
...TERLAMBAT...
“BUNDAAAAA, DIMANA KAOS KAKI NANTA?”
hari ini Nanta bangun terlambat dan membuat seisi rumah terganggu sejak tadi. Ia menjerit mencari perlengkapan sekolahnya dengan memanggil ibunya.
Ibu Nanta datang membawakan kaos kaki Nanta dengan ikut terburu-buru dan sedikit khawatir melihat anaknya kelabakan
“kamu ini, bikin seisi rumah repot! Makanya jangan tidur malem-malem. Gini kan akhirnya!” kuping nanta merah setelah jemari ibunya yang lentik memelintirnya
Ia menggosok telinga nya pelan dengan masih sibuk memakai kaos kakinya
“aduh bunda!sakit tau. lagian Nanta juga baru kali ini terlambat jadi ga usah nyalahin begadang.”
Ia kemudian beranjak dan merapikan seragamnya yang sedikit kusut lalu pamit.
Ia naik ojek di depan pangkalan yang hari ini sudah terlihat mangkal karena sudah siang. Ia sampai di depan sekolah dan celingukan mencari satpam.
“HALO? ADA ORANG GA? ENGGA YA? OKE MAKASIH!”
Dengan kedua tangannya itu ia mencoba membuka pintu gerbang hingga sampai menggoyangkan nya kuat tapi nihil. Gerbang sekolah sudah tertutup rapat untuknya. Bola mata nanta berkeliling melihat sekitar, hingga menemukan tembok yang terkikis oleh air hujan dan angin sehingga terlihat lebih rendah. Tanpa banyak pikir,ia langsung naik dan memanjat tembok itu.
Usaha keras Nanta akhirnya berhasil. Ia sudah sampai puncak dan meluncur ke bawah.
BRUK
Tubuh Nanta mendarat sempurna. Ia lalu membersihkan tubuhnya dari pasir yang menempel. Matahari yang menyinari Nanta tiba-tiba menjadi gelap. Bayangan tinggi besar muncul membuat Nanta refleks menatap sosok yang ada di depannya.
SIAL.
Ketua OSIS nya itu sudah siap membuatnya kerja rodi hari ini. Tatapan datar itu kini semakin seram jika dilihat lebih dekat. Tangan Adi yang sudah terlipat di dadanya sendiri siap mengeksekusi Nanta.
“ikut Saya.”
Kata Adi memimpin jalan.
Dengan langkah kecilnya,Nanta mengikuti Adi dengan buru-buru dan berusaha memberi 1001 alasan agar lepas dari hukuman
“kak tau ga? Hari ini gue eh saya mencoba menjadi jejak si gundul yang melewati berbagai rintangan. Jadi saya agak terlambat kak hehe”
entah alasan ngawur apalagi yang Nanta buat tapi alasan itu tak bisa menghentikan langkah sigap Adi.
Sembari jalan menuju BK, Adi berfikir hukuman apa yang bisa ia berikan pada gadis lemah ini? Tidak mungkin jika ia memberikan hukuman hormat tiang bendera, yang ada mati kepanasan. Atau lari? Mustahil.
Adi menghentikan langkahnya membuat Nanta yang sedang berkicau memberi alasan ikut terdiam. “tulisanmu bagus?” tanya Adi tiba-tiba.
Alis Nanta berkerut menatap Adi yang menaikkan kedua alisnya
“hah?”
“jadi asisten saya sehari.”
...**************...
Tas nanta terbanting di mejanya membuat Fero, Dea dan Tya terkejut bukan main “Adi bangs*t” makinya.
“lo kenapa? Abis ngapain lo sampe bisa telat gini? Marah-marah pula” tanya Fero keheranan.
__ADS_1
“gue dihukum kak Adi! Awas aja kalo ada kesempatan gue geprek kepalanya!” gerutu Nanta mengepalkan tangannya
Tya yang sedang memainkan handphonenya mengalihkan fokus menatap Nanta
“di hukum suruh ngapain lo emang?"
“suruh jadi asistennya.”
Mata Fero dan Tya membulat sempurna menatap temannya itu.
“lo bakal disuruh ngikutin kak Adi seharian?”
Nanta menjatuhkan tubuhnya di kursi dan menghela nafas
“kayaknya iya, gue bakal ikutin dia yang sibuk sehari—harinya. Mati gue!!”
ia menutup wajahnya frustasi dengan kedua tangannya.
“tapi bersyukur aja sih lo ga disuruh hormat tiang bendera. Kak adi lumayan peduli ternya-----ta.”
Sahut Fero kaget dengan ucapannya sendiri
“gila, kak Adi kok bisa peduli sama lo?”
“anjir gue baru sadar, biasanya sampe kita kejang-kejang kalo dihukum pun ga akan di gubris sama dia! Ini bener-bener gila.” Balas Tya yang juga kaget.
Hingga sesaat sebelum Nanta membalas perkataan kedua temannya, Suara ketukan pintu terdengar
tok tok tok
satu suara pria itu mampu mengheningkan suara kelas Nanta
Nanta memakinya dalam hati kemudian mengikuti langkah pria itu dengan malas.
