Eh tau nggak sih lo kalo ternyata pak Aldrian itu anaknya presdir. Itu bener nggak sih?" korek Rara sebelum Reny menyenggolnya.


"Udah nggak perlu klarifikasi, orang kelihatan kok dari gaya pak Aldrian yang cosmopolitan bingit. Siapa sih yang nggak kepincut?" lanjut Reny.



Key hanya mengangguk sambil tersenyum sekenanya. Ini trio kwek-kwek kalo dikasih hati minta jantung, tapi kalo diabaikan saja bisa jadi Key yang celaka. Wanita lho ini, kalau berantem kuku jadi cakar, rambut jadi pecut. Enakan berantem sama pria, dikasur kayak semalam, Uhuk! Kayak Key inget aja deh. Key paham hal itu, bukan berarti selama bertahun-tahun ia bekerja dikelilingi rekan pria di team Alpha, urusan dan perkara wanita ya hanya wanitalah yang mengerti sebangsanya. Key tidak setumpul itu. Trio ini pasti ingin mendapatkan apa yang mereka mau darinya.


"Kami pengen tau dong, mas Al eupss pak Aldrian udah punya pacar belum sih?"


Nah kan, Straight! tepat sesuai dugaan.


"Belum. Belum... Tau sih, ceweknya banyak wira-wiri keluar-masuk." beugh Key menebar cabai, lada, dan bunga kecombrang yang bikin mereka agak-agak berang tidak keruan.


"Kemarin Artis Asyintya Sharla juga ngajak makan siang bareng." padahal bohong, lanjut Key dalam hati.


"Bener ya, kalau anaknya presdir, calon pemilik WJ corp emang nyarinya juga kalangan elit." ucap Ririn sedikit kecewa. Pupus harapannya.


"Yang punya WJ corp bukan saya, masih bapak-" ucapan Aldrian berhenti setelah trio Kwek-kwek yang meneror Key akhirnya kabur kalang kabut.


Aldrian menatap Key yang tertawa tak tertahankan, "Untung Ursula, Medusa, sama Maleficent lokal udah pergi kalang kabut." ucap key membuat Farham hampir-hampir meledakkan tawa jika tak sadar bahwa Aldrian kini berada satu ruangan dengannya.


"Kamu tau kalau Asyintya Sharla pernah ngajak makan siang saya lebih dari lima kali dan saya tolak karena sibuk?"


Ucapan Aldrian membuat Key merinding sebab yang ia katakan ternyata bukan bohongan semata. "Eh, beneran pak?"


Aldrian menatap tanpa kata-kata Farham yang segera mengangguk dan meninggalkan mereka berdua seorang saja didalam ruangan. Ajaib, mereka telepati rupanya tanpa disadari oleh Key yang masih nyerocos.


"Kenapa nggak diiyain aja pak, lumayan mantan penyanyi dangdut goyang ngebornya enak lho pak...anjay." ucap Key terkekek ria.


"Kamu juga enak ngebornya semalem."


"Shit! Tuh kan bapak nggak bisa jaga amanah dari ayah bunda saya... Duh saya nggak tau harus susah apa sedih sih lepas perawan sama bapak! Zina itu dosanya besar ya Tuhan tolong jangan hukum hamba...bla-bla-bla"


Cup


Aldrian merapatkan tubuhnya dan kecupan benar-benar menghentikan Key yang meracau penuh penyesalan.


"Kita hampir, karena kamu... Benar-benar buat saya hampir gila kemarin malam, Key."


Bonus Aldrian fever :



kiss can be drugs, can be medicines


Follow ๐Ÿ‘ค


Rate ๐Ÿ“ˆ


Like ๐Ÿ‘


Favorite โค๏ธ

__ADS_1


Comment๐Ÿ“


Tip (for author spirit!) ๐Ÿ’ฐ


__ADS_2