Ken And Key

Ken And Key
Part 21 : Keropi dan Pikachu


__ADS_3

Key berjalan mendahului langkah Rian meskipun selalu saja Rian bisa mengimbangi langkah Key yang seakan mau melarikan diri itu dengan kaki panjangnya. Rian lebih tinggi beberapa senti dari Aldrian, rambut klimis tertata rapi namun tak mengurangi wajah tampannya yang rapih tanpa sedikitpun cacat. Sejak pertama matanya memandang raut sebal Key dari ruangan ayahnya, aka Presdir WJ group itu ia sudah jatuh pada pesonanya.


Key punya karisma tersendiri. Rambut panjangnya yang terurai dan tergerai terombang-ambing oleh angin dan langkahnya yang penuh percaya diri. Rian sedari awal memang mencari tahu soal gadis yang dijodohkan oleh ibunya. Keyhlani Diana yang begitu penuh kejutan dan keberanian sebab ia tahu Key memiliki rencana dibalik penyamarannya dari orang-orang terdekatnya, bahkan ibu Key blak-blakan mengungkap bahwa anaknya kini memiliki misi yang tak bisa dikatakan gampang untuk dilakukan seorang gadis belia.


Memang selama ini Key tidak melakukannya sendiri, ada bang Ed, Wawan, Dimo, Adam, dan pak Manaf yang sebenarnya membantunya. Namun mereka semua tak mengetahui jati diri seorang Key. Key bak putri yang menyamar menjadi budak dengan penuh resiko dan mencari siapa pembunuh putra mahkota yang sesungguhnya. Semua anggota croco empat orang itu bahkan tak menyadari hal ini karena melakukan tugas mereka seperti biasa, meskipun sedikit istimewa, namun berjalan sesuai semestinya. Hanya pak manaf yang akhirnya tahu karena sang Raja tak ingin membuat putrinya itu terlalu sengsara. Dan Key mulai membenci ayahnya karena bantuan-bantuannya itu memberinya kesan bahwa Key bukanlah seorang yang mandiri.


"Pesan ice espresso 2 , dua potong cake terserah asal jangan tiramissu." ucap Key pada pelayan di counter lalu duduk di tempat Rian berada.


"Saya memang suka espresso dingin." celetuk Rian dan melihat mata Key membulat berpendar lelah.


"Gue nggak peduli." tandas Key lalu mengeluarkan ponsel untuk sekedar melihat apakah Aldrian memberi pesan tapi kemudian dia mematikannya karena tahu bosnya itu mungkin berada perjalanan pulang dari Bandung.


"Dari awal gue udah eneg buat di jodohin sama orang lain."


"Saya juga nggak peduli." balas Rian kini terkekeh sambil menatap Key yang kini memerah sambil meniup poninya.


"Sekampret-kampretnya gue, dengan lo adalah perjodohan yang mungkin terakhir kali ini gue terima sebab gue nggak mau lagi ada perjodohan yang bikin usaha gue kacau." Key langsung menyedot minumannya yang baru saja sampai.


Rian menatap gadis itu yang kini tersenyum hanya karena sebuah es kopi dan sepotong red velved cake. Key ini mood switch yang begitu cepat. Makanan adalah mood booster terbaiknya.


"Kalau kamu mau yang terakhir sama saya. Mau lanjutkan ke hubungan serius sama saya, Key?" tanya Rian tersenyum padanya membuat gerakan Key yang menyendokan cake mulai terhenti.


"hah?"


"Would you?"


Dan diantara dedaunan janda bolong yang menjutai dari ornamen gantung menjalar ke tembok putih yang bersih, berdirilah sosok Aldrian Keanuval Wijoyokusumo memasukkan telapak tangannya pada saku disusul oleh sentuhan di bahunya dari belakang sosok berkemeja biru dengan name tag tergantung pada lehernya, Rofyan Andaru Syahputra menelan pil pahit melihat cem-cemannya bersama pria lain.


.


.


.


"Bang Ed, boleh minta bungkus rendang sekalian kaga sih? Gue mau ngasih bukti ke Emak kalau makanan kantor bergizi dan enak jadi nggak dihujat mulu." ucap Wawan tiba-tiba kala mereka berempat akan beranjak dari tempat makan Sambalado beserta dengan si Bang Ed yang kini dicegat sebelum membayar tagihan makan mereka semua.


