Ken And Key

Ken And Key
Part 10 : Ketiban Durian Runtuh


__ADS_3

Hari pindahan datang juga esok harinya. Aku lebih memilih diam dan menguatkan mental untuk bersiap tinggal serumah bareng mantan label atasan. Tak banyak yang harus kubawa, hanya beberapa buku-buku novel untuk mengisi waktu luangku, keperluan sehari-hari seperti kosmetik dan alat mandi yang bisa dihitung pakai jari, dan juga beberapa pakaian kerja dan rumahan.


Pak Aldrian datang bersama mobil pick up yang sebenarnya tidak penting juga kegunaannya karena yang mau pindahan bukan keluargaku, hanya aku dan barangku hanya sedikit.


Farham menyapaku dibalik kemudi pick up, suka cita terpancar dari sorot matanya. Bayangkan coba, sebenarnya yang kesenangan itu aku atau pak Al, meliburkan kami bertiga di hari Senin yang seharusnya padat dengan pekerjaan. Orang itu malah memasang tampang biasa seolah-olah tak terjadi apa-apa.


"Udah habis kan barangnya kak?" tanya Calvin yang ikut membantu membawakan kardus-kardus dan koperku.


"Oke, titip salam buat Bunda sama Ayah." ucapku sambil menguatkan tali ransel yang berada dipunggungku.


Bunda dan Ayah sibuk menghadiri acara nikahan anak temannya, sangat disayangkan mereka tidak bisa melihatku untuk terakhir kali sebelum tidak akan pulang di rumah ini lagi dalam waktu yang lama. Tapi aku kemarin sempat berpesan pada orang tuaku untuk pulang dan menginap sesekali ke rumah ini dan Pak Al memberikan ijin.


"Jangan lupa ikut bantu Bunda, vin. Jangan perang mulu sama kuda poni."


"Apaan sih kak, senang banget malah lo pergi. Sinyal WIFI terpancar lancar jaya tanpa gangguan Drama korea menye-menyemu itu." bibir Calvin mencebik, seakan meminta aku untuk menampol kepalanya dengan senang hati.


Farham melangkah lalu membunyikan mobil pick up, "Salam Om sama Tante ya, dek. Oh ya mbak Key, saya pulang dulu. Mbak sama Pak Al ya?"


Eh, kenapa sama pak Al? Dia pasti komplotan sama bosnya biar dia dan aku bisa berduaan.


"Kan jok dekat kamu kosong, ham. Biar saya disana aja."


"P-penuh mbak Key, isinya kardus susu hamil Lila sama... Yaudah deh mbak saya pergi dulu." ucapnya sebelum kabur dengan cepat meninggalkan kami bertiga.


"Rejeki kak Key bisa naik Ferrari." kata Calvin yang entah kenapa sudah berdiri bersebelahan dekat dengan Aldrian.


Aku memutar bola mataku, "Pak Al, jagain kakak saya baik-baik ya, jangan dekat-dekat sama dia, apalagi belai-belai. Agak bahaya sih, menggigit soalnya." tambahnya langsung kuhadiahi jitakan dari kakak terbaik dan dia mengaduh sambil melindungi bagian lain sebelum kucubiti.


Aldrian menoleh kearah Calvin yang hampir sama tingginya dengannya. Anehnya, dia malah tersenyum licik lalu menolehku. Oke, kali ini aku bakal dibully habis kalau mereka berdua bersatu.


Mobil hitam nan kinclong milik Aldrian meninggalkan perumahanku dan melaju di jalan raya saat aku mulai dirundung kesepian berada berdua berdampingan bersamanya satu mobil. Dua kali terhitung kami naik mobil bersama, dia benar-benar tidak tertarik untuk membuka obrolan denganku. Pandanganku kubuang keluar jendela, diluar terasa panas tapi didalam sini mendadak dingin dan telapak tanganku mulai mengeluarkan keringat.


"Setegang itu berdua sama saya, Key." yang Aldrian lontarkan jelas bukan bermaksud pertanyaan tapi sebuah pernyataan.


"Nggak juga tuh."


"Berarti iya." sudut bibirnya tersungging.


