Kepentok Cinta Mas Duda

Kepentok Cinta Mas Duda
Hot Kiss


__ADS_3

"Dek, ikut sama abang yuk"


"Ngga bang, aku mau rebahan aja"


"Ih sebentar aja dek, cepet ganti baju dulu sana"


"Kemana sih? ganggu aja deh"


"Sebentar aja Inara adik abang yang paling cantik"


"Iya iya, bawel banget dah"


Melihat sikap Inara yang masih cuek kepada Kalangga, membuat Satria berpikir harus segera melakukan sesuatu. Sebelumnya ia memang sudah mengatur rencana dengan Kalangga, tinggal eksekusi saja.


Setelah menunggu Inara berganti pakaian, Satria segera membawa nya ke sebuah tempat, sebuah cafe dengan nuansa alam. Di kelilingi bunga-bunga yang indah, dengan warna yang berbeda-beda.


"Mau ngapain sih bang ngajak aku ke tempat kayak gini"


"Udah ikut aja"


Dari kejauhan Inara melihat Kalangga duduk di salah satu meja bersama dengan wanita yang ada di foto bersama nya. Tak ingin melanjutkan langkahnya lagi, ia memilih diam berdiri di tempat. Kemudian, Satria berbalik dan menggandeng tangan Inara.


"Coba dengerin penjelasan dia dulu dek, abang ngga ada maksud buat belain dia, abang cuma pengen kalian baikan lagi, kan ngga lucu orang mau nikah tapi dalam keadaan salah paham"


"Aku mau pulang aja"


Tangan Inara ditahan Satria, lalu Satria melambaikan tangannya ke arah Kalangga yang memang sejak tadi memperhatikan dari kejauhan. Kalangga berlari menghampiri Inara dan Satria, di susul oleh wanita itu.


"Bang apaan sih, lepasin tangan aku!"


"Dek, coba bersikap lebih dewasa, kasih dia kesempatan buat jelasin, baru setelah itu kamu boleh percaya atau ngga sama dia"


"Kasih aku kesempatan buat jelasin semuanya, pleas!" Ucap Kalangga memohon.


"Inara, kita ngobrol dulu sebentar ya, aku mau jelasin sesuatu sama kamu" Ucap Hana, ya wanita itu bernama Hana.


Inara duduk di samping Kalangga, sedangkan Hana duduk di samping Satria. Inara masih diam, menunggu mereka memulai lebih dulu.

__ADS_1


"Sebelumnya aku mau kenalin diri dulu, aku Hana teman sekaligus sahabat bang Kala dan Satria, aku sahabatan sama mereka berdua udah dari zaman kuliah" Hana menjeda ucapan sebentar, kemudian meraih tangan Inara yang memang sejak tadi tak merespon banyak.


"Inara, aku minta maaf ya, jujur aku ngerasa ngga enak atas kesalahpahaman ini, gara-gara aku, kamu sama bang Kala jadi ngga baik-baik aja. Foto yang kamu liat itu ngga sesuai sama apa yang kamu pikirin. Jadi, kemarin tuh aku ada sedikit masalah, terus aku ngajak abang ketemuan, dengan niat mau curhat dan minta solusi. Aku juga sempet telpon satria tapi dia lagi sibuk, jadi aku telpon abang"


Inara menatap Satria sinis, kenapa penjelasan Hana berbeda sekali dengan Satria. Ini jelas ada yang tidak beres, bukan nya lebih baik setelah mendengar penjelasan dari Hana, Inara malah semakin kesal.


"Kata nya ngga tau bang, ini aku harus percaya sama siapa?" Ucap Inara dengan nada sedikit kesal.


"Maaf dek, kemarin abang panik jadi bingung mau jawab apa" ucap Satria sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Ih Satria, bukannya jelasin sesuai fakta, kalo kayak gini gimana urusan nya, yang ada nanti Inara sama bang Kala malah ngga baikan baikan" ucap Hana gemas.


"Ya maaf, gue panik han"


"Inara, bang Kala, maaf ya gara-gara aku kalian jadi begini, sampe bang Kala kemarin bela-belain nemenin aku dari pagi padahal lagi kurang sehat"


Mata Inara membulat sempurna, ia semakin tidak percaya saja dengan orang-orang yang berada di hadapan nya. Inara mencoba menetralkan hati nya yang semakin emosi, berada di antara mereka bertiga membuat emosi nya tidak stabil.


