
...Domba dan Anjing...
Adi menggigil kedinginan sejak jam terakhir pelajaran. Akibat sweater yang ia punya dibuang, sekujur tubuhnya merasakan angin masuk meresap hingga ke tulang. Ya salah siapa juga si....
Aldo menatap temannya yang menuju ke parkiran dengan khawatir
“nih, pake sweater gue.”
Aldo melepas sweater nya dan menyodorkannya di wajah Adi. Adi menatap benci sweater itu dan menyingkirkan tangan aldo dari wajahnya
“gak makasih!”
Aldo merasa hantinya tertusuk karena niat baiknya malah dibalas ketus oleh Adi
“mati aja kedinginan sono!”
ia berjalan meninggalkan Adi yang sudah kedinginan sedangkan Adi menatap dari kejauhan motor yang terparkir disana.
Nanta berjalan melompat kecil dengan permen dimulutnya dan melihat Adi. Ia melihat Adi yang bulu kuduknya berdiri semua dan sekalian berniat mengisengi nya
“NIH”
kata Nanta menyodorkan sweater Nya.
Adi menaikkan alis sebelah kanannya “Buat?”
“muka datar.” Balas Nanta enteng.
Adi berdecak kesal “iya buat apa?”
Nanta memperhatikan bulu kuduk Adi yang berdiri di bagian tangan dan menyentuhnya dengan jari telunjuk
“tuh, bulu kuduk lu berdiri semua!” Nanta menatap wajah Adi dengan tawa meledek
“anggep aja gue bales budi soal tadi. Ya sebenernya Cuma mau buang sweater gue sih! Ga usah dibalikin ya?” Nanta kemudian mengeluarkan sweater nya dari tas.
Adi menatap geli sweater itu. Bagaimana tidak? Sweater itu bagai bulu domba yang dikuliti! Sangat menggelikan melihat bulu-bulu kribo itu.
“Gak makasih!” adi buru-buru pergi setelah melihat sweater itu. Tidak mungkin ia memakai sweater seperti itu di sekolah kan? Bisa hancur harga dirinya!
Nanta mengejar Adi dengan berlari kecil “ga di pake gapapa! Tapi tolong bawa ini ke rumah lo. jangan sampe nih bulu keliatan lagi di bola mata gue”
Nanta memohon dengan teramat pada Adi kali ini. Ia sudah geli melihat sweater itu setiap hari tergantung di rumahnya.
Ia menatap sekilas motornya dan berpikir bahwa ia juga tidak mungkin naik motor tanpa jaket atau sweater. Ia malas menjadi pusat perhatian lagi.
BRUMMM.
Adi langsung ngacir setelah memakai sweater bulu domba yang Nanta berikan. Ia terpaksa memakainya! Nanta tertawa lepas melihat kejadian itu
“Dadaaaa Kakak Dombaaaaaaaa”
akhirnya, Nanta bisa bernafas lega karena tidak memakai dan melihat sweater itu lagi. Iapun berjalan pulang dengan lega dan senang.
...****************...
Seorang wanita berjalan ke arah Adi di dalam kegelapan. Adi menutup mulutnya sendiri agar suara napasnya tidak terdengar meski dari balik lemari
“saya tau kamu ada di dalam. Ayo keluar,Nak.”
Meski suara wanita itu sangat lembut tapi ia sudah memegang belati di tangannya. Ia bagai iblis yang akan menerkam Adi kapan saja! Adi hampir tak bisa bernapas dan akhirnya terbangun dari mimpinya dengan keringat dingin yang membanjiri tubuhnya.
Sekali lagi, malam adalah mimpi buruk bagi Adi. Tentang bayang-bayang masa lalunya dan mimpi yang tak pernah absen menghampirinya.
__ADS_1
Pagi harinya, ia berjalan dengan penuh pikiran melewati lorong sekolah. Hingga langkah kecil Nanta mengikuti Adi dan mengejutkannya
“hallo kakak domba!” sapa Nanta.
