Kepentok Cinta Mas Duda

Kepentok Cinta Mas Duda
Cemburu


__ADS_3

Inara mendengus kesal, sebab Kalangga tak kunjung membalas pesan dan menerima telpon dari nya. Baru kemarin ia mengantar kekasihnya itu pergi ke dokter, dan pagi nya Kaĺangga sudah kembali bekerja. Bahkan sampai selarut ini ia tak mendapat kabar dari kekasih nya itu.


'ih mas Kala kemana sih? aku telponin ngga di angkat-angkat, bikin orang khawatir aja' gumam Inara kesal.


Tapi Inara yang tak kehabisan akal pun menghampiri kakak nya di kamar, dengan harapan mendapat jawaban. Satria melonjak kaget saat mendengar suara Inara yang tiba-tiba sudah berada di belakangnya.


"Foto siapa bang? coba aku liat" Satria segera mengunci ponselnya kemudian menggelengkan kepalanya.


"Bukan siapa-siapa dek, kamu mau ngapain kesini?" tanya Satria mengalihkan.


"Itu foto mas Kala kan? siapa perempuan yang bersama nya? siniin hape abang"


"Bu-kan dek, kamu salah liat kali" jawab satria gugup.


"Aku ngga buta bang, mata ku masih normal"


Belum sempat Satria menjawab, Inara mengambil alih ponsel nya kemudian berlari keluar kamar. Segera Inara buka ponsel Satria, untung saja ia tau password nya. Tempo hari ia sempat meminjam ponsel Satria, saat ponsel miliknya di sita sang mama.


'Oh ... pantesan susah di hubungin, ternyata oh ternyata lagi sibuk ngurusin perempuan lain' gumam Inara sembari mengirim foto tersebut ke ponsel miliknya.


"Dek, siniin hape abang, kamu mah ah maen rebut aja" Satria menyusul Inara ke kamar nya.


"Nih, makasih" ucapnya dengan nada kesal.


"Jangan langsung menyimpulkan dek, abang tau banget Kalangga seperti apa, ngga mungkin dia ngelakuin hal yang aneh-aneh" Satria tau apa yang ada di fikiran Inara saat ini, jadi sebisa mungkin ia meredakan suasana yang sedikit memanas.


"Jelas di belain lah, kan sahabat abang, iya ngga?" Inara menatap Satria dengan tajam.


"Bukan gitu dek, coba pikirin yang positif dulu, mungkin aja dia client nya, kan kita ngga tau juga"


"Harus banget sambil pegang tangan sama elus-elus kepala ya? emang kalo ngobrol sama client harus gitu ya bang? hm .... apa sebenarnya abang tau sesuatu tapi di tutup-tutupin?"


Seketika raut wajah Satria berubah jadi panik, jika sampai ia salah menjawab, bisa terjadi perang dunia ke dua. Satria menghela nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan adik perempuan nya itu. Kemudian duduk di sampingnya, lalu mengacak rambut Inara.


"Adek ku sayang, kita kan ngga tau apa yang terjadi dengan Kalangga dan wanita itu pada saat itu, dan mungkin itu saudara perempuan Kalangga kan, kita ngga pernah tau dek"


Inara menatap Satria sinis, bukan tak percaya atau apa, hanya saja melihatnya bermesraan dengan wanita lain membuat hati nya panas. Di tambah pula, Kalangga tak membalas bahkan mengangkat telpon dari nya.


"Mending abang keluar deh, aku mau tidur, abang sama Kalangga tuh sama aja, dasar cowok-cowok nyebelin!"


'Duh bro, lu nyari mati apa gimana sih, ini Inara kalo ngamuk setan aja sungkem bro, haduhhhh....' gumam Satria.


keesokan harinya...


✉ Mas Kalangga


(Sayang, maaf ya aku baru sempet bales chat kamu, aku kemaren sibuk banget, kerjaan aku numpuk)


Hari ini Inara sengaja meninggalkan ponselnya dirumah, ingin balas dendam ceritanya. Sebelum berangkat ke kampus Inara sempat melihat beberapa pesan masuk dari Kalangga tanpa dibaca bahkan tak ada niat membalas pesan tersebut.

__ADS_1


"Ma, aku berangkat ke kampus ya" pamit Inara.


"Ngga sarapan dulu" ucap papa menimpali.


"Nanti aja pa di kampus"


"Sayang, kamu tuh harus jaga kesehatan, ngga boleh telat makan, kamu kan mau nikah, terus kenapa masih berangkat ke kampus, bukan harusnya kamu udah cuti"


"Nanti aja deh ma cuti nya, aku lagi nyari bahan buat ide skripsi, kayaknya aku pulang malem deh ma, soalnya ada beberapa tugas juga yang harus aku kerjain"


"Ayo abang anterin ke kampus dek" Inara sengaja tak menggubris tawaran Satria.


"Aku berangkat ya ma, pa, dahhhh"


Mama dan papa saling tatap, saling bertanya lewat kode, tumben sekali Inara menolak tawaran Satria. Biasanya Inara akan merajuk bahkan merayu untuk bisa di antar ke kampus oleh Satria.


"Tumben bang adik kamu ngga mau di anterin" Tanya mama penasaran.


"Merajuk tuh bang adiknya, di apain sih?" Tanya papa penasaran juga.


"Ngga di apa-apain ma, pa, dia cuma lagi salah paham aja" jawab Satria.


"Salah paham gimana bang?" Tanya mama.


"Ya salah paham aja pokoknya, abang juga berangkat deh ma, pa. Ada meeting pagi soalnya" Satria pun pamit tak lama Inara pergi.


