Ketua Osis Dan Gadis Asma

Ketua Osis Dan Gadis Asma
SECOND COUPLE


__ADS_3

...💞selamat membaca💞...


"kamu takut? takut Nanta kaya bunda mu yang gak bisa selamanya hidup sama Kamu? karena mereka sama-sama mengidap asma?"


Adi berbalik. ia menatap Aldo dengan tatapan tajam. "gak usah sok tau perasaan gue, Do."


"kenapa? pada akhirnya lo juga sama aja kaya bokap lo kan?"


"APA MAKSUD LO?"


Aldo menyeringai "lo gaada bedanya sama dia, Adi. lo tetep nganggep Nanta penyakitan kaya bokap lo yang nganggep bunda lo nyusahin seumur hidupnya! lo bakal tetep buang Nanta, karena takut di tinggalin orang yang lo sayang selamanya dan lo liat Nanta hanya sebagai orang penyakitan menyusahkan!"


Adi mengepalkan erat tangannya. ia berjalan maju menuju Aldo dengan mata yang merah.


"BRENGSEK LO, DO!" Adi menarik kerah baju milik Aldo, ia hampir melayangkan tinju nya namun Zara berhasil menghadangnya dengan menengahi mereka.


"CUKUP!!!"


Adi menghindar, Ia langsung bergegas pergi ke luar sekolah tanpa memperdulikan satpam sekolah yang menghadangnya.


beberapa orang berbisik setelah melihat Adi keluar dari ruang sekretariat OSIS.


"mereka berantem? ngerebutin ka Zara ya?" celetuk salah satu siswa yang dari tadi mendengar keributan di ruang itu.


"ga tau, tapi mereka bahas Nanta anak IPA 3 gitu."


"tapi kenapa ka Zara sama ka Aldo masih di dalem. mereka ngapain?"


sementara Aldo masih di tenangkan oleh Zara di ruang sekretariat OSIS


"nih, tenangin diri mu." katanya sambil menyodorkan segelas air.


Aldo langsung meminum air itu sampai habis meski amarahnya belum mereda. Zara menghela napasnya, kemudian menilik ke luar dan orang-orang berkerumun. tanpa pikir panjang Zara langsung membanting pintu hingga tertutup rapat-rapat.


"kenapa kamu gak keluar aja? orang-orang bisa salah paham" Kata Aldo setelah mendengar suara bantingan pintu itu.


Zara menarik sebuah kursi ke samping Aldo ia duduk dan memerhatikan Aldo yang masih dalam amarahnya.


"Kenapa?" Aldo yang dari tadi menatap ke sembarang kini menatap ke Zara yang dari tadi memandanginya.


"gapapa, mau liat muka seorang Aldo yang ramah jadi jutek"

__ADS_1


"keluar aja, Orang-orang mulai gosip pasti. jangan sampe kita bertiga kena rumor gak jelas lagi."


Zara memutar bola matanya, tubuhnya semakin mendekat ke Aldo "kita udah kena, sekalian aja"


Aldo tertawa miris "bener sih, kamu pasti sedih sekarang karena hari ini pemeran cowoknya itu aku, bukan Aldo."


Zara tertawa, ia sampai memukul meja di depannya.


"kenapa ketawa?" tanya Aldo heran


"kenapa? gak boleh? itu lucu tau! itu artinya kita bertiga pemeran utama karena sering di gosipin. keren juga kalo di pikir-pikir! 3 manusia kaya raya penguasa sekolah. bagus kan judulnya?"


Aldo menatap Zara yang masih tertawa "bagus"


"bener kan? aku hebat kan? apa aku jadi sutradara aja? aku mungkin cocok di dunia perfilm-an. ide barusan langsung muncul pertama kali di otakku."


"ini juga kali pertama kamu ketawa lepas, sama aku."


Tawa Zara seketika lenyap. Kini mata mereka saling bertemu. lama sekali. Zara yang menyadari itu langsung bergegas bangun sembari merapikan seragamnya yang tak kusut sama sekali.


"kenapa mau pergi? di sini aja. katanya mau jadi sutradara yang hebat. siapa tau duduk di sini sama aku bisa munculin ide hebat lagi"


"gak baik kalo kita makin di gosipin!"


Zara marah, ia mengepalkan kedua tangannya. "pokoknya tadi kamu ke Adi terlalu berlebihan. biar dia urus masalah dia sama Nanta. kamu jangan berantem lagi sama dia."


Aldo menyandarkan wajah pada kedua tangannya. "oke. kamu keluar duluan aja. nanti reputasi mu jelek kalo di gosipin sama aku"


"tenang aja, reputasi ku gak akan jelek. gak mungkin mereka ngira orang yang ramah dan sayang ke semua orang bisa sayang ke satu cewe doang." Zara bergegas pergi. setelah menutup pintu, ia melihat sekitar dan mengetahui beberapa orang sudah bergosip ria.


namun gosip dengan suara sumbang itu takkan menghentikan langkah nya karena mereka tak berarti apa-apa bagi Zara.