Adam sewot, "Gue aja yang porsinya selalu dobel sekarang cuma seporsi kenapa lu mau nambah pake akal-akalan?"


"Sejak kapan juga elu dihujat sama emak lu yang nyonya menir itu sih wan?" tanya Dimo menjawil rambut Wawan yang berdiri tegak tak setegak adeknya kalau ngelihat riana sedang flirting kepadanya dari jauhan.


"Gue dihujat sama emak sekaligus ibu-ibu tetangga kalau badan gue kurus kurang gizi makanya mereka gentol mau jodohin gue." Wawan merengut sambil menatap bang Ed memohon.


"Banyakan onhani lo makanya kurus, cebong lo banyak yang kebuang sia-sia makanya jangan pacaran sama makhluk beda dimensi."


"Sama hentai jepang aja lu begitu, gimana sama kunti lu nanti? Kering kerontang."


Adam menutup kupingnya seperti tamparan, "Omongan lu bikin orang-orang lain nggak doyan lagi nelen nasinya njir."


"Dih gila, bang Ed bolehin kok. Tapi heran aja jangan bilang emak lo segeng sama bundanya Key." bang Ed menatap wawan sambil mencengkeram kedua bahunya dan terlihat keringat sebutir jagung mulai menetes pada Wawan yang mulai kalang kabut.


"Kayaknya elu mencurigakan." tuduh Dimo


Adam pun menatap Wawan yang kian pucat, "Sembarangan. Gue cuma mau ngeyakinin emak gue kalau gue bisa hidup tanpa istri yang masakin gue tiap hari. Sama senyuman Naomi-chan aja gue udah bisa kenyang."


"Ye! Makan tuh bantal yang dihadiahin Key ke elu!"


"Emak gue penasaran sama masakan anaknya yang punya RMP Sambalado, kalo cocok dijodohin aja kayaknya." ucap Wawan kemudian menyeruput es tehnya.


"Hatsari kan anaknya bu Mumun Sambalado? Kenyang lo kalo sama dia. Tapi jangan kata bodyshamming itu Hatsari macam Naomi chan dirubung tawon vespa sekomplek." ucap Dimo.


"Lhah ape maksud lo, Dim?"

__ADS_1


"Bengkak! Itu Hatsari berat badannya aja kemaren ngaku 167 kilo."


"Astaga!"


Bang Ed mengelus dada setelah mempersilahkan Wawan untuk membungkus rendang yang kadang bisa dibeli hanya sebagai tambahan lauk itu sambil melunasi tagihan makanan mereka sementara si Dimo dan Adam kabur kembali ke divisi mereka terlebih dahulu.


Adam mendelik tak terima, "itu gedenya dua kali gue waktu smp dong?"


"Gue tau soalnya dulu si mbak ipar gue pesen kateringan ke sini dan ketemulah gue sama si Hatsari." jelas Dimo


"Gue hampir ngira lo mau dijodohin sama Key. Gue nggak mau kalau salah satu diantara kita yang brengsek ini jadi jodoh bocah satu itu. Gue pun kagak bakal mau jadi jodoh key." ucapnya pada Wawan.


.


.


.


Mereka berjalan beriringan hingga bertemu dengan pak Manaf yang langsung menyuruh bang Ed dan juga Wawan berjalan menuju pintu tangga darurat.


Pak Manaf menghela nafas sekilas, "Kasus Handoyo kini harus segera dituntaskan, kita punya deadline hingga akhir tahun."


Bang Ed selaku leader dari team pasukan PAK (Pasukan Alpha petugasan Khusus) mulai melaporkan hal penting yang sempat ia dapatkan kepada pak Manaf, "Kasus kematian calon presdir muda Ardhana tak murni karena kecelakaan. Rendra Kresna adalah penabrak dan anak buah dari Handoyo untuk membunuh Ardhana dengan motif kecelakaan. Rendra sengaja mencuri mobil di pinggir jalan dan menjadi buron polisi sesuai perhitungan dan komando dari dalang kejadian ini dan bahkan seperti sengaja menambah kecepatan dan menunggu mobil Ardhan dan tunangannya melintas hingga akhirnya Ardhan membanting setir dan menabrak truk hingga mobilnya terguling dan meledak saat proses evakuasi belum sepenuhnya dilakukan."


