
Key bingung harus melakukan apa ketika ia sampai di restoran yang dimaksud oleh bunda. Terlihat Bunda dan seorang ibu-ibu yang sudah bisa ditebak adalah sahabat bundanya, tante Ermala melihat Key dari kejauhan. Mereka seperti sangat antusias menyambut kehadirannya. Sedangkan Key yang jauh dilubuk hatinya hanya bisa berdoa agar perjodohan ini batal tanpa mempermalukan nama bubdanya ataupun merusak persahabatan orang tua mereka.
"Nggak salah lagi, ini anaknya ya jeng. Key dulu yang suka dikepang rambutnya sekarang udah besar cantik lagi." puji bu Ermala dengan penuh rasa bahagia.
Key hanya tersenyum canggung seraya mendudukkan diri dikursi dekat ibunya, "lebih cantik dari fotonya ya?"
Bunda turut tersenyum, "Aduh, terima kasih jeng. Key memang agak canggung kalo ketemu orang baru."
Key hanya bisa tersenyum kikuk dan kemudian dia tertegun melihat sebuah birkin Himalaya bertabur diamond bergengger di kursi sebelah bu Ermala. Pantas saja bunda bersemangat kali ini.
"Keyhlani Diana, bu." Ucap Key menjabat tangan wanita sosialita itu.
"Ermala Sudibyo, no ibu, panggil tante aja."
Key lalu mengangguk memanggilnya dengan sebutan 'tante'
Wanita paruh baya yang masih awet muda itu kemudian tertawa renyah, "Tante punya akun instagram lho, udah follow kamu juga. Nanti kita saling follow ya?" ujar tante Ermala yang hanya Key tanggapi dengan kikuk dan mengangguk.
Ibu-ibu jaman sekarang benar-benar gerak cepat. Key bahkan tidak sempat melihat notifikasi di ponselnya. Key juga bukan seorang yang tidak kenal dengan wanita sosialita sahabat bundanya itu. Ermala Sudibyo adalah istri pengacara kondang yang kerap mengadakan arisan yang pernah bundanya ikuti. Key hanya tidak tahu kalau bu Ermala selama ini punya seorang anak laki-laki yang masih single, kuliah di luar negeri, dan mengikuti karir sang ayah sebagai pengacara di firma hukum mereka.
Key bergeming kikuk setelah melihat layar Ipad yang disodorkan bu Ermala berisi foto anaknya, "Ini anak tante satu-satunya, Naryan Hutama Harka Sudibyo. Ryan ini lagi kerja di law firm keluarga kami. Aduh, sayang ya Key kemarin tidak ikut. Tapi nggak apa-apa, Kalian nanti pasti ketemu kok, bisa kenalan sekaligus pendekatan."
"Aduh jeung, Nggak sabar ketemu Ryan lagi. Mana itu anak perjaka jeung Ermala itu benar-benar bisa memperlakukan orang lain dengan baik." puji bunda Key yang sekali lagi hanya bisa disenyumi oleh Key sendiri.
Key agak ragu dengan perjodohan kali ini, tapi melihat tante Ermala yang sudah mengenal ibunya sedari lama, mungkin akan sedikit lebih sulit bagi Key pula menolak segala inisiatif untuk mendekatkan dirinya dengan si Ryan-Ryan itu.
"Oh iya, Bunda janji sama tante Ermala buat mampir ke Floris punya bu Mega, salah satu sahabat bunda juga." Bunda Key menoleh kearah tante Ermala yang langsung mengangkat tas Hermes di kursi sebelahnya yang harganya layaknya sebuah mobil. Itu kalau dibeliin fortuner dapat dua. Apalah daya si Dimo pasti meringis melihatnya. Dia kan pejuang beli mobil masih nyicil.
"Tante call supir dulu ya..." Wanita itu berjalan lebih depan meninggalkan Key dan juga Bundanya.
"Key, bye.... Jangan bikin bunda malu. Kali ini pasti berhasil, kalau gagal berarti salah kamu. Ingat ya harus berhasil!" Tekan Bunda sambil membisik. Mereka berdua saling berpelukan dan meluncur pergi meninggalkan Key sendirian.
Suasana Blue Cafe sedikit lenggang, hanya beberapa meja yang terisi orang berada sedikit jauh dari tempat yang diduduki Key seorang diri. Kentara sekali dia seorang jomblo disini, mojok sementara pelanggan lainnya seolah kompak berpasangan sepertinya lunch bareng pasangan masing-masing. Segelas banana smoothies miliknya tersisa separuh, Key cukup lapar dalam menunggu si Ryan itu.
