
...BACK TO SCHOOL...
Tubuh Nanta kini sudah sampai pada kasur kesayangannya. Lega rasanya sudah kembali ke rumah namun Nanta kagum ia bisa melihat kehidupan luar biasa dari seorang Adi.
Ya. dia adalah pria yang luar biasa keren sekarang. meski Nanta memiliki segudang pertanyaan pada Adi tapi hampir semua yang ia lihat kemarin seperti barang langka.
“gila! Kak Adi ternyata sekaya itu?” Nanta menatap langit-langit kamarnya sembari bicara pada diri sendiri
Ia kemudian bangun dan duduk di bibir kasur “tapi, kenapa Kak Adi sama Papa nya musuhan? Kenapa juga pohon Ek itu di anggep sebagai ibunya kak Adi? Apa jenazah ibunya dikubur di situ ya?”
Hingga sebelum semua pertanyaan itu hilang, wajah Adi lewat dalam pikirannya. Adi yang sedang tidur,habis olahraga bahkan Adi yang sedang marah. Semuanya terlihat tampan di bayangan Nanta lalu ia sadar dan menepuk kepalanya sendiri
“SADAR NANTA! NGAPAIN MIKIRIN DIA? DIA CUMA KASIHAN.”
Lagi, ia memukul kepala nya lebih kuat
‘jangan suka mukulin kepala!’
Kalimat Adi kini lewat di telinga Nanta “HEH! KOK KAK ADI LAGI? GAK ENGGAK GUE GAK BOLEH MIKIRIN DIA. HARAM!”
Nanta kemudian buru-buru membuka handphone nya dan benar saja dugaannya banyak telpon dan chat yang masuk. Diantara semua gelembung pesan itu terdapat satu pesan dari orang tua Nanta yang menurutnya agak aneh
“Nanta, kamu baik-baik ya sama Adi. Dia bakal jagain kamu kok!” itu dikirim kemarin.
Tepat setelah Adi mengatakan ia akan mencari no telpon orang tuanya pada admin sekolah.
“bunda dan ayah kenal kak adi?”
lagi pun, setelah pesan itu orang tua mereka tidak menelpon lagi. Dan suasana grup angkatan sudah membaik dan prasangka buruk mulai mereda namun gosip aneh lain banyak menyebar.
Entah itu Adi anak pungut lah, Adi gangster dan gosip aneh lainnya.
“dasar manusia sok tau!” ceplos Nanta usai membaca pesan itu
Ia kemudian menilik satu kantong penuh barang yang Adi berikan yang entah apa isinya. Baju yang ia pakai pun adalah baju dari Maid di rumah ibu Adi.
Terdapat sebuah sweater yang Nanta pinjam saat dijemput Gio. Sebuah baju yang cantik, sepasang sepatu, buku cerita fantasi dan obat-obatan yang Nanta tebak harga nya bukan harga rakyat jelata
“sweater nya kenapa dimasukin disini? Ketinggalan kah?”
ia membuka lipatan sweater itu dan aroma parfum Adi benar-benar masih menempel
“gila, wangi Kak Adi ternyata ganteng ya!”
katanya dengan senyum sumringah. sedetik kemudian ia mematung karena ia bingung bagaimana cara mengembalikan sweater ini
“ini gimana balikin nya? Kata kak Adi gak boleh ke rumah yang itu! Tapi kalo rumah gedong itu aku takut gak di bolehin satpam komplek masuk! Apa balikin di sekolah aja? ah nanti kakak kelas pada ribut! Tanya aja kali ya di telpon?”
nanta membuka layar ponsel nya. Sedetik kemudian ia kembali berpikir
“Kak Adi kayaknya masih sibuk takut ganggu. Ah kampret besok aja deh tanya kalo ada kesempatan.”
...*********...
“NANTAAAAAAAAAAAAAA” pekik Dea keras menyapa Nanta yang baru saja melewati pintu kelasnya. Ia memeluk Nanta erat “gue kangen sama looooooooooo”
Sesak. Nanta hampir tidak bisa bernapas dalam pelukan Dea “iya iya udah tolong lepas sist asma saya kambuh nanti.”
__ADS_1
Pelukan itu terlepas dengan Dea yang baru sadar akan tingkahnya
“lo udah denger kabar di tivi hari sabtu malem setelah kita jenguk?”
Nanta meletakkan tasnya di atas kursi kemudian beralih menatap lawan bicaranya, Dea.
“udah, gue juga udah tau kok”
“gimana tanggapan lo?”
Nanta menggedikan bahu nya
“Gak tau. gue juga gak bisa banyak kasih tanggepan tapi menurut gue sih apa yang ada di layar kaca gak sepenuh nya benar karena balik lagi ke dunia nyata Kak Adi yang kita sendiri aja masih nebak-nebak. Satu berita itu gak cukup deskripsikan hidup dia secara menyeluruh”
Dea terpukau setelah mendangar Nanta mengatakan hal itu. Ia tak sangka teman nya bisa sebijak itu
“gila, lo udah bijak ya ternyata. Gue kagum”
katanya sembari menutup mulut nya dengan kedua tangan.