......*************......


Adi langsung masuk ke rumah Bunda nya dan bergegas masuk dengan amarah. para Maid di sana langsung sembunyi dan menghindar karena tau tuan nya sedang dalam keadaan yang tidak bisa di ganggu.


Adi menuju ke pohon Ek (Oak) milik bunda nya. ia menatap dahan pohon yang tinggi itu sembari tertawa miris "Kenapa? kenapa bunda bukan orang normal? kenapa bunda yang harus pergi selamanya? kenapa bunda Sakit? KENAPAAAAAA"


"kenapa Bunda sama Papa gak bisa jadi suami istri yang saling mengasihi? kenapa kalian gak bisa saling sayang kaya suami istri Lain? Papa jadi sama wanita murahan itu karena bunda pergi." Adi terduduk lemas sambil tersedu-sedu. merindukan sosok yang sudah tak bisa ia peluk dan lihat lagi membuat hatinya begitu sakit. ia memukuli dadanya sambil mengingatn hal yang Aldo katakan tadi.


"aku gak sama kaya papa! aku gak sama kayak papa. aku beda! aku bukan pengecut kaya papa!!!!!" terus berulang hingga suaranya semakin terdengar pilu di telinga para Maid di rumahnya.

__ADS_1


di tengah itu, seorang wanita dengan tuxedo hitam, jam tangan mewah dan sepatu hak tinggi masuk ke rumah itu tanpa mengucap sepatah kata pun. Maid yang bersembunyi dari Adi langsung ke luar menyambut wanita itu.


"Adi sedang sedih nyonya, dia kayanya patah hati"


Wanita itu menatap maid di sebelahnya dengan kesal "berapa kali ku bilang, aku bukan nyonya rumah ini. aku juga pelayan! ah sudahlah, kalian buatin makan siang aja untuk Adi. saya akan urus dia di sana."


Benar, Itu adalah Gia. kembaran Gio yang menjadi pelayan setia Aira sejak 30 tahun yang lalu.


"kenapa kamu nangis-nangis di depan pohon ? minta uang? kamu kekurangan uang?" ia berdiri di samping Adi dan menatap pohon oak yang sudah tidak ia lihat hampir 1 tahun ini


"tinggi juga, bunda mu pasti bisa sampe ke surga beberapa tahun lagi."


Adi yang menyadari kehadiran Gia menatap nya dengan sinis, ia kemudian bangun dan kembali marah karena kesal "tutup mulutmu. jangan bicara sembarangan tentang bunda ku"


"kamu gampang tersinggung. 11 12 sama Kholiq!"


"AKU GAK SAMA KAYA PAPAAA"


Gia tercengang mendengar teriakan itu. tak sangka bocah yang ia rawat dulu kini memaki nya. "iya iya aku tau. gausah teriak-teriak! nyebelin banget sekarang kamu ya! gapapa, sakit hati itu wajar namanya juga cinta-cintaan jaman SMA. lagipula gaada yang serius dari omongan anak yang bahkan belum bisa berdiri di kaki sendiri, Di!"


"pergi. jangan muncul di hadapanku lagi." dengan mata yang tajam itu ia menatap Gia kemudian bergegas masuk menuju kamar bunda nya.


Gia membiarkannya pergi tanpa mengatakan apapun, ia kemudian menuju ruang tengah dan menyalakan televisi.


belum 2 menit, Gia kembali di kejutkan dengan suara teriakan saudara kembarnya, Gio.


"ADIIII"


Gia memutar kedua bola matanya. "kenapa orang-orang hari ini teriak-teriak?" kemudian ia menatap Gio tajam "kenapa teriak2 kaya di lapangan bola? apa mau latihan vokal?"


"lo ke sini? kenapa? masih mau bujuk Adi?" kata gio yang terkejut setelah melihat adik kembarnya ada di sini.


"tadinya gitu, tapi kaya nya dia lagi patah hati. gue gak tega liat bocah bau kencur nangis"


Gio diam sejenak, ia kemudian ikut duduk di samping Gia dengan terburu-buru "Gia, lo inget gak orang yang pernah bantuin Aira pas itu? pas perusahaan di kasih saham 30% sama pasangan suami istri itu?"


"inget banget. mereka kaya malaikat. Dimana ya kira-kira mereka Sekarang?"


"ini masih dugaan gue, tapi kaya nya pasangan itu orang tua dari pacarnya Adi."


"APA?"

__ADS_1


...💫Terima Kasih💫...


...(terus dukung karya ini dan karya karya leaniz yang lain ya!)...


__ADS_2