
...MISTERI...
Bi Siti buru-buru menyembunyikan kartu ATM tadi setelah sampai rumahnya.
Ia mengelus dadanya pelan “syukurlah dia ga ketemu dengan ayahnya”
Nanta bangun dengan rambut yang sudah seperti reog. Kepalanya ada diujung kasur tempat seharusnya kaki yang ada disana. Jangan tanya wajahnya seperti apa, dia benar-benar gembel.
Nanta buru-buru Mandi dan melihat kakinya mash memar. Dia kesal, padahal sudah ia beri salep mahal kemarin dan semalam tapi belum sembuh juga.
“kayaknya aku harus beli salep baru lagi deh.”
Ia kemudian memakai handuknya dan sudah berdiri di depan cermin kamar mandi untuk memakai skincare rutinnya. Ia kembali berkaca, mengoreksi ujung kepala sampai ujung kakinya dengan seksama
“sip, sudah sempurna. Ayo nanta kita berangkat!!!” katanya sembari menepuk bahunya.
Ia menuruni anak tangga dengan semangat dan makan nasi goreng. Ia paling anti makan roti pagi-pagi karena sama sekali tidak mengganjal laparnya.
Nanta mencium tangan ayah dan bundanya “bunda, ayah nanta berangkat ya assalamualaikum!”
ia buru-buru pergi meski jam baru menunjukkan pukul 6.30. biasanya ia selalu berangkat naik sepeda saat SMP karena jarak dari rumah ke sekolahnya lumayan jauh. Bisa-bisa patah kaki Nanta jika ia harus paksakan berjalan. Dia sekarang naik gocar untuk ke sekolah. Memang agak abstrak dan pasti membuang uang banyak tapi karena hari ini agak spesial jadi ia memaksakan untuk naik Gocar.
Ia memasuki gerbang sekolahnya dan mencium aroma dan suasana yang membuatnya sedikit tidak nyaman. Tapi ia tetap melangkah mencari kelasnya X MIPA 3.
Entah kelas itu ghaib atau gimana tapi nanta benar-benar pusing dengan struktur kelas yang acakadul begitu.
“ini kelas gue manasi! Apa tanya aja? tapi mau ga kenal anak-anak sini mana circle-an semua lagi kayaknya” ia menatap orang-orang yang lalu lalang berjalan bergandengan dan berjalan berdampingan dengan teman mereka.
Hingga sosok bertubuh tinggi yang tidak asing mengalihkan pandangannya
“eh, Kak adi! Pagi kak mau tanya dong kel---” belum sempat nanta menyelesaikan perkataannya adi sudah melengos melewati Nanta seolah tidak saling kenal.
“WOI!” pekik nanta membuat Adi berbalik dengan wajah sehari-harinya.
“saya bilang jangan sok kenal!” balas Adi.
“saya saya kaya ngomong sama anggota DPR aja lu! Gue Cuma mau nanya!”
“gaada waktu” balas Adi yang kemudian langsung berlalu pergi.
Amarahnya mereda setelah sesaat kemudian melihat malaikat ganteng yaitu Aldo
“Kak Aldo!!!” senyum sumringah Nanta akhirnya muncul. Syukurlah pagi ini ia merasakan sosok yang benar-benar tidak asing.
Aldo akhirnya sampai pada Nanta
“pagi Nanta! Kenapa?”
sapa nya dengan senyum hangat dan ramah yang memberikan kedamaian hati nanta.
“Mau nyari kelasku kak! Kelas X MIPA 3. Dimana kak?” balas Nanta bertanya
“oh kelas mu? Kelas istimewa ternyata ya. cari aja kelas XII MIPA 1 nah disampingnya ada ruangan. Pintunya memang agak.... kecil tapi ruangannya luas kok! Tuh kebetulan ada adi! Ikutin dia aja” kata aldo menunjuk Adi yang semakin berjalan menjauh itu.
“ck! Kok si Adi si yang kelasnya deket kelasku? Kakak kelasnya dimana?”
“kelas kakak XII MIPA 2. Beda arah sama kelas mu. Emang kenapa kalo deket dia? Toh dia ga bikin masalah lagi kan? Lagian aku udah minta maaf juga kemarin.”
“ya gapapa si. Dia juga udah minta maaf kok kak!” seru Nanta
__ADS_1
“HAH?”
“btw kak, kak Adi Nya ilang saya pamit dulu bye kak terima kasih” tutur Nanta yang kalang kabut berlari mengejar adi yang sudah hilang dari pandangannya.
“eh tunggu, itu kamu ngapain bawa gituan ke seko--” terlambat. Nanta sudah ikut lenyap dari pandangan aldo karena mengikuti Adi.