Adi terkejut, dengan wajah yang masih sama datarnya
“Apaan sih lo!”
raut wajah kesal Adi dibalas senyum hangat oleh Nanta
“bagus kan sweater Nya?” tanya Nanta
Adi tetap berjalan ke depan mengacuhkan Nanta yang sudah berusaha menempatkan wajahnya tepat di hadapan Adi
“jelek kaya lo.”
“idih gak ngaca! Lo aja jelek wlee domba bau!”
Nanta menjulurkan lidahnya sembari berlari kecil takut Adi akan menerkamnya. Adi tersenyum tipis, sangat tipis melihat Nanta yang selalu punya energi lebih padahal tubuhnya lemah. Hingga ia tak senagaja menabrak Aldo yang tiba dari arah sebaliknya.
Nanta gelagapan
“eh kak Aldo, pagi kak! Kok kakak dari arah kelasku? Kenapa?” tanya Nanta yang kemudian penasaran.
“mau ngomong sama kamu tadinya tapi aku buru-buru sekarang. Nanti temuin kakak pas istirahat ya? oke see u”
buru-buru Aldo pergi dan memberikan senyum hangat pada Adi. Tapi Adi menepisnya dengan tatapan sinis.
Nanta memegang dadanya dan merasakan detak jantungnya
“anjir jantungku jedag-jedug liat kak Aldo pagi-pagi!”
ulah dramatis Nanta kini buyar setelah Adi menyenggol bahu Nanta dengan sedikit kasar. Nanta memekik tajam
Nanta duduk sendiri di depan kelasnya sembari mengayunkan kaki menunggu bel istirahat berbunyi. Guru kelas Nanta sudah keluar 15 menit sebelum istirahat hingga Nanta nganggur di depan kelas menunggu Aldo yang belum juga keluar dari kelas.
Hingga Zara datang menuju kelas 12 MIPA 1 membawa setumpuk buku dari arah kantor. Terlalu berat, beberapa buku jatuh dari genggaman Zara tepat di samping Nanta.
“eh kak bukunya jatuh!”
Zara yang buru-buru kemudian mengajak Nanta masuk ke kelas 12 MIPA 1 dan menyuruhnya meletakkan sisa buku itu di meja.
Kelas 12 MIPA 1 yang sangat ribut kini sunyi setelah kedatangan nanta. mereka semua merapatkan bibir dan menahan perbincangan tentang rumor yang beredar. Tapi, tak ada yang berani meledek tentang Adi dan Nanta karena .....bahaya. kecuali Dika.
“makasih banyak ya Nanta!” kata zara mengucapkan terima kasih.
“iya kak sama-sama. Saya duluan ya kak!” Nanta berlalu meninggalkan kelas itu sampai satu suara membuat Langkah kaki nanta berhenti dan suasana kelas makin senyap.
“berhenti.”
Nanta mencari sumber suara yang sudah tidak asing ditelinganya. Benar saja, itu Adi. Nanta menatap Adi sambil berkacak pinggang ‘drama apalagi ini tuhan?’ batin Nanta.
“bagiin bukunya!” kata Adi tegas.
“apaan sih!” Nanta menyipitkan matanya lalu mengacuhkan Adi dan Mulai melangkah pergi lagi.
“saya bilang bagiin bukunya! Kamu ga denger ya?”
Adi kian meninggikan nada suaranya. Nanta yang sudah ingin menggiling Adi dan menjadikannya sosis.
“lo ga ada tangan ya? atau ga ada kaki?” Nanta yang kian tersungut emosi mulai beradu argumen dengan Adi.
Sedangkan Zara yang masih berdiri di dekat meja guru kian bingung dan takut mendengar keributan 2 pemeran utama cerita ini.
