
"Inara, sini deh, mama sama papa mau bicara sebentar"
"Kenapa ma, pa?" Tanya Inara saat ia sudah duduk di hadapan mama dan papa nya.
"Kuliah Kamu gimana sayang, lancar?" Tanya papa.
"Alhamdulillah, lancar pa"
"Syukurlah kalo begitu, btw kapan kamu mau belajar bisnis, nanti kan perusahaan papa kamu yang ambil alih"
"Aku ngga berminat buat belajar atau ambil alih perusahaan papa, insya allah kalo lulus nanti aku mau buka usaha sendiri"
"Lho kok gitu sih, papa berharap kamu mau padahal" ucap papa sedikit kecewa.
"Kan ada abang pa, lagian aku ngga cocok kerja di perusahaan besar, aku ngerasa itu bukan fashion aku. lagian juga aku ngga pede mimpin orang banyak"
"Eh ngga boleh pesimis gitu sayang, belajar dari sekarang biar kamu sedikit demi sedikit paham" bujuk mama.
"Lagi pula kakak kamu itu sudah terlalu sibuk mengurus cabang di luar kota, ini aja udah hampir 3 bulan ngga pulang-pulang, kasian tau dia"
Papa sengaja memasang wajah memelas, agar Inara bersedia mengikuti permintaan nya. Ini saja sudah tawaran ke 3 kali tapi Inara masih saja menolak.
"Ya ampun pa, kenapa harus aku sih" ucap Inara sambil memanyunkan bibirnya.
"Kalo bukan kamu siapa lagi, kan anak papa cuma 2, kamu sama satria"
__ADS_1
"Aku pikir-pikir lagi deh, sekarang aku mau istirahat dulu ah cape"
"Ya udah sana, mandi terus makan sayang baru tidur"
"Siap mama ku sayang"
***
Setelah selesai kuliah, Inara mampir ke sebuah Cafe yang sedang viral. Disana banyak anak-anak remaja yang sedang menikmati kopi dan camilan sambil mengobrol dengan teman-temannya.
Inara duduk di kursi pojok dekat dengan jendela, kemudian ia membuka laptop dan buku nya untuk mengerjakan tugas yang akan di kumpulkan besok sore.
Brukkkk...
"Ya ampun laptop aku" teriak Inara terkejut saat seseorang tidak sengaja menumpahkan minuman di atas laptop nya. Inara pun segera mengambil tisu dan membersihkan nya.
"Ngga apa-apa dek, lagian laptop nya masih aman kok" jawab Inara santai.
"Kak..." panggil anak perempuan tersebut.
"Iya dek kenapa? Kakak ngga marah kok, serius deh" Inara menjadi bingung saat melihat raut wajah sedih nya.
"Bu..bukan itu kak, aku mau minta tolong sama kakak" dengan nada bergetar ia memberanikan diri.
"Kamu kenapa dek?, sini duduk dulu"
__ADS_1
"Boleh minta anterin aku pulang kak, aku takut sama mereka" tunjuknya ke salah satu sudut yang terdapat segerombolan anak-anak perempuan yang berseragam sama dengannya.
"Kamu di bully sama mereka?" Tanya Inara penasaran.
"Iya kak, setiap hari mereka merampas uang jajan aku"
"Ya ampun kok masih ada aja anak-anak nakal kayak mereka, btw rumah kamu dimana?"
"Di perum tatya asri kak, jl. Kenanga no.23"
"Serius rumah kamu disitu? Rumah kakak juga di situ cuma beda blok aja"
"Ya udah kalo gitu ayo kakak anterin pulang" Inara dan anak perempuan tersebut pun berjalan beriringan keluar Cafe. Segerombolan anak-anak perempuan itu pun tidak berani menghampiri nya karena ada Inara disana.
Sekitar satu jam perjalanan akhirnya mereka sampai tepat di depan rumah anak perempuan tersebut.
"Kak, terimakasih ya, kalo ngga ada kakak aku ngga tau harus gimana buat menghindari mereka"
"Sama-sama dek, sebaiknya kamu ceritain sama orangtua kamu bila perlu kamu pindah sekolah aja, ngga bagus juga buat mental kamu"
Inara sangat menyayangkan sekali, anak-anak zaman sekarang berperilaku seperti itu. Seharusnya mereka lebih fokus belajar untuk masa depan yang cerah.
"Iya kak, aku juga udah ngga sanggup kalo harus berurusan lagi sama mereka"
"Kakak langsung pulang ya, dah..."
__ADS_1
"Dah kak, hati-hati"