
...DEEPTALK...
“KAK! Ayo pulang. Tempat ini berbahaya.”
Gia menarik seorang pria yang bertubuh tinggi, kurus dan memilik banyak tato. Tak lain itu adalah kembarannya, Gio.
Gio menepis tangan adiknya kasar
“SANA! PERGI GUE BILANG. Gue gak butuh perhatian lo!”
Gio membuang puntung rokoknya ke sembarang tempat lalu kembali masuk ke dalam Bar.
Gia menyusul kakaknya itu ke dalam bar. Dan mengejutkan, di dalam sana banyak sekali transaksi narkoba ilegal, Judi dan para wanita penggoda. Ia benar-benar tidak percaya kakaknya akan hancur sedemikian rupa karena pergaulan bebas.
Gio yang mengetahui Gia ikut masuk ke dalam Bar pun marah.
“LO ADA TELINGA GAK SIH ANJ*NG! PERGI GUE BILANG!”
Gio mendorong tubuh Gia hingga tersungkur ke lantai. Membuat beberapa orang di sana memperhatikan keributan itu
“siapa nih? Cewek kantoran mau join ya? gue bungkus ya?”
pria itu mendatangi Gia yang memang masih memakai jas kantornya dengan rambut yang rapi dan wangi juga tubuh yang terawat namun Gia masih mengerang kesakitan.
Pria yang sedang bertanya pada Gio kian menyulut emosi Gio. Kini tangan besar Gio menarik kerah baju pria itu
“BRENGSEK!!!!!Pergi lo dari sini t*l*l” Jerit Gio pada Gia.
Kenangan itu masih tersimpan baik dalam diri Gio dan Gia. Kembar tak identik yang memiliki 2 kehidupan yang berbeda. Orang tua yang sudah meninggal di saat mereka masih berumur 7 tahun membuat kedunya memiliki pergaulan bebas. Namun kehidupan Gia yang pekerja keras berbanding terbalik dengan Gio yang menjadi orang suruhan di antara CEO-CEO perusahaan besar.
Meski hidup Gio sudah mulai berjalan baik, Namun rasa bersalah dan rasa hina dalam dirinya masih terasa. Sedangkan Gia sudah memutuskan akan mengabdi pada V’OLE SM, perusahaan yang ia anggap rumah karena telah menerima tamatan SMP sepertinya.
“Tuan Aris, Berikut jadwal Tuan pada hari ini. Mau saya kosongkan 1-2 jam untuk istirahat? Atau kita langsung melanjutkan perjalanan bisnis yang tertunda ke Australia?”
Gia dengan kompeten bertanya. Kadang kala Aris heran kenapa kakaknya bisa menemukan berlian diantara banyaknya sampah yang tersisa di muka bumi ini.
Aris memutar balik kursi nya
“Sudah lah Gia, jangan terlalu bekerja keras! Kau boleh kok melakukan kesalahan. Sial! Aku jadi merasa bersalah karena tak pernah memarahi dirimu”
Aris menatap Gia tajam, yang tentu nya tatapan itu hanya tatapan kesal sementara
Gia tersenyum tipis mendengar nya
“dalam dunia pekerjaan saya harus melakukan hal yang paling baik tuan. Saya tidak bisa lalai dalam hal sekecil apapun.”
Aris bersandar di punggung kursi miliknya menatap Gia dari ujung rambut hingga ujung kaki
“kau tidak mau istirahat?”
“saya sudah makan siang 30 menit lalu.” balas Gia dengan sudut bibir yang sedikit terangkat
Aris memukul wajahnya pelan “kau tidak berniat pensiun? Aku akan tetap memberimu gaji,apartment bahkan uang liburan atau apapun yang kau mau. Kau bersedia?”
“saya memtuskan setia pada perusahaan ini sampai Tuan Adi mengambil alih”
Aris menghembuskan napas nya berat “aku lebih percaya ada ikan duyung di dunia ini daripada Adi berniat mengambil alih perusahaan ini.”
...*********...
__ADS_1
Setelah mandi dan berganti pakaian tidur Nanta kembali berbaring dan Nanta dengan keras kepala nya berhasil menang adu argumen untuk tetap tidur di kasur dekat jendela. sedangkan Adi dengan sigap nya malah menggelar kasur tipis di bawah Nanta.
“Kak, Kak Adi berarti orang kaya ya?”
Adi terkekeh geli. Ia menatap Nanta yang berada di atas sekilas meski wajah Nanta sama sekali tidak terlihat dari bawah sana
“iya! kenapa?”
Nanta menatap Adi dari atas sana, ia terdengar sangat senang membicarakan ini
“berarti Kak Adi CEO muda yang kaya, punya banyak kekuasaan dan harta nya gak akan habis sampe 7 turunan? Kaya di novel gitu?”
Ia menatap Nanta sedikit kesal
“aku belum kuliah Nanta! mana ngerti soal bisnis. Lagian rata-rata CEO itu tua-tua. Kalo ada yang muda pun minimal lulus kuliah! Jadi CEO gak segampang dan seenak yang kamu kira.”
Nanta mengangguk tanda mengerti, ia kembali merebahkan diri di kasur.