Tahu cabai garam didepannya sudah dia makan bagai camilan sedari tadi. Tapi rasa tahu itu seolah mendadak asin, liurnya nyaris menetes ketika Key saat melihat sosok Ken bergandeng tangan memasuki cafe dengan sosok gadis yang cantik setinggi telinganya.
Dengan rambut yang tergerai lembut tanpa pomade seperti biasanya. Kaos polo dengan celana denim yang cukup casual, rolex melingkar di pergelangan kirinya. Ken yang begitu sekarang, tidak masuk akal bila masih sendiri. Dia pasti setidaknya punya pasangan yang seperti gadis yang kini tanpa sungkan melingkari lengannya sambil bercanda manja.
__ADS_1
Gadis itu seperti benar-benar seperti sangat serasi dengan Ken yang tinggi 185 cm, mungkin dia gadis dengan spesifikasi miss Universe. Tingginya mereka itu membuat kehadiran Key seolah terintimidasi. Dia merasa begitu kecil di hadapan mereka.
Sial memang, berniat datang ke perjodohan malah nge-gap bos rasa mantan yang hari ini bolos kerja mau ngechill sama gebetannya. Bukan apa-apa, Key hanya merasa sedikit iri atau lebih tepatnya dia bisa dibilang cemburu. Pandangannya beralih pada dirinya sendiri. Dress pink feminim bagai artis Korea ini malah membuatnya seperti anak kecil yang datang ke pesta ulang tahun teman sekolahnya.
"She probably gives you butterflies." Gadis itu mungkin telah memberinya lebih banyak kebahagiaan dari Key yang dulu. Ken bisa tertawa dan mereka cukup terlihat 'setara'.
Untung saja mereka berdua tidak menyadari kehadiran Key yang memang benar-benar dipojokan.
Puk
"Astaga, Pian...lo ngagetin gue lagi elahhh. Berasa kena prank hari ini." Tiba-tiba saja Key dibuat kaget lagi dengan kemunculan sosok Rofyan. Rofyan Andaru pasukan Betta yang suka ikutan nongkrong bareng Team Alpha. Pria itu menyampirkan jaketnya ke kepala Key saat gadis itu mengelus dada dan menetralkan detak jantung.
"Monyet, lo ngagetin."
"Gue dalam misi menyelamatkan elo disaat mereka team yang nggak guna." Kepala Rofyan menoleh kearah tembok janda bolong dimana tempat abang-abangan Key berkumpul.
"Gue jadi terharu, seniat itu mereka melindungi diri ini dari calon jodoh yg mengerikan."
Rofyan cengegesan dan membenarkan jaket yang menutupi kepala Key dengan lembut, "Pake, gue udah ngerti gelagat lo mau dijodohin lagi. Tuh, Bang Eduda, Awawan, Dimosaurus, sama gentong Adam ngumpet di balik tembok janda bolong karena nggak mau papasan sama bunda lo tadi."
Key menengok kearah yang di maksud, dibalik tembok kaca dengan tanaman yang menjulur tak beraturan, mereka para abang-abangan mesum sangat peduli terhadapnya. Gimana Key tidak semakin cinta coba?
"Thanks juga, Pian. Meskipun gue belum ketemu sama orang yang mau dijodohin sama gue, gue udah mau pergi aja." Iya bukan karena si anak bu Ermala lagi, melainkan ogah papasan sama mantan pacar yang sedang bolos kerja dengan pacar barunya yang lebih sempurna itu. Key akui bahwa dia cemburu karenanya, tidak akan bohong dan menampik sebab Key itu jujur pada diri sendiri.
Sepintas Key berjalan keluar bersama Rofyan bergandengan tangan seolah baru pulang kencan. Hal itu pula yang lewat dalam pandangan mata sang Aldrian yang sedang berdiri di depan bar. Aldrian sempat berkontak mata dengannya sepersekian detik dan Key cukup terperanjat.
Disela-sela penyelamatan dan pelarian ini Rofyan bertanya, "Eh itu bukannya pak GM?"
"Ah masa? Bukan tuh itu temen SMA gue, elu salah orang." Key mengeles dan untungnya Rofyan ini agak rabun dan agak bodoh, dia manggut-manggut saja. Kocak, pikir Key.
Hari ini berakhir dengan Key yang harus rela memelihara perut abang-abangan berlima termasuk si Rofyan karena mereka semua belum sempat makan siang. Bahkan di kafe kekinian yang promo karena baru buka tadi, mereka tak sempat memikirkan makanan melainkan keselamatan Key.