‘apa yang ada di dalam hidup kak Adi sebenarnya?’ batin Nanta
Jam pelajaran telah di mulai. Nanta dan teman-temannya pun melewati nya sama seperti hari biasa lain meski akhir-akhir ini banyak jam kosong karena guru dan OSIS serta seluruh kelas sedang membersiapkan acara tahunan yaitu ulang tahun sekolah dan hari kemerdekaan.
“so, kita mau jual apa di bazar nanti?”
tanya Fariz, ketua kelas X MIPA 3 yang dingin dan jarang ngobrol namun tetap nyambung bila diajak diskusi
Fero terlihat berpikir “gimana kalo makanan aja?”
“makanan nya apa?” tanya siswi di samping Fero
“kenapa ga kerajinan tangan aja?” ceplos Tya
“bahan nya apa? Bukannya mahal ya?” kata salah satu siswi
Dea terlihat berpikir
“papa ku ada sih Tote bag dan Topi putih polos tapi kucel gitu!”
“kalo di beli harga nya berapa Dea?”
“gak ke pake tau! gak usah beli. Itu mama ku dulu jualan dan gak laku sekarang di simpen di gudang dan jadi barang gak guna.”
“lo yakin? Kalo menurut lo boleh sih kita bisa hias-hias gitu pake pewarna atau di jahit lucu!”
Kini semua mata menatap pada Dea
“Yakin! Oke deal ya? gue bilang papa gue dulu”
“OKE SIP!!!!!”
Kini semua kelas yang sibuk berdiskusi mulai mempersiapkan barang dagangannya. Kegiatan ini akhirnya di sepakati para anggota OSIS dengan jadwal ;
Karena pada akhirnya, semua manusia akan sibuk sendiri pada urusan pribadi mereka. Membicarakan orang lain hanya sebagai pembanding maupun sifat manusia yang selalu sok tau. kini semua mulai kembali berjalan baik-baik saja dan semua sudah mulai sibuk pada urusan mereka pribadi.
__ADS_1
“Nanta! apa kabar?” sapa Aldo yang baru saja keluar dari ruang OSIS setelah menuntaskan rapat kegiatan.
Nanta yang sedang duduk di kursi depan kelas nya sembari mencari ide membuat kreatifitas tangan sungguh terkejut melihat Aldo. Nanta sendiri lupa Aldo pernah ia kagumi. Tapi kali ini tidak, dia sudah memtuskan untuk pergi dari perasaan itu.
“baik kak! Kakak abis rapat ya?” sapa Nanta pada Aldo yang langsung duduk di sampingnya
“iya! kamu udah sehat banget? Kemaren gak masuk 3 hari kayak sepi sekolah ini.”
Nanta sungguh tak mengira Aldo akan tetap se ramah ini padanya meski tau sering kali ia di tolak Kak Zara.
Nanta yang dari tadi asik dengan handphone nya mulai beralih fokus pada lawan bicara nya
“kak Aldo emang orang yang se ramah ini ya? gak nyangka kak Aldo masih bisa ramah ke aku”
“eh? Apa maksudnya? Emang aku kenapa?”
Nanta tersenyum tipis “kalo kak Aldo serius sama kak Zara, jangan permainin perasaannya. Kata-kata aja gak cukup buat nenangin hati kak Zara! Aku emang orang awam di hubungan kalian tapi kayaknya cara kak Aldo salah buat deketin kak Zara”
Aldo tidak menyangka Nanta benar-benar akan berbicara serius
“Yah gimana ya, soalnya Zara kan suka sama...”
“Kak Adi!” Nanta memotong pembicaraan Aldo yang belum selesai
Aldo menatap Nanta beberapa detik
“aku tau! tapi kak, asal kak Aldo tau aja! cewek itu suka sama cowok yang hujan badai angin ribut bakal dia terjang demi cewek yang dia suka. Gak perlu insecure terus sama siapapun karena cewek yang baik pasti tau gimana perjuangan cowok!”
“mentang-mentang punya backingan ketos bisa nyeramahin aku!” katanya dengan wajah yang pura-pura kesal
“Idih! Apaan sih. Gak ada apa-apa kok.”
“HAH? ADI BELUM NGAPA-NGAPAIN KAMU?” Dika. Dia yang baru lewat 2 menit lalu menguping
“dasar lo! nguping ya?” tanya Aldo geram.
Dika menghampiri Nanta. ia menatap wajah Nanta dengan melotot tanpa kedip sedikitpun “LO belum di apa-apain sama Adi?”
Plak.
“APASIH KAK DIKA!”
“WOI! KOK GUE DITAMPAR?”
“APA? MAU TAMPAR BALIK? AYO AJA KALO BERANI”
“kampret mentang-mentang pacar KETOS JADI SONGONG!” lirih nya sambil memegangi pipi
Dua orang itu sepertinya tidak bisa akur kedepannya. Terlihat dari 2 kepribadian yang sama-sama senggol bacok – batin Aldo
Aldo menggeleng kepala nya pusing kemudian beranjak dan berlalu pergi “eh kak Aldo! Bisa minta tolong gak?”
“apa?”
“balikin sweater kak Adi! Kemaren ketinggalan.”
Aldo dan dika saling menatap curiga. Ternyata diam-diam Adi sudah memulai pergerakan.
__ADS_1
...@yupi_yipiiie/@yupipoem...