Ken And Key

Ken And Key
Part 14 : Semua Ambyar!


__ADS_3

Meeting dengan klien berlanjut hingga jam makan siang selesai, Key dan Pak Aldrian memutuskan kembali ke kantor. Mereka berjalan beriringan menuju lamborghini Aventador merah menyala yang terparkir di depan sebuah restoran italia berbintang lima.



Sebenarnya Key juga ogah-ogahan ikut semobil dengan pria itu. Kemarin malam, biarkan hanya itu kesalahan Key untuk semobil dengannya dan berujung bangun pagi di kamar pria itu. Setengil apapun dan sebandel apapun seorang Keyhlani Diana, ia tetap tidak ingin membuat kecewa kedua orang tuanya yang telah memberikan kebebasan dalam bekerja. Mereka tak pernah menuntut apapun darinya, Key selalu diberi kebebasan untuk menentukan semuanya termasuk cita-cita, tapi ya walau akhirnya tetap saja tidak sesuai apa yang dia impikan karena kenyataan pahit yang mungkin bagian dari rencana sang pencipta. Entah apapun itu, mungkin kemudahan baginya sebagai anak gadis satu-satunya di dalam keluarganya ia seperti punya point sendiri sebagai kesayangan ayah dan bunda. Masa iya kalau Key mengecewakan mereka yang telah bersusah payah melahirkannya dan melimpahkan segala kasih sayang dengan pulang dalam keadaan berbadan dua.


Tapi kembali pada Aldrian yang berdiri menunggu lamunan Key terbuyar sebelum ia memasuki mobil.


"Ayo!"


"Sumpah mampus hari ini terakhir gue semobil sama lo." desis Key segera memasukkan tubuhnya kedalam kereta baja itu.


Jam makan siang kantor masih belum benar-benar selesai. Terbukti dengan berbarisnya eksistensi tiga buaya dan satu buaya tambun kebanyakan makan batu kali, siapa lagi kalau bukan Adam, Bang Ed, Dimo, dan Wawan. Key yakin bahwa mereka sengaja berhenti melangkah setelah melihat mobil merah yang berisikan dirinya dan Pak Aldrian tiba di pelataran gedung kantor.


"Gue jelas nggak bisa terima kalau Key mantannya si Aldrian. Yang mutusin Key lagi, kalau gue jadi cewek satu itu keknya gue bakal porotin Aldrian pas lagi sayang-sayangnya." ucap Bang Ed bergumam licik yang tak sadar pula mulutnya komat-kamit mengeluarkan sisa-sisa bisa alias rahasia super yang bocor tanpa petahanan.


"Lo tau sampe segitunya?" Dimo benar-benar tertegun dengan berita itu, sebab ia sebelumnya memang taunya ada cowok team sebelah alias Rofyan sedang terpana dan berusaha alon-alon (pelan-pelan) mendekati Key. Itulah sebabnya Dimo beberapa kali memberikan Rofyan bantuan dengan beberapa cara seperti sering mengajaknya untuk makan bersama ketika mereka dulu masih berada di divisi yang sama. "Selera Key begitu, apakabar si Rofyan."


Wawan mengangguk, "Tapi kelihatannya itu si Key bukan tipe cewek yang suka cowok tajir, materialistis. Itu cewek selama kita kenal udah bahagia kalau dapet sate taichan gratis apalagi ditraktir makan pinggir jalan, itu senyumnya dari siang sampe pulang kerja. Mungkin iya kalau Key yang mutusin karena merasa Aldrian nggak sepadan dengannya kali ya?"


Adam menelan bulat-bulat sisa kebab yang ia beli, "Gue kalau jadi Key, bakal minta Aldrian sarapan di Thailand, makan siang di Bali, Dinner di Singapura. Enak aje putus, nikah aja sama dia udah terjamin amunisi gizi."