__ADS_1
“eh udah gapapa Di. Kan aku yang bawa buku ini”
Adi menatap sekilas Zara
“lo duduk ra. Biar dia yang bagi bukunya!”
tatapan tajamnya berhenti pada Nanta yang masih berdiri di depan kelas Adi. Nanta sudah mengepalkan tangannya kesal saat itu.
“apa liat-liat? Ayo bagi bukunya! Pemalas banget jadi cewe.”
Cih. Dikira cowok boleh gitu menjadi seorang pemalas?
Dengan wajah asam yang bagai jeruk nipis Nanta mengikuti alur permainan Adi. Tepat sekali, no absen Adi adalah no 1 dan bukunya terletak paling atas dalam tumpukkan buku itu.
Tanpa basa-basi, Nanta langsung melempar buku itu tepat di wajah Adi. Makin hening, semua mata menuju pada nanta dengan mata yang membulat kaget.
Adi menatap Nanta dengan tatapan datarnya. Ia masih santai dan malah melipat kedua tangannya di dada
“Ulang.” Kata Adi selanjutnya.
Buku Adi kini kembali ke tangan Nanta. dengan napas memburu ia kembali melemparkan buku Adi dan lagi-lagi buku itu mendarat tepat di wajah Adi.
“Ulang. Yang bener kasihnya!”
“ADI ANJING! MAJU LO SINI!” ia melempar kedua sepatunya yang tepat sasaran jatuh ke kepala Adi dan wajah paripurna nya.
Adi terkejut dengan Nanta yang mengatainya sadis karena ia kira Nanta akan menangis. Tidak sampai disitu saja, ia mengangkat kursi guru dan kembali melemparkannya pada Adi. Untung saja tidak kena, bisa lupa ingatan Adi nanti.
“LO PIKIR GUE MANUSIA YANG SABAR? DASAR DOMBA BAU ANJING! MAJU LO GUE BUKAN CEWE PENAKUT” Adi kalang kabut. Ia terkejut dengan sikap Nanta seiisi kelas pun ikut lari melihat Nanta yang sudah kesurupan barongsai itu.
...************...
Nanta dan Adi sudah berhadapan di ruang BK. Kali ini guru BK pun pusing
“jadi, Nanta melempar kursi ke Adi karena kesel disuruh-suruh?”
“SAYA DIKERJAIN PAK! BUKAN DISURUH!”
pekik Nanta yang tak terima dengan pertanyaan guru BK itu. Pak Sastro.
Adi duduk tanpa membuat ekspresi apapun. Entah apa yang ada di dalam pikiran Adi tapi yang ada di dalam pikiran Nanta adalah menyantet Adi!
“HUKUM DIA PAK! Setan kurang ajar. Bisa-bisanya saya gaada salah apa-apa dikerjain dan disuruh-suruh kaya babu”
ia mendesis menatap Adi dengan melotot
Pak sastro bingung apa ia harus menghukum Adi atau tidak. Secara, dia tau Adi bukan laki-laki yang kurang ajar atau tidak sopan. Tapi saksi kejadian kali ini banyak, Pak Sastro tidak bisa mengelak.
“maafan aja ya nak. Mungkin Adi lagi ada masalah jadi dia bersikap begitu.”
Perkataan pak Sastro kian menyulut emosi Nanta.
“what? Maaf?” ia tertawa terbahak-bahak membuat Adi ikut bingung.
“sujud dulu sama gue” Timpalnya dengan langsung mengubah ekspresinya menjadi datar.
Sebelum perang dunia ketiga terjadi, pak Sastro memutuskan untuk menghukum mereka berdua membersihkan gudang sekolah.
Lumayan juga pikirnya karena gudang itu sudah tak dijamah manusia selama lebih dari 2 tahun. Cukup untuk menghilangkan kebisingan yang Adi dan Nanta ciptakan di sekolah yang damai ini.
Kau belum mengerti arti sikap dari cemburuku, Nanta.
...@Yupi_yipiiie...
__ADS_1