“kak Adi ga takut digosipin sama siswa di sekolah ini apa?”
kata nanta bertanya dengan antusias. Tapi Adi tetap diam tak membalasnya dan tetap berjalan sigap memimpin.
“ih, kaya robot rusak! Di tanyain diem aja. btw kak muka datar pasti sibuk ya? nanti jangan lama-lama ya kak hukumnya karena saya gampang capek!”
lagi, cicitan Nanta tak dibalas oleh Adi. Kini mereka sampai di ruang OSIS. Hari ini jadwal Adi rapat bersama anggota OSIS lainnya membahas kegiatan sekolah selanjutnya dan membahas kepengurusan selanjutnya.
Nanta yang ikut masuk ke ruang OSIS itu terlihat menyita pemandangan anggota OSIS lain sehingga ia menjadi pusat perhatian dengan wajah tanya dan bingung.
Adi duduk di kursinya dan membuka laptop miliknya
“kita mulai rapatnya.” Kata Adi memulai percakapan.
Ia tidak menjawab keingintahuan anggota OSIS di sana dan anggota OSIS itu pun tak berani bertanya.
Nanta berdiri tepat di belakang Adi dengan bosan. Ia melihat betapa kompetennya pria ini dalam menjalankan tanggung jawabnya.
“jadi untuk kegiatan selanjutnya kita bakal adain pentas seni menyambut hari kemerdekaan?”
kata adi mengulang kembali usulan yang diberikan oleh salah satu anggota OSIS.
“benar. kita juga akan mengadakannya dengan tema tradisional yang berbaur dengan tema modern. Tentu saja ini akan cocok untuk generasi sekarang demi membangun semangat persatuan. ”
__ADS_1
katanya memberi penjelasan.
Adi melipat tangannya membuat semua anggota OSIS tertegun. Mereka tau ada yang tidak beres jika Adi bertingkah seperti itu.
“ide yang briliant tapi sayangnya hari kemerdekaan dekat dengan hari jadi sekolah kita. Tidakkah itu akan menghabiskan banyak anggaran dan tenaga jika kita melakukan acara 2 kali di waktu yang berdekatan?”
kata Adi berargumen.
“tapi biasanya sekolah ini memang mengadakan acara 2 kali pada bulan yang sama yaitu tanggal 17 agustus dan 21 agustus.”
Kata sekretaris OSIS membalas argumen Adi.
Adi menghela napasnya mendengar ucapan itu
“apa kita akan terus ikutin kebiasaan? Bukankah seharusnya kita bisa menciptakan kebiasaan baru yang lebih baik? Pentas seni saja bisa di upgrade demi kepentingan persatuan siswa-siswi jadi kenapa kebiasaan ini tidak bisa?"
Sial. Kini semua anggota OSIS menutup mulutnya rapat-rapat dan tak ada yang berani bicara. Nanta yang terlihat berpikir dari tadi tak sengaja mengeluarkan idenya
“adain aja 4 hari berturut-turut!”
celetuknya membuat pandangan mata kembali menatapnya.
“tolong jangan ikut campur ya dik. Ini urusan osis” kata Nita, salah satu anggota osis. Dia hanya takut Nanta akan di semprot oleh Adi yang buas itu.
“jelasin!” kata adi penasaran.
“ah,ga pa-pa kak tadi asal sebut.” Kata nanta yang malah panik mendengar ketegasan laki-laki itu.
“tanggung jawab sama apa yang udah kamu ucapin.”
Kata Adi semakin membuat nanta bergidik ngeri.
“menurut saya, adain aja bazar kalo emang anggaran dari sekolah kurang! Di samping kan ada lapangan kosong yang rame sama tempat tinggal penduduk jadi adain aja bazar di sana selama 4 hari. Tengah lapangan kosongin aja! buat lomba masyarakat setempat dan siswa-siswi disini dan yang nonton bisa beli sesuatu dari bazar itu. Di tanggal 20, osis bisa nyiapin pentas seni dari uang anggaran sekolah dan 50% dari uang bazar per-kelas!”
Adi terlihat berpikir dengan merenung kali ini. Artinya pertanda baik
“kenapa kita harus berbaur sama masyarakat?” lanjut adi bertanya
“semangat 45 masa harus siswa-siswi doang? bundaku yang ibu rumah tangga ga pernah ikut upacara lagi semenjak menikah! Ayahku juga! Jadi dengan kita adain acara gini mungkin semangat persatuan menyebar rata!”
lanjut Nanta memberi penjelasan.
Tersadar ucapannya terlalu panjang Nanta langsung canggung dan meminta maaf
“Maaf maaf saya terlalu ikut campur ya? lanjutin aja rapatnya saya bakal diem aja”
“bagus.” Sahut Adi langsung.
“Nanta, kenapa ga daftar jadi anggota osis? Kamu punya semangat yang keren!”
“aku kak?” kata nanta menunjuk dirinya sendiri.
“saya suka ide pacarmu ini Di! Ayo lakuin!”
“BUKAN PACAR!” jawab Adi dan Nanta bersamaan.
...@Yupi_yipiiie...
__ADS_1