"Pikirin perut mulu lo, Damn. Gue jijik kalo lo jadi Key. Masih mending itu gadis kecil mungil kayak kurang gizi tapi emang standar cewek cantik itu sebelas-duabelas kayak orang cacingan kurus-kurus selidi kali ya? Seenggaknya itu masih mending daripada Key versi elo pasti gembrotnya naujubillah."


"Bodo!"


Adam mencebik pada Dimo yang kini tersenyum penuh isyarat pada Key yang tiba di depan mereka. "Kalian baru makan siang?"


"Ih apa kau tanya-tanya? Salim dulu sama Nyai!" Wawan sengaja menjulurkan tangannya yang bahkan disambut dengan tangan Key yang menepelkannya kedahinya sendiri seperti pengantin baru sah akad.


"Gila lo beneran saliman sama gue. Tuh diawasin laki lo, gue takut kalo pak GM tiba-tiba mutasi gue ke Zimbabue gara-gara bininya begini sama gue."


"Asik! Yang tiduran bareng semalem sampe lakinya bentak bawahan yang berisik di WAh apa kabar Ibu GM?" senggol Dimo.


"Rugi besar Lo Key, kenapa musti lo putusin sih si Aldrian, kalau gue jadi lo..." ucapan Adam tak lagi didengarkan, paling juga berujung dengan makanan.


Alis Key berkedut, bola matanya bergulir kearah Bang Ed dengan bisikan sinyal-sinyal telepati tentang tau apa si croco-croco tentang dirinya dan juga Pak GM terhormat. Bang Ed meresponnya dengan mata menutup seolah berkata 'please, maafin gue. Ini bukan gue yang nyebarin' tapi yang Key tangkap tetaplah bang Ed yang bersalah sebab hanya dia yang mengetahui masa lalu Key dan pak Aldrian.


"Kampret lo Edgara Yudhayana!" seru Key menggeram. Duda satu ini bener-bener jiwa rumpi khas ibu-ibu banget. Bilang rahasia tapi bagi-bagi, dimana letaknya 'rahasia' itu.


"Lo udah gue bilangin jangan bilangin ke yang laen."


"Sumpah bukan gue! Walau gue keceplosan bumbu-bumbunya, tapi laki lo yang bikin ulah ke group kemarin sampe anak-anak team Alpha tambah si Angel tau kalau lo ada affair sama Aldrian."


"Diem lho ******!" Seruan sumpah serapah Key benar-benar mengejutkan karyawan di sekitar lobby sekaligus Adam, Dimo, dan Wawan. Bukan salah Key yang kini naik pitam, Bang Ed kalau sedang membela diri selalu meninggikan suaranya sehingga wajar kalau apa yang barusan diucapkannya bisa terdengar oleh beberapa karyawan lain yang masih berada disekeliling mereka. Apalagi masalah 'affair', tapi Key benar-benar sulit untuk menghela nafas barulah ia mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya yang tak tersentuh sedari pagi, membuka chatroom group Crocodeals dan nampaklah hal yang benar-benar diluar nalarnya. Sedetik kemudian, kekesalannya pada Bang Ed sedikit beralih kepada sosok pria bersetelan Jas berwarna navy yang baru akan memasuki lift khusus petinggi siapa lagi kalau bukan bosnya.


"ALDRIAN KEANUVAL!!!"


Sepeninggalan Key yang berjalan belangsatan dengan mencak-mencak, munculah sosok Rofyan yang bertepatan tengah berjalan memasuki Lobby dan menghampiri mereka berempat.


"Kalian kenapa baris disini macam upacara bendera?" candanya.

__ADS_1


"Lo nggak usah ngeles, nggak usah ngimpi kayak bocah TK."


Dimo pun berbalik dan mengejar sosok Riana yang berjalan begitu sexy dengan tubuh semampai untuk meminta nomor ponselnya yang belum kunjung ia dapatkan.


