Ketua Osis Dan Gadis Asma

Ketua Osis Dan Gadis Asma
PLESTER


__ADS_3

...**PLESTER**...


Nanta menatap gudang yang bagai habis diterpa badai debu. Sungguh ironi sekali Nanta yang malas bersih-bersih dihukum membersihkan gudang yang lebar nya setengah dari lapangan utama sekolah.


“Kamu yang nyapu bagian sana. Saya yang bersihin debu di barang-barang yang numpuk diarah sebaliknya.”


Kata Adi memberikan sapu pada Nanta. dia diam saja dan menatap Adi dengan rasa kesal di dadanya yang belum hilang.


Adi menghela napasnya panjang


“marah sama saya ga akan bikin gudang ini bersih. Cepetan beresin saya mau keluar dari ruangan ini.”


Adi menarik paksa tangan Nanta dan memberinya sapu itu. Tanpa bicara sepatah katapun, ia pergi ke bagian sebrang untuk menyapu.


Sambil menyapu lantai gudang, Nanta sudah merangkai beberapa macam pembunuhan keji yang suatu saat akan ia pakai untuk membunuh Adi tanpa ampun. Dengan perasaan tidak ikhlas, dia terus menyapu.


Kini hanya ada suara sapu yang saling bergesekan dengan lantai dan beberapa barang-barang jatuh yang Adi coba rapikan. Nanta menghela napasnya sendiri karena tidak bisa menyapu ruangan seluas ini.


Adi yang meliriknya beberapa kali merasa bersalah hingga membuat Nanta dihukum hingga kelelahan.


Di sela waktunya membersihkan barang-barang gudang, Adi pergi ke kantin untuk membeli air mineral.


Pintu yang awalnya terbuka tiba-tiba tertutup menyadarkan Nanta yang sibuk membersihkan sela-sela jendela dengan kemoceng


“Kak Adi? KAAAAK? Kok ditutup sih pintunya? Kak Adi jangan tinggalin gueeeeee”


pekikan Nanta tak terdengar oleh Adi yang sudah buru-buru pergi. Usaha Nanta membuka pintu gerbang pun sia-sia karena pintu hanya bisa dibuka dari luar kecuali saat kita masuk pintu dibiarkan terbuka.


Tapi saat itu, pintu yang dari awal terbuka tak sengaja tertutup membuat gudang menjadi gelap. Sangat gelap hingga Nanta ketakutan hampir setengah mati.


Setelah 10 menit, Adi kembali masuk ke gudang tapi tak melihat ada sosok Nanta. ia mencari di sudut gudang dan mendapati rintihan kecil yang terdengar disudut sedang menangis menenggelamkan wajah nya.


“hiks...hiks...hiks...”


Ia melempar kantong kresek yang ia bawa dan buru-buru menghampiri Nanta.


“Nanta? kamu kenapa?”


Nanta mendongak, mata yang penuh ketakutan itu mengingatkan Adi pada dirinya dulu. ia tau perasaan itu. Nanta langsung memeluk Adi erat, sangat erat dan menenggelamkan wajahnya pada dada Adi.


“Kaaak aku takut...hiks..hiks...hiks...”


Adi melihat sekilas tangan yang gemetar hebat itu. Ia pun memeluk Nanta dan menepuk kepala Nanta pelan


“Maaf. Salah saya karena ga bilang! Saya beli minum tadi,udah gapapa jangan akut ada saya”


Adi menenangkan Nanta di tengah tangisannya yang semakin menjadi


Nanta melepas pelukan itu dan memukul dada Adi.


Bugh


Bugh


Bugh


Renyah sekali kepalan tangan Nanta sampai pada dada Adi yang bidang. Tapi beruntung dia bisa menyentuh dada Adi tanpa ada rasa paksaan atau tolakan dari Adi sekalipun


“kenapa kak domba pergiiii huwaaaaaaaa...... gue takut gelap tau!”


tangisan Nanta makin kencang setelahnya membuat Adi kelabakan memikirkan cara menenangkan Nanta.


“maaf tadi aku abis beli minum. Aku gak bakal ninggalin kamu kok! Maaf ya ini salahku.”


Adi mendekap erat tubuh Nanta pada ruangan remang itu. Ia mengerti bagaimana rasanya terjebak kegelapan dan rasa takut yang pernah ia rasakan dulu.


“udah ya jangan nangis. saya gak sengaja”


Nanta melepaskan pelukan itu dengan tergesa dan melihat isi kantong kreseknya sudah berhamburan. Hanya ada air minum di sanaa.


“KAK DOMBA KENAPA CUMA BELI AIR! GUE JUGA LAPER TAU!!”


...***************...


