
Beberapa tahun yang lalu
Dua orang remaja berpakaiaan seragam sekolah bersembunyi di balik tembok basement. Salah satu dari mereka adalah seorang cowok berbadan berisi, berkacamata, dan sedikit berjerawat dengan seorang cewek berbadan mungil dan sangat kurus. Ikatan pada rambutnya berantakan, dia mendumal dengan lirih karena takut keberadaan mereka berdua ketahuan.
"Nama lo siapa?" tanya Key.
"Ke- kean, Keanuval, Ken." jawab cowok itu dengan gagap sambil mengatur olah nafas yang sedikit memburu.
Key melihat dari bawah hingga atas penampakan cowok didepannya itu. "Heran, lo segede satpam komplek gini malah takut sama mereka?"
"K-kalah jumlah." bela Ken pada dirinya sendiri. Key hanya mengangguk sambil sedikit tercengang.
Key melihat cowok yang bernama Ken itu diikat kedua tangannya, jatuh tersungkur, dan dipukuli bahkan ditendang oleh sekelompok kakak kelasnya dengan sangat brutal. Parahnya ketika Key membantu Ken untuk lepas dari ikatan dan melarikan diri, mereka sempat ketahuan dan dikejar oleh salah satu dari mereka. Entah masalah apa yang membuat Ken bisa dijadikan samsak tinju, namun ketahuilah kalau wajah Ken itu sangat familiar karena setahu Key foto cowok didepannya itu terpampang dalam lobby sekolahnya sebagai siswa berprestasi.
Ketika Key memegang bahu Ken untuk membersihkan noda tanah dari seragam sekolah putihnya, cowok itu meringis kesakitan. Key berhenti. Sialan, memang anak-anak bajingan itu memukuli orang tanpa kasihan. Key memutuskan untuk menatap wajah kesakitan Ken yang menyedihkan dan kelelahan. Dia mengajaknya untuk masuk ke dalam lift.
"Mereka nggak bakal tahu kita disini kan?" tanya Ken lirih.
"Nggak bakal, gue jamin. Kita naik ke lantai 5, abang gue tinggal disitu." ucap Key sambil menatap tombol didinding.
Mereka bergegas menuju apartment yang dimaksud Key. Hanya apartemen studio yang dilengkapi satu ruangan dengan kitchen set mini, ranjang kecil untuk tidur, meja kerja, dan meja TV. Ada satu bilik kamar mandi juga.
Sebuah kaos dilempar kearah Ken, Key menyuruhnya untuk membersihkan diri dan memakai kaos milik kakaknya. Setelah itu Key berjalan menuju ranjang kasur kakaknya dan duduk disana sambil menunggu.
Ken bergegas keluar kamar mandi dengan wajah segar lalu menyerahkan handuk ketika Key memintanya. Gadis itu menjemur handuk lalu membawa P3K, "Buka kaos lo, gue obati mana tadi yang memar."
Ken bergidik tidak mau. Namun gadis itu kembali memaksa. Kaos hitam itu dia buka, membuat badan berisi dan penuh memar itu bersentuhan dengan dinginnya ruangan ber AC. "Mereka nendang lo ratusan kali, bego." ucap Key geram.
Akhirnya Ken mengalah dan membukakan kaos hitam gambar tengkorak itu. Seketika ia merasakan ujung jari kecil yang sedikit membuatnya geli sekaligus ngilu. Key mengoleskan obat dengan sangat berhati-hati sembari meniupnya agar tidak terlalu perih.
"Gue Keyhlani, btw. Tunggu disini sampai agak lama, takutnya mereka masih dibawah nyariin lo buat digebukin lagi." ucap gadis itu yang kemudian pergi menuju pantry membuatkan minuman hangat untuk mereka.
.
.
.
Key pulang ke rumah ketika bunda dan ayahnya masih asik di ruang tamu. Mereka bermain tiktok mengikuti kompetisi yang ada di TV dengan sound lagu baru penyanyi dangdut idola mereka.
"Lani... Udah pulang?" tanya Ayah memanggil Key dengan nama kecilnya yang lalu diangguki oleh anak gadisnya itu sambil duduk diantara kedua orang tuanya.
"Kerja lembur, harap maklum. Tumben juga Ayah dirumah jadi bunda nggak merasa kesepian kalo Key belum pulang." ucap Bunda Key pada suaminya.