Bang Ed tahu betul bahwa Dimo agaknya kecewa karena telah membantu Rofyan mendekati Key walau tak mungkin. Dia memutuskan untuk merangkul Rofyan karena kasihan.


"Lu dari mana aja, yan?"


"Disuruh nyari alat, ada beberapa komputer yang rusak di Divisi Pemasyarakatan." Rofyan tersungging dengan respon bang Ed yang ramah seperti biasa sedari ia mengenalnya.


"Noh, makan. Perjuangan masalah ati emang susah butuh tenaga biar kuat." Adam menggeser kebab manis topping choco banana yang belum ia makan sama sekali ke Rofyan.


Wawan menepuk bahu Rofyan ikut terharu, "Semangat Brother, usaha apapun masih sah-sah aja sebelum janur kuning melengkung."


Ingin rasanya mereka memeluk Rofyan, tapi sadar bahwa mereka semua pria dan bukan Teletubbies.



.


.


.


"Apa hak anda mengotak-atik ponsel saya, pak Aldrian?" gerutu Key membuat Aldrian yang kini duduk dibelakang mejanya kini menyondongkan tubuh kedepan untuk mengambil file yang tak terjangkau olehnya.


Aldrian hanya paham, bahwa yang dikatakan oleh Key adalah perkara ia sengaja memasukkan dirinya menjadi anggota group absurd itu lalu berbuat ulah didalamnya.



"Kita nggak tidur bareng semalem kan?" tanya Key lagi. Meskipun itu adalah pertanyaan yang sedikit membuat pipinya memerah karena malu.


"Kita tidur bareng tapi nggak lebih dari itu." ucap pak Aldrian menghembuskan nafas.


"Kamu tanya itu berkali-kali."


"Beneran kan?"


"Kamu tanya pertanyaan ini berkali-kali seolah-olah kamu ingin 'itu' benar-benar terjadi." lirik Aldrian dengan senyuman jahil yang bahkan tak Key sadari.


"Kamu bener-bener mau 'itu' terjadi ya Key?"


"APAAN SIH?! FITNAH YA? GELAY!" dalam hati Key merapalkan doa-doa agar Aldrian benar-benar tidak melakukan hal buruk yang merusak apapun termasuk keperawananya dan kepercayaan kedua orang tuanya pastinya.


Key masih menatap kearah Pak Aldrian secara menyelidik. Ia masih curiga. Makanya kalau sama pria itu jangan cepat percaya, toh buktinya tiga dari empat croco itu buaya. Yang satunya si Adam mah buaya doyan makan, bukan doyan perempuan. Jangan tambah lagi stock laki-laki buaya yang ia kenal.


"Terus kenapa saya cuma tidur pake dalaman doang? Pasti bapak nyari kesempatan dibalik kesempitan kan?" berondong Key dengan pertanyaan.


"Kamu yang salah. Atau beneran kamu lupa tentang kejadian semalam?" Aldrian mendengus.


__ADS_1


Semalam benar-benar tak terjadi apa-apa sesudah Aldrian menjahili Key yang tertidur di mobilnya. Ia sendiri yang membopong Key hingga menuju kamarnya. Menidurkannya dan menyelimuti tubuh kecil gadis itu lalu bergegas ke lantai atas dimana ruangannya yang full satu lantai miliknya itu berada.


