
"Hai, Bunda."
Suara serempak itu membuat Key nyaris terlonjak dari tempatnya berdiri karena terkejut dengan empat sosok teman-teman pria buaya daratnya yang kini berdiri berjajar seperti member blackpink yang sedang menyapa penggemar.
Bang Ed dan Key bertukar pandang beberapa menit, seperti sindrom Brother-Sisterhood complex merekapun saling menyungging senyum penuh maksud dan tujuan. Kampret bang Ed, duda satu itu selalu tau bahwa nasib kehidupan perlajangan Key kini diujung tanduk untuk diselamatkan.
Bunda sedikit terpelongo, "Lho, kok kalian semua kesini bareng Key?"
"Kami habis meeting bunda." ucap Adam dadakan lalu tersenyum kikuk. Bego, Meeting apaan mereka di mall.
Wawan meringis sambil bergeleng-geleng, si gentong Adam benar-benar tidak bisa melakukan akting yang baik kecuali adegan makan makanan fine dinning ala sosialita. "Kami sedang melakukan Key Rescue."
"Emang aku kucing?" timpal Key cemberut melihat kelakuan mereka yang tak bisa berpura-pura.
Bang Ed mendekat kearah bunda, bahkan Tante Ermala dibuat heran dengan sosok empat sahabat kepompongnya itu. "Kami habus nonton Pocong 3, mumpung tidak lembur dan sudah lama tidak jalan bareng."
Key mendengus lega. Tante Ermala mengangguk paham lalu mempersilahkan mereka berlima duduk di meja yang lebih besar untuk mereka.Tante Ermala bahkan tak tanggung-tanggung mentraktir mereka, dengan tanpa sungkan team Croco yang sedari sore lapar karena membuntuti Key si 'Adik Kita Bersama' langsung memakan berbagai jenis menu tanpa babibu.
"Kupikir ini urusan pribadi lho Key, kenapa temen-temen kamu menimbrung begitu sih?" ucap Bunda di kuping Key tidak enak hati.
"Duh jeung, ternyata mereka begitu care ya sama Key. Key benar-benar punya teman yang sangat perhatian dan baik. Oh ya saya senang lho melihat ada anak muda seperti kalian sedang kumpul-kumpul setelah pulang kerja, kayak nostalgia gitu dengan masa muda saya." Tante Ermala mengumbar senyum yang tak kalah ramah membuat semua orang disana membalas senyumannya dengan kikuk.
"Sayangnya Rian, anak saya itu nggak banyak teman. Dia lebih suka pulang kerja dirumah, having fun pun nggak pernah. Makanya dia nggak pernah kenalin cewek, yang usaha malah saya." Jelas ibu sepertengahan umur 40 tahun itu.
Menurut cerita dari tante Ermala, sepertinya team croco Key menduga bahwa calon yang ini agak normal dari sebelumnya meskipun belum kenal wujudnya seperti apa. Bang Ed menyenggol bahu Adam, lalu Adam menyenggol bahu Wawan dan menjitak kepala Dimo dari belakang.
Bang Ed memulai komunikasi tanpa suara. "Kayaknya ini agak beda dari kemarin-kemarin."
"Gue punya radar kalo ini Tante sosialita ini anaknya cakep, kaya, dan nggak neko-neko. Orang emaknya aja cakep dan baik hatinya." ungkap Adam impulsif secara tiba-tiba. Mereka bertiga menatapnya, tumben Adam tedas sama godaan sushi yang bisa menjernihkan pikirannya dari makan, makan, dan makan.
Dimo merengut, "Dih elo dam. Baru di sogok sushi langsung clear pikiran lo. Gue minumin bayclean baru rasa lo! Jitakan lo kuat, gue puyeng. Kayaknya kemampuan gue agak memburuk buat bicara telepati. Gue diem aja dah."
Wawan meminum teh ocha lalu menatap dimo disebelahnya dengan pandangan kasihan. "Dijitak mamoth hahaha. Udah kayak sales lo kayak mau dukung itu Key biar dapet anaknya tante Ermala. Emaknya sih gue udah sip, key bakal bahagia kalau dapat mertua kayak tante ini."
