
...PERPUSTAKAAN...
Buru-buru Adi mengambil buku yang akan ia baca nanti pada jam istirahat kedua. Hari ini adi terlambat bangun.
Entah karena cuacanya yang dingin ia jadi betah berlama-lama berdiam diri di kasur. Ia hari ini pergi mengenakan sweater warna hijau lumut membuat tampang nya makin gagah dan tampan saat dilihat.
Jam istirahat pertama Nanta, fero Tya dan Dea pergi ke kantin lebih awal karena adanya jam kosong. Mereka membicarakan film yang Nanta tonton tadi malam bersama Tya
“iya kan? Kemaren film xxxx seru banget! Mana ganteng lagi suami aku”
seru Nanta. Matanya berbinar membicarakan cowok ganteng seketika.
“tapi ratingnya jelek. Ga recommended buat gue!”
sahut Gea sembari duduk di kursinya membawa makanan ringan.
Nanta kian tak terima aktor kesayangannya mendapatkan perlakuan seperti itu atas film yang beliau bintangi.
“lu itu ga tau apa-apa soal keestetikan film Gea! Plis ga usah ikut campur.”
Ketus nanta pada Gea tak terima
Adi kini duduk di meja kantin tempat biasanya ia duduk. Entah kenapa ia menatap nanta dari tadi sedikit berharap gadis itu tak sopan dan duduk tanpa izin lagi. Tapi Adi tetaplah Adi, dia akan tetap bungkam apapun yang terjadi.
Zara yang tiba dan berdiri di depan Adi menghamburkan segala lamunan Adi.
“Adi, aku boleh duduk disini?”
Adi menggeryap kaget dan tanpa sadar ingin menolak Zara tapi apa daya
‘sehari ini saja' pikirnya
Nanta dan seisi kantin menatap pemandangan itu dan Fero berbisik
“mau taruhan? Yang jadian itu kak Aldo sama kak Zara atau kak Adi sama kak Zara?”
Gea menyeringai “500 ribu! Gue kak Zara sama kak Aldo!”
Nanta membelalak “ih, kok kka Aldo siii. Lo ini gimana? Liat noh mereka serasi banget! Romantis dan lucu”
kata tya menatap gemas pasangan rumor itu.
Fero menatap Nanta bingung
“lo ga cemburu? Bukannya kemaren lo yang pertama kali duduk di sana? Gue kira lo deket sama dia!"
Nanta menatap aneh Fero “lo sadar bilang gitu ke gue?”
“sadar dong! Gue kan ga kesurupan!!!! Apaan sih lo ini di tanya malah nanya balik.” Sahut Fero kesal.
Kini keributan mereka mereda setelah Aldo tiba menghampiri Nanta. Sekarang Nanta bertingkah sok anggun dan pendiam
“kak Aldo halo”
sapa Nanta lembut membuat teman-temannya bergidik geli melihat tingkah Nanta satu itu.
Aldo menyapa balik Nanta dengan senyum yang cerah. Padahal hari ini mendung
“eh Nanta. Boleh gabung?”
tanya Aldo sembari menarik kursi kosong di meja sebelah.
“boleh kak boleh banget! Semua boleh asal kakak baik yang minta.”
Nanta tersipu mengatakan itu. Ia kini geli sendiri jika mengingatnya.
“aduh kamu bisa aja. tadi kelas kamu jam kosong ya sebelum istirahat?” tanya Aldo sembari menyendok makanannya.
“eh iya kak, kok tau?” timpal Gea.
“guru mapel kalian tadi itu wali kelasku. Dia sakit dan dirawat jadi ga bakal masuk semingguan”
kata Aldo memberi penjelasan.
“alhamdulillah”
seru Nanta tanpa dosa memasang wajah bahagianya. Lalu canggung sendiri dengan apa yang dikatakannya setelah Aldo menatapnya kaget
“eh engga maksudnya get well soon hehe. Mulut ku typo kak maaf”
Jelas Nanta gelagapan.
__ADS_1
Kini Gea,Fero dan Tya sudah sakit perut menertawakan kebodohan temannya itu. Bahkan makanan yang ada di mulut Fero hampir menyembur keluar.
Nanta memperhatikan sweater yang Aldo pakai sejak tadi dengan teliti
“kak Aldo gampang kedinginan ya?” tanya Nanta setelah selesai melihat sweater itu.
“aku?”
Aldo menunjuk dirinya sendiri lalu melihat sweater yang ia pakai
“hari ini cuacanya dingin. Harus Pake sweater dong! yg gampang kedinginan itu ketua OSIS kalian.”
jawab Aldo memberi penjelasan.
