Ketua Osis Dan Gadis Asma

Ketua Osis Dan Gadis Asma
PREMAN!


__ADS_3

...PREMAN!...


“PAPA? PAPA NGAPAIN DI SINI?”


Kholiq sudah duduk manis di ruang tamu menunggu Adi sejak pukul 10 pagi. Ia sengaja tak membuka pintu kamar Adi karena takut Adi terbangun jika ternyata ia tidur. Artinya, Kholiq tidaklah mengetahui keberadaan Nanta.


“kenapa kamu gak angkat telpon papa? Gak sopan!”


kini ia berdiri menghampiri Adi yang masih belum move on dari rasa terkejutnya.


Adi memutar bola matanya malas. Ia sebegitu benci melihat ayah nya saat ini


“ini rumah ku Pa! Papa gak berhak masuk ke rumah ku tanpa ijin. Itu juga gak sopan!” balas Adi ketus


Kholiq memegang bahu Adi yang kini lebih tinggi dari tinggi badan nya sendiri


“ikut papa ke perusahaan!”


Setelah kalimat itu keluar dari mulut Kholiq, Adi tanpa ragu menepis tangan ayahnya dengan kasar


“aku gak mau berurusan sama perusahaan sial itu!”


“ADI! KAMU ITU PENERUS PAPA. Siapa lagi yang akan menjalankan perusahaan?”


kini nada suara Kholiq naik turun setelah amarah nya naik ke permukaan


“kasih aja ke anak perempuan kesayangan papa dan istri yang paling papa cintai itu! Aku gak peduli. Tolong jangan ganggu aku lagi pa!”


Sudah lebih dari 30 menit Adi tidak kembali membuat Nanta penasaran. Ia juga bosan berada di kamar Adi yang super minimalis itu. Dengan langkah kecil nya ia membuka pintu kamar Adi dan yang ditemukannya adalah Adi bertengkar dengan seorang pria paruh baya.


Dengan tatapan bingung, Nanta dan Kholiq saling memandang.


“Nanta, masuk ke kamar lagi!”


Kata Adi yang belum sempat membiarkan Nanta menatap Kholiq dari ujung rambut sampai ujung kaki


“Kamu bawa cewe ke sini? Kurang ajar!”


Plak.


Tamparan itu mendarat sempurna di pipi Adi semakin membuat Nanta bingung, kaget dan takut.


Adi memegangi bekas tamparan itu


“Nanta, jangan dengerin dia! Masuk lagi ke kamar.”


Adi semakin menatap benci ayahnya setelah mengatakan itu.


Tak bergerak karena bingung semakin membuat Nanta kikuk


“g-gak usah. Aku pulang aja kak!” dengan langkah terburu-buru Nanta mencari pintu keluar


“MASUK SAYA BILANG!”


kini Adi menatap Nanta dengan amarah yang bahkan belum pernah Nanta lihat.


Takut. Hanya itu yang Nanta rasakan hingga tanpa pikir panjang Ia langsung kembali masuk ke kamar Adi


“siapa dia? Kenapa cewek itu bisa masuk ke kamar kamu? Murahan sekali!”


“PAPA! JANGAN PERNAH PANGGIL DIA DENGAN NAMA ITU. HAJAR ADI SAMPE BONYOK TAPI JANGAN PERNAH PAPA PANGGIL DIA DENGAN HINA.”


Tak percaya, Kholiq langsung tertawa sinis mendengar itu


“kamu lebih milih belain dia daripada ayah kamu sendiri? cewek itu jerat kamu pake apa? HEH! AYO KELUAR KAMU.”


Kholiq menatap pintu kamar Adi yang sudah terkunci sempurna oleh Nanta


Bugh.


Pukulan itu mendarat tepat di pipi Kholiq. Jujur, Baru kali ini dia merasakan anaknya sebegitu marah dan berani padanya

__ADS_1


“PERGI! AKU GAK MAU LIHAT MUKA PAPA LAGI.”


“brengsek!”


Dengan kata umpatan itu, Berakhir sudah pertengkaran antara Adi dan ayahnya sendiri. saat Adi menenangkan diri dengan duduk di sofa ruang tamu sembari mengatur napas, Nanta duduk meringkuk menahan air mata yang hampir jatuh membasahi pipi nya.


Setelah hampir tenang, Adi kembali masuk ke kamar dan buru-buru menghampiri Nanta


“Nanta? kamu gak papa?”


Tidak. Nanta kini malah menangis melihat Adi. Ia langsung memeluk Adi karena takut dan bingung.


“gak pa pa. Orang nya udah gak ada! Kamu gak usah takut.”


Nanta melepaskan pelukan itu perlahan menatap pipi Adi yang memar habis di tampar


“memar.” Lirih Nanta.


Adi kemudian memegang kembali pipi nya dan baru menyadari tamparan itu memang lumayan sakit.


“gak sakit banget kok. Memar dikit pasti sembuh besok!”