"Sebentar sebentar, sorry ya sebelumnya, bukan nya saya ngga percaya atau gimana ya mba Hana, penjelasan mba Hana sangat sangat berbeda dengan dua laki-laki ini, jadi saya rasa semuanya sudah sangat jelas ya, ngga bagus juga buat saya berlama-lama disini, saya permisi"


Inara mengambil kunci mobil Satria sebelum beranjak pergi, Hana yang kesal memukul kedua laki-laki di hadapannya.


"Bang Kala, udah sana susulin Inara, biar nanti aku pulang sama Satria"


Di mobil...


"Inara, sayang, dengerin mas dulu"


"Apalagi sih mas, udah sana turun, aku mau pulang"


"Mas minta maaf, mas ngga ada maksud buat bohongin kamu, maaf karena mas ngga terbuka soal Hana sama kamu, maaf sudah mengabaikan pesan dan telpon kamu kemarin, hp mas ketinggalan di mobil, maafin mas sayang, jangan siksa mas dengan sikap kamu seperti ini, mas sayang kamu"


Aku cemburu, ketika kau lebih menatapnya.


Aku cemburu, ketika kau tak berpaling.


Aku cemburu, di saat kau menyentuh yang lain.

__ADS_1


Aku cemburu, di saat candamu tak hanya untuk ku.


Aku cemburu, atas ego ku.


Menatap lekat mata Kalangga, tidak ada kebohongan dari sinar matanya, Kalangga benar-benar berkata jujur dan tulus. Ego telah menguasai diri Inara saat ini, tak bisa di pungkiri semua karna rasa cemburu.


"Aku yang seharusnya minta maaf mas, maaf atas segala keegoisan ku, maaf karna tak memberi mu kesempatan untuk menjelaskan, sekali lagi maafin Inara mas"


"Mas sayang kamu Inara, tidak ada wanita lain selain kamu di hati mas, cuma kamu sayang"


Di rengkuh nya tubuh Inara kedalam dekapan nya, sambil di kecupi pucuk kepala Inara berulang kali. Kini jarak wajah Inara dengan Kalangga begitu dekat, hidung mereka saling bersentuhan. Nafas Kalangga semakin berat, terasa hangat menerpa kulit wajah Inara.


Cup ... bibir mereka berdua menyatu, saling bertaut dan saling *******. Menumpahkan rasa rindu lewat pagutan yang semakin dalam, tangan Kalangga menyelinap masuk kedalam switer yang digunakan Inara. Meremas nya pelan dan berulang-ulang.


Pagutan mereka terhenti dengan nafas tersengal-sengal. Mengecup bibir Inara singkat, kemudian menarik pelan switer sampai ke atas dada. Di lepaskan nya pengait bra, lalu menariknya ke atas tanpa melepaskan nya.


"Hhhhhh ...." Suara desah yang tertahan dari bibir Inara.


Kedua nya di sesap secara bergantian, meninggalkan kissmark di kedua gundukan favorit nya, bukan satu atau dua tapi hampir di semua sisi di penuhi tanda kepemilikan.


"Sshhhh ...." Tubuh Inara menggeliat tak beraturan.


"Sayang udah cukup, rapiin lagi baju nya, makasih ya" Kalangga sudah tak sanggup jika begini cerita nya, rudal nya sudah on fire tapi tidak bisa di lepaskan, rasa nya sangat sangat menyiksa.


"Mas anterin kamu pulang ya, mas ngga bisa tahan kalo lama-lama deket sama kamu"


"Sabar ya mas, kurang dari seminggu lagi kok"


"Udah sabar banget ini sayang, maaf ya kalo tadi agak kasar"


"Takut aku sebenarnya kalo kamu kayak gitu mas, ekspresi kamu kayak mau makan aku tau ngga"


"Nanti kalo udah sah, ngga akan mas kasih ampun, siap-siap aja sayang, ngga akan mas kasih kamu keluar dari kamar"


"Ih mas apaan sih, jangan gitu ah ngeri aku"


"Awalnya ngeri sayang tapi lama-lama pasti nagih hehehe"

__ADS_1


"Mas udah ih, jangan bahas kayak gituan, ayo anterin aku pulang"


"Iya sayang ku, ayo kita pulang"


__ADS_2