"Gue harus lihat tampang anaknya dulu, siapa tahu si emaknya cuma mau baik-baikin image anaknya. Bukan kah begitu sifat emak-emak yang suka ngaku-ngaku ngelahirin putra mahkota, merasa dirinya ratu, padahal anaknya cuma upik abu." ucap Bang Ed seperti punya pengalaman spesifik tentang dunia permenantuan dan permertuaan.
"Udah sifat alami ibu-ibu kalo baik-baikin anaknya didepan umum." ucap Wawan yang kembali diangguki oleh mereka bertiga.
"Kalian berempat kenapa sih matanya lirak-lirik ke kanan kiri kayak orang mau main kuda lumping?" ucap Bunda Key dengan raut curiga dan prihatin.
"Nggak ada apa-apa bun, kami..."
"Kami lagi senam mata, soalnya kerja di depan komputer sepanjang hari bikin mata kami lelah." ucap Wawan menyambung Adam yang tak pandai berbohong apalagi setelah makan enak.
"Oh, kok unik ya?"
Bunyi ponsel tante Ermala memecah keheningan. Sebuah panggilan dari anak tercinta yang sedari tadi jadi bahan perbincangan mereka secara tak kasat mata.
Tante Ermala beranjak sebentar dari tempat duduknya lalu kembali dalam beberapa menit, "Rian pulang soalnya istri asistennya lagi kontraksi dirumah sakit mau melahirkan. Aduh saya jadi ketar-ketir seperti anak saya saja yang mau melahirkan."
Semua orang mengangguk memahami. Bunda menggeser air mineral pada sahabatnya itu untuk sekedar melegakan ketegangan. "Aduh, saya juga ikut merasakan panik ya jeung, semoga anaknya sehat sama ibunya. Jadi ingat melahirkan Calvin, adiknya Key yang harus operasi soalnya saya juga udah berumur dan jarak kelahiran mereka agak jauh."
"Oh iya? Saya malah cuma melahirkan sekali tapi pas masih muda banget jadi ikut merasakan ketegangan."
Mereka melanjutkan makan malam dengan pertemuan perjodohan yang gagal untuk kedua kalinya. Bunda dan Tante Ermala pergi pulang bersama, sementara itu Bang Ed mengangkut croco bertiga bersama Key menghampiri kantor karena Adam, Wawan, dan Dimo harus mengambil mobil mereka. Sedangkan Key harus berakhir nebeng bersama Bang Ed seperti sebelum-sebelumnya karena helmnya dibawa oleh Rofyan.
Bang Ed mengemudikan mobil pajero nyentriknya memasuki komplek elit yang sekarang jadi tempat tinggal adek dadakannya ini. Ia tak berhenti melongo dengan jejeran rumah dengan mobil mewah di masing-masing carport.
__ADS_1
"Ini perumahan apa pergedongan sih, Key. Gila gue baru sadar kalau orang kaya itu bisa segila itu bikin gubuk buat tidur aja kayak bikin istana." ucapnya terheran-heran. Dia juga sedikit penasaran dengan sosok HARTA, TAHTA, PAK AL yang mungkin punya hunian yang tak kalah mewah dengab unit-unit tetangganya.
Mereka berhenti di rumah bertingkat dengan semua lapisan lantainya terdiri dari kaca dan juga desain minimalis modern dan bertajuk eco green dengan tanaman besar di atas balkon yang tak kalah mewahnya.
Isi dari gerbang basement mengintip membuat Bang Ed terlonjak kaget dengan jajaran mobil-mobil mewah yang bahkan pajak pertahunnya bila ditotalkan sama dengan membeli satu unit apartemen mewah tanpa mencicil. Beberapa kereta besi itu sempat menunjukkan eksistensinya di parkiran kantor WJ tech seperti lamborghini, Ferrari, Jeep, sedan-sedan BMW, Range rover, dan juga Rolls Royce Phantom putih yang masih mengkilat belum keluar menghirup udara segar yang udah campur asap jalanan.
"Gila banget Aldrian. **!*, gue kalo jadi lo wajib kejang-kejang. Rumah apaan gedung begini." ucapnya sembari berdecih dan bergeleng-geleng.
"Dia memang punya satu lantai penuh di lantai paling atas buat wilayah pribadinya."jelas Key membuat Bang Ed lagi-lagi melongo.
