Ken And Key

Ken And Key
Part 20 : Ayah Boss dan Papa Boss


__ADS_3

"Sulit sekali bertemu sama kamu tanpa keberadaan Aldrian yang selalu ada disekelilingmu, nak."


Key mengerutkan keningnya, "Segitunya om mau ketemu sama saya?"


Tyono memberi kode pada putrinya agar lebih bersikap sopan, namun Ardhi malah menatap tertarik pada anaknya itu.


Pak Ardhi berdeham lalu menoleh kearah Pak Tyono dengan senyuman tuanya gembira. "Gimana Tyo, kita nikahkan anak-anak kita ini apa gimana ini?"


"Saya mah tinggal nurut sama anaknya, Dhi. Bundanya pun sama, beberapa kali mengenalkan Key pada beberapa pria, namun belum ada yang mampu menakhlukkan hatinya."


"Key ini memang pemilih rupanya," Key melotot menatap pak Ardhi yang asal menyimpulkan, "Tapi itu bagus untuk calon penerus WJ groub kedepannya. Wanita mah memang selalu nurut sama suami."


"Kamu harus pintar-pintar cari suami sebelum kamu nurut apa maunya."


Key mengerucutkan bibirnya, "Hari gini emansipasi wanita masih dijunjung tinggi lho pak." enak saja menyimpulkan kalau Key hanya bakal nurut manut apa kata lakinya, "Orang tua saya saja nggak pernah nge-treat saya gimana-gimana. Hidup ini suka-suka saya."


Key menoleh kearah Ayahnya, dia adalah Natyono Wardanadidjaya sang CEO WJ groub yang juga pendiri perusahaan raksasa itu.


"Sulit buat dia jatuh cinta, sekalinya cinta bakal bucin dia." kelakar Tyono tentang anak perempuan satu-satunya itu pada rekan yang menjadi teman dekatnya kini.


"Ayah tau saja kata bucin, seperti ayah memang bucin ke bunda." ucap Key kesal.


"Mbak Key memang sangat teliti, pak. Bahkan sejak almarhum tuan Andro ingin seluruh keluarga Wardanadidjaya melakukan penyamaran, mbak Key mah langsung nyuruh saya buat belajarin dia naik sepeda, naik motor, belajar hidup sederhana sama keluarga saya juga di kampung sampai 2 bulan lamanya." Pak Sobirin hanya menoleh ke kedua ayah-anak itu sembari tersenyum tipis.


Sudah bertahun-tahun lamanya keluarga Wardanadidjaya meninggalkan rumah besarnya untuk meneruskan penyelidikan besar-besaran. Mereka harus hidup sederhana dan meninggalkan kemewahan yang mereka punya bahkan si tuan mudanya, Calvin harus rela meninggalkan kehidupan home schooling nya yang tenang untuk pindah ke sekolah umum biasa sampai lulus. Harusnya anak itu diumpetin minimal sampai memasuki jenjang dunia perkuliahan. Tapi melihat Key yang nyaman dengan kehidupan SMA membuat Calvin ikut tertarik juga.


"Saya gampang beradaptasi, bahkan dibawah tekanan sekalipun."tandas Key yang seakan menerawang hal-hal yang tak terlihat.


Ayahnya dan juga pak Sobirin meninggalkan mereka untuk naik ke ruangan Presdir yang berada di lantai atas, meninggalkan Key yang masih mengobrol dengan Bapak sang mantan itu didalam mobil.


Key hanya tersenyum kikuk, rupanya sedekat itu keluarganya dengan keluarga Wijayakusuma. Key jadi curiga jangan-jangan yang memindah tugaskan dia untuk menjadi sekretarisnya Aldrian adalah ayahnya, bukan kemauan Aldrian sendiri. Key memang masih melakukan penyelidikan secara tersembunyi sejak bergabung di team Alpha, namun sejak menjadi sekretaris GM tugasnya sedikit terkendala banyak hal, Key malah seperti mengistirahatkan diri.


"Pak Ardhi, anda tidak tahu jika Aldrian menjadi topik pembicaraan anak-anak kantor karena Ayah saya yang memanggilnya seolah seperti anaknya." Key sedikit menyindir ayahnya soal aksinya setelah rapat membuat sekantor geger dengan menyebutkan dirinya sebagai 'papa' dari Aldrian, "Saya rasa saya bukan lagi anak pak Tyono, justru Pak Aldrian lah yang pantas anaknya sekarang."


"Cari muka banget dia." desis Key di dalam hati.


Pak Ardhi tertawa kencang, "Saya juga kaget, tapi ternyata ayahmu sudah menganggap Aldrian sebagai anak mantu. Jadi kapan kamu mau dimantu sama Aldrian?"