Wawan menambahkan sesuatu, "Saya adalah orang yang menginterogasi langsung Rendra Kresna hingga akhirnya dia mengaku akan diberikan kehidupan yang terjamin setelah ia bebas dari bui."


"Dia mengatakan bahwa sosok bernama Jack black adalah tangan kanan Handoyo dan juga orang yang merekrutnya."


"Key juga pernah menyampaian data bahwa kehidupan Handoyo yang saat ini berada di Kanada penuh misteri dan perlu ditelusuri. Terlihat hidup biasa, sederhana, meninggalkan jejak hitamnya di Indonesia dan hidup disana. Namun, Handoyo tetap memiliki uang yang diduga sisa hasil korupsinya yang masih melimpah itu."


"Dia berpura-pura?" tanya Pak Manaf.


"Beberapa mata-mata kami menangkap dia menyewa satu lantai penuh di Brigde of Garden, dunia perjudian bawah tanah hanya untuk bermain bersama mafia asal Rusia dan bahkan anak perempuan bungsunya kerap terlihat berdandan glamor untuk ukuran seorang janda yang baru bercerai tanpa menggugat kekayaan harta gono-gini dari mantan suaminya bahkan setelah kehancuran keluarganya."


Pak Manaf kemudian menatap mereka saling bergantian, "Presdir sebenarnya ingin mengatakan secara langsung pada kita bahwa dia bisa saja melupakan kasus besar ini karena ikhlas anak laki-lakinya terbunuh dalam kecelakaan tersebut. Tapi adik Ardhan tak terima dengan keputusan Presdir. Kita punya deadline hingga akhir tahun ini. Tugas kita tergantung dari kecepatan kerja kita, oleh karena itu dengan dalih pelatihan petugasan ke kantor pusat yang berada di New York, Pak Aldrian, Keyhlani, juga Dimo ditugaskan ke Kanada, Edgar menggantikan ke New York sementara itu Adam bertugas mengumpulkan bukti disini dan Wawan, kamu cuti selama seminggu dengan alasan masuk akal."


"Eh maaf pak. Lho kok saya nggak ikut ke Kanada atau New York aja, pak?" tanya Wawan tak terima.


"Seminggu itu kamu cuti cuma tiga hari, dua harinya kamu harus pergi ke New York menggantikan Edgar yang harus nyusul ke Toronto dan semua pulang minggu depannya." jelas pak Manaf membuat mereka mengangguk paham.


"Kita harus bahas ini di ruangan GM lima belas menit lagi dengan anggota komplit. Saya keluar terlebih dahulu." ucap pak Manaf yang langsung menghilang dibalik pintu tangga darurat.


"Gue sampe salut kalau pak GM mau terjun langsung sama kasus ini."


Bang Ed mengeluarkan seputung rokok dan juga pematik, "Ternyata segitunya ya dendam Aldrian sama pelaku pembunuhan kakaknya."


"Ardhana dan Aldrian."


"Sebenarnya kalau gue seumpama jadi Aldrian juga bisa dibilang enak sih dapatin kursi yang sebenarnya milik kakaknya." ucap bang Ed kembali menghembuskan asap nikotinnya itu.


"Itu kalau emak otak lo otak misqueen minta jabatan. Tapi Aldrian itu kayak tipe-tipe sayang keluarga, beda kayak lo bang."


Wawan memendeliki bang Ed yang malah meniupkan asap nikotinnya didepan wajahnya dengan tampang mirip mafia kurang ganja.


"Jauh-jauh bang, rendang gue nanti bau asep nanti." wawan memberi gestur mengusir.


"Sekalian aja rendang lo jadi sei sapi, sini lo gue tiupin biar makin apek itu rendang!" kesal bang Ed yang kemudian menyusul Wawan.


Wawan lari terbirit sambil tertawa membawa sekantung kresek hitam bukti cintanya pada Naomi-chan ke Emak.


.

__ADS_1


.


.


Key memasuki ruangan GM dengan tergesa-gesa begitu membuka pintu terpampanglah anggota team Alpha lengkap dengan pak Manaf dan juga Aldrian yang mengangkat pndangannya kearah Key dengan raut yang tak bisa dibaca.


