
Langkahku berjalan riang di taman depan gedung langsung berhenti ketika kusadari
Kamu pasti tau rasanya kembali bekerja setelah perut terisi dengan amunisi energi secara maksimal. Semangat, udah kayak isi bensin sampai full lalu kamu buat ngebut seperti Valentino Rossi.
Dulu hingga sekarang, rutinitas kami adalah makan disekitar kantor. Kami mencicipi berbagai menu makanan dari yang murah hingga yang merogoh kocek agak dalam, kadang diresto atau malah kaki lima pinggir jalan. Setelah kami makan akan selalu berjalan pulang dengan penuh sendau gurau seperti ini. Entah kenapa rasa kehilanganku pada team Alpha sedikit terobati.
Mercedes hitam tengah memamerkan sosok pria berjas yang kini berjalan masuk ke dalam lobi. Para petinggi perusahaan atau orang penting sedang berjalan lengkap dengan beberapa karyawan lain yang menyambutnya.
Aku mengeratkan tali sling bag yang berada dipundakku. Menimang apa yang kurang yang harus dilakukan sebelum kembali ke menjadi sekretaris Aldrian Keanuval Wijoyokusumo.
"Key, lah... Lo mandek. Dengan tubuh unyu lo itu gue bilangin berkali-kali kalo lo rawan ilang. Jalan depan napa?" ucap bang Ed menoleh kearahku. Kami baru habis makan siang pukul dua kurang lima menit. Berjalan beriringan seteam itu udah jadi obat rindu, apalagi pulang dalam keadaan kenyang.
"Iya bang. Oh gue lupa buat nyetok suriroti." ucapku yang berniat langsung melipir ke Alfomart dekat kantor untuk membeli pengganjal lapar.
"Lo bikin gue lupain kenyangnya soto buat laper sandwich lagi ya key? Gagal diet gue." Ucap Adam tergiurkan oleh roti tawar dan selai cokelat milik suriroti yang harganya gocengan. Bisa sekali hap dia kalau makan, kayak cicak-cicak didinding makan nyamuk.
"Elah gendut lo, telat lo nyadar gagal diet. Mangkok enam, baru sadarnya sekarang."
"Kami duluan, ati-ati lo sekarang tambah cantik, rawan ilang, apalagi pendek, makin instan lo buat dimasukin mobil om-om." timpal Wawan yang langsung membuatku mencebik dan pergi membeli roti.
.
.
.
Sesosok Aldrian kembali dari ruangan Presdir saat aku tengah mempersiapkan bahan meeting untuk besok yang harus kukebut untuk selesai hari ini juga. Farham datang bersamanya, lantas langsung melipir untuk duduk di meja bersebalahan denganku bersamaan dengan aku yang menyodorkan kresek penuh roti untuk berbagi bersamanya. Sementara si General Manajer baru itu masuk kedalam ruangannya dengan lempengnya bahkan tak berniat juga untuk melihat kearahku.
"Wah, ada roti. Makasih mbak. Kenalin mbak Key, gue Farham Alfie Alamsyah." ucapnya menyodorkan tangan untuk berjabat denganku.
Aku melirik tajam dan ganas kearahnya, "Gue nggak butuh nama lo, apalagi sodoran tangan buat salaman. Lo bikin gue sakit ati, ngempet buat nggak marah karena lo bikin Pak Al jadiin gue Sekretarisnya."
Farham melotot. usianya baru 23 tahun, itu berarti boleh untukku kerjai karena dia termasuk juniorku.
"Waduhh, Maaf-maaf nih mbak Key, kata pak Al nggak perlu khawatir buat alihkan job, karena mbak bakal nerima sesuka hati."
"Sesuka hati lo peyang? Bos lo bikin gue nangis sekaligus ketawa jahanam. Pak Al marah-marah tanpa alesan tadi. Udah kayak laper pengen nelan orang gue rasa. Kemana lo seharian? Gue nyengir disini sendiri setengah hari ini." dumalku berceceran.
