
Aku duduk manis dibalik meja yang berhadapan langsung dengan pintu ruangan Aldrian. Sedikit belum terbiasa karena ruanganku sekarang begitu terbuka tanpa sekat ataupun ruang.
Semua rekan divisi IT baik Teamku maupun team yang lain sangat dibuat heran keberadaanku yang kini menjadi seorang sekretaris. Termasuk Rofyan yang datang melipir bersama dua cup ice rum regal khas kopi soe di tangannya dan memberikannya Heran sama orang satu itu, minum es kopi di pukul sembilan pagi ngajak kembung dia. Aku lebih banyak lapar dibandingkan haus, bahkan saat di Moonbuck untuk membelikan kopi untuk si Aldrian, aku lebih memilih membeli cookies dengan chocochips yang empuk dan manis yang baru keluar, fresh from the oven.
"Lo dipanggil kemarin, gara-gara mau dipindahin tugas?" tanya Rofyan kepo sambil menyeruput es kopi miliknya. "Sia-sia banget bakat lo, key."
Aku hanya bisa mengangguk dan memaksakan bibirku untuk tersenyum. Berujar terimakasih sekilas kepada Rofyan, meminum sedikit es kopi milikku untuk melancarkan kerongkongan yang tersendat gara-gara mengunyah cookies. Rofyan ini bareng sama aku ketika masuk ke perusahaan ini. Kami sama-sama ada di team yang sama saat masa percobaan, tapi ya gitu aku lebih dipilih untuk masuk team Alpha ketimbang Rofyan yang kini masuk team Betta.
"Pak bos ada di dalam, mbak Key? gue mau nyampaikan salinan kontrak proyek Game." tanya Alfan, junior Rofyan yang ikut melipir didepan meja kubikelku.
"Hooh." jawabku singkat tapi baru kusadari hal yang terlewat diujung kalimat si Alfan, "Lhoh, proyek game Emperior Legend jadi di accept sama pak GM? Kok gue nggak tau?"
Sialan, itu proyek incaranku bahkan sejak GMnya bukan Aldrian, melainkan dibawah pimpunan GM lama. Gila banget, team Alpha disibukkan buat benerin benteng data base perusahaan, tapi malah nggak dibilangin kalau ada barang bagus masuk. Untuk pertama kali ini, aku sedikit kecewa sama pak Manaf. Pantes saja dia agak jarang masuk ruangan khusus team kami.
Aku pengen banget bisa ikut merancang game Emperior Legend yang merupakan sequel dari Warrior Legend dan Mobile Legend. Game itu merupakan trilogy yang menjadikan Calvin, adikku kaya raya di usia muda tanpa capek usaha.
Harus kuakui Kevandra Calviano Argata Wardana, adikku itu udah jadi gamer legend bahkan dari series pertama.
Dia atlet E-sport dari agensi YGC, Young Got Champion di Singapura dan bahkan anggotanya yang terpilih hampir berasal dari semua negara Asia yang sangat diselektif. Bangga juga aku menceritakan adikku, maklum karena hanya itu kelebihannya selain wajahnya yang cukup rupawan, yang jelas aku ingin proyek itu karena aku ingin bisa menunjukkan kepada adikku.
By the way, infonya game ini akan mengusung tempat-tempat di Indonesia sebagai arena pertempuran. Selain itu juga dirumorkan akan ada cerita latarbelakang semua avatar, jadi lebih kompleks dan lebih menegangkan. Bahkan dengan beberapa penambahan avatar menarik yang bertemakan Kerajaan di Asia khususnya Indonesia, aku sangat menantikannya. Tapi nasib, ya Tuhan aku hanya bisa gigit jari.
Rofyan mendengus, "Dih, ini nih enaknya team lain dibawah team inti Alpha. Proyeknya banyak dan gonta-ganti jadi seru."
"Lo nggak bilang dari kemaren pian!!"
"Eh gue kemaren mau cerita ya, cuma kan keburu nyelametin lo dari perjodohan sialan jadi lupa, kampret!"
"Lo juga tau kalau gue ngincer itu project dari bentukan rumor sampek kenyataan, pian. Ah nggak setia elo sama temen sendiri."
"Dih inih apaan sikap lo, gue setia ya... Kalo nggak udah gue biarin lo dijodohin sama aki-aki."ungkap Rofyan bersamaan dengan terbukanya pintu ruangan GM dengan Pak Aldrian terhormat yang muncul disana lengkap dengan rambut fucek nya.
"Key, kalau ada orang cari saya, cepat biarin masuk. Jangan distop di sini cuma buat dengerin kamu ribut." ucap Aldrian agak sinis.
