Kepentok Cinta Mas Duda

Kepentok Cinta Mas Duda
Cinta tak harus memiliki itu, PALSU!


__ADS_3

Sejak tanggal pernikahan nya di tentukan, Inara yang ceria menjadi lebih banyak diam, bicara pun hanya seperlu nya saja. Aktivitas nya lebih banyak di dalam kamar, dan itu pun hanya merebahkan tubuhnya di atas kasur.


Alvin Megantara, laki-laki yang sekarang ini berstatus sebagai calon suami Inara. Putra tunggal Bram, pewaris satu-satunya BRAMANTYO GROUP. Hanya bertemu sekali, dan tidak pernah mengobrol, sekali pun lewat handphone.


Minggu, sekitar pukul sembilan pagi ini Inara di jemput oleh Alvin, yang dimana mama nya Alvin pun ikut mengantar anak dan calon menantu nya fitting kebaya untuk akad.


"Selamat pagi sayang, duh ... calon mantu mama cantik banget sih" puji Farida, mama nya Alvin.


"Terimakasih tante" jawab singkat Inara, yang merasa tidak nyaman dengan situasi ini.


"Nak, kamu pergi sama Alvin ya, tante sama mama kamu ada urusan yang ngga bisa di tinggal"


Ya, memang mereka semua sedang sibuk saat ini, mengurus acara pernikahan yang akan di gelar kurang dari dua minggu lagi.


"Yuk, kita berangkat sekarang" belum sempat Inara menolak, Alvin langsung menggandeng tangan Inara.


Selama perjalanan menuju butik, Inara diam tidak banyak bicara, Alvin bertanya dan Inara menjawab seadanya saja. Sesampainya di butik pun, Inara menyerahkan semua pilihan kepada Alvin.


"Kamu yakin ngga mau pilih dulu, masa ngga ada yang kamu suka" Alvin kembali bertanya untuk memastikan.


"Terserah kamu vin, aku ikut aja" Alvin mengangguk kemudian mengusap-usap kepala Inara lembut.

__ADS_1


"Ya udah kalo gitu, nanti abis dari sini kita jalan-jalan dulu ya, sekalian cari cincin kawin"


"Langsung pulang aja vin, aku lagi kurang sehat" Alvin memegang kening Inara yang memang agak hangat.


"Kamu sakit? mau ke dokter? aku anterin ya" Inara menggeleng.


"Aku mau pulang"


"Ya udah, kita pulang ya cantik"


Inara merasa biasa saja mendengar Alvin memanggil nya cantik, begitu pun dengan perlakuan Alvin yang baik, dan romantis. Yang namanya perasaan memang tidak bisa di paksakan, dan siapapun tidak bisa memaksakan kehendak. Termasuk orangtua Inara dan Alvin.


Seandainya tidak ada badai, pelangi tidak akan muncul. Untuk itu, belajarlah dari badai yang menimpamu. Kenyataan memang tak selalu beriringan dengan harapan tapi bukan berarti kita harus dilanda keputusasaan.


~


Pagi ini memiliki embun yang menetes tanpa harus diminta. Kebahagiaan itu memiliki arti ketulusan tanpa rencanakan. Sama halnya hati dia memiliki cinta tanpa harus diminta meskipun terkadang menyakitkan.


"Dek ...." Satria menyembulkan kepalanya di balik pintu.


"Masuk aja bang" ucap Inara lemah.

__ADS_1


"Kata mama kamu sakit, ke dokter yuk sama abang" Satria duduk di sisi ranjang sambil menggenggam tangan Inara.


Inara menggelengkan kepalanya pelan. Melihat adik perempuan nya lemah tak berdaya seperti ini, membuat hati nya teriris. Akibat dari keegoisan kedua orangtua nya, Inara harus jadi korban.


"Bang ... aku capek" ucapnya dengan mata terpejam.


"Kalo gitu istirahat ya dek" Setelah itu tak terdengar lagi suara Inara.


Satria yang merasa aneh dengan gelagat Inara pun, kembali memegang tangan nya yang ternyata sudah dingin, kemudian beralih ke kaki dan suhu nya pun sama.


"Dek" sudah beberapa kali Satria memanggil tapi tidak ada jawaban, padahal Inara tipe orang yang jika tidur, tidak sulit bangun.


"Ma, mama ... Pa, papa ....." Satria berteriak sekencang mungkin, sampai semua penghuni rumah berlari menuju kamar Inara.


"Kenapa bang?" Tanya mama panik, kemudian menghampiri Inara.


"Inara ngga mau bangun ma, aku panggilin dia beberapa kali juga dia tetep ngga bangun" Satria panik.


"Cepat siapkan mobil" teriak papa, kemudian papa langsung menggendong Inara dan membawa nya ke rumah sakit.


'Aku mencintai mu dalam setiap helaan nafas ku, rasanya lebih baik mati dari pada harus bersanding dengan orang lain, Mas Kalangga aku sungguh mencintai mu' gumam Inara sebelum benar-benar kehilangan kesadaran nya.

__ADS_1


__ADS_2