
Semalam setelah pulang dari rumah kekasih nya, Inara langsung menghampiri kakak nya Satria di kamar, dan kebetulan saat Inara pulang, mama dan papa nya masih di tempat acara.
Ia menceritakan semuanya, termasuk niat Kalangga untuk menemui mama dan papa. Satria yang sudah sangat mengenal Kalangga pun hanya mengangguk saja menanggapi cerita Inara.
Sekitar pukul 5 sore, setelah selesai kuliah Inara di jemput Kalangga, tak lupa ia mampir membeli buah tangan. Hari ini Kalangga sengaja pulang lebih awal dari kantor, karena ia memang berniat untuk datang ke rumah Inara.
sesampainya di depan rumah, setelah mobil Kalangga terparkir dengan sempurna.
"Mas, apa ngga usah jadi aja ya, aku kok tiba-tiba jadi ragu lagi ya" Debar jantung Inara lebih cepat dari biasanya, ini rasanya lebih menakutkan di banding saat ujian kemarin.
"Kamu percaya sama mas kan?" Inara mengangguk ragu.
"Cukup kamu berada di samping mas aja udah cukup, kamu semangat nya mas, segalanya buat mas" ucap Kalangga tanpa rasa ragu.
Inara masuk disusul Kalangga di belakangnya, kebetulan mama dan papa sedang duduk sambil menonton netflix, disana juga ada Satria. Inara merasa kenapa ada Satria juga disana, biasanya Satria masih di kantor di jam-jam segini.
"Eh, anak cantik mama udah pulang" ucap mama berbinar saat melihat putri kesayangan nya sudah pulang.
"hai ma, pa, abang" sapa Inara gugup, kemudian Inara mengecup mama dan papa bergantian kecuali Satria.
"Kamu udah makan sayang? mau mama siapin sekarang?" Inara menggeleng pelan.
__ADS_1
"Ma, pa, aku mau kenalin seseorang" ucap Inara ragu.
Mama spontan berdiri lalu menoleh ke arah ruang tamu, seketika mama menatap Inara penuh tanya. Tubuh Inara tiba-tiba lemas, ia tak sanggup lagi bicara jika sudah di tatap seperti itu oleh mama nya.
"Siapa sih dek?" Tanya Satria mencairkan suasana, bohong sekali jika Satria tidak tau.
"Mas sini..." panggil Inara pelan, Kalangga masih berdiri di dekat pintu menunggu.
Kalangga di persilahkan duduk setelah berjabat tangan bergantian, Inara ditarik mama untuk duduk di dekatnya. Tatapan papa begitu menelisik, untung saja pembawaan Kalangga yang tenang membuat Inara tidak begitu panik.
"Selamat sore om, tante, sebelumnya saya ingin memperkenalkan diri. Nama saya Kalangga, niat saya datang kesini untuk berkenalan dengan om dan tante, karena saya dan Inara sedang menjalin sebuah hubungan, jadi saya ingin mengenal keluarga nya juga" ucap Kalangga santai tapi berwibawa.
"Hanya usaha kecil-kecilan di bidang konstruksi om"
"Usia kamu berapa? sepertinya kamu terlihat lebih dewasa dari putri saya" Tanya mama mengintimidasi.
"Usia saya 45 tahun, saya duda dan putri saya berusia 16 tahun"
Raut wajah mama berubah seketika, raut wajah merendahkan Kalangga tentunya. Papa menghela nafas kasar, lalu bersandar di kepala sofa sambil melipat kedua tangan nya.
"Gila ya kamu Inara, emang ngga ada laki-laki lain di dunia ini yang berstatus lajang yang seusia dengan kamu" mama mengumpat Inara habis-habisan.
__ADS_1
"Ma..." Lirih Inara, sebab ia malu kepada Kalangga yang sangat di rendahkan oleh mama.
"Maaf om, tante, jika status saya memberatkan om dan tante, tapi saya benar-benar mencintai Inara, saya tulus, dan saya serius" ucap Kalangga tanpa bergetar sedikit pun.
"Nggak! saya ngga akan pernah restuin kalian berdua, kamu pikir saya akan dengan semudah itu mengizinkan" teriak Mama.
"Ma, pa, Kalangga sudah datang baik-baik, jadi apa salahnya kalian juga menunjukan sikap yang baik juga, jangan pake emosi" Satria yang geram pun angkat bicara.
"Diem bang, ngga usah nasehatin mama, Inara anak perempuan satu-satunya dikeluarga ini, apa kata orang jika ia menikah dengan seorang duda"
"Apa salahnya dengan status duda ma, mama jangan egois"
"Ah, sudah lah Satria, mama ngga mau ngomong sama kamu, Inara masuk kamar sekarang juga, cepetan!"
"tapi ma,..." Inara ditarik paksa oleh mama, sedangkan papa tidak bicara apapun dan langsung meninggalkan Kalangga begitu saja.
"bro.." panggil Satria memastikan.
"Aman bro, santai aja, gue pamit ya, salam buat mama sama papa lo"
Satria menatap sahabat nya sendu, ia merasa bersalah dan tak enak hati. Rasa nya sangat kecewa, melihat sikap kedua orangtua nya yang sangat berlebihan. Bagaimana jika hal yang sama menimpa dirinya, apa ia pun akan berhasil sama dengan Inara.
__ADS_1