Buru-buru aku menghentikan niatku untuk mengomel pada Rofyan ketika Alfan masuk dengan wajah tersenyum sungkan-sungkan. Heran, pagi-pagi begini dia sewot. Apa salah dan dosaku coba? Sensitif banget si pak GM kayak cewek hari pertama datang bulan saja. Enggak ngerti aku bahkan sejak tadi pagi aku melaporkan susunan schedule miliknya yang sudah kulembur, responnya cuma oh sambil nganggukin kepala aja. Bikin bete.
Pintu itu tertutup lagi. Aman, Macan murka udah masuk dalam kandangnya. Belum ada tanda-tanda Farham datang untuk mengisi meja asisten sebelahku yang kosong, wajar saja aku ingin meramaikan diri dengan Rofyan. Toh yang kami ributkan juga masalah kerjaan. Hell o, karyawan nggak tau apa-apa kan bisa dimarahin juga. Maklum, hari pertama jadi kacung mantan, butuh penyesuaian.
"Heran sama pak Al, gini banget bos lo sekarang, Key." decak Rofyan menggeleng-geleng.
"Balik lo! Dipecat pak Manaf tau rasa, jangan apelin gue disini... Gue bukan Riana ya, nggak mempan lo goda sama rum regal." ucapku tersenyum dan pura-pura marah menyinggung sikap Aldrian barusan. "Tapi kalo rum beneran ya hayukk, Indonesia nggak ada soju soalnya. Soju halal yang katanya di media sosial itu belum keluar dipasaran."
"Anjayanto lo! Masih mimpi jadi Sekretaris Kim ya lo, Yaudah gue balik." pamit Rofyan melangkah berbalik seperti barisan paskibraka.
Aku hanya tertawa meratapi tubuh Rofyan yang semakin jauh semakin mengecil di penglihatanku. Sekretaris Kim... Apa mimpiku pindah haluan aja jadi Jennie Kim?
Blackpink
Pretty Savage, kayak bapak GM mantan.
.
.
.
Denting jam makan siang kulewatkan, lapar rasanya hanya bisa kuganjal dengan secuil cookies sisa yang aku beli tadi pagi. Mana stok SuriRoti milikku habis karena kubagi sebagai hadiah terakhir untuk croco team Alpha. Entahlah, belum juga aku melihat batang hidung mereka berempat sejak pagi.
Tring~
Baru saja aku rindu pada mereka. Bang Ed mengirim pesan pada ruang chat grup team kami untuk mengajak kami makan siang bersama di warung soto rumahan gang dekat gedung perusahaan.
Tok tok tok
Pintu Mantan aku ketuk perlahan. Pintu kaca ya? Bukan pintu hatinya, siraman rohani mamah Dedeh kali ya.
"Hm." Dua konsonan mati bersahut dari dalam dengan singkat, kalau kepanjangan nanti mirip Nissa Sabyan. Dia berdeham barusan? Kok lebih mirip orang ngetes tenggorokan seret karena batuk... Berat banget suaranya kayak ngangkut semen sekarung.
Dia melepas jasnya dan menggantungnya disudut ruangan, hanya tertangkap sebuah kemeja warna abu muda dengan setali dasi hitam yang mengikat lehernya. Seteguk liur kutelan, terlalu pahit memang takdir. Kampret ya kalau dulu waktu pacaran dia punya tampang yang seperti sekarang, mungkin dia ogah pacaran denganku. Dia nggak bakal dibully, karena aku yakin dengan tubuh kekarnya dia udah ditakuti, bahkan mungkin ikut jadi tukang bully seperti ekspresinya saat ini. Satu kata, Jutek.
"Bapak nggak ada niat buat keluar?"
__ADS_1
"Saya baru masuk jadi GM kantor ini dua minggu lalu, Key. Kamu benci banget ya sama saya sampe mau saya keluar resign." jawabnya tersulut marah dengan aneh.
"Bukan pak, maksudnya makan siang. Bapak mau makan apa?" tanyaku lagi.
Kali ini dia meninggalkan dokumen yang dia tekuri lalu melihatku, tatapan sayu khas orang lelah dan bad mood siang hari terpancar dari matanya. Ini fiks, Aldrian kurang asupan makan, makanya dari tadi auranya kayak pengen makan orang. Dia menatapku, buru-buru kubuang pandangan ke jendela kaca besar yang menampakkan gedung-gedung tinggi dan langit siang hari penuh polusi yang panasnya setengah mati.
"Saya sudah makan sandwich tadi." jawabnya singkat.
Sial, buat apa coba aku menunggu sedari tadi dengan perut merintih sedangkan dia udah makan tapi aura marah melulu.
"Ya udah pak, saya makan siang. Udah ditunggu temen-temen Alpha di TSA bawah. Assalamualaikum." ucapku dengan kesal dan berbalik tanpa melihat responnya.