"Maaf, Saya tadi ada keperluan di bawah." ucap Key yang dimaklumi oleh semua orang kecuali Aldrian yang hanya terdiam dengan entah apa yang ada dipikirannya.


Key hanya mencuri-curi pandang raut lelah atau kesal karena marah yang dimiliki oleh Aldrian saat ini. GM satu itu mengangguki berbagai keputusan dan rencana yang diusulkan pak Manaf dan ide-ide dari rekan-rekannya.


Setelah rapat rahasia ini dilakukan dan semua kembali ke tempat masing-masing meninggalkan Key yang kini berberes berkas dan beberapa dokumen di mejanya dan menunggu Farham masuk untuk bertanya pada pak Aldrian sudah akan pulang.


Beberapa menit kemudian Farham pun memasuki ruangan setelah mengetuk pintu, "Kita pulang sekarang pak Aldrian?"


Aldrian yang menata kembali kemeja dan jasnya memutuskan untuk mengangguk lalu Key seperti biasa akan berpamitan pulang dengan sepeda motor yang sudah seperti sahabat sejatinya itu.


Key berjalan menuju parkiran dimana kendaraannya berada namun setelah menemukan si scoopynya, ia baru saja menyadari kalau montor gede Rofyan telah menghilang. Biasanya ia berpapasan dengan Rofyan seusai kerja, namun mungkin karena hal yang mendesak, pria itu pulang duluan pikirnya.


Sebuah dehaman membuat Key yang mengunci tali helm menoleh kebelakang menangkap sosok Aldrian minus jas dan dengan tambahan helm seimut dan semanis kue cucur berwarna hijau di kepalanya membuatnya kaget.


"YA SALAM PAK?!"


"Kenapa, kamu kaget?"


Iya kalau semanis kue klepon ijo-ijo begitu gimana Key tidak tergiyur coba. Helm bulat berbentuk retro dengan kaca hitam berwarna hijau pastel menyala membuat Aldrian yang kini hanya memakai kemeja navy menjadi lebih berwarna.


"Helm siapa yang bapak curi?" tanya Key menahan tawa kocaknya.


"Enak saja nyuri. Ini milik anaknya pak Manaf udah pulang duluan pakai mobil saya disopirin Farham." ucap Aldrian yang kemudian secara langsung menaiki motor Key dan membuat siempunya melongo dengan bibir lebar.


"Nggak mau dibonceng saya nih?" tanya Aldrian dengan begitu pedenya. Bahkan ada beberapa karyawan yang masih pulang melihat mereka dengan tatapan seperti menemukan secuil bahan rumpi yang bakal laku dibahas besok pagi.


"Pak Aldrian lucu pake helm keropi"


"Iya unyu kayak Jongkok."


"Siapa Jongkok?"


"Member Bite Ice"


"Oh."


"Lah, nggak. Kenapa sih bapak malah nebeng saya? Kan bapak enak duduk disopirin Farham, nggak bakal ada gatel karena kedinginan, entar biduran kena angin malam rasain lho!" omel Key membuat Aldrian menatapnya penuh dengan aura permusuhan.


"Kamu siapa ngatur-ngatur Saya?


"Iya deh pak, saya cuma kacung bapak, cuma bawahan pak. Bapak kan atasan saya, itu Scoopy masih nyicil pak, jangan dipecat." ucap Key lebih memilih mengalah ketimbang berkobar perang dunia persilatan.


"Ya gitu dong, kamu di bawah, saya di atas. Kalo gini kan mudah buat apa-apain kamu." Seringai Aldrian melebar di wajah tengilnya yang sayangnya tambah manis di mata Key.


"Eh-"


Kedua helm pikachu dan keropi pun memutuskan untuk pulang bersama membelah jalanan Jakarta seperti terakhir mereka berboncengan montor bersama, setelah sekian lama. Bertahun-tahun lamanya.


Follow ๐Ÿ‘ค


Rate ๐Ÿ“ˆ


Like ๐Ÿ‘


Favorite โค๏ธ

__ADS_1


Comment๐Ÿ“


Tip (for author spirit!) ๐Ÿ’ฐ


__ADS_2