"Belakang rumah udah danau buatan terus lapangan golf orang-orang kelas elit kan?"
Key lagi-lagi mengangguk. Sudah lama Edgar ingin suatu saat punya hunian di kalangan atas, sayang itu hanyalah sebuah mimpi karena Mbah Kakungnya alias kakeknya lebih memilih memiliki berhektar-hektar sawah di desa di salah satu Kota di Jawa tengah, ketimbang satu unit rumah di kalangan sosialita.
Kenapa sosok seflamboyan Aldrian yang punya banyak aset dan juga kekayaan malah mau menjadi General manager di perusahaan yang mungkin tidak sebesar perusahaan IT lain di dunia ini, cukup jadi yang terbesar di negara Asia. Aldrian lebih cocok menjadi Presdir atau memang Aldrian memang benar-benar seorang calon penerus dan anak Presdir WJ group sesuai dengan rumor yang berseberangan. Edgar, duda satu itu hanya bisa mengangguk membenarnya spekulasinya sendiri. Aldrian adalah anak dari seorang Trilyuner yang profilnya bolak-balik ada di majalah forbes, dan Key yang sudah seperti adik baginya itu hanyalah satu dari bagian masalalu seorang Aldrian yang bernasib malang, kerja dengan mantannya sendiri. Duh sungguh karma yang menyebalkan.
Ini Key pasti gila punya mantan sejenis Aldrian yang hobinya seperti anak sultan, koleksi mobilnya mewah, apalagi koleksi cewek cantiknya yang doyan wara-wiri di kantor dan keluar masuk ke ruangannya.
"Lo nggak gila ngerti mantan pacar lo anak orang kaya raya?" bang Ed benar-benar penasaran dengan Key yang bahkan malah memilih menaiki sekuter matic imutnya daripada semobil dengan atasan gantengnya yang bergonta-ganti mobil tiap hari.
"Gue awalnya sih iya, sekarang udah nggak kaget. Pak Aldrian tetep pak Aldrian, mantan gue ya tetep mantan gue dulu. Mereka beda, sejauh ini itu yang gue rasakan. Nggak ada satupun perubahan yang anjlok banget." ucap Key sebelum menepuk pundak bang Ed dan berterimakasih atas tumpangannya untuk pulang kerumah.
"You don't want him again ya Key?, entah dosa apa kalian bisa pisah." ucap bang Ed terdengar samar sebelum kepergiannya.
Langkahnya menuju lift terhenti dengan sosok Aldrian yang entah sejak kapan berdiri tepat di belakangnya.
"Jadi menurutmu, saya harus gimana key?"
.
.
.
Kini, sosok Aldrian berdiri membelakanginya di balkon paling atas lantai pribadi pria itu. Key menatapnya dalam keremangan. Sosok Aldrian begitu jakung dengan tubuh yang dilapisi pakaian tidur berwarna segelam malam ini dan rambut cepak yang tertiup angin yang menusuk.
"Menurutmu saya tidak berubah sama sekali?" tanya Aldrian.
Key hanya mengerucutkan bibirnya,"Kebiasaan nguping lo jadi tuman."
"Gue nggak lagi mau lo usik. Setelah kejadian gue tidur di kamar lo." ucap Key penuh penekanan dan sedikit menghunus rasa di relung Aldrian dengan perasaan sakit yang asing.
"Sorry aja kalo gue masuk sembarangan. Itu juga karena alkohol. Payah juga gue minum udah keok."
"Ini kedua kalinya gue minum barang haram itu. Gue nggak mau nambah dosa lagi." Key sedikit tersungut-sungut ingin meninggalkan tempat ini namun lengan Aldrian kembali menahannya.
"Biarin gue pergi."
"Nggak mau tuh, saya pengen kita disini sebentar saja."
"Iya, nanti lo mimisan sangking intensnya, kayak kemarin."
Sudut bibir Aldrian bergetar, "Kamu yang ciumin bibir saya pakai lipstik yang tidak transferproof."
Key sedikit terkejut, "S-saya kan lagi mabuk, pak. Lagian ponakan bapak bandel banget nyeludupin minuman keras ke botol Akua."
__ADS_1
"Saya pikir, kamu masih bekerja 24 jam dengan memanggil saya bapak meskipun saat sedang di rumah." ucap pria itu dengan suara dalamnya.
