
...PENGUSIK...
Fero bergegas menemui guru piket untuk izin pergi mengambil buku tulis dan buku LKS Nya yang tertinggal di rumah. untung saja hari ini pak Mirwa baik. Guru bahasa inggrisnya itu akan Fero sembah setelah ia kembali ke sekolah lagi.
Pak Mirwa sedang mengoreksi jawaban dengan kacamata bulat seperti bola pingpong Nya
“Nanta? Maju sini!” kata pak Mirwa memanggil Nanta yang sedang asik bercanda dengan Tya.
“Nanta yang mana pak?” sahut Dea ananta yang juga beberapa kali di panggil Nanta oleh guru-guru yang masuk.
“Ananta Fairuz. Sini maju!” lanjut pak Mirwa. Nanta langsung berdiri setelah ternyata ia mengetahui namanya yang pak Mirwa maksud tadi.
“kenapa pak?"
Tanpa basa-basi pak Mirwa langsung menunjuk tulisan Nanta
“yang ini salah. Tolong kamu tulis ulang lagi ceritanya!”
kata pak Mirwa tanpa dosa. Nanta menganga lebar mendengar hal itu. 2 lembar full dengan Susah payah ia tulis dan kerjakan ini harus ia ulang karena salah penulisan. Yang harusnya eat menjadi aet.
“masa salah satu doang suruh ulang sih pak?” protes Nanta yang tak terima.
“lho? Kamu nantang bapak atau gimana? Selama bapak mengajar ga boleh ada salah setitik tinta pun. Ngerti kamu?” Pak mirwa meninggalkan Nanta yang masih berdiri di depan kelas dengan kesal.
Ia mengepalkan tangannya kuat sembari memekik
“ALIF BA’ TA’ PAK MIRWA BOTAK!!!”
Seisi kelas tertawa mendengar ulah Nanta itu. Pak Mirwa langsung berbalik menghampiri Nanta. Ia ikut kesal setelah ditertawakan seisi kelas
“KURANG AJAR KAMU! IKUT SAYA KE BK. DASAR GA TAU SOPAN SANTUN”
Jangan tanya apa-apa lagi sekarang. Nanta sudah Mual mendengar siraman rohani pak Mirwa yang hanya memakan waktu 30 menit tapi serasa tenaganya hari itu terserap habis.
Guru BK lainnya pun ikut memberi nasihat pada Nanta hingga akhirnya ia diberikan 30 point'' atas kesalahannya.
Nanta kembali ke kelas dengan wajah kusam tapi puas. Enak saja pak mirwa bisa semena-mena padanya,pikirnya.
“Nanta keren banget! Terima kasih telah mewakili batin ku yang tersiksa karena tadi disuruh ulang juga!!!” suara teman sekelas Nanta, Caca menyambutnya dengan sumringah.
“hallo anak badung!!” sapa Tya dengan menyikut lengan Nanta lalu merangkulnya.
“gue puas udah teriak hari ini. Ayo makan gue laper!!”
Sial. Waktu siraman rohani itu merenggut semua bangku yang ada di kantin. Nanta benar-benar kembali kesal rasanya. Nanta, Dea, Fero dan Caca seperti orang dungu yang celingukan memegang nampan mencari tempat duduk. Sial diujung sana hanya tersisa 3 bangku dan Nanta kini tersingkirkan.
“aduh Nanta ga kebagian! Sebentar ya Nanta aku makannya cepet kok!”
balas Caca yang tidak enak tapi ia pun butuh kursi itu. Nanta tak membalas Caca. Ia celingukan mencari kursi kosong dan menemukan Adi baru duduk di kursinya sendirian. Ia bergegas menghampirinya dan duduk berhadapan dengan Adi.
Setelah Nanta tepat duduk di sana, seisi kantin hening. Sangat hening. Bahkan suara detak jantung mereka yang saling bersaut-sautan pun terdengar.
Bukan masalah Adi adalah ketua OSIS hingga menjauh dari murid biasa atau memikirkan Zara yang memiliki desas-desus dekat dengannya tapi semua manusia di sekolah ini tau Adi selalu makan sendirian di pojok dekat jendela kantin.
__ADS_1
Mereka pun ingat dan tau betul bagaimana pernah ada kejadian tidak mengenakan hanya gara-gara duduk bersama Adi saat makan.
Adi menatap tajam Nanta tapi kali ini Nanta benar-benar menganggap bahwa Adi adalah makhluk tak kasat mata. Ia hanya ingin makan tenang setelah diberi siraman rohani oleh pak Mirwa tadi.
“ngapain disini? Jangan sok akrab sama saya” tegas Adi dengan nada suara yang cukup tinggi.
“apakah aku terlihat menyapa dirimu? Atau menggoda iman mu? Pura-pura ga liat gue aja. gue Cuma mau makan karena bener-bener laper banget! Jadi plis ya muka datar,diem.” Kini gertakan Nanta membuat Adi sedikit tertegun.
Nyatanya memang benar gadis ini tidak mengganggunya dan nanta terlihat kelaparan. Sebagai imbalan telah tidak curiga padanya soal kehidupan pribadinya, adi membiarkan Nanta hari ini.
Nanta mengeluarkan handphone nya, ia membuka YouTube dan mencari kartun favoritnya yaitu pororo. Nanta mulai makan dengan lahap dan tenang sementara seisi kantin sedang tegang bukan main melihat kejadian ini.
Karena terlalu berisik, Adi celingukan mencari kursi kosong tapi tidak ada satupun yang tersisa apalagi kursi yang ia duduki memang sudah menjadi miliknya. Soal reaksi teman Nanta tadi, jangan ditanya. Mereka bahkan tak berani membuka mulut kala itu.
