Ken And Key

Ken And Key
Part 4


__ADS_3

Bang Ed semalam pulang dan tidur di rumah Bibinya, dan tidak ada yang mengajak Key untuk berangkat pagi hari ini.


Betapa tergesa-gesa Key ketika ojek online yang dia pesan tidak lain adalah abang ojol mantan pembalap jalanan. Key bahkan berteriak sambil memaki-maki ketika si bang ojol dengan nekatnya menerobos lampu lalu lintas.


20 menit yang hampir membuat Key serangan jantung, akhirnya dia sampai kepelataran gedung kantornya. "Nggak lagi gue bilang cepet sama lo, bang."


"Tapi tetep dikasih rating bintang 5 kan, neng?" bujuk bang Ojol.


Key mengangguk sambil mengatur nafas sambil menunjukkan layar ponselnya, "noh, puas."


"Terimakasih neng Key. Jangan kapok ya?" secepat kilat motor bang Ojol menembus kemacetan untuk mengejar orderan.


Dengan tenggorokan yang nyaris kering dan bibir pucat yang pecah-pecah, Gadis itu berjalan menuju pantry untuk memenuhi mug bentuk sapi pink miliknya dengan air mineral galon lalu meminumnya.


"Pasti lo sama pak Aldrian ada apa-apa semalem."


Gluk gluk Byurr...


Sekonyong-konyong kepala bang Ed tiba-tiba nongol dari belakang galon dispenser sambil cengengesan menggerak-gerakkan alisnya.


Sontak saja Key memuncratkan air di dalam mulutnya hingga baju dan celananya basah.


"Sialan Edgarong!"umpat Key kesal.


"Muehehehe..."


Sesuai prediksi, semua orang langsung mendekat kearah Key dan juga bang Ed termasuk Rofyan, team Beta sekalipun yang selalu entah kenapa mampir ke team Alpha setiap harinya.


"Gosip mulai berterbangan, gue juga lihat Key kemarin naik mercedes benz sama pak Al. Lo beneran dipulangin kerumah kan?" Celetuk Dimo dibalik pintu lemari es yang baru ia buka.


Key beringsut mengambil tisu guna membersihkan bajunya yang basah, "Ya pulang kerumah dong, bambang. Gue ngga dibungkus, gila aja..."


"Dibungkus nih kayaknya kalau lo diantar pulang lagi. Biasanya bikin image aman dulu pertama kali, tapi nggak tau tuh besok gimana lagi ceritanya." selidik Wawan yang entah datang dari mana turut membahas hal tersebut.


"Duh ilah, wawan kayak udah paham aja. Heran deh, kalian kepo banget sih jadi laki?"


Dimo berdecak, "Kedekatan lo sama pak Al itu mencurigakan, Key. Lebih aneh lagi ketika kami lihat pak Al seperti sudah terbiasa bareng sama lo."


"Gue mulai curiga." tambah Adam yang sembari membuka karetan nasi padang di atas piring dan memakannya sembari duduk di meja makan. "Habisin aja makanan lo, ndut."


"Lagak Aldrian nganterin lo pulang kayak apal banget rumah elu dimana. Macem pernah bertamu ke rumah lo." Wawan menganggukkan kepalanya setuju.


"Gue yakin sebelum pulang ada sungkem ala calon mantu sama ayah-bundanya Key." timpal Adam lagi sembari mengunyah makanannya.


"Atau jangan-jangan, sebelom pulang, ada adegan skidipap pap ulala uhh uhh lala Khop khun krap ulela beibeyihhh endolita cantika maymuna istri muda."


"Bodo amat!" seru Key kesal.


"Tau ahh, gue mau benerin komputer pemasaran dulu. Riana menanti." bisik Dimo di akhir kalimat meninggalkan semua yang mencak-mencak karena kalah start untuk melihat bokong sapi lokal rasa Australia.


"Kampret emang Dimo, info branya warna apa ya, mo!?" teriak Bang Edgar dengan leluasa seperti biasa.


Wawan menggeleng sekilas, "Udah gue bilang kemaren kalo kutangnya Riana tetep merah."


"Taruhan kutangnya, warna item... Isinya putih, Duileh suedep cakep." ucap bang Ed menyeringai bagai penjahat kelamin.


"Gue merah tetep. Kalo bang Ed menang, restoran italia ya, bang?" tambah Wawan.


"Gue biru, inget! Biru laut." timpal Adam yang lagi-lagi menambahkan warna lain sebagai taruhan.


"Dasar dedengkot bajingan! Taruhan lagi sama bra cewek, dasar gila!" umpat Key melepaskan kekesalan.