"Ini rumah bapak. Selain bapak nggak ada lagi pilihannya, gue lebih suka manggil lo itu. Jadi terima aja."
Key memercingkan matanya, masih melihat bangunan putih di seberang sana. Helipad rumah tetangga mereka yang kini lengkap dengan helikopter seperti capung diatas alang-alang. "Sama lo itu bahaya, soalnya lo itu buaya. Gue heran kenapa lo masih aja ngusik soal masa lalu bertanya-tanya seolah kita-"
"Kita memang belum selesai." timpa Aldrian yang kini menatap sepenuhnya kearah gadis itu.
"Bagian mana yang belum selesai? Kita itu udah end. Gue heran sama lo!" ucap Key menuding-nuding Aldrian dengan penuh keheranan.
Gadisnya. Ya, dia memang gadisnya. Keyhlani Diana yang berdiri disana masih sama, bedanya gadis itu kini menjauhinya. Membencinya, Key kini tak mau berada disekitarnya.
"Anda berbohong tentang banyak hal, pak Al. Kak Keava, pacarnya bang Andro. Anda, adiknya Keava. Anda seorang Wijayakusuma, anda pembohong."
"Keava sama saya itu saudara tiri." tandas Aldrian membuat Key kembali mendenguskan napasnya.
"Kak Keava pacarnya bang Andro. Abang aku sayang banget sama dia, mereka bahkan mau menikah, dan kita harusnya nggak boleh sama-sama." ucap Key yang kembali melirih sebab telah menceritakan segala kegundahan hatinya setelah sekian lama mereka tak lagi bersama.
Aldrian mendudukkan tubuhnya pada sofa yang memang sengaja diletakkan di luar ruangan. "Mereka udah bahagia disana."
"Dan kita nggak boleh bahagia disini." ucap Key dengan kelu.
Andro melamar gadis pujaannya, Algridea Keava Wijayakusuma tepat seminggu sebelum hari kematian sekaligus hari kelulusan Aldrian dari SMA Megantara. Selama ini, Aldrian hanya berpikir bahwa Andro adalah sosok kakak lelaki yang tak ingin mengalah terhadap percintaan adiknya. Dia tetap menjalin kasih dengan Keava, anak pertama dari Papanya dengan mendiang istri pertama. Aldrian yang merupakan anak kedua dari istri sekaligus ibu sambung tidak begitu dekat dengan Keava meskipun sejak kecil mereka saling menyayangi satu sama lain. Hari itu Andro mengatakan akan menikahi Keava sebab gadis itu tengah hamil 3 bulan dan itu adalah anak kandung Andro yang hadir karena jalinan cinta kasih orang dewasa antara Andro dan Keava yang tak bisa dipisahkan bahkan dengan hubungan Aldrian dan Key. Key belum tahu perkara itu, dan Aldrian seperti sedang menunggu dan berhitung mundur untuk waktu terakhirnya bersama Key sebelum mereka menjadi saudara dari kedua belah pihak.
Malam kelulusan Aldrian, Key masih tersenyum menatap wajah Aldrian yang kini lebih bersih sebab memutuskan menjalani perawatan dari dokter kulit. Diatas Rooftop sekolah yang harusnya sudah terkunci, mereka masuk lewat jalan tikus agar bisa memasuki sekolah. Bercerita sambil menatap senja dan masih bersama hingga pukul 19.15.
"Key, jika aku punya satu hal yang tak ingin kubagi padamu. Apakah kamu masih akan mempertanyakannya?" pertanyaan itu bernada asing ditelinga Key. Ucapan yang akan menjadi sembilah pisau yang akan menghunus hatinya dan menghapus segala rasanya pada Aldrian.
"Gue akan diam, meskipun penasaran. Tapi boleh dong lo jujur tentang itu. Meskipun menyebalkan. Hal yang dipendam diam-diam itu lebih sakit daripada berbohong tentang satu hal saat semuanya terungkap nanti."
Ken-nya terdiam. Key menatap lelakinya yang tadi pagi naik keatas podium sebagai lulusan terbaik yang menduduki nilai sempurna ujian se nasional.