Terpaksa, ia harus makan bersama manusia pengusik ini.
Makin aneh saja tatapan bahkan dugaan orang-orang tentangnya.
Ada apa ini? Mereka ada hubungan apa? Bagaimana bisa dekat? Mereka pacaran?
Adi terganggu dengan suara tawa dan video yang saling membaur itu. Tapi, ia merasa sedikit hangat mengetahui ada sosok disampingnya.
“bisa ga kalo makan itu diem?” kata adi yang jengah dari tadi.
Nanta bingung “lu nyuruh gue makan atau diem sebenernya?”
“bodoh. Bukan itu maksud saya! Bisa ga kalo makan itu tenang? Ga liat kesana-kemari dan fokus aja?”
perkataan adi sungguh membuat otak Nanta merasa terpencil.
Ia mengalihkan pandangannya dan menatap Adi
“lo kalo makan ga liat apa-apa? Ga ngobrol?”
“GAK!” balas Adi ketus.
“Hidup lo ga ada hal yang seru pasti!”
Setelah percakapan kecil itu, hanya ada suara video dan tawa kecil yang terdengar. Nanta sadar pria itu sedikit terusik karena tawanya hingga akhirnya ia mengecilkan volume tawanya dan suara video itu terdengar jelas.
Adi hanya diam mendengarkan pekikikan gadis itu, ia merasa sedikit aneh awalnya tapu ternyata makan sendirian itu bukan hal yang menyenangkan. Ia sadar ia tak pernah benar-benar menikmati makanannya karena terbiasa dengan kesendirian itu.
Tak sadar sudut bibirnya sedikit terangkat hingga perhatin Adi teralihkan oleh pergelangan tangan Nanta yang memar.
“kenapa tangan mu?”
Nanta mengecek lengannya sendiri dan tak sadar lebam kemarin tak hanya menempel biru dikakinya.
“loh? Ada disini juga? Sialan!” makinya pada lebam tak berdosa itu.
Dasar sembrono. Lebam segede gitu masa ga liat?
“harus beli obat lebam lagi nih!” ujar Nanta yang masih menatapi lebam di tangannya.
__ADS_1
Adi terkekeh pelan mendengar itu.
Sejujurnya, tak ada yang pernah melihat Adi tertawa selebar itu selama sekolah disini.
“lebam ngapain di kasih obat? Buang-buang uang!”
Nanta kian bingung dengan apa yang baru dikatakan Adi
“lah? Gimana si?”
“pake air hangat. Di kompres setiap malem! Gitu aja Ga tau.”
“gue bukan orang yang tau segalanya tapi seenggaknya gue masih punya hati nurani! Gak kaya elo. Muka datar!”
Adi kemudian menggeryap sadar. Ia tersadar sesaat setelah tertawa oleh orang yang menganggu hidupnya.
“terserah.”
Di sebrang sana, ada yang ragu membuka mulutnya memanggil Nanta dan bertengkar kecil berebutan
“N—nan.....taa” lirih Dea pelan.
Nanta langsung mencari sumber suara itu dan mendapati teman-temannya sudah menunggunya “bye muka datar, gue pergi!”
Adi menatap datar wanita itu dan melanjutkan kunyahan Nya. Ternyata sunyi setelah pekikikan gadis itu tak terdengar lagi tapi adi tetap melanjutkan menyendok makanannya ke mulut. Toh, kesepian juga merupakan bagian dari hidupnya.
Bel masuk kelas sudah berdering. Nanta dan 3 teman lainnya kembali ke kelas dan mereka sadar kakak kelas lain akan sinis oleh circle mereka setelah tau Nanta bisa menjadi pawang seorang singa.
Adi berjalan memasuki kelasnya dengan wajah sehari-harinya. Ia di sambut oleh teman sekaligus sepupunya, Aldo. Aldo sudah menunggu nya dan duduk di bangku sedari tadi setelah mendengar berita paling menggemparkan abad ini.
“widih yang abis makan bareng sama ayang!”
Adi mengangkat alisnya bingung. Dia bertanya-tanya dengan apa yang sebenarnya orang ini ributkan.
“adek kelas ternyata pilihan lo! oke juga lo Di!”
sambung Dika, teman sekelas Adi.
Adi kini mengerti siapa yang mereka ributkan dari tadi.
“Cuma cewe gak jelas. Ga usah dipikirin!”
ketusnya. Ia duduk kembali ke bangku nya dan menyiapkan buku mata pelajaran selanjutnya sedangkan Dika dan Aldo sudah menganggap bahwa mereka memiliki adik menantu.
Sudah pukul satu siang, semua siswa bergegas kembali ke rumah masing-masing. Setiap hari yang kita jalani di masa putih abu-abu, masa mencari jati diri dan menuju dewasa benar-benar mendebarkan dan menyenangkan. Tidak apa-apa jika hari yang kamu lewati hari ini tidak terlalu baik karena perjalananmu tak boleh berhenti hari ini.
Adi membuka pagar rumahnya, ia menemukan Bi Siti sedang menyirami tanaman depan rumah
“udah pulang kamu Nak Adi, makan dulu sana. Bibi mau ke minimarket beli gula.”
Adi hanya mengangguk pelan tanda mengerti. Ia merapikan segala yang ia pakai saat sekolah tadi dan langsung makan. Sudah tersedia dendeng balado dan sayur bening di meja makan. Sudah sampai suapan ke 4 tapi ia merasa aneh.
Kenapa hening sekali?
__ADS_1
“Bi, ayo makan bareng.”
...@yupi_yipiiie...