Ketua Osis Dan Gadis Asma

Ketua Osis Dan Gadis Asma
LEBAM


__ADS_3

“NANTA! KAMU TAU GAK APA YANG KAMU LAKUIN?”


terkejut, Nanta bergegas bangun dengan nyawa yang belum terkumpul.


"Oh? Kak Adi? ini jaketnya kak, Nanta lupa balikin" Kata Nanta yang menyodorkan jaket itu pada Adi.


jaket itu di tepis Adi dan terlempar membuat Nanta terkejut melihatnya.


"kenapa dilempar?"


"lo sadar gak apa yang lo lakuin?" Adi bertanya pada Nanta dengan mata merah. namun ia masih menahan amarahnya dan mencoba tenang


"apa? aku cuma balikin jaket kak Adi! kenapa?"


"bodoh! lo bener-bener gak tau apa yang lo lakuin ini berlebihan? KAMU TAU GA YANG MUKULIN KAMU TADI ITU SIAPA? HAH! KENAPA KAMU KE SINI TANPA IZIN SAYA!" mata nya penuh dengki menatap Nanta. tersadar, Nanta tau bahwa saat ini ia bicara pada amarah dalam diri Adi.


tangan Nanta mulai gemetar, ia pun ikut marah karena tidak merasa bersalah. ia hanya mencoba mengembalikan jaket itu tanpa harus menganggu Adi. lagi pula, preman itu yang duluan memukulinya tanpa Nanta tau apa kesalahannya.


"aku cuma mau balikin jaket kak Adi! kak Adi sibuk daritadi. ga mungkin aku ganggu kak Adi di tengah rapat OSIS itu! yang ku lakuin salah meskipun aku yang di pukulin sama preman itu?" Balas Nanta membela diri. matanya mulai berkaca-kaca. entah tubuhnya yang sakit atau hatinya yang terluka akibat nada tinggi Adi yang mengejutkan dirinya namun perasaan Nanta kacau saat ini


"kamu bisa titipin ke Zara! ke Aldo! atau ke siapapun yang saya kenal. kenapa mau kasih langsung ke saya? mau buat saya terkesan? atau mau buat saya jadi tergila-gila ke kamu karena udah dipukulin preman itu? dan soal takut ganggu? takut ganggu katamu?" Adi berkacak pinggang, bola matanya menatap sembarang mencoba menghilangkan amarah dalam dirinya, namun mustahil.


"dari awal kamu masuk ke ADMADJA kamu itu udah ganggu hidup saya! kamu nyari tau kehidupan saya kan? iya! kehidupan saya berantakan! SAYA DIBUANG PAPA SAYA SENDIRI! dan kamu tau yang lebih parah? Bunda saya meninggal di hotel tempat saya sedang merayakan ulang tahun saya! tapi papa saya malah lari, milih bersama wanita murahan yang ia jaga seperti berlian." napasnya tersenggal-senggal. Adi kehilangan kendali hingga Gio mencoba menenangkannya


"udah! lo gak boleh bentak-bentak cewe gini Di! lo inget gak apa yang Aira sering bilang? jaga ketenangan hati lu! kendaliin diri lu!" Gio memukul dada Adi cukup kuat, mencoba melapangkan hati Adi.


"kenapa bang? kan dia mau tau kehidupan Adi yang menyedihkan ini kan? pasang telinga mu. jangan lupain apa yang saya bilang sekarang." kata Adi menata Nanta untuk terakhir kali. ia kemudian menaiki motornya dan menyusuri jalanan dengan kecepatan yang tidak terkira.


Nanta terduduk lemas di kasur itu, hatinya kecewa, marah dan sedih mendengar bahwa orang yang baru saja memberikan segalanya malah mengatakan bahwa dirinya hanyalah angan yang tak berarti apa-apa. memang seharusnya ia tidak ke sekolah itu. harusnya jika ia masuk ke ADMADJA ia menjadi anak baik-baik dan penurut saja.


Gio menatap Nanta dengan hati-hati "Lo istirahat aja ya, gue beliin makanan." kata Gio yang kemudian mengambil jaket kulitnya yang tergeletak tak jauh dari kasur Nanta


"gausah bang, gue mau pulang aja." Nanta bergegas bangun, terhuyung-huyung ia berjalan dari kamar itu.


"gue anterin!"


Nanta tidak menolak, daripada ia mati di tabrak mobil karena lemas ia lebih memilih di antar Gio malam ini.


ini rumah Nanta? kenapa gak asing?


batin Gio ketika tiba di rumah Nanta.


"makasih bang." Nanta tak menatap Gio, ia langsung bergegas masuk ke rumah.


"Nanta!" teriak Gio yang membuat Nanta kemudian berpaling


"gausah di pikirin omongan Adi tadi, ya!"

__ADS_1


namun bagaimana bisa ia tidak memikirkan semua perkataan Adi tadi? bagaimana beberapa hari kemarin menjadi tidak berarti?


"Nantaaa! Bunda kangen!!!!" sapa bunda Nanta yang langsung memeluk tubuh putrinya itu


"bunda kapan pulang? katanya lusa?" wajah kaget Nanta melihat bunda nya tak terelakan. namun wajah memar itu terlihat mengkhawatirkan di hadapan bunda nya


"muka kamu kenapa sayang? hah? kok lebam semua?" tanya buda Nanta khawatir.


"gapapa, tadi jatoh kesandung di sekolah. Nanta cape bun, mau istirahat." Nanta langsung menaiki anak tangga dengan lemah dan menuju kasur kesayangannya.


baru kemarin ia merebahkan dirinya dengan penuh bahagia di kasur ini, namun malam ini seperti dunia benar-benar menimpanya. roda kehidupan berputar itu ada.


suara tangisan yang coba ia tutupi dengan menyumpal mulut nya dengan menggigit pergelangan tangannya terdengar pilu.


