
✉ Inara
(Bang, jemput aku di kampus dong, mobil ku ban nya kempes)
✉ Satria
(Kok bisa dek?, tadi pagi ngga apa-apa perasaan)
✉ Inara
(Aku juga ngga tau bang, mana dompet aku ketinggalan lagi)
✉ Satria
(Ya udah tungguin, jangan kemana-mana)
Hampir satu jam Inara menunggu, tapi Satria tak kunjung datang. Sampai sebuah mobil berwarna hitam berhenti di depan gerbang kampus, tapi itu bukan mobil milik Satria. Saat kaca mobil turun, Inara terkejut melihat siapa yang berada di mobil tersebut, ternyata Kalangga.
"Maaf ya lama" ucapnya, kemudian ia turun dari mobil dan menghampiri Inara yang masih kebingungan.
"Lho kok pak Kalangga yang jemput?, bang Satria nya mana?" Tanya Inara kebingungan.
"Satria ada meeting mendadak, tadi dia telpon minta tolong, dan kebetulan saya berada ngga jauh dari sini" jawab Kalangga bohong, padahal baru saja ia bertemu dengan Satria.
"Dih abang mah nyebelin, maaf ya pak jadi ngerepotin"
"Ngga apa-apa kok, btw panggil saya 'Mas' aja atau sebutan yang buat kamu nyaman" cieee pengen di panggil Mas hahaha, lucu banget sih Kalangga.
__ADS_1
"Hah gimana?"...
"Kalo kamu ngga mau juga ngga apa-apa kok, maaf ya"
"Ngga kok mas, santai aja"
Kalangga pun mengendarai mobilnya dengan santai, walaupun ada rasa sedikit canggung. Sesekali ia melirik ke samping, melirik Inara yang diam saja sambil memainkan jari jemari nya.
"Mau makan dulu ngga? Aku belum sempet makan siang soalnya" Inara yang tadinya ingin menolak pun urung saat mendengar Kalangga belum makan siang.
"Boleh sih, tapi aku ngga bawa dompet, gimana dong?" Ucap Inara malu.
"Hahaha santai aja, ngga mungkin juga dong aku biarin kamu bayar, kan aku yang ngajak kamu makan"
"Iya sih, tapi kan tetep aja ngga enak, tempo hari kan mas sempet traktir juga, masa sekarang di bayarin juga"
"Aku mah malah seneng, apalagi kalo sering-sering" Inara hanya tersenyum kaku menanggapi celoteh Kalangga, yang ia pikir hanya bercanda.
"Kamu lagi ujian ya?" Tanya Kalangga.
"Iya, sehari lagi besok, rasanya kepala ku pusing banget di tambah kurang tidur juga sih" keluh Inara.
"Semangat ya, bentar lagi liburan puas-puasin deh tidur"
"Pengen liburan ke pantai sebenarnya tapi ngga tau juga, kalo abang mau ya berangkat kalo ngga ya paling di rumah aja"
Seperti mendengar kesempatan emas, Kalangga langsung mempunyai ide cemerlang. Ia pun menawarkan diri secara sukarela, ah-Kalangga bisa aja nih.
__ADS_1
"Sama mas aja yuk, mau ke pantai mana rencana nya?" Bukannya menjawab, Inara malah bengong seperti ayam tetelo.
"Inara, hei kamu ngga apa-apa kan?"
"Eh ngga apa-apa kok mas" jawab Inara terbata-bata, mana mungkin sang mama akan mengizinkan ia pergi dengan orang lain begitu saja.
Belum sempat Kalangga bertanya kembali, makanan mereka pun datang. Alhasil mereka menunda obrolan tersebut dan menyantap makanan tanpa bicara sepatah kata pun.
Kalangga mengantar Inara sampai depan rumah, walaupun sebenarnya Inara tidak mau tapi Kalangga memaksa sekali. sebelum turun Inara mengucapkan terima kasih karena telah mengantarkan nya pulang.
"Inara tunggu, mas boleh minta nomer telpon kamu ngga?" Inara mengangguk tanda menyetujui.
"Ini mas, kalo gitu aku masuk duluan ya" Inara ingin cepat masuk ke dalam sebelum mama nya melihat.
"Eh tunggu sebentar" Kalangga mengambil totebag berukuran besar kemudian memberikan nya kepada Inara.
"Ini laptop buat kamu, sebagai ganti laptop kamu yang rusak"
"Ngga usah mas, Inara ngga bisa terima ini, pokoknya Inara ngga mau, maaf ya" tolak keras Inara.
"Tolong ambil ya, ini Kalea yang minta, please...." ucapnya memohon.
"Ini terlalu berlebihan mas, aku takut papa marah kalo sampe tau, karena terima barang dari orang lain" kedua orangtua Inara selalu mengajarkan anak-anak nya ikhlas jika membantu orang lain.
"Bilang aja kamu beli sendiri oke, terima ya jangan di tolak"
"Aku terima ya mas, sampaikan rasa terima kasih ku buat Kalea"
__ADS_1
"Iya siap, mas pulang ya"
"Hati-hati ya mas, jangan ngebut-ngebut" Kalangga rasanya ingin terbang saat mendengar Inara mengatakan itu.