"Mereka berdua kenapa ya pa, tumben banget"


~


Sekitar pukul tujuh malam, sebuah mobil putih memasuki halaman rumah Inara. Ya, itu mobil Kalangga, sebelumnya ia sempat mengabari Satria jika dirinya akan datang ke rumah untuk bertemu Inara.


"Masuk bro, mama sama papa ada di dalem" Kalangga mengekori Satria dari belakang, kemudian menyapa dan menyalami mama dan papa bergantian.


"Inara belum pulang ngga, coba kamu susulin ke kampus, dia ngga bawa hape soalnya, mama bingung mau telpon ke siapa"


"Iya, papa juga khawatir, takut kenapa-napa"


"Mau gue temenin bro" Kalangga menggelengkan kepalanya.


"Pantesan aku telponin ngga di angkat, ya udah kalo gitu, aku susulin Inara dulu ya ma, pa, bro"


"Iya, hati-hati"


Langit malam ini begitu cerah, tapi tak secerah hati Kalangga yang sedang di landa rasa khawatir. Dari pagi ia tak mendapat kabar dari calon istri nya itu, tapi ada satu hal yang tak di sadari oleh Kalangga, ia tak merasa bahwa dirinya pun sempat melakukan hal yang sama.


Menempuh perjalanan sekitar setengah jam akhirnya Kalangga sampai di depan kampus. Suasana kampus tidak begitu sepi, sebab masih ada beberapa orang yang berlalu lalang.


Cukup lama Kalangga menunggu, sampai kampus terlihat sepi. Ia pun bingung, sebab Inara tak kunjung keluar. Lalu ia turun dari mobil menghampiri security yang sedang berjaga.

__ADS_1


"Permisi pak, apa di dalem masih ada orang?" Tanya Kalangga.


"Di dalam sudah kosong pak, kebetulan temen saya baru aja kembali setelah kontrol, memang nya bapak mencari siapa?"


"Oh seperti itu ya pak, saya cari Inara pak, apa bapak melihat dia hari ini?" Tanya lagi Kalangga.


"Lho! bukannya tadi sore neng Inara sudah pulang ya pak, tadi sebelum dia pulang sempat mengobrol dengan saya sebentar"


Jawaban security membuat jantung Kalangga hampir copot. Jika Inara sudah pulang dari sore, lalu kemana ia pergi sampai selarut ini. Mau mencari pun bingung harus mulai dari mana, Kalangga tak mengenal teman-teman dekat Inara.


"Oh iya pak, apa bapak tau teman dekat Inara?"


"Setau saya sih temen dekat neng Inara cuma neng Mala pak, rumahnya di perumahan samping kampus ini pak, cuma kalo lebih jelas nya saya kurang tau"


Setelah mendengar penjelasan dari security tersebut, Kalangga segera pergi dari sana setelah berpamitan dan mengucapkan terima kasih. Bukan Kalangga namanya kalo ia tidak bisa mendapat alamat rumah Mala. Dalam waktu kurang dari setengah jam, alamat Mala sudah di tangan nya.


Dan benar saja Inara memang sedang berada di rumah Mala, mengerjakan tugas kelompok, dan kebetulan teman-teman nya yang lain sudah pulang. Sedangkan Inara dan Mala masih harus mengkoreksi sedikit sebelum di serahkan ke Dosen.


tok ... tok ... tok ...


"Permisi non, di depan ada yang mencari non Inara" ucap bi inah, asisten rumah tangga di rumah Mala.


"Siapa bi? bang Satria bukan?" Tanya Inara.


"Bukan non, kalo yang itu bibi ngga kenal"


"oh ya udah bi makasih ya, nanti Inara turun"


"Gue sekalian balik ya la, udah malem juga, takut mama nyariin" Inara segera merapikan buku dan laptop nya.


"Oke, ayo gue anterin ke bawah, sekalian mau liat siapa yang nyusulin lo ke sini, penasaran hehe"


Sesampainya di halaman rumah Mala, Inara terkejut melihat calon suaminya sudah berdiri sambil bersandar di mobil. Lalu melihat ke arah Inara tersenyum, dan segera berjalan cepat ke arah Inara.


"La, gue balik ya, bye" Inara segera berpamitan sebelum Kalangga menghampiri nya dan langsung masuk ke mobil. Sebelum berbalik Kalangga tersenyum lalu menganggukan kepalanya ke arah Mala.


"Kenapa ngga bawa hape, mas chat terus telpon kamu dari pagi, karna mas khawatir jadi ke rumah deh, eh di rumah kamu nya ngga ada" Inara diam tak merespon Kalangga sama sekali, mata Inara fokus ke luar jendela mobil.


"Kok mas nya ngomong ngga di tanggepin sih, mas ada salah ya?"


'Wah parah nih laki kaga peka banget' gumam Inara kesal.


"Sayang, soal foto yang kamu liat itu salah paham, mas bakalan jelasin dia siapa tapi udahan dong ngambek nya, maafin mas soal kemarin ya"


Sebelum pergi menyusul Inara, Satria memberi tau jika Inara sedang salah paham dengan foto yang di ambil oleh orang tak di kenal dan dikirim ke Satria.


"Lagi ngga mood buat bahas itu mas, aku cuma pengen cepet sampe rumah, cape"


"Oke kalo gitu, nanti kita bahas setelah perasaan kamu lebih baik"

__ADS_1


'Maaf ya mas, aku cuma lagu cape aja' gumam Inara tak enak sebab respon Kalangga masih sangat lembut dengan sikap Inara yang cuek.


__ADS_2