"Kita akan masuk jurusan yang sama di kampus yang sama, jadi orang kaya yang punya banyak rumah dan perusahaan properti. Investasi dari masa muda, nikah umur 27-25, dan punya anak kembar yang lucu sekaligus pinter tapi jangan kayak bapaknya yang kayak satpam komplek. Punya saham dimana-mana dan kita bakal pensiun dini diumur 40 tahun." ungkap Aldrian membuat Key mengangguk tersenyum karena itulah mimpi mereka berdua.
"Kita mulai dari nol, kita berjuang sama-sama."
Terlalu rumit dan mungkin terlalu berkhayal sebab yang Key tahu dia bahkan bodoh di pelajaran matematika. Mereka hanya sepasang anak remaja yang suka berangan tanpa tahu semua takdir ada ditangan tuhan.
"Tetap bersamaku ya Key. Meskipun itu sulit, tetaplah bersamaku." ucap Aldrian menggenggam erat tangannya.
Hari esok tiba dengan keluarga Wijayakusuma yang bertamu dengan memperkenalkan Keava sebagai calon kakak iparnya. Key begitu terkejut dengan sosok Ken yang hadir sebagai adik dari calon kakak iparnya. Rupanya yang dia pacari, cintai, dan temani sepanjang kisah awal SMA yang begitu panjang dan mengesankan adalah generasi kedua sekaligus penerus dari Wijayakusuma Group, perusahaan terbesar yang bergerak pada pertambangan minyak dan gas bumi.
Ken kaya, kaya raya dari lahir. Ken yang ia kenal hanyalah sosok penipu yang berakting seperti anak seorang pembantu. Mengendarai montor bebek dan suka ngemil roti dan susu sembari membaca buku di ujung ruang perpustakaan. Ken yang punya segalanya, tapi berakting lemah dengan sekumpulan pembully yang merisaknya.
"Gue benci lo. Dan gue harap, kita nggak pernah ketemu lagi."
Hari-hari penuh penyesalan mulai menaungi seminggu Key yang kini berada di tingkat kedua SMA dengan sosok Keava yang begitu perhatian datang ke ruang guru sembari membawakan makan siang abangnya. Keava dan bang Andro benar-benar tak tahu bahwa Key tambah tersakiti dengan adanya hubungan mereka berdua yakni sebagai calon pasangan suami istri dan membuat hubungan ia dan Ken merenggang. Andro memahami sosok adiknya yang seperti kehilangan nyawa. Dimana letak senyumnya itu, tingkah tengil yang terciduk di ruang BK karena berulah, kini malah belajar bagai tak mengenal waktu sampai nilainya naik drastis seketika. Key tak lagi senakal dulu, malah Andro menatapnya sebagai perubahan baik untuk adiknya.
Malam kejadian itu terjadi merupakan malam keberangkatan Ken menuju negara tempat ia akan melanjutkan jenjang perkuliahannya di jurusan bisnis. Ken masih berharap bertemu dan menyapa Key yang beberapa hari ini tidak ingin menemuinya walau senantiasa ia setia menunggu di dalam mobil tepat didepan gerbang sekolah mereka saat jam sepulang sekolah. Key justru mentah-mentah tak ingin bertemu dengannya.
Ken masih menempati janjinya mewujudkan mimpi itu. Selangkah demi selangkah, mungkin ia akan mendapatkan Key kembali.
Mobil yang dikendarai Andro dan Keava terbalik dan meledak karena ditabrak oleh sebuah mobil pelarian yang dikejar polisi. Andro dan Keava meninggal ditempat dan kondisinya terbakar tak tersisa.
Jahat bila Ken melihat kejadian itu sebagai peluangnya kembali pada Key. Mungkin Key juga menatapnya sebagai sosok pria tak punya hati karena masih saja menginginkannya kembali tanpa peduli dengan kehilangannya dengan sosok kakak yang benar-benar dia banggakan.
__ADS_1
"Usia kita sudah 27-25 tahun. Saya tidak peduli dengan kamu yang tidak menepati janji bahwa akan bersama saya selamanya, dan malah memilih untuk melarikan diri ke arah lain." ucapan Aldrian entah kenapa mampu menohok dadanya seperti ditancap oleh besi yang begitu dingin.
"Saya akan tetap memaksamu untuk kembali sesuai apa yang kita rencanakan. *I keep asking you about this question. Key, w*ill you marry me?"