Aldrian seperti biasa melepaskan jam tangan, meletakkannya kembali ke lemari koleksinya. Meletakkan tas kerjanya ke atas meja kerja dan membuka baju lalu memasukkan kedalam keranjang pakaian kotor. Air shower terpancur, mengalir dengan begitu halus nan dingin menyapu tubuh liat yang ditempa dengan giat dan juga menghilangkan kesan lengket dan rasa tak nyaman akibat bekerja seharian. Semua aktivitas itu mengalir begitu saja seperti biasa, tidak sampai bel pintu kamarnya berbunyi dan pintunya terketuk dari luar. Cukup kencang mungkin berupa tendangan yang brutal seperti ada seseorang yang ingin mendobrak Aldrian yang masih mengenakan bathrobe keluar dan mendapati Key yang masih belum berganti pakaian dan tanpa alas kaki tampak sempoyongan membawa sebotol merek air mineral yang setelah ia hembus baunya rupanya adalah sebuah cairan alkohol. Aldrian berdesis, ini pasti ulah Andrew, sepupunya yang masih SMA yang beberapa bulan yang lalu sempat menempati kamar yang sekarang ditempati oleh Key. Ketika Andrew bertengkar dengan ayahnya, ia akan menginap beberapa hari ditempatnya untuk menghindari amukan sang ayah. Dugaan Aldrian, bocah ingusan itu sengaja menyeludupkan alkohol dengan memasukkannya kedalam botol air mineral.



Tak tunggu aba-aba, Key memasuki pintu yang ia buka tanpa permisi. Membuka pakaiannya sendiri seolah dia sedang berada di kamarnya sendiri dan Key benar-benar tak sadar lagi kalau terdapat sosok pria bernama mantan sekaligus atasan yang tengah berdiri terpaku diantara ambang pintu.


Key setengah telanjang hanya dengan dua underware berbahan lace bercorak bunga berwarna nude benar-benar membuat air sisa mandinya yang tadinya dingin malah serasa seperti keringat yang menggairahkan.


Key berjalan seolah ia berada di atas catwalk Victorian Secret, mengarah padanya dan menyentuh belahan dada Aldrian yang basah tak tertutupi oleh bathrobe putihnya.


"Halo Bapak? Mas? Kakak? Adek? Hihihi, Kamu kok ganteng ya? Kayak mantan."


"Ganteng, sini deh... Aku mau cium kamu. Aku sebel sama mantan aku, tapi kayaknya kalian sama, tapi kamu versi yang lebih nggak nyebelin."


Ucapan Key benar-benar membuat Aldrian terpaku membiarkan pintu belakangnya tutup otomatis dan bunyi 'bibp' dan 'clik' tanda pintu telah terkunci seolah melatar belakangi apa yang dia lihat malam itu.


Deg


Deg


Deg


Jantungnya berdegup kencang. Rambut hitam, panjang dan halus milik Key tampak menggantung dan jatuh lembut sedadanya.


Pandangan mata Aldrian seakan memburam. Aura gairah yang menerjang benar-benar menghilangkan fokus dan kesadaran. Pemandangan itupun kian menggelap.


Dan kini Key benar-benar menutup matanya karena malu dan tak ingin melanjutkan pertanyaannya seputar itu. Penjelasan Aldrian cukup membuatnya berhenti untuk mempertanyakan perkara itu lagi. Bila telinganya ini bisa diatur untuk tidak berfungsi saat tidak ingin mendengarkan, rasa-rasanya Key ingin menggunakan mode silent tersebut. Sayang telinga tetap telinga yang tak bisa pura-pura untuk tidak mendengarkan. Key berjalan meninggalkan ruangan Aldrian yang kini menatap gadis itu dengan diam seribu bahasa. Lima detik kemudian terdapat senyum terpesona yang terbit di bibir pria itu.


Key, bahkan saat tak sadarpun memikirkan dirinya. Salahkan bila ia merasa sadarpun dia selalu memikirkan gadis itu.


Tuk tuk tuk


Rofyan mengetuk dari pintu luar, lalu membukanya. Pandangan mereka berdua teralih pada sosok dibelakang sekertarisnya itu.


"Pak Al, dicari Sonya Avelina buat makan siang."


Emang dasar kampret Aldrian buaya, batin Key geregetan.


Follow ๐Ÿ‘ค


Rate ๐Ÿ“ˆ


Like ๐Ÿ‘


Favorite โค๏ธ


Comment๐Ÿ“


Tip (for author spirit!) ๐Ÿ’ฐ

__ADS_1


__ADS_2