Kepentok Cinta Mas Duda

Kepentok Cinta Mas Duda
Mimpi yang nyata


__ADS_3

Inara pov ...


pagi ini aku mendengar gerimis berdenting, menguarkan aroma hening menyapu debu-debu musim kering. Dan pagi


menguarkan aroma basah tanah, tentang hijau dedaun


yang tersaput embun, di situlah segala rasa merimbun


semacam rindu yang tertimbun.


Entaskan aku dalam gigil rindu yang pagi ini menyekapku dengan hangat yang kau pancarkan dari matamu itu tentu.


Karena pada ranggas daun-daun hanya embun yang tetap


setia memberi pelukan, sebuah ketabahan yang tak terperikan. maka, pada selasar pagi kuhampar segala doa, agar terbaca sepenuh jiwa, untuk kulangitkan pada altar suci sang maha.


"Selamat pagi sayang nya mas" . . .


Ku usap berulang kali mata ku, takut ini mimpi belaka saja. Ku beranikan diri untuk memegang pipi nya, hidung nya, bibir nya. Ternyata ini nyata, dia benar-benar ada di hadapan ku sekarang.


"Mas Kala, aku lagi ngga mimpi kan?" tanyaku memastikan.


"Iya dek, itu Kalangga, pacar kamu" Aku sontak menoleh ke arah lain, ternyata disana ada bang Satria dan mama ku yang sedang menatap kami sambil tersenyum.


Sebentar, biarkan nyawaku berkumpul dulu, agar kesadaran ku penuh. Ku tatap secara bergantian mama dan Kalangga, ini sungguh membingungkan, kenapa mama tidak bereaksi sama sekali, kenapa pembawaan nya lebih tenang dari sebelumnya.


"Kenapa? kamu bingung ya, kenapa aku bisa ada disini bareng sama mama juga" Ah, rasanya ada yang tidak beres dengan ku, apa aku sedang lupa ingatan, atau aku di diagnosis penyakit mematikan sehingga mereka terpaksa akur.

__ADS_1


"Inara, anak mama yang paling mama sayangi, pertama mama mau minta maaf atas segala perlakuan mama yang tidak baik sama kamu maupun sama Kalangga. Sekarang mama tidak akan menghalangi kalian lagi, dengan ikhlas mama berikan kalian restu"


*Deg


"Ma ... mama serius sama ucapan mama barusan, aku ngga lagi mimpi kan? apa aku di diagnosis penyakit mematikan sama dokter, sampe mama terpaksa kasih aku restu?" sontak saja mereka semua tertawa mendengar pertanyaan ku.


"Kamu ngomong apa sih dek, kok ngelantur gitu" ucap bang satria meledek ku.


"Mama serius sayang, mama restuin kamu sama Kalangga" Aku masih bingung tapi juga senang mendengar kabar bahagia ini.


"Udah ngga usah di pikirin, yang terpenting adalah jaga kepercayaan mama ya, terutama Kalangga, ingat saat kamu pertama kali meminta restu sama mama. Nah ... sekarang karna kamu udah ada yang nungguin, mama sama abang pulang dulu ya, kasian papa di rumah ngga ada yang ngurusin"


Aku mengangguk kemudian mencium punggung tangan mama bergantian dengan Kalangga yang juga melakukan hal yang sama dengan ku.


"Titip Inara ya, mama pulang dulu"


"Jagain adek gue ya bro, gue mau balik dulu, nanti malem gue balik ke sini lagi kok"


Kini hanya menyisakan aku dan mas Kala, kami berdua saling tatap lalu tersenyum bahagia. Energi ku seperti terisi kembali, rasa sakit pun seperti menghilang di telan ombak. Kini posisi ku dudu bersandar di ranjang rumah sakit, dengan mas Kala duduk di sisi ku, saling berhadapan.


"Kita menikah ya, kamu mau kan jadi istri sekaligus ibu sambung Kalea?" Aku yang memang sudah menantikan ini, mengangguk dengan semangat.


"Setelah kamu pulang dari sini, mas akan lamar kamu secara resmi, mas ngga mau menyia-nyiakan kesempatan ini" ucap mas Kala yang tak kalah semangat.


"Mas, wajah kamu kenapa? kok lebam-lebam, kamu berantem ya?" Tanya ku penasaran, sedari tadi ku perhatian seperti ada yang berbeda dari wajah mas Kala.


"Biasa laki-laki, cuma sedikit ini, yang penting aku udah dapet restu dari mama papa kamu" Ucap mas Kala santai.

__ADS_1


"Bodyguard papa ya yang pukulin kamu?"


"Udah ngga apa-apa sayang, lupain kenapa wajah mas lebam, nanti juga sembuh kok"


Bagiku, kamu adalah segalanya,


Bagiku, kamu yang sempurna,


Diantara beribu orang yang sempurna


Kamu, yang telah meluluhkan hati ku.


Aku akan selalu menjaga cintamu Tak pernah berhenti,


Tak pernah pudar Dan tak pernah lekang oleh waktu.


Saat aku mengatakan aku mencintaimu,


percayalah bahwa itu benar.


Saat aku berkata selamanya, 


ketahuilah aku tidak akan pernah meninggalkanmu.


Ketika aku mengucapkan selamat tinggal,


berjanjilah bahwa kamu tidak akan menangis,

__ADS_1


Karena hari aku akan mengatakan itu akan menjadi hari aku mati.


__ADS_2