
...TINGGAL BERSAMA?...
Hari minggu telah tiba dengan hujan yang masih belum reda. Pagi terasa sangat dingin di hari yang harusnya cerah ini.
Nanta yang mencoba membuka mata nya merasa tidak mengenali dinding yang ia lihat.
Ia mencoba bangun dan duduk sambil memegangi kepala nya yang masih pusing.
“aku dimana?”
tanya Nanta pada diri sendiri.
Kini ia mencoba ingat apa yang semalam ia lakukan dan dengan nyawa yang bahkan belum ia kumpulkan ia membulatkan matanya kaget
“aku diculik? HAH?” panik.
Ia melihat sekeliling kamar itu dan mendapati hanya ada barang-barang seorang pria. Nanta pun menyadari baju tidur nya sudah di ganti dengan kaos oblong berwarna hitam dan celana joger kebesaran.
“HAH? AKU DIMANA? BUNDAAAA....AYAH....”
Nanta memegangi selimut nya erat dan melihat sekeliling. Kini air mata nya jatuh dengan deras karena ketakutan.
“huaaaa...hiks...hiks...hikss”
Di tengah suara tangisan Nanta, Pintu kamar yang tadinya tertutup mulai terbuka perlahan oleh Adi yang membawa nampan berisi bubur dan teh hangat.
Terkejut.
Adi yang melihat Nanta menangis langsung meletakkan nampan itu di samping meja kasur dan menghampiri nya dengan panik
“Nanta? kamu kenapa? Ada yang sakit?”
Adi duduk di bibir kasur dan mulai menenangkan Nanta
Melihat Adi, Nanta mencoba mengehentikan air mata nya dan mulai mengingat secara detail kejadian semalam.
Ternyata, pertemuan dengan Adi yang Nanta kira hanya mimpi adalah kenyataan. Bingung, takut dan malu yang ia rasakan saat ini.
Adi yang mencoba menenangkan nya kembali bertanya “kenapa? Dada mu sesak? Ada yang sakit?”
Dengan lirih suara tangisan Nanta kini mulai pudar dan ia mencoba bertanya setelah menyeka air mata nya
“ini rumah kak Adi?”
“iya....” balas Adi sambil merapikan rambut Nanta yang acak-acakan
Nanta melihat baju yang ia pakai lalu menatap Adi dengan bingung. Seolah mengerti, Adi langsung memberikan jawaban atas mata Nanta yang penasaran
“ART saya, Bi siti yang gantiin kamu baju! Ga usah khawatir ya? sekarang makan dulu.”
Adi mengambil mangkuk bubur yang ia letakan di atas meja tadi dan mulai menyuapi Nanta. belum sampai pada mulut Nanta, Nanta langsung mengambil alih sendok itu
“gapapa gue bisa sendiri.”
Tak melawan, Adi langsung memberikan sendok dan mangkuk itu pada Nanta.
__ADS_1
Hening.
Nanta menyantap makanan nya tanpa bicara ataupun mengajak ngobrol Adi. Begitu juga Adi yang tidak ingin menganggu Nanta yang sedang asik makan itu.
Selesai makan, Adi menyeka bibir Nanta dengan tangan nya. Ia mulai mencoba membicarakan apa yang sebenarnya Nanta lakukan tadi malam.
“orang tua kamu gak nyariin? Mereka pasti khawatir.”
Kata Adi membuka percakapan.
Nanta menunduk tak berani menatap Adi
“mereka keluar kota. Gue belum telpon mereka!" Nanta seketika sadar bahkan orang tua nya tak tau keberadaannya saat ini
"Gue harus pulang ambil HP!” Nanta buru-buru turun dari kasur Adi dan mencoba berdiri. Nihil! Kakinya gemetar karena tubuhnya belum pulih.
“awh!” nanta meringis merasakan sakit pada kepala nya. Ia duduk lagi di kasur Itu.
“kamu gapapa? Kalo masih sakit jangan di paksa. Kamu inget no telpon orang tua kamu? Bawa sini biar saya yang ngomong.”
Nanta melepaskan genggaman Adi dengan pelan
“gapapa. Gue mau pulang aja sekarang!”
“ngapain? Kamu masih sakit dan di luar masih hujan. Istirahat aja disini.”
Nanta mengernyitkan bibirnya
‘anjir gak mudah lepas dari si Adi ini ternyata.’
“ini hari minggu” balas Adi bingung
Kampret. Dia terlihat sangat bodoh sekarang.
Kedua nya bertatapan canggung hingga Nanta kembali berpikir ulang
“Buat Besok! Gue ad PR suruh gambar naga sakti!”
“besok kan tanggal merah.”
Sudahlah. Pupus sudah harapan Nanta untuk keluar dari rumah ini. Malah ia yang terlihat kikuk saat ini di hadapan Adi.
