Ketua Osis Dan Gadis Asma

Ketua Osis Dan Gadis Asma
FOKUS YANG BUYAR


__ADS_3

...FOKUS YANG BUYAR...


“tapi kayaknya dia gak suka sama gue.”


Aldo tertawa renyah mendengar hal itu. Ia tak mengira seorang ketua osis yang paling di idamkan hampir seluruh siswa di sekolah ini mengatakan hal itu.


“gws deh buat lo. lo juga harus rasain perjuangan gue dapetin Zara! Btw gimana keadaan bang Gio? Udah lama gue gak nyamperin dia. Lo udah terima dia ya?”


“Gue takut kalo dia balik lagi jadi anak buah papa. Cuma dia yang ada buat gue saat gue sulit dulu!”


...*********...


3 hari ini, Nanta penasaran tentang seberapa banyak duka yang di tanggung oleh Adi. setelah mendengar banyak cerita dari teman-teman nya, ia memutuskan untuk menjauh dari ketua OSIS sekolah nya itu. dia tidak ingin membuat Adi malah banyak berpikir.


Fero, Tya Dan Dea kini sudah berada di rumah Nanta. dengan dalih menjenguk padahal ingin menghabiskan isi kulkas rumah Nanta.


“kok kalian balik cepet?”


“tau tuh! Si OSISt mau rapat sampe malem katanya buat bahas perayaan kemerdekaan dan hari ulang tahun sekolah. Katanya elo ya yang ngusulin ide OSIS Itu?”


Jawab Tya sembari memakan Apel yang mereka bawa untuk Nanta tadi.


“iya! gue di kejar-kejar kakak OSIS gara-gara kejadian itu!” Nanta sebal.


Ia melempar bantal yang peluk ke sembarang arah namun tak sengaja mengenai Fero yang sedang asik bermain game ps yang ada di kamar Nanta.


“WOI! Santai dong.”


“sengaja.”


Nanta menjulurkan lidahnya


Sembari berkeliling melihat rumah Nanta untuk pertama kali, Dea mengingat kejadian 3 hari lalu yang belum sempat mereka ceritakan pada Nanta


“oh iya, Kak Adi nyariin lo btw 3 hari lalu. Lo ada masalah apa sama dia?”


Kini ketiga teman Nanta sudah menatap Nanta dengan tatapan penasaran


“ya gak tau! tapi gue bener-bener gak ngapa-ngapain dia kok.” Nanta kini terlihat berpikir


Tya yang curiga ada hubungan antara Adi dan Nanta menyipitkan matanya menatap teman nya yang sedang acak-acakan itu


“kalo sampe lo ada hubungan sama Adi, gue bakal interogasi lo sampe puyeng!”


“Adi? Ih serem anjir. Jangan brurusan sama dia deh! Gue bener-bener kesel masalah di perpustakaan waktu itu.”


Fero melempar stik PS Nya ke sembarang arah. Ia kini ikut menatap Nanta dengan tatapan tajam.


“kenapa? Gue suka kok Nanta sama Kak Adi pacaran! Lagian kan elu yang salah karena narik paksa Nanta!”


“idih! Tau dari mana lo?” pekik Fero tak terima.


“heh bujang! Di perpustakaan itu banyak saksi. Lo gak usah ngelak!”


kini Dea memberikan pernyataan yang membuat Fero menutup mulut nya rapat-rapat.


“pokoknya lo gak usah ada apa-apa lagi sama dia. Masalah selesai!”


Tya kini mengancam dengan nada yang tinggi pertanda ia serius akan ucapan nya.


Dea yang lelah berkeliling kamar Nanta duduk di bibir kasur


“lo sama kak Aldo gimana?”

__ADS_1


“cih. Siapa itu Aldo? Gak kenal gue.”


...***************...


Sudah pukul 8 malam dan teman-teman Nanta baru pulang pukul 4 sore. Mereka banyak mengobrol tentang kejadian yang nanta lewatkan saat tidak masuk sekolah. Kini ia sangat mengantuk dan badan nya masih agak demam juga cuaca malam ini hujan sangat pas untuk tidur cantik di kasur yang empuk.


“nonton TV dulu deh sebentar!” gumam Nanta yang kemudian membuka saluran tv nya.


Acara Tv Yang hanya berisi drama membuat nya bosan kini ia mengganti saluran ke berita dan terkejut dengan isi yang disampaikan oleh presenter berita.


“Pemirsa, CEO perusahaan meubel terbesar di dunia yaitu kholiq iskandar baru saja mengumumkan akan memberikan warisan nya kepada anak sulung nya yaitu Adi syazakir kholiq.


Nama yang terdengar asing karena pasal nya para petinggi perusahaan meubel lain mengetahui bahwa Kholiq hanya mempunyai seorang putri yang baru saja berusia 7 tahun dari pernikahan nya dengan seorang mantan sekretaris nya yaitu Syntia. Berita ini mendorong opini bahwa kholiq memiliki anak dari simpanan nya sebelum menikah dengan syntia. Akankah berita ini di konfirmasi sendiri oleh Kholiq? Sebagaimana kita tau dia tidak pernah muncul di layar kaca. Kita tunggu kabar selanjutnya”


Kaget. Hanya itu yang dirasakan oleh Nanta setelah mendengar hal itu karena tidak mungkin ada nama yang benar-benar persis sama seperti Adi apalagi wajah pria paruh baya itu benar-benar mirip dengan Adi.


Belum sempat Nanta mencerna semua ini, grup kelas dan grup angkatan sudah meributkan hal ini


‘jadi kak Adi anak haram?’


‘kok bisa dia jadi ketua OSIS? ’


‘anjai anak orang kaya dia!'


‘emang ibu nya kak Adi gak dinikahin?’