Farham ini dengan polosnya bertekuk lutut dan menunduk. Hampir mau nangis, "Maaf mbak key, istri gue nyidam nggak bisa ditunda. Gue jujur aja deh, kami bahkan pindah ke rumah pak Al karena tuntutan kerjaan. Sebagai asisten dan sekretaris pribadi gue harus ada 24 jam disamping pak Al. Tadi gue ngurusin rumah dulu, capek juga merangkap dua job. Jadi mohon bantuannya ya mbak key."
Duh, jadi nelangsa aku begini. Aku nggak berniat marah sama Farham, cuma kesal aja karena cuma aku yang kena getahnya. Maksudnya kena semburan naga torpedo loreng harimau ala si Aldrian. Karena biasanya aku itu super cerewet kalau di divisi IT apalagi bareng para croco. Kalian pasti ngerti dong apa yang aku rasakan kalau tiba-tiba harus duduk seharian sendiri tanpa ada yang ngajak ngomong, sekalinya ngomong eh langsung didamprat sama pak Al.
"Lo udah nikah?"
Farham mengangguk, "Young Mariage mbak, cocok jadiin drakor. Istri gue bahkan usianya 20 tahun, baru lulus SMA 2 tahun lalu. Nikah sama gue awal tahun ini."
Aku senyum miris memaklumi,"Cup cup cup, kacian deh kamu. Suami siaga, jaga baik-baik istri lagi bunting pertama lagi kan?"
"Eh? Iya mbak."
"By the way, berarti kalian berdua serumah sama Aldrian? Ma-maksudnya pak Al. Heran gue nggak berperikemanusiaan banget dia maksa lo buat ikut boyong istri bunting buat kerja." ujarku turut kesal.
Farham menggaruk belakang lehernya, "Sebenarnya malah enak banget lho mbak kerja sama Pak Al serumah lagi, kebutuhan istri saya terpenuhi, malah jauh lebih baik daripada ngekos. Bukannya kita juga mau serumah juga ya? Alhamdulillah istri saya bakal ada temennya."
Eh, tunggu bentar. Kenapa aku harus serumah dengan Aldrian?. Aku langsung berjalan setengah berlari menuju keruangannya bahkan kantung kresek alfomart kubiarkan berceceran di meja setelah terbanting reflek. Tanpa mengetuk pintu, aku masuk begitu saja.
"Maksud Farham apa gue harus serumah sama lo?" tanyaku tanpa babibu.
__ADS_1
Dia mendongak menyingkirkan bingkai kacamata dari wajahnya yang mulus bin tegas dengan tulang rahang rahang yang menonjol kini membingkainya. "Bukannya kamu sudah tahu dengan kontrak baru yang kemarin kamu tanda tangani. Mulai malam ini kamu bisa mengisi lantai tiga rumah saya."
Aku mendelik kesal, bisa-bisanya ada point itu yang terlewat dari mataku. Aku lebih menyesal lagi saat mengingat kemarin aku buru-buru menandatangani kontrak itu karena jengkel terhadap ulahnya.
"Gue nggak mau ya, Al!"
"Ya tinggal bayar penalti."
"Berapa?" tanyaku. Dalam benakku masih menimang berapa jumlah saldo yang kupunya sekarang setelah membeli montor baru yang kini kupakai untuk pulang-pergi kerja.
"Sepuluh juta."
Aku mendesah lega, masih cukup lah. Dibeliin suriroti sekarung lagi masih sisa kok duitku.
"USD."
"ANJAYANTO!" umpatku keluar juga dari jaring filter tanpa bisa kutahan lagi. "Lo gila juga lama-lama ya, Ken."
Eh malah dia tersenyum licik, "Oh, nunggu marah dulu biar bisa ngumpat sambil manggil nama saya kayak biasanya lagi."
"Licik ya lo?!"
"Menurut nilai kurs hari ini sih harusnya sepuluh juta dollar itu 142 milyar 8 juta 500 ribu rupiah, tiga puluh menit lalu masih Rp 141.961.500.000,00. Sorry to say Key, kamu nggak beruntung."