Kini Nanta sudah makan semangkuk nasi beserta lauk, 2 buah roti dan 3 kotak susu coklat. Adi menatapnya heran melihat Nanta yang makan begitu banyak.


“pelan-pelan aja makan Nya. Semua punya kamu.”

__ADS_1


“lo yang bayar kan?”


“CK. IYA!”


Kantin sudah sepi karena sudah masuk jam pelajaran. Kini Adi tersadar apa yang dia lakukan barusan. Dihukum, dapat point', bolos pelajaran dan makan di kantin. Ia mengacak-acak rambutnya frustasi dan menanyai dirinya sendiri.


‘apa yang udah lo lakuin sih Di?’


Adi menatap gadis itu dalam. Mengulang kembali perkataan Zara yang menuduhnya jatuh cinta pada Nanta.


“Gara-gara lo jam istirahat gue kesita! Lo ngapain sih jailin gue gitu? Emang gue ada salah apa? Kan kemaren gue udah di hukum karena telat! Suruh ngikutin lo kemana-mana sibuk banget. Lo ga cape apa? Ga pernah istirahat? Gue jadi dikejar-kejar kakak OSIS gara-gara lu.”


Kata Nanta nyerocos tanpa henti dengan masih mengunyah roti nya.


Ia kemudian diam beberapa saat mengingat sesuatu


“oh iya! kak Aldo!!!! Dia pasti nungguin gue dari tadi. Ck sialan”


“Aldo gak akan hilang Cuma gara-gara gak ketemu lo sehari! Saya kan udah bilang dia itu friendly jangan terlalu baper atau kamu sakit sendiri.”


kata Adi memberi penjelasan pada Nanta yang baru saja nyerocos itu.


“bukan urusan lo wleee” ia menjulurkan lidahnya kemudian memukul kepalanya pelan berulang kali. “oke Nanta nanti istirahat kedua lo gak boleh lupa harus ketemu Kak Aldo!!"


Adi menahan tangan Nanta yang memukuli kepalanya sendiri


“jangan suka mukul kepala bisa gak? Sakit.”


Wajah Adi terlalu dekat membuat Nanta tertegun dan langsung mendorong tubuh Adi pelan


“gak sakit kok!”


Adi menghela napasnya “jadi kamu beneran suka sama Aldo?”


Nanta tersenyum mendengar pertanyaan Adi dan membayangkan bagaimana tampannya Aldo membuat hati Nanta terpana


“iya dong! Kak Aldo baik, ganteng, ramah lagi!"


"saya gak ganteng?"


Nanta mengernyitkan dahi mendengar pertanyaan Adi dan menatap Adi dengan seksama beberapa detik


“apa nilai plus Nya?” ia menaikkan kedua alisnya


Nanta merogoh kantong saku Nya dan mengeluarkan finger heart


“Tadaaaaa”


Deg.


Adi tak bisa bernapas selama beberapa detik kemudian terbatuk-batuk sendiri.


“kak domba tau artinya? Kirain orang kuno.”


Sesaat hening sebentar. Nanta kemudian berpikir dan memiliki tanya di benaknya tapi ia ragu


“kak...”


lirih nanta yang memanggil Adi


Adi menatap Nanta penuh. Matanya seolah menyapa kembali panggilan Nanta barusan.


“ayah kakak.....bandar narkoba?”


Adi terkejut. Sesaat dunia Nya seolah berhenti. Ia hampir naik pitam mendengar pertanyaan Nanta


“Bukan.”


“terus kenapa rumor itu rame banget? Kan kak Adi bisa klarifikasi. Atau gak kak Zara sama Kak Aldo pasti tau!”


“kamu percaya?”


“percaya lah. Meskipun ngeselin kak domba kayaknya orang yang bisa di percaya! Ayah kakak orang kaya ya? mau kenalan dong siapa tau bisa jadi simpanan Nya.”


Adi memangku dagunya menatap Nanta dengan jahil


“kalo ayah saya bandar narkoba beneran gimana? Kamu mau laporin ke polisi?atau mau nyebarin fakta tentang saya anak bandar narkoba?”

__ADS_1


“ya kalo ayah kakak domba beneran bandar narkoba sih dari dulu udah diselidiki kali! Dikira diantara banyaknya murid di sini gak ada yang ayah wali murid seorang polisi apa?” kemudian nanta mengecilkan suaranya


“tapi kalo ayah kaka beneran bandar sih kayaknya aku bakal ke tangkep juga”


Adi terbelalak. Ia menatap serius Nanta kali ini


“aku pecandu oppa-oppa korea ganteng!”


katanya berbisik.


“cepetan selesain! Saya mau ke kelas.”


Kemudian Nanta melihat dahi Adi yang terluka. Itu pasti gara-gara kursi yang ia lempar! Nanta menelan ludahnya kasar setelah menyeruput susu kotak coklat tadi.