Buru-buru aku keluar ruangannya sebelum lambung kian menjerit. Belum juga aku meninggalkan ambang pintu ruangan GM, si empunya ruangan angkat suara, "Eum Key, lain kali kalau kamu makan siang langsung makan aja, nggak usah nungguin saya. Saya nggak pernah keluar makan soalnya."
" SIAPA JUGA YANG NUNGGU! kampret!"
"Saya cuma ngasih tau, Key. Yang sopan sama atasan."
"Saya nggak nunggu bapak kampret." ucapku perlahan malah dibuahi pelototan olehnya. "Lagian, saya nggak pengen tau tuh."
Aku dengar dia berdecik, lalu aku mencebik pergi keluar dari ruangannya tanpa berbalik untuk sekedar melihatnya.
.
.
.
"Kutang Riana kali ini Ijo." perkataan absurd bin mesum bang Ed pertama kali yang kudengar saat tiba di meja pojok TSA, atau The Soto Ayam yang terletak di dalam gang kecil dekat gedung perusahaan berada.
"Sedep ijo-ijo kayak melon, tarik sis!"
"Semongko!" seru semua dengan mesum.
Yang mereka maksud bukannya semboyan Semongko 'semangat sampek bongko' tapi ini mah merujuk pada tonjolan diatas perut.
"si Adam ternyata bener, gila aja dia ngipi apa semalem ha? Ketiban melon? Wkwkwkw." kata Wawan terkikik geli, sementara Adam sibuk dengan mangkuk soto ketiganya dan teh botol Sosro keempatnya.
Pletak
"Sejak kapan gue ikut Taruhan mesum, monyet! Duit haram gue nggak makan ya!" seruku setelah melayangkan jitakan super duper pada kepala Dimo.
"Lagian ya, dari mana lo tau kutangnya ijo? Riana buka kemeja, lo pelototin?"
Semua Croco menoleh padaku, jiwa-jiwa merindu terpancar dari empat kucing persia ini. Kangen lah sama aku, gila aja kalau mereka bahagia aku pindah. Aku paham aku seberharga itu.
"Key sedih gue nggak ada yang gue suruh bikin kopi, kopi bikinan lo enak."ucap Dimo yang bukannya marah setelah kujitak dengan indah.
"Gue kangen ngabisin stok suriroti lo, gila gara-gara lo gue suka selai sarikaya, apalagi roti tawar pake nutella." timpal Adam masih juga menyendokkan kuah soto ke mulutnya.
Aku tertawa.
Kangen rasanya makan siang bersama para croco mesumku ini. Biasanya kami gonta-ganti menu makan siang dan juga tempatnya sesuai mood atau malah kami benar-benar seperti anak kecil yang main hompimpah hanya untuk menentukan kami mau makan dimana. Mulai dari nasi kuning jalanan, The Soto Ayam, Kaepci, Mekdi, Pizza Hunt Delivery, Go-Food, Foodcurt kantor yang makannya tinggal gesek dapet kupon tapi totalan waktu gajian, dan masih banyak lagi. Tapi yang jelas, kemanapun tepatnya tetap RMP Sambalado tempat ternyuaman seantero Jakarta.
Wawan menyebik, "Lo nggak ada si Rofyan kelimpungan nyariin elo. Nanyain gue dari subuh sampe mau berangkat ke kantor."
"Apa iya dia suka sama Key?" tanya Adam.
Aku menerawang ke belakang, aneh si pian kalau tiba-tiba suka sama aku. Mereka kuanggap teman, lebih tepatnya mereka seperti menjadi bagian dari bang Andro yang hilang. Setelah kakak laki-lakiku meninggal sungguh aku kehilangan sosok pemimpin dan pelindung setelah ayah. Bang Andro juga kakak tingkat bang Ed saat kuliah meski beda jurusan, mereka kawan main meskipun bang Ed lebih muda dua tahun dibawahnya. Karena sering mampir ke rumah, bang Ed mirip seperti pelipur rindu dan kunci nostalgiaku. Balik ke Rofyan, dia hanya rekan kerja yang supel dan perhatian. Perhatiannya umum kok, nggak over dan mencurigakan. Tapi yang jelas selama ini dia biasa-biasa saja tuh. Jadi...
"Mana mungkin pian naksir gue sih abang-abang kuh?" tanyaku sambil mengerucutkan bibir minta dicium. Wawan menunjukkan gestur muntah, Dimo memalingkan wajahnya, Adam salah menyendokkan sambal ke mukutnya, dan bang Ed tertawa terbahak-bahak.
"Gila, makin menjadi-jadi ini kutu kupret!" umpat Dimo.