"hik..hik..hik... kak Adi jahat. kenapa dia bentak aku tadi? emang aku salah kalo aku mau tau kehidupan cowo yang ku suka?" ia kembali tersedu di tengah malam yang gelap dan dingin itu.


...***************...


Nanta masuk ke kelas dengan lesu dan tidak semangat, ia pun berangkat sangat awal sekitar jam 6 kurang. rekor seorang Nanta yang datang pagi-pagi buta ke sekolah.


ia tertidur di atas meja nya, mengantuk dan lelah serta perih yang ia rasakan karena memar membuatnya lemah.


Tya datang 45 menit kemudian dan melihat Nanta sedang tertidur di meja nya. tanpa pikir panjang ia langsung menyapa teman baiknya itu.


"Good morning Nantaaaaa! kok pagi-pagi udah ngantuk aja? galau ya ga dapet chat dari kak Adi?"


Nanta mengangkat wajahnya, terlihat wajah lesu dan memar membuat Tya heboh dan ketakutan.


"Kenapa sih pagi-pagi teriak kaya orang gila?" Fero yang baru saja tiba menatap Tya dengan sinis namun sedetik kemudian ia pun teriak melihat Nanta yang lebam itu.


"AAAAAA. MUKA LO KENAPAAAA?"


Nanta menyingkirkan tangan Tya dan Fero dari wajahnya.


"gapapa, jatoh doang dari tangga rumah."


Nanta kembali tidur di meja nya, namun tya dan Fero tak berani menanyakan apapun lagi meski mereka tau, seorang Nanta takkan bisa berbohong pada mereka.


saat jam istirahat, Nanta melanjutkan tidurnya di kelas sementara Fero , Tya dan dea diskusi di taman sekolah.


"menurut kalian Nanta kenapa? apa dia kena jambret ya? gak mungkin di jatoh mukanya sampe lebam gitu." Fero yang memulai percakapan sembari memakan es lilinnya.


"Apa Kak Adi nyakitin Nanta Ya?"


"kak Adi? gak Mungkin! meskipun ada gosip kemaren dan dia emang terkenal dingin dan galak tapi aku ragu dia berani main tangan ke cewek." Dea yang 10 menit lalu di ceritakan Fero dan Tya atas masalah yang menimpa Nanta pun mulai ikut nimbrung.


Fero kembali berpikir "mungkin aja, soalnya Nanta kemaren bawa-bawa sweater Kak Adi. siapa tau Kak Adi marah karena sweater nya di pegang Nanta "

__ADS_1


Dea terkekeh "ga mungkin karena hal seupil gitu seorang Adi marah."


Zara yang mendengar sekilas pembicaraan mereka bertiga langsung menghampiri Nanta di kelas. kebetulan kelas Nanta sepi kala itu.


"Nanta?"


Nanta mendongak, dan benar. Zara melihat sendiri wajah lebam Nanta. namun ia tak boleh terkejut atau bertanya lebih lanjut. ia hanya menanyakan hal kecil pada Nanta


"Sweater Adi udah dibalikin?"


Nanta tak menjawab apa-apa, mungkin belum sempat memahami pertanyaan Zara tapi Zara sudah berjalan keluar kelas Nanta menuju ruang sekretariat OSIS dengan tergesa-gesa.


BRAK. Pintu sekretariat di dobrak oleh Zara.


"Adi! kamu gila?"


"gak sopan masuk ruangan ini tanpa ngetuk." kalimat itu membuat zara tak percaya karena dengan wajah datar ia tak memiliki wajah bersalah.


"Kamu apain Nanta? kenapa muka dia lebam semua?"


"bukan urusan saya."


"aku tau kamu benci aku. TAPI TOLONG JAWAB KAMU LAKUIN APA KE DIA? ulah musuh papa mu kan?"


"SALAH DIA SENDIRI! kenapa dia penasaran sama hidup ku! kenapa di ke tempat Gio! semua salah dia."


Aldo yang mendengar keributan dari ruang sekretariat langsung bergegas masuk mencari tau, namun yang ia dengar malah ikut membuatnya marah.


"apa? Nanta ke tempat Gio? kenapa?"


mata penuh amarah Zara kini menatap Aldo "Tanyain itu ke temen mu! muka Nanta lebam semua. terus kenapa dia biarin itu semua?"


"KARENA DIA PENASARAN! PENASARAN SAMA KEHIDUPAN KU."


Aldo kini menautkan matanya pada Adi yang baru saja mengatakn hal itu "apa salahnya pacar mu penasaran sama kehidupan mu? emang salah?"


Adi mendengus "pacar apanya? aku sama dia gaada apa-apa!"


"terus kenapa kamu bawa dia ketemu Bunda Mu? kenapa? kenapa kamu ajak dia ke pohon ek mu itu? kamu pikir aku gak tau, Di?"


"bukan urusanmu."


Adi pergi meninggalkan ruang sekretariat namun belum sampai pintu langkahnya terhenti oleh perkataan Aldo


"kamu takut? takut Nanta kaya bunda mu yang gak bisa selamanya hidup sama Kamu? karena mereka sama-sama mengidap asma?"


...💫Terima Kasih💫...

__ADS_1


...(terus dukung karya ini dan karya karya leaniz yang lain ya!)...


*maaf karena udah ga upload hampir 1 tahun ini🥺 hidup author nya lagi terguncang-guncang! doakan author terus baik2 aja ya. see u in nex episode💖


__ADS_2