Nanta membuka casing handphone Nya dan mengeluarkan plester bergambar domba dari sana. Ia mendekat pada Adi dan langsung menempelkan plester itu


“gue ini baik hati gak kayak lo! jadi bersyukur aja lemparan tadi gak kena dan btw maaf gue terlalu reog tadi karena ini salah lo juga!”


katanya sembari menempelkan plester itu.


Lagi-lagi Adi hampir tidak bisa bernapas. Ia spontan mendorong Nanta menjauh, jika tidak jantung Adi mungkin sudah meledak.


“IH! DASAR GAK TAU DI UNTUNG!” pekik Nanta.


Adi berpura-pura merapikan seragamnya melihat apakah ada cacat dari kerapihan yang ia jaga meskipun ia pun tau nihil hasilnya


“oh iya, gue besok harus ke perpustakaan!” nanta yang melamun terkejut atas ingatan yang lewat di kepala Nya.


“kenapa?”


“gue mau baca lanjutan cerita kemaren! Harusnya sih ada season dua Nya.”


Bel istirahat kedua kini sudah berbunyi. Akhirnya Nanta dan Adi kembali ke kelas masing-masing setelah hari yang cukup melelahkan itu.


Nanta tertidur pulas setelah menjatuhkan kepala Nya ke meja. Fero dan Tya yang dari tadi penasaran menatap Nanta yang tengah tertidur dengan tatapan tajam


“Lo cari masalah ya sama kak Adi? Suka banget deh bikin masalah sama dia. Heran gue” ketus Tya


“jangan tanya-tanya tentang kak domba. Gue ngantuk mau tidur” balas Nanta tanpa berpaling dari posisi Nya.


“KAK DOMBA???” jerit Fero dan Tya bersamaan.


Mereka kaget karena Nanta berani memanggil nama Adi dengan nama yang nyeleneh sedangkan beberapa murid saja tak berani menatapnya.


Nanta menggaruk telinga Nya yang tidak gatak itu dan mengangkat kepala Nya frustasi. Sungguh 2 kaleng rombengan itu membuat Hari Nya makin kacau.


Adi masuk ke kelas dan langsung duduk di meja nya. Ia tertidur menyembunyikan wajahnya dan tersenyum tanpa ada yang tau


Zara yang melihat kejadian itu mengira keadaan Adi saat ini sedang terguncang dan sedikit terganggu atas sikap Nanta.


ia khawatir kejadian Delia terulang dan membuat Adi semakin murung.


Sesudah jam pulang Zara menunggu Nanta di pinggir lapangan untuk menemui Nanta. entah apa yang ingin ia bicarakan kali ini.


“Nanta...” lirih Zara begitu melihat Nanta berjalan menuju gerbang


“eh kak Zara! Kenapa Kak?"


Ia menepuk bangku yang ia duduki pelan“duduk sini sebentar aja...”


Nanta bingung. Tak pernah ia lihat zara berbicara dengan seseorang yang tidak begitu ia kenal. Nanta pun sama, hanya mengenal Zara dari mulut ke mulut.


Pandangan Nya lurus ke depan menetap sembarang. Entah dia malas menatap Nanta atau memang lelah setelah melewati hari yang cukup panjang ini


“maaf ya tadi udah nyuruh kamu bawa buku itu ke kelas"


“eh, iya kak gapapa! Lagian aku juga udah puas balas dendam hari ini ke kak domba.” Seru Nanta bicara dengan keceplosan memanggil Adi dengan nama itu.


“kamu tau? Adi sebenernya jauhin adik kelas sejak kejadian tahun lalu! Kamu udah tau tragedi kantin dulu dari temen-temen kamu kan? Adi itu terluka gara-gara ulah Nya, Delia. Aku liat dia juga luka tadi dahinya mungkin gara-gara menghindar dari lemparan mu.


Adi udah ngerasain banyak sakit di hidupnya jadi dia gak perlu terluka secara fisik” Kata Zara memberi penjelasan.


Entah kenapa perkataan Zara membuat Nanta tertegun. Ia pun penasaran seperti apa kehidupan seorang Adi di masa lalu hingga menjadi manusia yang cuek.


“emang ada apa di masa lalu Nya kak Adi?”


Zara tertegun. Sebenarnya ia tak pernah tau apa yang Adi alami. Ia bahkan hanya tau Adi tinggal seorang diri tanpa tau apapun lagi. Dika dan Aldo pun tak berani menceritakan pada Zara tanpa izin Adi.

__ADS_1


Zara hanya membagikan senyum simpul Nya dam berlalu pergi meninggalkan Nanta dengan rasa penasarannya.


...@yupi_yipiiie/@yupipoem...


__ADS_2