__ADS_1
"Nggak dilanjutin jogetnya?" tanya Key iseng yang lalu dibuahi tertawa tergelak ayahnya sembari mengedip kearah bunda. "Percuma diturutin, bundamu nggak mau posting."
Bunda cemburut, tapi kemudian tersenyum menerima sekantung roti bakar jalanan yang dibeli Key di tengah jalan pulangm
"Makan dulu gih, ada ayam bakar tadi bunda beli waktu arisan di resto Angin Sunda." ujar Bunda kegirangan.
Key hanya berdeham, lalu memasuki kamarnya bergegas untuk membersihkan diri. Seperti night routine pada umumnya, Key baru kelar bersih-bersih lalu tanpa sengaja melihat sebuah dress berbahan sifon berwarna dusty pink tergantung pada rak pakaiannya. Belum juga dia bertanya pada bunda, kepala ibunya itu menyembul muncul dari balik pintu, "Bunda boleh masuk nggak?"
"Masuk aja, Key belum ganti baju kok." Bunda key masuk kamar dengan senyum mencurigakan.
"Baju siapa sih bun kok ada disini?" tanya Key langsung tanpa menghiraukan raut bahagia tiada tara dari bundanya. Agak deja vu, Key pernah merasa begini sebelumnya.
"Bunda tadi abis arisan, ketemu sama ibu Ermala." Jelas bunda seraya duduk di kasur miliknya yang berderit lirih, "Sahabat lama, pengen ketemu karena lama nggak jumpa."
"Bukannya bunda udah nggak ikut acara mereka lagi?"
"Tapikan bu Ermala baru pulang dari Amrik, malah dia yang hubungi bunda duluan. Nggak enak mau nolak." elak bundanya lalu melihat Key yang juga bingung berkata apalagi.
"Anak bu Ermala ganteng lho Key. Dia suka banget sama kamu. Tadi bunda cuma lihatkan foto kamu di medsos." ucap bunda tiba-tiba membuat Key terkejut sekaligus kesal.
Tuh kan? Deja vu, Key mau dijodohkan lagi.
Bukan apa-apa, namun segitu gentolnya sang bunda ingin bahwa dia segera memiliki pasangan. yang terakhir saja Key nyaris dikatain pelakor karena pasangan cowok blind date-nya ternyata sudah punya pacar.
Seingatnya, Key tidak pernah sering memposting foto selfie di feed instagram nya. Hanya beberapa selfie saat liburan ke pantai yang ada di Lombok itupun juga karena ada workshop disana. Selain itu hanyalah foto landscape pemandangan yang dia unggah karena pada dasarnya Key ini kurang suka terekspos.
"Bunda tau kalau Key nggak mau lagi dijodohin?" Keluhnya.
"Ini yang terakhir, bunda kayak punya insting dan firasat kalau kamu bakal berhasil sama yang satu ini. Oh ya, dia mau ajak kamu lunch besok di kafe dekat kantor kamu."
Key lagi dan lagi dibuat tercengang dengan ucapan bundanya yang bahkan lebih cocok membuka jasa biro perjodohan ketimbang menjodohkan dirinya dengan pria-pria asing yang tak dia kenal sebelumnya.
"Bund, aku nggak mau lagi. Pasti bunda juga kan yang udah persiapkan dress ini buat aku?"
Bunda sedikit mengerucutkan bibirnya, "Lani, umur kamu udah lebih dari cukup buat nikah. Toh Bunda yakin kalau anaknya ibu Ermala cocok sama kamu. Cakep lho Lan, gagah juga mapan."
"Anak ibu Ermala, title-nya hukum lho Key. Apa masih kurang menarik?"
Key mengurut leher belakangnya lelah dan kesal, umurnya memang sudah 25 tahun, tapi oh ayolah dia masih ingin menikmati masa-masa emasnya. Dia suka dan sangat mencintai pekerjaannya, meski cita-cita sedikit melenceng dari awal. Belum ada bayangan untuk menikah dan menjadi istri dari seseorang. Pacar saja Key tidak punya. Key lebih menyukai zona nyaman dimana dia bekerja dengan Dimo, Wawan, Adam, dan bang Edgar. Terakhir Key pacaran adalah saat dia kuliah semester 3, hanya berjalan 5 bulan itupun dengan kakak tingkat yang menurutnya biasa saja. Key menerima ungkapan kak Aldo karena terlalu nyaman belajar bersama. Selain itu Key tidak terlalu menaruh rasa cinta, yang ada hanyalah dia sama-sama punya semangat menggapai mimpi. Mereka berakhir ketika sama-sama bosan dengan diri sendiri. Kak Aldo menikah setahun setelahnya, Key bahkan dengan senang hati diundang saat itu. Tidak ada perasaan ataupun harapan yang pasti. Mereka memang baik-baik saja pada akhirnya meskipun kini punya jalannya masing-masing.