Nanta menunduk malu pada dirinya lalu jatuh terduduk di atas kasur dengan wajah kusut. Adi tertawa pelan melihat itu, ia kemudian berlutut menatap Nanta yang sedang frustasi
“gak pa pa. Rumah saya bukan penjara kok! Saya gak akan apa-apain kamu. Kamu istirahat aja lagi”
“mau ke rumah temen gue aja!” Kata Nanta ketus
Adi memendarkan wajah penasaran nya
“siapa? Temen cowok kamu yang di perpustakaan itu?”
“iya, dia punya no WA orang tua gue.”
“gak. Saya gak suka dia! Dia kasar sama kamu. Nanti saya tanya admin sekolah untuk cek no HP orang tua kamu.”
__ADS_1
Adi geram membahas teman laki-laki nanta yang tidak lain dan tidak bukan hanyalah Fero.
“ih! Dia lebih gue kenal daripada Kak Adi! Kak Adi gak usah berurusan dengan adik kelas lagi. Gue gak mau nyusahin orang!”
Adi menghela napas nya panjang. Ia kini beralih dan duduk di samping Nanta
“jadi bener ya? kamu akhir-akhir ini menghindar dari saya? Karena kata-kata Zara?”
Nanta tertegun. Ia menelan ludah nya kasar
“enggak kok! Gue juga gak termakan omongan di berita tadi malem.”
“berita yang mana ? saya dikasih warisan? Atau saya anak haram?”
“eh?” ia jadi bingung setelah mendengar jawaban Adi. Ia tak bisa berekspresi apapun lagi saat ini.
“satu lagi Nanta, saya baik-baik aja. itu kan yang kamu tanyain tadi malem? Kamu nerobos hujan demi nanya gituan?” Lanjut Adi.
Entahlah. Nanta semakin bingung setelah Adi berkata seperti itu. Iapun kembali menarik selimut dan bergegas tidur.
...********...
"SAYANG! kita udah sepakat bahas ini tapi kenapa kamu umumin ke publik kalo anak kamu Adi yang dapet semua harta warisan? KAMU TEGA SAMA TANIA?" wanita itu membuat seisi rumah penuh dengan teriakannya. para Maid dan pekerja di sana pun langsung menghindar dan pergi takut dikira menguping.
"Dia yang pantas dapat semua ini. Tania juga masih SD! Saya masih bisa kerja dan sanggup nyukupin kebutuhan nya." Kholiq. Ayah Adi yang sedang bertengkar dengan istri nya, Syntia.
Syntia memutar bola mata nya. ia tak percaya kalimat itu keluar dari mulut suami nya
"kamu gak berhak bilang gitu! Kamu udah ninggalin anak dan istri kamu tapi sekarang kamu butuh anak kamu sebagai pewaris perusahaan? kenapa? karena anak yang saya lahir kan perempuan?" jari telunjuk Syntia kini tepat berada di dada Kholiq
"kamu gak tau apapun soal Adi dan Aira! jangan bahas masa lalu saya." Emosi Kholiq kian membara. kini tangan nya sudah menggenggam kuat pergelangan Syntia.
Syntia mendekat dan membisikkan sebuah kalimat pada kholiq "kenapa? bukannya kamu sendiri yang membiarkan Aira sesak napas di hotel yang terbakar itu?" katanya dengan sorot mata yang tajam.
"SYNTIA!!!"
Setelah menampar Syntia, ia lalu pergi memacu mobil mewahnya dan membawanya ke tengah jalanan yang sedang di terpa hujan.
Awalnya, Nanta hanya akan berpura-pura tidur namun ia ketiduran dan baru kembali bangun pukul 11.00. cuaca nya pun masih sama, Hujan. Meskipun tidak sederas pagi ini tapi cuaca nya makin dingin
Ia berbalik arah dan melihat Adi tertidur di sofa dengan jaket bulu domba yang pernah ia berikan. Nanta kira, Adi sudah membuang nya. Ternyata ia gunakan untuk tidur di hari yang dingin seperti ini.
“anjir. Kak Adi ganteng ternyata kalo lagi tidur. Ni orang makan apa si? Duitnya banyak,mukanya cakep dan otaknya aja bersinar bagai bintang!”
Nanta memuji Adi dengan lirih. Ia tak ingin dirinya ketahuan menatap Adi selama itu.
Di tengah kekaguman Nanta, Adi terbangun. Nanta yang panik buru-buru memejamkan mata nya lagi dan berpura-pura tertidur.
Dengan nyawa yang masih belum terkumpul, Adi menatap Nanta yang terlelap.
ia kemudian duduk dan pergi ke dapur untuk membuatkan teh lemon hangat.
“PAPA?”
...@yupi_yipiiie/@yupipoem...
__ADS_1