Key kesal karena ada dia diantara mereka yang sama-sama mesum bak buaya. Key berjalan menuju biliknya, menata berkas bawaan dan juga tas besar miliknya. Namun ketika dia mendudukan diri di kursi kerja dan menghadap tepat kearah depan, seluruh itulah dia melihat ruangan dimana seorang Pria berotot kekar membuka jas dan menggunakan kemeja berwarna navy blue.


Ya meskipun kedua dinding kaca ruangan terlengkapi dengan teknologi switch glass atau kaca buram otomatis ala toilet Jepang, tapi penampakan Ken yang sedang berdiri tegak seperti tiang listrik berotot itu membuat Key nyaris tersedak ludahnya sendiri.

__ADS_1


Dia melihat kearahnya, kearah Key yang kini pura-pura tidak sedang melihatnya balik. Key menemukan map untuk memutus pandangan mereka yang bertabrakan. Namun, seketika Key dikejutkan dengan ponselnya yang berbunyi dan buru-buru dia mengangkatnya.


Tringg~


"Ya pak Manaf, Saya akan membahas rancangan Database security program level 4 bersama team segera." ujar Key berbohong.


Suara itu berdeham lalu berkata, "Key, apa yang kamu baca kalau map kamu kebalik?"


DEG


Seketika Key perlahan menyingkirkan map itu dari depannya, menatap seorang yang berada di seberang sana yang berkacak pinggang dengan ponsel yang melekat pada daun telinganya...


Aldrian Keanuval menatap tajam kearahnya seperti sehunus pedang.


"Fokus sama kerja, jangan sama saya."


.


.


.


Pukul delapan malam Key dan keempat croco, sekaligus pak Manaf masih berada di kantor. Beberapa team yang lain bahkan sudah pulang usai jam operasional kantor berhenti. Giliran team Alpha akan mengadakan lembur hari ini. Belum ada titah baru dari sang General Manager baru itu, Key hanya meneruskan pekerjaan yang belum dia kerjakan.


Dua bungkus roti sandwich selai kacang sudah dia habiskan sambil mengetik. Gadis itu tipikal manusia mini namun tidak bisa betah menahan lapar, dia mempunyai stok roti sobek untuk beberapa hari sebelum tanggal kadaluarsa. Tapi terkadang pula Key lupa memakannya sampai roti tersebut kadaluarsa besok hari, maka dengan ikhlas sepenuh hati roti tersebut akan diberikan kepada kaum dhuafa seperti Adam.


"Nggak papa, gue makan daripada mubazir. Gue cerna sekarang, besok juga gue buang ke kloset. kentut gue tetep sama-sama busuknya."


"Lo ada yang rasa blueberry?" tanya Wawan pada Key yang masih sibuk memasukan kode program.


"Ada rasa tabok pipi kanan kiri, mau?" ujar Key pedas.


Wawan mencibir dengan bibir yang manyun. Namun ketika Key melemparnya roti sobek rasa chocolate, pria itu langsung tersenyum merekah sambil terkekeh.


Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam, level security program berhasil di selesaikan. "Yakin udah ditambel yang bocor?" ujar bang Ed.


"Kita udah kasih bounty ke bocah kemarin sore laporin kebocoran data kan?" tanya Dimo.


(Bounty : Bounty adalah pembayaran atau imbalan berupa uang untuk menemukan, menangkap, atau membunuh penjahat atau orang yang dicari. Contoh : Hadiah Microsoft untuk pencipta virus komputer.)


"15 juta kenyang sih kalo masih kuliah." sahut Adam.


Mereka memang sengaja meluncurkan sampel program dan membuat sayembara bagi para hacker untuk menemukan celah ataupun bug.


Key hanya mengangguk sambil tersenyum karena sebenarnya, Key tahu siapa bocah kemarin sore yang memenangkan uang 15 juta itu. Dia tanpa sengaja melihat kedepan, lampu ruang General Manager belum dimatikan dalam mode hide. Key tidak tahu apa yang ada dibaliknya, mungkin pak Al yang berhasil membuatnya malu tadi pagi masih belum pulang.


Lagi-lagi dia memikirkan si mantan pacarnya itu. Kenapa Key masih saja bisa khawatir dan memikirkan pria itu. Fokusnya sedikit buyar ketika pak Manaf menyuruh mereka pulang ketika jam menunjukkan pukul 23:00.


Wawan muncul di depan mejanya, setelah menyempurnakan level keamanan diruang khusus bersama yang lain. "Key, kami udah selesai. Kata pak Manaf, Lo lanjutin besok gapapa, yang lain udah pada pulang."