“YES! Ketemu sama si muka datar.” Bisik Nanta pada diri sendiri pelan. Ia mengikuti langkah Adi dengan hati-hati hingga satu kata yang keluar dari mulut adi membuat jantungnya goyang dumang.
“Ngapain?
“AYAM!”
Adi menatap tajam Nanta dengan tatapan yang lagi-lagi bisa membunuh jiwa siapapun yang melihatnya. Ia meneliti tubuh Nanta dari ujung kepala hingga ujung kaki.
“ngapain ngikutin saya dan ngapain bawa cangkul ke sekolah?” tanya Adi dengan ketus dan tidak ramah.
“kan kemarin lo suruh gue bawa cangkul!” Nanta mengernyitkan dahinya membuat Adi semakin menatap jengah manusia yang ada di depannya.
“kamu ini bodoh atau ga punya otak sebenernya? Ga penting benda itu sekarang dan jangan ngikutin saya! Risih tau ga!!!”
kalimat Adi membuat Nanta kesal. Ia menggenggam kuat cangkul di tangannya dan berusaha tidak melemparnya.
“lo sendiri yang marah-marah karena gue kelupaan!lagian gue Cuma mau ke kelas! Jangan kepedean deh lo!” balas Nanta tak terima
“ya udah sana duluan, ladies first!” Adi menyingkir memberi jalan pada Nanta. Nanta yang memang dari awal tidak tau kelasnya pun kicep. Ini kalo gue lanjutin jalan gue bisa diketawain habis-habisan! Mau minta tolong tapi harga diriku pasti akan terluka. Ya allah rasanya ingin menyublim aja!
“heh? Kok bengong? JALAN!” suara Adi yang berat menyadarkan Nanta hingga dengan langkah ragu pun ia tetap mencoba berjalan memimpin.
Adi mengikuti Nanta di belakang dengan angkuh sembari melipat kedua tangannya ke dada. Ia ingin tau kemana gadis ini bisa terus melangkah. Nanta menyerah setelah ribuan kali isi pikirannya saling beradu. Mengalah saja daripada ditertawakan muka datar itu.
“anu kak jadi kan saya masih adik kelas jadi masih dalam proses adaptasi jadi tolong pimpin saya sebagai ketua OSIS yang baik”
“gila.”
Nanta mematung membiarkan Adi berjalan duluan “adi anj*ng” katanya dengan suara yang lantang. Adi terus berjalan meski mendengar makian itu. Ia masuk ke kelasnya dengan acuh.
Tya, Fero dan Nanta menatap pintu kelasnya yang reot, kecil dan penuh debu. Berbeda dengan kelas lainnya
“dari puluhan kelas disini kenapa Mipa 3 paling dianaktirikan ya?” Fero membuka keheningan diantara mereka.
Upacara bendera pertama untuk siswa-siswi kelas 10 SMAN 2 ADMADJA berjalan lancar hanya saja nanta merasa aneh karena hampir seluruh populasi anggota PMR berdiri sigap dibelakang barisan Nanta.
Tya masuk ke kelas dengan berdecak kesal kelelahan. Dia tiba-tiba teringat saat melihat Nanta dan Adi berjalan di koridor
“lo ada hubungan gelap apa dengan kak Adi?” tanya Tya dramatis.
“Adi? Adi si ketos? Nanta? Hubungan? HAHAHAHAHA KETAWA BANGET GUE”
sahut Fero meledek. Nanta menyipitkan kedua matanya keheranan mendengar pertanyaan Tya yang absurd di telinganya
“apaan dah? Ga usah bahas manusia ga punya hati itu. Gue eneg!!” balas Nanta sembari duduk di kursinya.
“Jangan berurusan sama dia ya. Dia bener-bener cowok yang ga punya hati tau ga! Kalo lo berhubungan sama dia ga bakal gue restuin!!!!” kata Tya mengancam.
“ga akan pernah, jangan khawatir. Kalo sampe aku ada hubungan sama dia lu bisa pukul gue sepuasnya pake balok kayu!!!” balas Nanta yakin
Tya menatap Nanta geli. Ia duduk di bangku tengah bersama Fero dan Nanta dengan bangku kosongnya. Tya menatap bangku yang masih kosong itu
“temen sebangku lo anak pinter tuh Nat!” katanya menaikkan alis
__ADS_1
“namanya sama kaya elo!!” sahut Fero yang sedang asik memainkan ponselnya.
“Nanta?” tanya Nanta keheranan.