‘ngerusak citra sekolah gak si kalo dia anak orang berpengaruh? apalagi beritanya jadi gini.Pasti nanti banyak wartawan dateng ke sekolah kita’


‘suruh pindah aja lah sana ke sekolah elit! Bapaknya kan kaya!’


Diam. Nanta bingung harus berkata apa setelah membaca semua pesan itu


“kak Adi bukan anak haram. dia gak perlu diusir!”


tapi dengan asma nya itu sampai mana dia bisa berlari?


Benar kata Adi, Nanta tidak selemah itu. Dengan napas yang terengah dia terus berlari hingga akhirnya sampai di depan pintu gerbang tapi tangan mungilnya sudah tak mampu menggapai gerbang itu hingga ia terjatuh dan pingsan dalam tangisan semesta di malam itu.


Adi masih menatap layar ponsel nya di ruang OSIS dan terlihat berpikir. ia menatap jendela yang di di guyur air hujan lalu menghela napas nya panjang.


“nekat aja?” Tanya Adi pada diri sendiri


Adi menghidupkan mesin motornya dan melaju cepat ingin membuang rasa kesalnya di tengah hujan. namun setelah sampai tepat di depan gerbang sekolah, ia terkejut melihat tubuh seorang wanita yg pingsan.


“NANTA? KENAPA KAMU DISINI?”


setelah di cek, keterkejutan Adi menjadi berkali-kali lipat lebih banyak. kini kekesalan dan rasa gundah Adi di malam itu buyar karena Nanta.


Adi yang terakhir keluar ke Sekolah menemui Nanta di sana dengan tubuh yang sudah penuh dengan air hujan dan bibir yang sudah pucat pasi.


“Kak Adi...gak—pa –pa?” kini Nanta benar-benar sudah tidak sadar.


Adi yang panik langsung menggendong nya dan mendekapnya di pangkuan Adi. Di jalanan yang sudah dibasahi tangisan semesta Adi mengendarai motornya seperti orang gila.


‘Nanta...tolong jangan kenapa-kenapa’


Ia buru-buru memasukan motornya ke garasi dan langsung masuk begitu saja.


Tak di sangka bahwa Bi siti masih ada di rumah Adi karena terjebak hujan jadi dia menunggu hujan reda


“Bi, tolong gantiin baju Nya! Saya cari obat dulu.”


ia menidurkan Nanta di kasur nya lalu mencari kotak P3K di laci ruang tamu.

__ADS_1


Bi siti yang bingung terdiam sejenak menatap Nanta


“Kasurnya jadi basah gapapa nak?”


“GAK PENTING BI! DIA LEBIH PENTING DARI APAPUN SEKARANG!.”


Adi panik. Membuat Bi siti lebih panik! Ia membuka kotak P3K dan menemukan paracetamol.


“Bibi Ada baju yang ketinggalan?”


“waduh gak ada... adanya pakaian dalem den”


Canggung tapi apalah penting canggung itu ketimbang Nanta saat ini.


“ambil kaos saya di lemari. Ada celana jogger panjang juga dan pakein baju dalem nya Bi. Saya mau siapin air hangat”


Ayah adi tidak memperkerjakan orang biasa. Ia hanya menerima orang ber-skill tinggi begitupun dengan bi siti. Dengan gesit ia mengganti pakaian Nanta bahkan spray nya ia ganti tepat sebelum Adi membuka pintu kamar Nya.


“udah bi?”


“udah Nak. Bibi bikinin teh panas dulu ya.....”


“iya bi makasih banyak!"


Adi memegang dahi Nanta dan tebakannya benar bahwa Nanta demam tinggi. Suhu nya mencapai 38.5 derajat setelah ia mengecek dengan alat pengukur suhu.


Adi mulai mengompres Nanta dengan hati-hati sembari menunggu teh panas yang dibuatkan Bi siti.


“kenapa kamu nerobos hujan? Hmm?”


Setelah khawatir nya mereda karena mengompres Nanta, Adi menyadari tubuh nya pun basah kuyup. Sepatu yang ia pakai bahkan belum di lepas dan jaket yang ikut membasahi tubuh Adi belum terbuka sama sekali.


Ia memijat kepala nya pelan mencoba mencerna apa yang terjadi hari ini. Hari yang begitu melelahkan baginya. Lamunan Adi kini buyar oleh kedatangan Bi siti yang membawa teh panas untuknya.


“den, ini teh panas nya! Den Adi ganti baju dulu abis itu makan sup udah bibi buatin”


Bi siti meletakkan teh panas itu di meja samping kasur Adi sembari menilik Nanta sekilas. Rasa penasaran bi siti belum bisa ia utarakan hari ini.


“iya bi. Makasih banyak!”


“ganti baju dulu den. Nanti kamu bisa kena demam!”


Tersadar tubuh nya sudah menggigil kedinginan, Adi pun bergegas ganti pakaian dan kembali duduk di bibir kasur seraya mengompres Nanta.


Bi siti masih menunggu di kamar Adi dan duduk di sofa. Ia memperhatikan wajah khawatir Adi pada Nanta setelah Adi buru-buru mengganti baju nya


“kamu gak papa Nak?”


“dia yang sakit bi. Aku gak kenapa-kenapa.”


Balas Adi tanpa mengalihkan pandangan Nya pada Nanta.


“Papa belum telpon kamu?”


Deg.


Ia tak mengira Bi siti akan membicarakan ayahnya. Sebegitu benci Nya Adi hingga masalah yang baru beberapa jam lalu terjadi tidak terpikirkan olehnya


Ia menatap Bi siti dengan sendu


“aku gak mau berurusan lagi sama Papa Bi...... aku cape.”


...@yupi_yipiiie/@yupipoem...

__ADS_1


__ADS_2