“kak Aldo keren kalo pake sweater ini! Warnanya cocok di kulit kak Aldo!!”
puji Nanta dengan memberikan senyum yang cerah. Kebetulan sweater yang aldo pakai berwarna ijo lumut sama seperti milik Adi dan hanya berbeda di tulisan sablon saja.
“makasih udah muji! Tapi kamu emang ga kedinginan? Kenapa ga pake jaket atau sweater?”
Timpal Aldo bertanya
Tya menyahut sebelum Nanta sempat menjawab
“dia pake kak sebenernya Cuma dimasukin tas lagi karena gerah katanya. Kebiasaan banget suka cari penyakit”
Percakapan penuh tawa itu memiliki perasaan sedikit dengki pada Adi. Adi yang sedari tadi menatap Nanta kian kesal sedangkan Zara menatapnya penasaran.
“lo suka Nanta?”
tanya Zara membuat fokus Adi pada Nanta buyar
“jangan buat spekulasi gak jelas. Dia Cuma adek kelas pengganggu sama kayak sebelumnya”
balas Adi ketus. Zara menghela napas dan sedikit tersenyum menatap Adi
“Dia sama Nanta itu jauh beda. Dulu adek kelas itu yang jatuh cinta sama kamu sedangkan Nanta yang buat kamu jatuh cinta”
perkataan Zara sedikit membuat Adi kesal.
“Ra, tolong jangan sok tau sama perasaan gue.”
“adi, aku ga pernah nyerah buat nyukain kamu selama ini tapi lihat cara kamu mandang Nanta kayaknya aku ngerti kenapa kamu ga pernah suka balik sama aku.”
Kini Zara membuat Adi kian bertanya-tanya. Membahas masalah perasaan hanya akan membuat Adi bingung nan malas.
“dia mirip bunda mu kan?”
Mata Adi terbelalak mendengar hal itu. Perihal yang menyangkut ibunda Adi adalah sesuatu yang harus penuh dengan perasaan dan sekaligus penuh dengan ingatan menyakitkan.
“apa maksudmu?”
“bunda mu dan Nanta sama-sama harus kamu jaga. Jangan kasar sama Nanta karena dia anak kesayangan orang tuanya. Kalo kamu ga mau jadi pengecut kaya ayahmu, Jaga Nanta. aku tau kamu jatuh cinta sama dia.”
Zara pergi meninggalkan Adi. Perkataan Zara membuat Adi berpikir sejenak tapi lalu ia ikut pergi menuju kelasnya.
Meski tak mengatakan dengan lisan bahwa ia cemburu, Adi membuang sweater hijau lumut miliknya ke tempat sampah dan langsung menuju kelasnya.
Dika yang melihat Adi masuk tanpa sweater Nya khawatir.
Ia tau bahwa Adi sangat mudah kedinginan dan sering terkena demam. Bahkan berdiam diri di depan kulkas yang terbuka saja Adi pasti demam keesokkan harinya.
“Kemana sweater lo?”
...***************...
Jam istirahat kedua,Adi sudah bergegas ke Perpustakaan seperti biasanya. Hingga saat ia sudah sampai di Perpustakaan ia menyadari salah membawa buku. Harusnya buku penuh ilmu dan motivasi yang mau ia bawa tapi kali ini buku cerita anak dunia fantasi yang ada di dalam genggaman Adi.
Padahal niat Adi, ia membawa buku itu untuk mencari season terakhir yaitu season 21 di toko buku dan karena tak ada yang tahu tentang buku itu iapun membawa contoh salah satu buku.
Habis sudah harga diri Adi kalau semua orang tau dia menggenggam buku ini. Ia buru-buru menyelipkan buku itu di sela-sela buku perpustakaan lainnya dan mengambil sembarang buku untuk ia baca.
Nanta di seret paksa oleh Fero untuk pergi menemaninya ke perpustakaan. Nanta sangat kesal dengan Fero karena ia tau perpustakaan itu tak menyediakan buku hiburan untuk ia baca dan di tambah lagi tak boleh memainkan ponsel saat di dalam perpustakaan. Apalagi Fero menyeretnya hanya untuk cuci mata mencari gebetan.
“plis lah gue bener-bener alergi buku! Jangan bawa gue ke alam ghaib itu!!!”
pinta Nanta sembari menahan tubuhnya dari Fero yang menyeretnya paksa.
Fero berdecak kesal “Ayo anjir! Lo bisa cari gebetan ganteng juga di sana. Kakak kelas yang ganteng-ganteng banyak berkoloni” balas Fero yang semakin kuat menarik Nanta menuju ke Perpustakaan.
“gue udah punya inceran.” Balas Nanta.
__ADS_1
Brugh.