Kampret.


"Lama juga nggak bareng sama kamu lagi." ucapnya dan berani-beraninya mataku melirik kearah dia. Aldrian tampak fokus pada jalanan didepan tapi juga fokus untuk menyudutkan aku didalam sini. Sekejap aku tertangkap basah tengah memerhatikan dia, netra kami bertemu.


Ada kupu-kupu yang menggelikan perutku dan entah kenapa dadaku terasa menghangat. Dia masih sama, mungkin saja Ken yang kukenal dulu adalah dia sekarang, batinku masih berharap. Pipiku mendadak memanas, tolong ini tanda-tanda penyakit kronis apa ya?


Kalau aku ini sekecil barbie mariposa atau tinkerbell, aku mungkin akan kabur terbang lewat jendela yang terbuka. Sayang, itu cuma haluanku semata.


Aldrian memakai celama jeans adalah hal pertama yang membuatku tercengang saat melihatnya turun dari mobil saat baru sampai dirumahku tadi pagi. Ini hal baru, karena dari dulu bodi bongsornya waktu SMA hanya cukup dengan celana kain. Sekarang mungkin bagiku terlihat lain, kemeja hitam dengan lengan yang sengaja ditekuk sampai siku, kacamata hitam tergantung indah dihidungnya yang bangir. Perpaduan lengkap pada lelaki yang membuat wanita diluaran sana tergila-gila sampai mau mati.


Mobil berjalan memasukki kawasan perumahan elit yang berjejer seperti adu kekayaan pemiliknya. Aku menganga bukan karena rumah super duper besar bercat putih, halaman luas seperti istana, lengkap Helipad, bertiang marmer kinclong ala taj mahal yang berada diseberang sana. Aku lebih menganga diperbuat oleh setiap desain rumah yang berbeda-beda berjajar.


Kompleks horang kaya


Kami berhenti pada rumah bentukan gedung berwarna abu tua yang masih terkesan asri karena pepohonan, begitu banyak kaca transparan, dan megah dengan beberapa lantai yang entah berapa tapi bangunan itu menjulang. Jangan lupa soal basement, Pick up Farham terparkir manis disana tanpa isi, rupanya barang-barangku sudah dibawa masuk. Satu hal yang harus membuat aku merasa kalau hatiku ngilu adalah jejeran mobil-mobil sport dan mewah yang beberapa sempat kulihat di kantor namun itu masih sedikit dari jumlah seluruhnya.


Mantanku ini mungkin sudah jadi keparat Crazy Rich Indonesia kayaknya. Dia sukses dengan cepat, dan aku masih begini-begini saja.


"Rumah bapak kayak gedung agensi Idol korea." ungkapku tanpa sadar. Dia merenges pun tidak, masih menggunakan kacamata hitam sudah seperti tukang las keliling. Dia lalu diam, tidak menggubrisku. Apalah aku, hanya taburan seledri di dalam mangkok baso. Penyedap dan pelengkap, tidak ada juga tidak ngaruh.

__ADS_1


Angka lift berhenti pada lantai ketiga, wajah berseri Farham menyambutku lagi dengan perasaan campur aduk karena bersalah telah membiarkanku semobil bersama Aldrian.


"Kamu boleh tinggal dilantai empat atau tiga terserah. Rumah ini setiap lantai ada fasilitasnya yang sama. Farham akan jelaskan ke kamu." ucap Aldrian berada dalam lift, cuma aku yang keluar ternyata.


"Eh? Bapak mau kemana."


Gila aja setelah memaksaku mati-matian untyk pindah ke rumahnya, eh begitu pindah betulan malah di tinggal.


"Kerja, cuti nggak berlaku bagi saya." ucaonya sebelum semua postur tegap penuh kuasanya terlelap oleh pintu lift yang tertutup.


Anjim. Kalau dia bisa kerja sendiri, apa gunanya asisten dan sekretaris macam aku dan Farham ini kerja sama dia. Kejedot dimana bapak sebenarnya.


Seorang gadis mungil lebih mungil dariku datang dengan mengusap-usap perut sedikit membuncit.