“namanya Dea Ananta tapi tenang aja dia di panggil Dea kok sehari-harinya. Ngomong-ngomong katanya dia juga anak orang kaya!! Keren kan?” kini Fero mengabaikan ponselnya dan bersemangat dengan apa yang telah ia katakan.
Tya meninju pelan kepala Fero hingga sedikit terhuyung
“dasar mata duitan.”
Hari ini jam kosong. Guru mungkin belum memberikan materi karena dirasa masih suasana adaptasi. Tya, Fero dan Nanta sudah berkeliaran diluar sekolah. Mereka mengelilingi lingkungan sekolah yang terasa asing dan baru. Mereka bertiga duduk di pinggir pagar lantai dua menatap orang yang lalu-lalang berjalan.
Zara, wanita yang Tya pikirkan dari kemarin terlihat duduk di pinggir lapangan sekolah. Pemandangan itu sedikit menganggu Nanta dan mengusik rasa penasarannya.
“itu kak Zara kan? Yang kemaren di UKS?” tanya Nanta membuka percakapan.
“benar. Dia adalah princess nya sekolah ini. Pinter, cantik, kaya dan ramah! Ditambah dia dikelilingi 2 cowok paling populer disini yaitu Adi dan Aldo. Keren kan?”balas Fero menjelaskan.
“katanya Kak Adi sama Kak zara itu pacaran ya?” Tya yang ikut penasaran bertanya.
Fero menepuk bahu Tya dan berdiri “itu adalah misteri yang ada di sekolah ini. Ga ada yang tau dia pacaran sama kak Adi atau Aldo tapi kalo salah satu diantara mereka ada yang publish hubungannya sama kak Zara, satu sekolah ga akan kaget!” lanjut Fero dramatis.
Kini raut wajah Tya dan Nanta semakin memiliki beragam tanya
“misteri? Emang ada berapa banyak misteri di sekolah ini?” Tya kembali bertanya.
Fero kembali duduk diantara kedua temannya itu dan menatap Tya dan Nanta bergantian dengan tatapan aneh
“kalian pasti ga tau kan gosip-gosip membara di sekolah ini? Oke dengerin dan pasang telinga baik-baik. Misteri no 1 dan paling ga bisa di tebak itu kehidupan pribadi Kak Adi. Satu sekolah udah nyoba telusuri bergama informasi dan bahkan Kak Zara aja ga tau!!”
Lagi, tatapan aneh Nanta pada Fero kian tak bisa dikendalikan
“eh monyet, mana ada sepucuk manusia di dunia ini yang bener-bener tau masalah manusia lain. Lo terlalu kepo tau ga sama hal yang berbau privasi gini”
“bener, apa hubungannya misteri sekolah sama kehidupan pribadi tuh cowok” balas Tya membela.
“ck. Ga gitu! Setiap semester, dari kelas 4 SD orang tua kak Adi ga pernah keliatan!! Dan hebatnya dia punya banyak uang padahal gaada kerja sampingan! Rumornya sih bapaknya pengedar tapi kurang tau juga”
Nanta memukul pelan bahu Fero dan gelagapan melihat kondisi sekitar
“hus!!!! Kalo ada yang denger gimana? Jaga omongan lu anjir”
“halah, lagian lo juga biasanya ghibah dengan mode super power. Gaya-gayaan amat jaga omongan.” Sahut Fero meremehkan
“kalo emang ayahnya itu beneran pengedar toh ga ada hubungannya juga sama muka datar. Dia sampe di titik ini juga bukan karena siapapun kok. Dia ganteng, populer, keren dan mungkin aja orang tuanya kaya beneran!! Lagian kalo ada desas-desus kaya gini ga mungkin bakalan berjalan sampe hampir 6 tahun! Masa dari SMP polisi ga bisa cari bukti? Dan satu lagi, ini bukan salah dia kalo beneran ayahnya pengedar!!!” Nanta menjelaskan panjang kali lebar pada Tya dan Fero membuat mereka bergidik ngeri dengan apa yang baru saja dikatakan temannya itu.
Kringgggg
Bel berbunyi tanda istirahat, 3 serangkai itu buru-buru pergi ke kantin dengan terburu-buru mengisi perut yang lapar.
“Adi? Ngapain bengong disini?” Sapa teman sekelas Adi. Adi sudah berada di dekat tempat Nanta duduk dari tadi. Niat hati ingin lewat menuju kelas tapi hati Adi sepertinya tersangkut.
“Gapapa” balas Adi yang kemudian berlalu pergi menuju kelasnya.
“aku mimpi? Kenapa dia senyum? Kesurupan?”
“nanti lo semua anak PMR berdiri di belakang kelas X MIPA 3! JANGAN LUPA.”
...@yupi_yipiiie...
__ADS_1