Setelah mengatakan itu tenang sambil melihat grafik harga saham yang masih bergerak naik turun tiap detik pada monitornya, kayak banyak nol itu bagi dia persoalan kecil. Oh ya, lupa ceweknya juga banyak. Udah 2 tamu cewek yang masuk tadi. Duh, kenapa merembet ke cewek lagian.
"Kenapa lo bikin kontrak jebak banget? Nyari keuntungan ya lo?"
"Lima tahun lalu bahkan ada sekretaris GM rela bocorkan proyek besar sama pesaing seharga 1,86 triliun, Key dan itu cukup bikin perusahaan rugi. Buat jaga-jaga biar orang lebih hati-hati dan bertanggung jawab penuh dengan pekerjaannya. Lagian dari dulu semua orang juga takut sama nol kan, Key. Satu nol UTS Matematika mungkin?"
Hell, dia menyinggungku soal permasalahan jamam sekolah dimana aku harus kena marah bunda karena nilai ujianku merah. Karena itulah, Kami juga sempat dekat karena Bang Andro selaku guru matematika sekaligus abangku langsung menunjuk Ken sebagai mentor belajarku.
"Itulah keburukan kamu, Key. Sesenang itu ketemu dan kerja bareng mantan kamu, sampai gegabah kayak gini." ucapnya berujung rayuan.
Aku baru aja menatapnya lebih dekat sekarang. Semakin dekat semakin jelas bahwa dia punya rahang yang benar-benar tegas sekarang, sepasang alis tebal yang membingkai sorot mata teduhnya, hidung bangir kayak perosotan taman kanak-kanak, dan bibir merah muda karena aku tahu dia paling anti merokok dari dulu. Ditambah dia sekarang menunjukkan poison smile miliknya yang entah kenapa bikin aku tidak berkedip selama tiga detik.
Satu : terpana,
Dua : terjerumus,
Tiga : tanda merah, awas gagal move on.
"Gue harus gimana sih biar lepas dari lo hah?" tanyaku to the point kembali pada kesadaran dan membuatnya bahkan menegakkan badan berdiri dengan begitu aku merasa nyaliku jadi semakin menciut. 185 cm who damn shit. Dia makin tinggi kurasa dari pada dulu waktu SMA. Seingatku dulu dia sempat ikut ekskul basket, walau berakhir bully kakak kelas cuma karena nggak terima telah dikalahkan oleh Ken dengan body milik satpam komplek itu. Selain itu, dia itu cupu dan kuper, tapi lihat gimana sekarang Tuhan memberkati karma buat bisa balas perbuatan orang yang jahat. Roda kehidupan benar-benar bekerja dengan semestinya.
Dia terkekeh malahan, "Sefrustasi itu ya Key ketemu sama saya lagi?"
"Kalo iya kenapa?"
"Tinggal di rumah saya selama 6 bulan saja, atau bayar dendanya."
"Kampret!"
"Terhitung lebih dari sepuluh kali kamu manggil kampret ke saya hari ini." Dia berjalan mendekatiku tapi malah berlalu begitu saja meninggalkan degupan yang aneh di dadaku.
"Kasih gue 3 hari buat pindah. Cuma lo yang bikin gue kayak anak kos nunggak bayar tiga bulan kayak gini." ungkapku sambil berdesis lirih.
"As you wish."
__ADS_1
.
.
.
Tiga hari, yups. Butuh tiga hari aku harus meninggalkan rumah ini dalam keadaan terpaksa dan tersisih mirip seperti sekarang. Duduk di poncot ruang keluarga dengan es lemon squash lengkap dengan daun mint hasil menjarah kebun bunda, aku bingung mau bilang sama kedua orangtua ku untuk pindah ke rumah tuan bos karena tuntutan kerjaan. Paksaan lebih tepatnya
Aku diberi waktu tiga hari, dan ini sudah hari Minggu. Kurang satu kali 24 jam lagi, Aldrian bakal menyeretku untuk pindah ke rumahnya. Bertemu sama dia lagi itu udah bencana banget buat hatiku yang bahkan butuh waktu bertahun-tahun lamanya buat kutata, apalagi hidup serumah bersama. Itu tandanya aku bakal ketemu dia pagi-siang sore-malam. Ternyata pekerjaan jadi sekretaris itu agak berat, ngurusin bos dulu baru diri sendiri. Heran aja sama Riana yang bisa tetep dandan cakep dan ribet padahal dia bolak-balik disuruh sama Pak kepala manager marketing.