"Duh, selamat datang disini mbak Key. Cantik banget deh jadi cewek, moga-moga anakku nular cantik,"


Dia Lilacna Putri, istri kecil Farham yang kini tinggal bersamanya disini. "Udah makan mbak?"


"Dih, aku mah jangan ditawarin makan. Jawabannya tetep belum padahal udah." candaku.


Lila dan Farham mengantarkanku kedepan pintu kamar utama lantai ini. Rumah ini mirip kayak gedung apartemen dan penthouse aku rasa. Tiap lantai punya fasilitas yang sama menurut kata Farham. Seriusan, kayak mirip dorm idol korea kalau dijadiin satu. Lantai tiga ada ruang hijau terbuka lengkap dengan bangku yang cocok buat ngeteh sore dan disebelahnya ada kolam renang mini dan juga jacuzzi. Cozy banget tatanannya, apalagi beberapa tanaman indoor warna ijo yang memanjakan mata terasa cocok dengan warna-warna earttone yang mengisi seluruh perjuru.


"Bos lo nggak niat buat sewain rumahnya ya, ham. Buat shooting sinetron gitu biar nggak kayak ftv yang rumahnya paling cuma itu-itu aja yang dipake. Sesekali bikin kayak korea kenapa?" cerocosku.


"Nggak mbak, bangunan ini khusus buat keluarga pak bos dan juga karyawannya."


Lila menuntunku untuk duduk di sofa sudut ruangan, kami akhirnya duduk disana mengobrol sebentar. Senyumku masih tersungging, beberapa fakta yang aku baru tahu adalah Lila dan Farham menempati lantai dua, sedangkan Aldrian menempati lantai tujuh yang merupakan lantai teratas. Sedangkan dapur dan beberapa fasilitas umum ada di lantai dasar. Sejauh ini beberapa lantai sedang kosong, tapi kerap dibersihkan dan terkadang sepupu dari Al datang untuk menginap disana. Entah apa motivasi dia membangun rumah seperti ini, aku seolah tidak tahu tentang dia lagi.


Farham tersenyum jumawa, "Wah kayaknya nggak ada sejam mbak Key udah betah sama rumah ini. Btw mbak, kartu akses kamar mbak cuma mbak yang punya sama ibu Fatma yang suka bersih-bersih disini."


Aku menerima kartu akses berwarna hitam.


"Saya kira juga gitu mbak, ternyata selain bu Fatma ada beberapa jasa Cleaning service yang datang dua hari sekali. Tugas bu Fatma mah bersihin sedikit karena maklum udah cukup berumur."


Aku mengangguk.


Kami berpisah. Aku menempelkan kartu akses ke kamarku dan seluruh barangku rupanya sudah ada disana. Kamarnya cukup luas, dengan walk-in closed dan kamar mandi lengkap bath up didalam. Semua serba asri banyak tanaman indoor yang aku entah tak tau jenisnya. Disebelah kasur ada meja lampu tidur dikedua sisinya, beberapa buku tersusun di rak pojok dan sofa menghadap jendela kaca besar. Minimalis dan cukup lengkap, itu seperti menjawab semua tentang tipe rumah idamanku.


Andai dia masih milikku, cita-cita sebagai nyonya bos pasti kuraih dengan cepat. Tapi apa yang kuharapkan saat bibirku sendiri mengakhiri semuanya.


Kami punya dan tujuan yang sama, entah takdir apa yang membuat kami harus rela kehilangan semua harapan.


.


.


.



Lonwyn adalah kucing savannah milik Aldrian yang lebih mirip cheetah atau malah macan tutul. Entahlah, dari yang aku tau, dia paling anti sama anjing tapi penyuka garis keras soal kucing. Pernah ketika kami pulang sekolah bersama, kami mendapati kucing yang tengah sekarat di jalan karena tertabrak oleh oknum tak bertanggung jawab. Kami memutuskan untuk mengangkatnya dan menepi ke bahu jalan.


Dibalik kacamata tebalnya, Ken mengeluarkan air mata, dia menangis sampai aku bisa melihat bahu gemuknya bergetar terisak.