"Ini udah 7 kali bunda paksa aku ikutin kencan buta. Aku beneran udah kapok sama yang terakhir."
Bunda menggiringnya untuk duduk di kasur. "Datang aja, besok pas makan siang di Blue Caffe dekat kantor kamu. Bunda mohon coba dulu ya Key, Bunda janji ini yang terakhir."
__ADS_1
Bunda langsung pergi begitu saja lalu meninggalkan Key dengan banyak pertanyaan. Kenapa di perjodohan kali ini Bunda sedikit lebih antusias dan sangat yakin. Apa yang membuatnya menjadi sangat percaya pada perjodohan ini?
Tanpa sadar, gara-gara rencana perjodohan itu Key menjadi lupa dengan kegundahannya pada pak Aldrian tentang apa yang terjadi di kantor tadi.
.
.
.
Pak Mantan tidak masuk hari ini. Sejauh mata memandang Key hanya bisa melihat ruangan kosong itu tanpa ada sosok berjas dengan tulang dagu tegas membaca laporan bawahannya sambil menyeruput kopi disana. Duh, hafal sekali Key dengan rutinitas kebiasaan pak Aldrian.
Key cukup menjadi bahan ledekan orang sekantor karena sangat jarang bahkan tidak pernah terlihat memakai dress ke kantor apalagi warna pink. Riana bahkan mengolok-ngolok dirinya mirip anak ayam warna-warni depan SD yang sangat jomplang perbedaannya. Key hanya bisa menghiraukannya. Mungkin memang dress yang dia pakai lebih mirip outfit artis Korea, agak bikin shock. Key juga memakai heels sedikit lebih tinggi dari biasanya. Belum lagi dengan tanpa diduga bunda menyemprotkan parfum Twelly pada bajunya sebelum dia berangkat. Biasa ibu-ibu kalau melihat anaknya cakep sedikit suka ditambah-tambahin. Karena itulah pasukan croco memanggilnya 'nyai'. Key dibully habis dengan Adam, Dimo, Wawan, dan Bang Ed.
"Untung Blazer Nyai warna putih kayak bu dokter, apa diganti aja nyai sama yang bulu-bulu domba biar anggun dan anget?" canda Dimo
"Jangan usik mo. Sekarang Key jadi anaknya pak Manaf. Kalo ngambek bisa-bisa cicilan Fortuner lo keganggu buat satu tahun kedepan." Wawan menimpali. Dimo hanya cengengesan saja, nasib anak ganteng yang belum lunas terancam juga.
"Fenomena alam banget Key dandan cakep gini pake baju sabrina" celetuk bang Ed lalu melangkah kedepan mesin fotocopy.
"Perjodohan lagi ya? Ngga kapok sama yang terakhir?" Bang Ed membisikkan sesuatu yang ingin Key tampol mulutnya dengan sendal jepit. " Bunda gue yang ngotot, nyebelin deh."
"Bibirnya di merahin Key, kalo nggak bawa lipstik, gue beliin lipstick sachetan deh di Alfamaret terdekat." ucap Wawan.
" Udahlah basi kalian. Oh ya, pak Manaf mana? gue mau setor laporan dari team Gamma, sekaligus mau ijin makan di seberang." kata Key tanpa melihat kepala trio mesum itu yang menyembul diantara kubikel-kubikel milik mereka yang saling melontarkan gumaman tanpa suara membicarakan Key seolah melakukan telepati.
"Yang lebih mengkhawatirkan adalah Key yang tiba-tiba pindah langganan makan dari nasi padang sambalado menjadi cafe kekinian milenials."
"Fiks, Key dijodohkan lagi sama ibunya."
"Kita buntutin apa gimana? Gue takut kayak yang terakhir. ceweknya nyiram es teh ke muka Key, dikira Key udah merebut cowoknya."
"Gue bagian nyamar sambil makan kalo gitu." ucap Adam sebelum ditonjok oleh tiga croco disana.
"MAKANAN MULU DEH, HERAN!!"
Like 👍
Favorite ❤️
Comment📝
Tip (for author spirit!) 💰
__ADS_1