
Aku mengeluh sambil berhembus pasrah. Menanyakan apa salah dan dosa yang telah aku perbuat mungkin di kehidupan sebelumnya karena aku yakin takdir memang bekerja sama dengan karma. Aku nggak masalah jika Ken ada kembali muncul dihadapanku menjadi atasanku yang bahkan kerap berpapasan setiap hari di kantor, tapi aku masalah jika dia menjadi atasanku langsung untuk masa yang akan datang.
Jangan lupa dengan pekerjaan, aku harus lembur sampai pukul sebelas malam hanya untuk merampungkan pekerjaanku sebagai programmer divisi IT dan menyusun jadwal pak GM mantan terhormat yang banyak diisi dengan makan siang atau makan malam klien-klien wanita. Dan jangan lupa, perusahaanku yang menarafkan lima hari kerja yang mana Sabtu-Minggu adalah weekend, itu nggak akan berlaku lagi untukku. Bapak GM yang terhormat adalah orang yang gila kerja, harta entah, tahta nggak tau, tapi kalau wanita perlu diselidiki lebih lanjut.
Kesalnya, menjadi Sekretaris Aldrian berarti harus ada hingga hari Sabtu, aku seperti anak sekolah yang diberi tugas saat hari libur. Dan bayangkan, hari ini dia benar-benar tertawa diatas penderitaanku. Pukul sebelas malam, mobil pajero bang Ed masih terparkir cantik di pelataran gedung. Kasihan sekali duda satu itu, dia rela menungguku meski sambil main Mobile Legend.
Akhirnya aku bisa duduk di dalam mobil Bang Ed yang kini berusaha untuk fokus pada jalanan yang sedikit terhambat karena macet khas Ibukota. Berulang kali Bang Ed menatapku seolah ingin bertanya tapi enggan jadi korban pelampiasan emosi. Selama ini lengannya cukup kuat buat kujadikan samsak cubitan bahkan pernah kugigit saat aku mau tak mau harus menahan sakit saat nyeri datang bulan.
Ya, bang Ed emang segentle itu. Aku yakin dia akan menjadi suami dan ayah terhebat untuk istri dan anaknya kelak.
"Capek Key? Gue heran apa salah lu sampe di keluarin dari tim Alpha, dipindahin jadi Sekretaris lagi." bang Ed berdeham sejenak, "Gue heran aja, mindahin lo itu sama aja dengan menyia-nyiakan kemampuan lo buat divisi IT."
"Taulah bang, serah Mantan bodo mau ngapain juga." ujarku kesal sambil menunduk membuka ponsel, tapi baru telat kusadari bahwa ada kata-kata yang keceplos dengan bebas tadi.
Aku menengadah perlahan sambil tersenyum kecut. Kampret.
Citttttttt
Mobil berenti mendadak saat lampu berubah merah, dan berkat bang Ed ngerem mendadak, keningku terantuk dashboard mobil dengan sangat mesra.
"Aduh."
"Mantan lo? Pak Al mantan lo Key?" tanya Bang Ed terkejut. "Sorry, gue gagal fokus ada traffic light di depan. Jidat lo aman Key?"
Tangan kokohnya terulur membantuku mengelus jidat. Bang Ed terkekeh lirih, tapi berhenti setelah aku menatapnya tajam. Harus sekaget itu ya kalau tahu fakta aku memang mantannya Aldrian. Itu hal yang nggak bisa kuduga, apalagi jika para croco lain tahu. Bisa-bisa gegar otak gara-gara kepala mereka sengaja dibentur-benturkan ke tembok kantor.
"Kagetnya nggak begini juga kali, bang. Nyawa gue ilang elu tanggung jawab yak!"ucapku sambil mengelus permukaan kulit yang sedikit membenjol. Mobil kembali melacu setelah lampu rambu lalu lintas berubah hijau.
"Gila ya? Wajar aja kalau semua cowok yang disodorin emak lo, lo tolak semua. Tipe lo modelan si Aldrian, Key. Duh, kastanya beda sama kita." kata bang Ed menggeleng tak habis pikir.
Aku bertanya dengan bingung, "Kenapa emangnya?" Heran, biasa saja aku melihat Aldrian. Dia cuma jadi lebih kurus, kekar, ganteng... Eum, duh keceplosan. Tapi iya deh... IYA! Biar puas Aldrian bersin gara-gara aku omongin.
"Ck, gini ya Key. Umurnya masih 27 tahun, Lulusan Bisnis Cambridge lanjut ke Harvard, tajir dari lahir. Penampilannya Key, jas tiap hari ganti... Hugo boss, Versace, Jam tangan rolex, hublot, Richard Mille. Lo lihat kan mobilnya gonta-ganti, ceweknya juga. Itu anak ya lahir aja gue yakin sambil bawa sendok emas." ucap bang Ed penuh dengan kekaguman.
__ADS_1
Bibirku menyengir dengan kecut, "Bang, jangan pindah haluan. Cowok muja cowok, geli gue semobil bareng gay."
"Gini ya Key, cowok kalau udah kagum sama cowok. Berarti cowok yang dikagumin itu beneran high quality sampe bikin iri." ucap bang Ed dengan serius. Dia masih memasang tampang tidak percaya dengan faktaku yang terkuak, gila aja ya emang aku sejelek itu sampai nggak cocok kalau disampingkan dengan Aldrian.
"Kastanya beda Key, Apalah daya kita hah, sendok stainless steel bengkok aja bangga masih bisa hidup napas di dunia. Gila banget lo jadi pacarnya, lu SMA atau Kuliah pacaran sama dia? Pulang dijemput apa lo? Ferrari?"
Dih, gila aja Ferrari... Badannya dia dulu nggak muat kali masuk. Apalah daya, Ken sama Aldrian yang sekarang itu beda.