"Kucing doang, Ken."


"Key, mereka juga merasakan sakit. Kamu pernah nggak ngerasain jadi orang yang nggak diharapkan oleh orang lain? Kucing ini, beda sama kucing rumahan yang tanpa bersusah payah cari makan, dia juga nggak akan kehujanan dan nggak akan kelaparan."

__ADS_1


"Kenapa kamu lihatin saya dari tadi?"


"Nggak, anaknya lucu ya pak?" candaku.


Bapaknya kucing protes denganku. Aku hanya terpana padanya yang kini menggendong kucing dari turun dari tangga melewati meja makan, dan mengambil sachet ikan tuna makanan hewan peliharaannya itu lalu duduk di depanku.


Kami sedang berada di dapur utama yang berada di lantai dasar. Bu Farma bolak balik memastikan semua makanan siap tersaji di meja makan, sedangkan Farham dan Lila belum muncul mungkin karena Lila masih manja. Baru kuketahui dari Bu Fatma kalau Lila ngidamnya hanya ingin dielus dengan suaminya. Mirip kucing yang kini dielus dan disuapi sama bapaknya tepat didepan mataku.


Aku menyandap kue muffin yang tersaji dengan segelas susu yang baru dituang oleh bu Fatma.


"Kamu ngingetin saya sama anak saya, Key." ucap perempuan separuh baya itu. Usianya mungkin beberapa tahun diatas bundaku.


"Oh ya? Anak ibu cewek usia berapa?" responku ramah.


"Oh, anak ibu laki-laki, udah umur 28 belum juga punya pacar."


Lah, ngingetinnya


Kalau aja kamu mau kenalan, ibu suka sama Key sejak kenal tadi. Cakep banget soalnya." Eh, ternyata benar kan bukan kaleng-kaleng kalau aku mantu idaman. Tuh biar Al tau sendiri aku itu punya wifey material.


"ekhm." pak Al berdeham.


"Iya buk, kapan-kapan bisa." ucapku.


Aku pamit untuk keluar membeli kebutuhan pribadiku yang sudah habis dan beberapa barang yang perlu kubeli secara mendadak karena lupa.


Berjalan kaki melintasi rumah-rumah mewah di sore hari benar-benar keputusan yang terbaik. Apalagi jika letak toko swalayan pemasok kebutuhan berada dekat dengan lapangan basket yang berisi cowok-cowok berondong manis penghuni kompleks ini yang sedang bermain.


"Halo mbak, duh cantiknya."


"Namanya siapa mbak?"


"Orang baru ya mbak?" ujar ibu-ibu yang baru saja keluar dari sebuah rumah rupanya satu tujuan denganku mau membeli sesuatu.


"Iya, Baru pindah tadi pagi bu. Saya tinggal di rumah itu." ucapku sambil menunjuk bangunan mirip gedung milik Aldrian yang terpampang nyata dari kejauhan.


Mata ibu itu sedikit membesar. "Woalah pak Aldrian ya? Duh kamu siapanya ya? Kamu bukan pacarnya kan? Anak saya tuh penggemar beratnya Aldrian."


"Hah?" aku cengo mendengarnya


"Orangnya baik, ramah, mapan, ganteng, calon mantu nomor satu. Jangankan anak saya, saya aja kalau masih perawan mah mau sama dia. Ibu-ibu kompleks sini mah selalu rebutin dia buat jadi mantu. Apalagi si Emma, anak pak RT tuh paling getol kalau nyari perhatian si Aldrian." jelas ibu itu panjang lebar.


"Ya, kalau begitu saya belanja dulu ya bu." pamitku tanpa mau memperpanjang gosipan.


Duh, ini penyakit nih. Nggak di kantor, nggak di rumah, nggak di kompleks, gila Aldrian semua.


Follow ๐Ÿ‘ค


Rate ๐Ÿ“ˆ


Like ๐Ÿ‘


Favorite โค๏ธ


Comment๐Ÿ“


Tip (for author spirit!) ๐Ÿ’ฐ

__ADS_1



Aldrian Keanuval Wijoyokusumo


__ADS_2