Anak dan bapak sama-sama nggak tahu diri.


Key berdecih pura-pura kesal, "Saya mah nggak selevel sama Aldrian yang suka mondar-mandir bawa pasangan dari agensi permodelan dan entertainment. Saya cuma pegawai biasa yang awalnya mengutak-atik komputer, service komputer, setelah itu jadi juru tulis menulis merangkap babu. Kami memang pernah pacaran, tapi saya jadi ngeri melihat Aldrian yang sekarang."


"oh ya?"


"Bilang sama pak Aldrian, saya juga ogah terima lamarannya." padahal mah mikir-mikir, lanjut key dalam hati.


"Wow, anak saya begitu berani mendahului saya ya? Saya bahkan hendak berniat melamarmu untuk jadi istri Aldrian."

__ADS_1


"Sejak saya dengar semua kisahmu, Saya juga jadi sangat salut dengan Key, Ayahmu ini sudah menceritakan bagaimana kamu sangat ingin menumpas kasus besar bahkan sedari kalian masih bersama-sama. Aldrian sekarang memang berbeda, tapi cintanya sama kamu itu masih sama. Justru dia yang awalnya menyarankan kamu untuk kerja menjadi sekretarisnya hanya untuk melindungi kamu. Ayahmu juga ingin kamu berhenti dan hentikan penyamaran kamu."


"Sejauh mana pak Ardhi tau tentang keluarga saya?" Key sedikit melirik curiga pada pria paru baya itu.


"Pak Ardhi pasti tau kalau yang hendak melakukan penyamaran pertama kali itu abang saya, bang Andro bahkan sampai mau jadi guru honorer di sekolah biasa. Bukan saya. Saya cuma mau meneruskan penyamaran ini. Saya nggak mau kematian abang saya dan Keava menjadi misteri yang belum kunjung terselesaikan."


Pak Ardhi berdeham, "Biar Andro dan Keava anak saya itu tenang di surga. Kamu hanya akan membuatmu lelah sendiri nak. Kami sudah rela melepaskannya."


Pria paruh baya itu kini menatap sepenuhnya terhadap gadis 25 tahun itu. Key yang ia kenal kerap bersama anaknya sejak SMA dan Key yang kini begitu kuat hati dan keras kepala, "Om hanya ingin menyadarkan kamu. Jika kasus ini berhasil dituntaskan dan orang yang bersalah itu ditemukan, apakah kamu bisa kembali pada Aldrian?"


Key terdiam. Telak. Dia kini seperti telah lama tak memikirkan keadaan dirinya sendiri dan hatinya.


"Om percaya, kamu bahkan lupa rasanya jatuh cinta." alis pak Ardhi terangkat sebelah dengan sorot mengerjai.


Tengil juga om ini.


.


.


.


Key hanya mendengus menatap ayahnya. "Ayah nggak berniat membongkar penyamaranku kan? Aku masih harus memastikan sesuatu."


Tyono menatap kearah putrinya yang kini berani memasuki ruangannya bahkan saat banyak karyawan hilir mudik kembali ke tempatnya. Semenjak dalam penyamaran, Key sangat menjauhi bertemu dengan ayahnya. Mati-matian dia memutuskan untuk menyamar sebagai Keyhlani Diana, si kuper dari divisi IT yang bahkan tak pernah sedikitpun mengumbar eksistensinya di depan divisi lain. Sejauh ini mungkin hanya Aldrian yang mengetahui segalanya.


"Aku nggak mau menempati posisi yang harusnya diisi bang Andro."


"Kamu-" ucapan Tyo berhenti sejenak. "Ayah kasih waktu 2 bulan untuk menyelesaikan penyelidikan kamu terkait Handoyo Sambroto dan kematian abang kamu. Selepas itu, kamu harus turuti apa mau ayah."


"Tapi yah!?"


"Anggap ini Deadline dari Ayah selaku presdir WJ group, dan nanti kamu akan diangkat sebagai CEO WJ tech sebelum kamu mengisi posisi Presdir utama di WJ induk menggantikan ayah." tegas Tyono membuat Key kembali ingin mengelak tetapi tidak bisa.


"Bunda tau dengan hal ini?" tanya Key tiba-tiba. "Ayah harus batalkan perjodohan-perjodohanku kalau begitu."


Tyono menatap Sobirin yang kembali dengan map yang berada di tangannya. " Riandreas Elsyah Danuarta, ada di lobby ingin bertemu dengan bapak sekaligus mbak Key." ucapnya tiba-tiba.