"Iya, gue juga udah kelar. Thanks Wawa-"


Tring Tring Tring~


Seruanku terhenti.


"..."


"Apa Pak?"


"... ..."


"Oh, iya masih ada Key."


Loh loh loh

__ADS_1


"... ... ..."


Klik


Wawan menatap wajahku sambil berkedip-kedip.


"Key, Lo bisa benerin printer pak Al dulu sebelum pulang?"


"Tapi kan Wan-"


"Oke Key thanks yak pacar gue keburu meradang." Wawan langsung memasang ancang-ancang untuk melarikan diri.


"Elu kan jomblo, wan."


"Ayolah Key, gue baru inget Naomi chan siaran, dia cosplay jadi Nami." ujar Wawan dasar cowok otaku. Dia langsung kabur karena ingin langsung pulang melihat siaran live selebgram cosplay favoritnya.


"WAWAN!"


.


.


.


"Laki-laki nggak bisa benahin printer sendiri, gue heran sebenernya pekerjaan gue itu programer apa teknisi listrik sih sebenarnya?" Key mendumal.


Tampak eksistensi seorang berbadan menjulang kekar dibelakangnya, pak Al berdiri tepat disana membuatnya kaget seketika.


"Saya denger dumalan kamu, Key." ucapnya lirih.


Jasnya melipir ke sofa sudut ruangan, kemeja hitamnya terbuka sampai tiga kancing dari atas, Rambutnya yang dipomade acak kadut. Pria itu hanya mengawasi Key yang sedang membongkar printer dengan lihai dan cekatan, karena satu hal yaitu ingin cepat segera pulang. Berada di satu ruangan bersama mantan entah kenapa membuat hatinya tak tenang. Takut dibungkus, takut diapa-apakan.


Gadis itu duduk bersila di ubin dingin seperti duduk di mushola. Membongkar printer yang macet karena terdapat tinta kering dan sedikit debu. Namun tanpa diduga diekspor mata Key masih menangkap sosok GM baru itu berbaring di sofa dengan jas yanh menyampir bagai gundukan jemuran milik Key yang malas dilipat disudut kamar rumahnya.


Mata Pak Al terpejam dengan gurat kerutan didahi tanda dia kelelahan. Tugas besar dia emban sendirian karena dia berkata bahwa dia tidak memerlukan bantuan sekretaris untuk ikut lembur.


"Udah selesai pak." ucap Key pada akhirnya sedikit menghela nafas lega. Suara Key kemudian membangunkan pak Al yang kemudian berdiri tepat didepannya. Dengan postur tingginya, entah kenapa Key merasa merinding tiba-tiba takut, namun Key menengadah keatas melihat sorot matanya.


"P-printernya cuma kesumbat. Udah beres, saya udah coba dan berfungsi dengan baik." jelas Key sedikit terbata.


"Kalau dulu kamu pergi gara-gara aku, aku mohon maaf."


"A-paan sih pak, ngehalu deh. Udah ya saya mau pulang bye by-"


Bruk...


Dengan kecepatan kehaluan tingkat lelah letih Key berada di bawah kungkungannya. Dia terpojok oleh dinding dan tubuh Aldrin Keanuval yang tampak frustasi.


"Sorry, Saya benar-benar minta maaf."


Key menggeleng. Key sedikit menggerutu, dia benci berada pada posisi seperti itu dengan kondisi dia lelah, berkeringat dingin, apek karena sepanjang hari bekerja. Apalagi Key semakin merasa terintimidasi dengan wangi yang menguar membawa kenangan masa lalu yang terpendam.


"Rambut baru ya?"


"Iya"


"Bulet ya kalo di kepala lo hahaha..."


"kan kamu sukanya kayak idol korea."


Key mengelus pucak kepalanya seperti anak kecil "Nggak papa, tapi wanginya enak. Gue suka."


Key yang sekarang menggelengkan kepalanya kemudian mengadahkan pandangan ke wajah Aldrian dengan penuh kekuatan yang berhasil dia kumpulkan.


"Kalau lo kesini karena menemukan gue, selamat bahwa lo berhasil. Tapi untuk kedepannya jangan membuat gue selalu berada didekat lo, gue nggak suka. Gue nggak akan kembali..." ucap Key yang seketika melangkah ketika melihat celah dalam kurungan tubuh Aldrian.

__ADS_1


Meninggalkan Aldrian yang berdecak dalam kesedihan dan keputus asaan, "Saya bakal buat kamu selalu ada didekat saya lagi, Key."


__ADS_2