
Kalangga pov ...
...Hatiku dipenuhi kebimbangan,....
...Haruskah kurelakan apa yang selama ini telah ku perjuangkan....
...Ketika doa dan restu tak kunjung kudapatkan,....
...Duniaku dipenuhi kegelapan....
...Begitu banyak halangan yang telah kutempuh,....
...Seuntai restu itu seakan kian menjauh....
...Doa restu belum juga tergapai....
...Niatan hati tak kunjung sampai....
...Semua harapan pudar menjadi mimpi,....
...Ketulusan seakan tak lagi berarti....
...Cerita cinta kita tak pernah direstui....
...Aku harap kau mau mengerti....
...Jika cinta tak harus saling memiliki....
...Biarlah aku mengalah dan pergi....
__ADS_1
...Dan jika kita memang ditakdirkan bersama,....
...Aku percaya, tuhan pasti kan tunjukan jalannya....
...Bersabarlah hingga saat itu tiba....
...Cerita tentang kita kan kujaga....
...Menunggumu yang selalu kunanti....
...Hingga cinta kita direstui....
Baru kali ini aku merasakan kebingungan, bingung harus berbuat apa. Rasanya tak mampu lagi berpikir secara sehat, ingin ku bawa saja Inara pergi dari sini. Membangun kembali keluarga yang harmonis tanpa gangguan dari siapapun.
Ah, rasanya akan sangat egois sekali jika aku melakukan hal bodoh itu. Lalu bagaimana dengan keluarga ku dan keluarga Inara, lalu bagaimana dengan pandangan orang lain terhadap ku. Sejati nya laki-laki itu harus punya sikap tanggung jawab, berani menerima setiap resiko dari langkah yang di ambil.
Seminggu sudah aku dan Inara tidak pernah bertemu lagi, bahkan menanyai kabar nya pun tidak aku lakukan, biasa nya Satria yang sering ku andalkan untuk urusan itu. Kalea pun sudah sering menanyakan kabar Inara padaku, tapi ku jawab sejujur nya yang terjadi. Dan, Kalea selalu memberi ku semangat dan dorongan motivasi.
✉ Satria
(Inara masuk rumah sakit tadi pagi)
Wajah ku memanas, kepala ku terasa pusing, aliran darah dalam tubuh mengalir lebih cepat. Hati ku pun ikut sakit mendengar kabar wanita yang paling ku cintai terbaring lemah di rumah sakit.
Segera ku berganti pakaian, mengambil kunci mobil dan dompet. Memacu kendaraan dengan kecepatan sedang, mengingat jalanan malam ini terbilang cukup ramai dari biasanya.
Sesampainya di rumah sakit, aku segera berlari di lobby melewati lorong-lorong yang tak begitu ramai orang. Sampai ku temukan kamar dimana Inara di rawat, di depan pintu berdiri dua laki-laki bertubuh besar berpakaian serba hitam, sudah bisa di pastikan jika itu orang-orang suruhan papa Inara.
Apapun yang terjadi setelah ini, akan ku hadapi. Aku sudah tidak peduli lagi, biar pun mereka sampai memukuli ku hingga babak belur pun aku sudah tidak peduli lagi.
__ADS_1
"Saya mau bertemu dengan Inara" ucap ku tanpa rasa takut sedikit pun.
"Anda tidak di izin kan berada disini, silahkan pergi atau kami akan berbuat kasar" salah satu dari mereka mengancam ku, tapi aku takkan gentar sedikit pun.
"Saya pacar Inara, dan saya punya hak untuk masuk ke dalam" ucap ku tegas, dan sedikit berteriak.
Aku di dorong dengan sangat kasar, tentu saja aku melawan sampai terjadi perkelahian di antara kami bertiga. Perut dan pipi ku tak urung terkena bogem mereka.
Sampai papa Inara dan seorang laki-laki yang ku kenal keluar dari dalam ruangan Inara. Ya, tidak salah lagi, dia adalah Bramantyo, kakak ku.
"Mas Bram ..." Panggil ku sambil mengusap ujung bibir yang berdarah.
"Lho, Kalangga, kenapa kamu bisa ada disini, lalu kenapa dengan wajah mu?" Tanya nya pada ku heran.
"Kalian saling kenal?" Tanya papa Inara yang juga kebingungan.
"Dia adik ku, Kalangga" jawaban dari kakak ku membuat papa Inara menggelengkan kepalanya.
"Mas, yang sedang di rawat di dalam itu kekasih ku, Inara, wanita yang tempo hari aku ceritakan" segera ku jelaskan semua nya pada kakak ku.
"Om kala, kok bisa ada disini?" Tanya Alvin keponakan ku, yang baru saja datang.
"Sebentar, jangan bilang wanita yang sempat om ceritakan adalah Inara" Aku langsung mengangguk ketika Alvin bertanya.
"Kebetulan kita semua berkumpul disini, aku mau menjelaskan sesuatu" ucap Alvin.
Alvin memang sempat bercerita padaku jika ia di jodohkan, dan ternyata wanita itu Inara, dan itu pun baru aku ketahui. Kenapa selama ini Alvin bersikap baik pada Inara? jawaban nya adalah karena Alvin menghargai keputusan kedua orangtua nya, ia tidak mau membuat mereka kecewa. padahal disisi lain Alvin sudah memiliki kekasih yang sudah hampir setahun ini menemani nya.
Bramantyo kakak ku, segera menyerahkan segala keputusan kepada Alvin, ia tidak memaksa lagi. Dan kalian tau apa yang terjadi, papa Inara meminta maaf padaku dan merestui hubungan ku dengan putri nya. Setelah tau siapa aku, dan latar belakang keluarga ku.
__ADS_1
Begitu pun mama Inara yang sangat terkejut mendengar kebenaran ini, ia merasa malu dan bersalah kepadaku, dan tentu saja ia pun meminta maaf padaku.
Aku bersyukur karna malam ini, aku mendapatkan restu dari kedua orangtua Inara. Tak apalah wajah ku di penuhi luka lebam asal Inara menjadi milik ku. Ah .... rasa nya menenangkan sekali, beban ku sedikit terangkat.