
Kuceritakan sebuah kisah. Tentang hati yang telah menemukan cintanya, tentang cinta yang mengajariku apa itu bahagia, mengenalkanku pada kata setia yang selalu ia jaga, menuliskan cerita indah yang selalu ingin ku lalui bersamanya.
Sinar wajahnya memancarkan ketulusan, begitu teduh, begitu nyaman. Dalam canda, Dalam tawa, Dalam suka maupun duka. Bahkan ketika aku dilanda amarah, ia begitu sabar menenangkanku dengan kelembutanya. Sungguh, ia bagaikan hayalan yang menjadi kenyataan.
Kata-kata cinta yang ku'ucapkan bukan hanya sebatas rayuan, bukan pula sebatas rayuan, ya lebih dari itu, inilah ungkapan dari hatiku.
Teruntuknya belahan jiwa yang selalu ingin ku jaga.
Dan, malam ini Dia ada disini, tepat dihadapan mataku, mata yang hanya bisa melihatmu. Dan di malam ini, inginku bertanya? Maukah kiranya engkau menikah denganku???
jalani bahtera rumah tangga dalam ikatan suci yang abadi.
Sabtu malam yang indah, di tanggal 23 yang akan terkesan ini, Kalangga secara resmi melamar Inara,kekasih nya, untuk menjadi pendamping hidup, selamanya. Dalam keadaan suka maupun duka, mereka berdua akan terus saling menggenggam tangan erat.
"Inara Diona Syazani, wanita pemilik mata indah yang membuat jantung ku berdegup kencang, maukah kau menjadi istriku? menjadi ibu sambung untuk putri ku?"
Kalangga dan Inara duduk berhadapan hanya terhalang jarak dua meter. Sebelum menjawab Inara berulang kali mengatur nafasnya, lalu mengusap dada nya yang berdebar hebat.
"Bismillah ... Dengan segala keikhlasan hati, aku terima lamaran mas Kalangga, begitu juga putri cantik mu"
"Alhamdulillah" ucap syukur semua tamu yang menghadiri acara malam ini.
"Terimakasih sayang, mari kita berjalan beriringan bersama dalam suka maupun duka" wajah Inara menjadi merah merona saat Kalangga menyebutnya sayang.
Pernikahan akan di gelar dua minggu lagi, sangat cepat bukan dari lamaran ke pernikahan. Ya karena, awal rencanakan memang yang akan menikahi Inara adalah Alvin, tapi batal. Jadi persiapan yang sudah hampir lima puluh persen di lanjutkan kembali, hanya berbeda calon mempelai laki-laki nya saja.
__ADS_1
"Kak, terimakasih ya" Kalea dan Inara duduk berdua, sedangkan yang lain sedang menikmati makanan dan mengobrol.
"Untuk?" Tanya Inara.
"Untuk kelapangan hati kakak menerima papa, walaupun sebenarnya bisa aja kakak cari yang lebih dari papa, tapi kakak malah pilih papa"
"Hmmm ... gimana ya jelasin nya, intinya kakak sayang sama papa kamu, sama kamu juga pastinya. Kalo di tanya alasan nya kenapa pun kakak pasti ngga akan bisa jawab, karna mencintai tidak perlu alasan"
"Nanti kalo kakak udah nikah sama papa, aku mau panggil kakak bunda, boleh ngga?"
"Boleh dong sayang, senyaman nya kamu aja"
"Terimakasih ya kak"
"Sama-sama sayang" Mereka berdua saling memeluk satu sama lain.
Siang ini setelah pulang dari kampus, Inara akan mampir sebentar ke rumah Kalangga, untuk melihat keadaan calon suaminya yang sedang kurang sehat.
"Silahkan masuk non, bapak ada di kamar nya" ucap bi lastri yang kebetulan bertemu di teras rumah.
"Iya bi, saya langsung ke kamar mas Kala ya bi"
"Iya non silahkan"
Inara segera masuk kedalam rumah, menuju ke lantai dua. Kamar yang langsung berhadapan dengan tangga itu pintu nya terbuka setengah tapi gelap.
__ADS_1
"Mas ..." panggil Inara lembut.
"Masuk aja sayang" Inara masuk perlahan menyesuaikan mata nya terlebih dahulu dan barulah ia bisa melihat keberadaan Kalangga yang sedang merebahkan tubuhnya di atas kasur King size nya.
"Kok masih rebahan aja mas, katanya mau ke dokter, ganti baju dulu sana, aku tunggu di bawah ya"
"Sebentar sayang, kepala mas masih pusing banget ini, pijitin dulu dong" Kalangga merebahkan kepalanya di atas paha Inara yang duduk di sisi ranjang.
Dengan telaten Inara memijat kepala Kalangga dengan penuh cinta. Dasarnya si duda mesum ini tidak bisa melihat kesempatan dan posisi yang menguntungkan untuk nya.
"Sayang..." panggil nya manja.
"Kenapa mas?" Inara masih memijat kepala Kalangga.
"Mau ini, boleh ya" ucap nya sambil menunjuk ke salah satu gundukan besar dihadapan nya, dengan wajah memohon dan memelas.
"Mas ih lagi sakit juga, ngeri aku lama-lama deket sama kamu"
"Ini tuh obat sayang, sedikit aja ya sayang pleas"
"Ngga mas, mending sekarang kamu bangun terus ganti baju" Inara segera memindahkan kepala Kalangga ke atas bantal dan ia berdiri sedikit menjauh.
"Ah kamu mah tega banget sama mas" Kalangga merajuk, dan tentu saja Inara ingin tertawa melihat nya.
"Aku kasih kamu waktu sepuluh menit buat ganti baju, lebih dari sepuluh menit aku tinggal pulang" Inara segera berlari menjauh setelah mengatakan itu, ia takut di terkam oleh singa yang sedang lapar.
__ADS_1
"Sayangggggggggg......" teriak Kalangga kesal.