"Baru aja mau diomongin." desis Key merana.


"Suruh dia masuk, Sob!" Perintah Tyono lalu diangguki Pak Sobirin.


Pintu terbuka dan pak Sobirin mempersilahkan sosok Rian si anak tante Ermala yang membuat team croco penasaran sampai ubun kepala..


Pria gagah dengan wajah manis dengan aura bersahabat dan kacamata hitam yang bahkan tak bisa menghalau ketampanannya pada alis lebat dan lekuk hidung yang mancung. The Real Bebelac face, body L-men, hati MUI.


"Perkenalkan nama saya Riandreas-"

__ADS_1


"Kamu nggak lagi ngelamar kerja disini kan?" potong Tyono tak membuat senyum yang ada di wajahnya senyap.


"Maunya sih melamar anak om, jadi gimana?"


Pandangan Tyono mengarah pada putrinya yang tampak menatapnya penuh selidik, "Keluar dari ruangan ini selagi saya berbaik hati, dan satu lagi Riandreas jangan sampai karyawan diluar semua tau kalau Key yang kamu taksir ini adalah anak saya."


Key berdecih karena bertambah satu lagi yang mengetahui bahwa Key adalah anak sang Konglomerat, "Gue nggak bisa basa-basi jadi kalo lo nggak bisa diem, mending tante Ermala nggak usah mengharap gue jadi mantunya."


Riandreas hanya tersenyum simpul, "Tes Kejujuran ternyata? baik om, Key mari kita ke Freupreu cafe seberang, tempat kita seharusnya ketemu untuk pertama kalinya."


.


.


.


"Boleh nggak sih gue penasaran tentang Key yang tiba-tiba hilang bahkan setelah bang Ed menang taruhan bra Riana kali ini mau mentraktir kita semua ke RMP Sambalado?" tanya Adam pada Farham yang kini sudah berada di kantor guna mengambil berkas.


"Gue baru aja tiba bang, pertanyaan lo agak kepanjangan. Btw, mbak Riana itu si sexy body yang suka tebar pesona itu kan?" Farham bergidik mengingat wanita itu yang dengan terang-terangan membuka satu kancing kemejanya lalu membuka Ruangan GM dengan mode menggoda tanpa bertanya padanya. Alhasil, bukannya terpikat dengan pelet si Riana, justru Riana mendapatkan cecaran dari teman wanita Aldrian yang blak-blakan tak suka dengan gelagatnya.


"Gue baru aja datang buat ngecek kerjaan mbak Key selepas PP Bandung-Jakarta, pak Aldrian benar-benar nggak mau jauh lama-lama dari mbak Key tercinta. Kalau mau ngasih berkas disini aja bang, jangan disenggol ya orangnya didalam ruangan."


Adam sedikit merasa aneh lalu mencoba duduk di kursi Key yang masih kosong, "Btw, lo bawa jajan apa setengah hari di Bandung."


"Boro-boro jajan bang, cuma 45 menit kami disana meeting abis itu pulang. Inget istri lagi ngidam aja saya nggak. 8 jam pulang pergi, staynya cuma sebentar nggak sampai booking hotel." ucap Farham kembali mengoreksi hasil kerja Key yang masih berbentuk softcopy sebelum di print.


"Itu si pak Aldrian bener-bener ya? Kebangetan banget. Btw, si Key juga main ilang aja begitu kami sampai di lantai ini. Yakin deh gue heran, dia kemana lagi padahal jam istirahat sudah selesai setengah jam yang lalu."


"Ekhemmm."


Sosok Aldrian berdiri tegak didepan bilik mereka berada tanpa mereka sadari.


"Key dimana? Saya butuh laporannya sekarang juga."


Farham meneguk air liurnya susah payah dengan ketakutan, "A-anu pak, mbak Key belum hadir. Tapi softcopynya ada disini, mau nunggu print atau lewat e-mail aja pak?"


"Saya tinggu Key di ruangan saya. Sekarang."


Selepas kepergian Aldrian kembali ke ruangannya, si Adam tiba-tiba bergetar ketakutan hingga lemak-lemak perutnya pun bagai sedang menari belly dance ala india.


"Boleh nggak sih gue pipis disini sekarang, ham. Damage si Aldrian gila banget bikin nyali sekaligus lemak rontok!"


"Seminggu kerja sama dia, gue yakin bang berat badan lo turun 10 kilo." Farham berseru lirih sambil cekikikan.


"Lha, kempes dong gue." Adam melotot horor kembali menatap sisa-sisa parfum manly milik Aldrian yang bercampur pada udara sekitar.


"Anje gile Aldrian."

__ADS_1


__ADS_2