“kak Adi kalo lagi kenapa-kenapa bilang aja. jangan di pendem! Aku jadi takut liat kak Adi yang gak punya ekspresi sedih,takut kakak gak bisa sembuh dan bahagia.”
Nanta menatap pohon Ek setalah mengatakan kalimat itu.
“kamu takut sama aku?”
Diam. Nanta terus terpaku pada pohon Ek itu untuk beberapa saat
“enggak! Tapi apa pas kak Adi sedih kak Adi gak bisa ngerasain pohon Ek itu ikut sedih? Kayaknya pohon itu makin gelap aja kalo malem dan malem ini kayaknya pohon Ek itu sedih.”
Deeptalk malam itu berakhir dengan kedua orang yang diam menatap langit-langit kamar hingga mengantuk.
Pagi pun tiba, Cuaca sudah kembali normal. Cerah, Hangat dan nyaman. Nanta menatap lagi pohon Ek itu, daun nya basah karena embun. Begitu ia menyadari kasur yang Adi pakai sudah terlipat rapi dan Adi sudah pergi entah kemana.
“pagi Nona, apa Nona sudah mendingan?”
Ia menggaruk kepala nya yang tidak gatal
“iya, udah gapapa. Kak adi kemana ya kak?”
“eh? Jangan panggil saya Kak Nona, panggil saja saya Letta.”
Letta. Nama yang ibunda Adi buat untuk memanggil para Maid nya.
Nanta mengangguk tanda mengerti
“oke Letta, terus kakak satu lagi namanya siapa?”
Maid itu tersenyum tipis
“semua Maid disini dipanggil dengan nama Letta nona.”
“dan Nak Adi sedang jogging keliling komplek. Sebentar lagi dia pulang”
Setelah maid itu pergi, Nanta memakan sarapannya. 2 lapis roti panggang dan susu. Di tengah kegiatan makan, Adi kembali dengan keringat yang sudah membanjiri tubuhnya
“kamu udah bangun?” tanya Adi sembari membersihkan keringatnya dengan handuk yang menggantung di leher
Nanta diam sesaat menatap pemandangan langka itu lalu Nanta mengangguk pelan, ia kemudian menyodorkan satu potong roti lapis.
“NIH!”
__ADS_1
“makan aja semua biar kamu ada tenaga. Nanti kita ke dokter cek kesehatan kamu ya!”
Nanta seketika menarik kembali roti di tangannya dan berhenti mengunyah
“gak usah! Aku udah sembuh. Aku mau pulang sekarang aja!”
Adi menghampiri Nanta
“aku masih mau rapat OSIS sebentar. Sekolah kita kan bakal ulang tahun jadi bahas kegiatan yang bakal dilakuin nanti”
“minta sama preman kemaren aja buat anterin aku! dia orang baik kan?”
Adi tertawa terpingkal-pingkal
“namanya Gio. Panggil aja dia bang Gio! Tapi emang kamu udah gak takut sama tampangnya?”
“enggak!”
“kenapa?”
“kemaren aku mampir ke bengkel nya bang Gio itu dan ternyata bengkel nya kecil. Dia pasti bawahan kamu dan dia miskin jadi gak berani apa-apain orang di sekitar mu”
Aduh. Seandainya Nanta tau seberapa kaya Gio ini.
“heh! Dia gitu-gitu orang kaya loh! Dia itu orang yang lebih suka hidup sederhana”
Nanta melongo
“dia alergi menghambur-hamburkan uang ya?”
“ck dasar kamu! Pokoknya nanti ke rumah sakit dulu baru ku anter pulang”
Nanta memajukan bibirnya kesal
“ish!!!!!”
Ah dasar si Nanta.
Kini Nanta sudah berdiri tepat di depan pohon Ek itu dengan tanpa memakai alas kaki. Ia ingin merasakan air embun pagi yang jatuh ke rumput meski sudah ada 5 Maid yang menanyai nya dari tadi. namun karena Adi yang berjalan berdampingan bersama Nanta tidak bereaksi membuat para Maid itu tidak lagi meributkan hal ini.
Ia menyentuh batang pohon itu dengan telunjuk nya. Ya. keras sama seperti batang pohon lainnya.
“kamu suka?”
Nanta tersenyum menatap Adi
“iya! enak di sini rimbun. Tapi kalo malem gelap!”
“mama, kenalin ini Nanta!” kata Adi tiba-tiba. Nanta bingung, ia kemudian melambaikan kecil tangannya
“hallo tante!” sapa Nanta canggung
Adi menatap Pohon Ek yang kini sudah tumbuh tinggi, sudah hampir 7 tahun Ternyata ibu Adi meninggalkan Adi sendiri disini. Ia kemudian menatap Nanta sekilas yang masih diam menunggu reaksi Adi.
“Nanta, kalo kamu ada apa-apa kamu bisa pulang ke sini! Anggep aja ini rumah mu. Maaf aku gak bisa ceritain banyak hal yang bikin kamu penasaran Selama ini”
Nanta mengangguk pelan tanda mengerti.
...@yupi_yipiiiie/@yupipoem...
__ADS_1