Baru kali ini juga menjadi Minggu paling membingungkan untukku. Biasanya aku akan tidur larut malam dan bangun sangat siang atau hanya berbaring guling-guling di kasur kayak baby umur 6 bulan, atau sambil maraton drakor. Baru kali ini nih aku bangun pagi buta dan mengekori bunda hanya untuk menjelaskan perkara pindah rumah yang bahkan aku bingung mau ngomong dari mana.
"Bun," panggilku.
"Apa key?" tanya Bunda balik, "Eh Ay-ay besok jangan lupa beliin bun-bun roti donat gurih ala korea itu ya? Eh apa itu namanya?"
"Korean garlic bread." sahut Calvin yang baru habis mandi setelah menyelesaikan 24 war dan 20 kali menang. Dia masih dendam kesumat sama akun kuda poni, beranjak naik ke kamarnya lagi untuk melanjutkan peperangan.
Lah, aku yang nasibnya dicuekin lagi cuma bisa mengobok irisan lemon dan memakannya bulat-bulat dengan kulitnya yang getir-getir pahit saat tak sengaja kugigit. Gagal lagi jelasin, payah bikin pusing. Bunda hahahihi lagi lihat tampang Sule yang dikerjai oleh Andre Taulany di televisi, sedangkan Ayah ijin pergi tenis sama bapak-bapak tetangga di lapangan komplek. Aku cemberut, mau pergi ke kamar tapi panggilan bunda menghentikanku.
"Key, Kamu mau ngomong apa sih dari tadi?" tanyanya membuat aku mendengus.
"Nggak biasanya kamu kayak gini, maaf ya bunda baru sadar soalnya tanpa sadar kamu tadi bantu masak, cuci piring ini itu, ngekor kesana-sini kayak kucing."
Aku dikatain mirip kucing dan dimanfaatin buat kerjain pekerjaan rumah tanpa sadar dari tadi sama bunda.
"Nah, dari tadi harusnya bunda begini." aku sedikit menimang untuk memulai mengatakannya, "Bun, key mau pergi."
"Oh, dinas luar negeri lagi? Kemana? Cabang New York lagi? Jangan lupa beliin produk Skin Kylie Jenner buat mandi...bla bla bla."
"Bukan, bun." aku menggaruk kepalaku frustasi, "Key mau pindah tuntutan kerjaan, dikontraknya mengharuskan aku buat tinggal bareng pak bos."
Beliau melotot, jilbabnya bahkan ikut turun dengan mode siap sedia bila si bunda mau ngomel panjang lebar kali tinggi tanpa perlu takut kusut.
"R-rumahmya gede kok. Banyak lantainya sampe lima lantai. Yang tinggal juga banyak, rekan kerja ada yg tinggal bareng istrinya." aku berhenti sebentar untuk memastikan mimik wajah bunda yang dapat kupastikan tak sesuai harapan.
"Pergi aja."
"APA?!" seruku kaget. Padahal aku nggak sungguh-sungguh mau pindah, maunya bunda nolak buat aku pindahan biar Aldrian nggak bisa tertawa menang.
"Nggak ada adegan bunda nangis sama atasanku biar nggak jadi pindah gitu?" tanyaku lagi.
"No... Udah ah bunda mau ke dapur bikin nasi goreng kampung." ucap bunda langsung melipir ke dapur meninggalkan aku yang merana sekaligus nelangsa.
Kuteguk minumanku sampai tandas dan bergaya seperti orang mabuk seperti di drama korea... Taulah Key, hidupmu drama banget.
Follow ๐ค
Rate ๐
Like ๐
Favorite โค๏ธ
Comment๐
__ADS_1
Tip (for author spirit!) ๐ฐ