Nasi Padang Sambal Lado memang cocok untuk kasta sudra seperti mereka yang rasanya enak, porsi pas mengenyangkan, dan harga tidak bikin bangkrut.
Usai makan dan kenyang mereka berjalan kembali ke gedung bersama. Lift berdenting menandakan mereka berenam termasuk Key sudah sampai pada lantai dimana divisi IT berada saat pak Manaf dengan tergopoh-gopoh berjalan mendatangi mereka dan melihat seolah horror kearah Key yang terlihat lebih pretty sweet hari ini. Benar-benar anak perawannya pak Manaf.
"Key, kamu dipanggil pak GM sekarang."
__ADS_1
DEG
Semuanya termasuk Rofyan yang hendak pergi ke teamnya menoleh kearah Key serempak seolah dia pelaku yang melakukan kesalahan besar.
Ada apa ini? Key berjalan setelah memberikan jaket milik Rofyan kembali pada pemiliknya. Bergegas kearah ruangan Ken dan membunyikan bel kecil sebelum masuk.
Pintu terbuka lebar dan pak Aldrian terlihat duduk si sofa dengan sosok gadis tadi dalam satu ruangan tengah berduaan dan saling berdekatan. Masih menggunakan setelan tadi di kafe minus rambutnya yang udah disisir bak aktor Korea.
"Bapak manggil saya?" tanya Key seolah tidak melihat apapun. Aldrian mungkin bermaksud membuatnya melihat apa yang tidak ingin Key lihat secara langsung. Key agak jengkel tentang Aldrian yang mengenal tingkah lakunya dengan baik kalau gadis itu memang ingin menghindarinya.
"Cal, pulang sekarang. Saya mau kerja." kata Aldrian pada gadis itu tanpa mengindahkan pertanyaan dari Key.
"Oke, Callista bakal pergi tapi jangan lupa besok temenin ke salon ya, Al. Bye-bye Al ganteng." ucap gadis itu sambil melambaikan tangan bak miss universe in another planet.
Key menghilangkan ekspresi menyebalkannya dan menoleh pada pak Aldrian yang sedang menatap tubuhnya penuh selidik sebelum mempersilahkan Key duduk di sofa.
"Kamu tidak membaca pesan dari Anita, asisten HRD pak Marko?" tanyanya tajam.
Gadis itu menggeleng, "Maaf pak, tidak sempat. Tadi saya lupa bawa hp pas makan siang."
"Oke, tidak masalah. Saya akan sampaikan langsung bahwa kamu mulai besok akan beralih menjadi Sekretaris." jelas Aldrian singkat.
"Berarti saya menggantikan mbak Angel ya pak? Duh saya mah siap sama pak Manaf udah kayak bapak sendiri." ujar Key bersuka cita.
"Tidak. Kamu jadi sekretaris saya, menggantikan Farham."
"APA?!"
Key tersentak, "Bukannya Farham sudah merangkap personal asisten sekaligus sekretaris bapak? Bapak nggak butuh saya banget dong."
Key ingin pingsan konyol, bertemu Aldrian tiap hari saja Key tidak enggan. Apalagi jika dia bekerja sebagai bawahan langsung pada sang mantan. Biar saja kentara sekali Key membenci bertemu Aldrian Keanuval lagi. Key mungkin akan disuruh duduk di pojok ruangannya sambil melihat Aldrian bermesraan bersama Callista sok imut itu lagi.
"Farham mau jadi PA saja. Dia nggak bisa kerja rangkap Sekretaris yang harus rekap data terlalu banyak kemana-mana. Saya sudah mengajukannya ke HRD dan pak Marko sendiri memenuhinya untuk menunjuk kamu." jelas Aldrian yang sekali lagi berhasil membuat Key tidak bahagia.
Key hampir menangis rasanya saat keluar dari ruangan Aldrian yang kejam itu. Dia bagai penyihir yang ingin memisahkan Key dengan team Croco yang sedang terang-terangan berkumpul sambil melihat dari dinding kaca tempatnya bekerja.
"Semangat Key!" Gestur bibir bang Ed berkata sambil menggenggam tangan keatas meski tak bisa terdengar.
__ADS_1
Disatu sisi Aldrian tersenyum serta menatap kearah ruangan divisi team Alpha dari lapisan kaca. Key langsung dikelilingi oleh para rekannya yang langsung menghiburnya.
Sudah saatnya dia memisahkan seorang kancil yang bersahabat dengan para buaya.