Fero seketika melepaskan tangan nanta yang ia tari dari tadi hingga membuat Nanta terjungkal
“Setan lo!” pekik Nanta.
Fero membersihkan tangannya dengan anggunly ke bajunya sendiri
“bilang dong kalo udah nemu. Kan gue ga harus narik lo kayak narik sapi!” balas Fero membela dirinya yang sebenarnya sangat bersalah.
Akhirnya mereka masuk ke dalam perpustakaan. Hening sekali bagai tak ada kehidupan meski semua kursi di sana penuh.
Fero bergegas menuju ke 2 wanita yang sedang asik membaca buku diikuti oleh Nanta yang membuntuti Fero.
“lo jangan deket-deket gue! Cari kursi yang lain” bisik Fero mengancam
Hingga ia akhirnya memutuskan untuk berkeliling perpustakaan dan menemukan buku berwarna hijau menyala. Buku yang penuh dengan gambar peri dan dunia fantasi yang unik itu menarik minat bacanya.
“gila! Ini beneran ada buku kaya gini?” Nanta memekik pelan. Ia senang akhirnya ada buku bergambar lucu di perpustakaan ini. Ternyata perpustakaan ini tak se menyeramkan yang orang-prang bilang, pikirnya.
Nanta mencari kursi ke sana kemari tapi yang ia temukan hanyalah Adi yang duduk sendirian. Terpaksa ia harus duduk di sana dengan tidak memperdulikan Adi.
“gue ga bakal ganggu lo! bener-bener Cuma numpang duduk. serius” kata nanta berbisik pelan pada Adi.
‘sial. Buku gue di pegang Nanta!’
Kini Nanta menepati ucapannya. Ia sibuk membaca buku dengan raut wajah yang sudah terpasang segala jenis emosi. Ia tersenyum, kaget, takut dan marah dalam satu waktu. Entah bagaimana ketidaksengajaan itu menghibur Nanta tapi Adi jadi senang Nanta menikmati buku itu.
Ia tak jadi membaca bukunya dan hanya menatap Nanta sembari sesekali tersenyum. Kemudian Fero beranjak dari kursinya dan mengajak Nanta kembali ke kelas
“ga asik cewe-cewe disini. Ayo balik Ta!”
Nanta yang masih asik membolak-balikkan halaman buku itu menolak ajakan Fero
“Lo duluan aja.” balas Nanta.
Fero berdecak kesal “ck. Ayo!” ia menarik paksa tangan Nanta hingga tersungkur jatuh
Bugh
“awh!”
Nanta mengerang kesakitan membuat erangan itu menyadarkan lamunan orang yang ada di Perpustakaan begitupun Adi yang duduk di depan Nanta. Adi bangkit dari kursinya dan menghampiri Nanta yang terjatuh
“kamu gapapa?”
Fero yang tak melihat ada Adi di sana terkejut bukan main. Tanpa sempat mengatakan sepatah kata pun ia sudah disambar amarah Adi.
“lo bisa ga jangan kasar sama cewe? Ga liat dia lagi baca? Ini perpustakaan jadi jangan berisik!”
Adi mengancam Fero yang masih terkejut.
Sebenarnya Nanta dan Feri sering sekali main fisik. Bahkan Nanta pernah memukul Fero dengan guci mini hingga pecah. Tapi mungkin itu terlihat keterlaluan jika dilihat oleh orang awam.
Nanta menatap Adi bingung. Ia melihat amarah yang sama saat MOS kemarin tapi kali ini hawanya benar-benar menakutkan.
“gue ga-pa-pa kok.” Nanta membuka mulutnya hati-hati dan mencoba bangkit lagi.
“gue ikut pergi sama dia aja kak”
lanjut Nanta menatap Fero yang sedang cengo.
“gapapa baca aja saya ga marah kok sama kamu.”
Balas Adi yang peka bahwa Nanta sedikit takut.
Fero berlalu pergi. Kini Nanta menatap Fero yang hampir menghilang dari pandangannya dengan tatapan memohon
‘tolongin gue.’
“hei? Kenapa bengong? Ga mau lanjutin baca?”
tanya Adi yang melihat Nanta terdiam beberapa saat.
“ah, anu kak gapapa.”
Balas Nanta. Nanta langsung duduk di depan Adi dengan ragu-ragu dan lanjut membaca bukunya itu.
Kini suasana perpustakaan tidak setenang sebelumnya. Gosip makin menyebar tentang Adi dan Nanta dan Adi tau tentang itu. Tapi ia tak peduli, omongan di belakangnya toh takkan mempengaruhi hidupnya. Tapi hidup Nanta, terpengaruh.
...@yupi_yipiiie...
__ADS_1