Ya, Ken yang sekarang muncul dengan sosok yang terlalu berlebihan. Semua yang ada padanya seakan terupgrade hingga batas maksimal. Jadi ganteng, jadi memesona, jadi dewasa, jadi kaya raya, dan bisa jadi seenak jidat mindahin kerjaan aku kayak gini. Dia bisa aja tuh langsung jadiin aku office girl dalam sekejap.
Sesungguhnya aku baru mengetahuinya baru-baru setelah kami putus dengan suatu alasan dari diriku. Dia menipuku tentang semuanya, dibalik tampangnya yang biasa saat SMA meski yang kutahu dia memang pintar dari lahir. Baru ketahuan bahwa dia sengaja menyembunyikan latar belakangnya dariku. Selama pacaran, aku hanya tahu namanya, sifatnya, dan semua yang ada padanya saat disekolah saja. Dia pernah kerumahku, tapi aku tak pernah kerumahnya.
Seolah jika mungkin Ken yang dulunya kukenal dengan sosok Aldrian yang kini menjadi bosku disandingkan itu sudah seperti langit dan bumi. Gilanya, cinta pertamaku itu sangat sederhana. Sesederhana aku menyukai pipi gendutnya yang teroles dengan selai sarikaya pada roti sobek kesukaannya, sesederhana aku tak ingin dia dibully lagi oleh kawanan kampret saat SMA, dan sesederhana aku menyukai rinai hujan saat duduk berdua dengannya turun dari montor saat pulang sekolah. Ken yang kusukai dengan sederhana, entah kenapa jadi serumit Aldrian dengan segala pesonanya. Aldrian terlalu rumit, dan terlalu berlebihan. Bagiku, apapun yang berlebihan itu tidaklah bagus.
Tapi suatu hari, dia seolah menjadi batangan emas yang bersembunyi di kubangan lumpur. Semua palsu dan aku cukup tertipu.
Suatu alasan yang cukup membuatku untuk move on adalah dia bukan lagi Ken yang kukenal. Hanyalah sapaan kecil bernama Ken pada sosok hangat bertubuh gempal dengan kacamata hitam yang kusukai. Senyumnya yang bahkan menandingi tulusnya hujan membasahi tanah tandus. Namun sekarang dia tidak ada lagi, hilang seperti dia yang memang meninggalkanku tanpa membuatku menoleh lagi padanya.
Aldrian adalah sosok yang berbeda bagiku, seperti entah dia datang darimana. Aku menatapnya dari jauh sejak dia menjadi General Manajer kantorku, berusaha berpura-pura memperhatikan materi presentasinya padahal aku lebih memperhatikan orangnya. Kampret memang ngenesnya, tapi yang kusadari ialah dia memang bukan lagi sosok yang sama. Yang tak mengejarku, dan tak memegang erat tanganku lagi.
"Gue cuma mau tanya satu pertanyaan yang bikin gue penasaran sebelum gue nggak bisa tidur malam ini oke?" tanyanya dengan wajah serius yang kuperhatikan five o'clock shadow (brewok) yang mulai menumbuhi dagu khas tengilnya, dasar duda ini gayanya...
"Bang, jangan jadi duda kampret nyebarin gosip." ancamku.
"Just question, lo atau Aldrian yang mutusin." jari telunjuknya terangkat menghentikanku.
"Gue. Kenapa?" jawabku singkat.
"Selamat, nyesel lo sekarang. Pantes lu gagal move on." celetuknya dengan amat kampret.
"*** you! Duda kampret gue nggak mau bareng lo lagi." umpatku sambil membuka pintu mobil dan turun kemudian kubanting pintunya keras menghasilkan suara dentuman keras.
Bang Ed terkekeh sambil membuka jendela pintu naas yang kututup kasar, "Yakin? Inget Key... Kalau nggak bisa move on selama jadi Sekretarisnya, suruh balik Aldrian balikin lo ke team Alpha. Kami siap menghibur lo!"
__ADS_1
Mobilnya bergerak meninggalkan pelataran rumahku dan yang kurasakan adalah bibir ini tak hentinya tersenyum saat Bang Ed mewakili para croco bersedia menerimaku sewaktu-waktu dengan tangan terbuka.
Rutinitasku hanyalah mandi dan makan malam dengan tenang. Membereskan sisa pekerjaan kantor selama menjadi programmer yang berada dirumah, dan meneliti jadwal GM kampret sebelum mataku cukup lelah untuk begadang lagi.
.
.
.
Pagi esoknya
"Hot Americano satu, sama cookies lima jadi totalnya Rp 75.000,- ada uang pas?" tanya mbak kasir Moonbuck.
"Nggak ada mbak." ucapku sambil menyerahkan uang seratus ribu. Dan menunggu nota pembayaran dan juga kembalian.
Senyum terpancar dari mas barista yang kini melihatku sambil menyerahkan cookies dalam paperbag cokelat dan segelas minuman dan berkata, "Hot Americano atas nama pak GM (Gagal Move on) tercinta."
Semua orang yang berada disana otomatis menoleh pada kami, terlebih ke arahku. Kampret memang masnya bilang sambil teriak padahal sudah tahu ada diriku didepan counter. Untung masih sepi.
"Pacarnya ya mbak? GM gagal move on." tanya ibu-ibu kepo yang hendak mengantri memesan minuman.
"Bukan bu, bos saya sekaligus mantan." jawabku sekilas.
"Takdir akrab ya sama Karma." ungkapnya tanpa diduga.
Aku hanya mengendikkan bahu dan berlalu. Dasar ibu-ibu... Pengen tau urusan orang.
Like 👍
Favorite ❤️
Comment📝
__ADS_1
Tip (for author spirit!) 💰