"Jadi gimana?" aku mengibaskan rambut seperti iklan shampoo.
"Btw, sejak kapan lo make lipstick merah cabe? Apa jontor itu mulut diisep Aldrian?" tanya Wawan dengan gamblang.
"Lambemu, mau tak tapuk ya?" aku mengangkat tangan sebatas dada sambil menengok karyawan perusahaan kami yang barangkali kebetulan makan disini. "Jadi gosip lo nanti."
"Cih, High heel tinggi banget, udah sadar pendek ya key?, biasanya begitu tiba kantor ganti Swallow biru." berondong Adam yang habis menandaskan tiga mangkok soto, lima teh botol, dan satu botol Aqua tanggung.
__ADS_1
"Wah si Adam Body Shaming." timpal Bang Ed.
Adam menyengir, "Biasanya Key juga gitu kejem-kejem sayang sama gue. Baru dikasih roti, sejam kemudian dikatain gemuk. Key mah gitu."
Aku jadi tertawa mengingat tingkah usilku kalau roti besok mau kadaluarsa, mulut si Adam bakal kusumpal sama roti sambil bilang 'ADAMMM TELAN YA NAK, MUBAZIR BESOK DARIPADA MAMAH BUANG. TELAN YA NAK, ENAK KOK SELAI NANAS, STROBERI, COKELAT, NAH INI ADA KEJU. AIR MINERALNYA MANA WAWAN? KASIHAN ADEK GENDUT KAMU NGGAK BISA NELAN, DARIPADA MUNTAH KAN MUBAZIR.'
Aku setoxic itu.
"Tuntutan kerjaan, bambang. Sekretaris kudu sexy dan eksis. Gila ya kalo gue bilang gitu mirip Riana." ucapku memperagakan gaya kemayu-kemayu ularr Riana saat digoda sambil tersenyum sok manisnya. Padahal aku dandan ya karena si bunda mengomel, akhir kata aku didandani mirip ondel-ondel.
"Kembali ke pertanyaan gue tadi, darimana lo ngerti beha Riana ijo? Heran gue."
"Dari talinya." jawab singkat Dimo.
"Tuh kan Riana suka make kemeja V neck, Sabrina, Anya, Maemunah."
Aku menggelengkan kepala kayak disko.
"Ini mah teori Kutanglogi, nih kalau kalian semua harus ngerti masalah ini, Cewek tuh kayak beha, talinya ijo bukan berarti behanya ijo. Lagian gue juga punya warna merah talinya item."
"Anje gile lo umbar disini juga Key!?" Bang Ed melotot kearahku.
"Kelihatannya baik, bukan berarti orangnya baik." lanjutku kemudian menyeruput es teh.
Dimo nyengir menyenggol bahu Wawan, "Kita mah dari dulu taunya sewarna kali, Key."
"Soak kali nggak usah nyari temen sama gue, lo aja perbawa orok ***** sama tante Samia." Wawan membuat kami tertawa lepas.
"Nggak nyangka dari orok Dimo suka susu rasa melon."
"Lo aja kalau Riana pake beha strapless, nyengir. Kita tuh juga ada liburnya, Key. Lo kira kita mesum sehari-hari kayak minum yakult." Adam nyaut sambil menandaskan sosro yang entah keberapa.
"Asal kalian tau, seberapapun sering kalian begini, sebanyak apapun warna beha Riana, yang suka melihatnya apalagi buat bahan taruhan itu tetap buaya."
Jleb
Mereka terdiam mati kutu bersamaan dengan aku mengorder mangkuk ke dua, karena satu aja nggak cukup gaes.
Note Author :
Datang setelah lama menghilang, Aku nyempilin note yah disini (jarang muncul biar nggak ganggu baca)
Mulai next part alias part 9 bakal kutambahin foto cast yang udah kupilih.
Aku sebenarnya udah bikin part banyak tapi masih pengembangan outline ceritanya sama revisi akhir biar kalian baca juga nyaman. Mohon sabar menanti ya teman-teman?
Buat QnA bisa kamu ungkapkan lewat Komen, insyaallah aku akan like dan balas di part menuju ending, jadi ku kumpulin pertanyaan dari kalian. Follow juga kalo mau, aku ngga maksa kok.
Aku juga punya story didunia oren aplikasi sebelah. Account : Daisy_bee01.
See you soon di note author selanjutnya...
Check part 9 dan 10 aku triple update. BOMB! Part 9 dan 10 up sorean muehehehe karena mau jadi pagar ayu dulu.
Salam Lulusan Corona!
2332 word tembus loh
Ojo lali yo?
Follow ๐ค
Rate ๐
Like ๐
Favorite โค๏ธ
Comment๐
Tip (for author spirit!) ๐ฐ
__ADS_1