Tidak mungkin Nanta benar-benar akan membiarkan memar di wajah Adi begitu saja. Ia langsung berlari ke dapur diikuti Adi yang bingung melihat tingkah Nanta


Nanta langsung memasak air kemudian mencampurnya dengan air dingin hingga menjadi hangat.ia duduk di ruang tamu Setelah itu ia langsung mengompres Adi.


Adi tidak berkata apapun setelah itu. Ia diam menyaksikan Nanta yang sedang merawat dirinya.


Hingga setelah hampir selesai mengompres, Pintu rumah Adi kembali terbuka dengan suara dobrakan yang keras. Padahal pintu nya tidak dikunci


“awh!” Gio. Preman urak-urakan itu yang masuk menerobos masuk ke dalam rumah Adi dengan mendobrak pintu tapi tubuhnya terguling jatuh.


Mendengar suara dobrakan itu, nanta menggenggam ujung baju milik Adi kuat dengan wajah yang takut.


“gak pa pa. saya kenal dia!”


Kini tubuh Gio sudah berdiri dan terlihat sempurna oleh mata Nanta. tinggi, Berotot dan penuh tato juga luka di tubuhnya. Hanya dengan memakai kaos tanpa lengan dan celana jeans membuat pemandangan itu terlihat jelas.


tanya Gio sembari mengusap-usap lengan nya yang sakit


Adi menghelas napasnya panjang setelah mendengar ayahnya lagi yang di bahas.


“iya. tadi kaya ring tinju di sini! Btw kok lo tau?”


“heh bujang! Gue ini mantan seorang informan. Ya jelas tau lah!”


Pandangan Gio kini tepat mendarat ke Nanta. merasa dirinya diperhatikan, Nanta langsung sembunyi di balik punggung bidang milik Adi


“cewe kemaren ya?” tanya nya pada Adi dengan wajah nakal


“iya! nanta, kamu ikut dia ya. nanti saya nyusul!”


Menggeleng dengan yakin, Nanta benar-benar tak sudi jika harus ikut preman itu. Lagian mana ada yang percaya jika Gio tidak akan melakukan apa-apa pada Nya?


“dia orang baik. Dia kenal saya! Emang badannya aja yang udah kayak abis di pilok sana-sini berwarna tapi dia baik kok. Nanti saya nyusul! Saya ada urusan sebentar”


“HEH KAMBING GUE DENGER YA! ENAK AJA ABIS DI PILOK!”


Wajah adi yang penuh keyakinan membuat Nanta menurut saja meski ia benar-benar ragu.


Sebelum Gio membawa nya pergi Adi memasukkan 9 buku cerita fantasi miliknya dan memakaikan Nanta jaket domba.


“gak mau pake yang ini!”


Adi menatap Nanta bingung


“terus? Mau yang mana? Cuaca nya masih dingin nanti kamu demam lagi.”


“kak Adi ada sweater?”


...***************...

__ADS_1


Kini Nanta sudah berdiri di depan bengkel Gio. Bengkel yang bisa dibilang sangat sederhana dan tidak terlalu besar


“bentar ya! gue mau ambil kunci rumah dulu.”


Hanya mengangguk, Nanta melihat jalanan yang basah karena hujan seharian ini. Dingin dan terasa sangat ingin dipeluk. Tapi, bagaimana Nanta memeluk suasana yang begitu dingin ini?


Di perjalanan setelah mengambil kunci rumah Nanta dan Gio sama-sama tidak bicara lagi. Tapi Nanta terlihat menikmati suasana jalanan siang yang dingin ini dengan memakai sweater Adi yang hangat.


Kini mereka tiba di depan rumah yang benar-benar mewah. Terlihat dari luar pilar nya saja berwarna emas dan sangat elegant


“ini rumah siapa?” Nanta dengan ragu bertanya


“rumah gue, keren kan?”


“HAH?”


ketidakpercayaan Nanta benar. rumah itu bukan milik Gio tapi milik mantan bosnya, Aira.


Adi dengan motor ninja nya melaju cepat diantara suasana yang dingin ini. Kini ia tiba di perusahaan V’OLE SM. Sebuah perusahaan yang fokus di dunia kosmetik.


Saat sampai, Adi melempar kunci nya ke sembarang dan di tengkap oleh penjaga yang ada di sana. setelah masuk, Semua karyawan menyambutnya dengan hangat dan terbuka.


“ADIIIIIIIIIIII” sapa seorang pria yang tak lain adalah paman nya, CEO of V’OLE SM yaitu Aris yang ternyata sedang berdiri di meja resepsionis


Aris menyambut Adi dengan pelukan hangat. Sudah lama ia tak melihat keponakan satu-satu nya itu.


“om, Adi mau ambil uang.” Katanya dengan perasaan yang benar-benar tidak nyaman


Aris menatap keponakannya dengan tersenyum


“kenapa kamu baru minta sekarang? Mama kamu udah kasih ini sejak lama padahal. Kamu butuh berapa?”


“150 juta.”


Aris mengernyitkan dahi mendengar nominal yang di sebut adi


“Di, itu mah buat apa? Kirain kamu minta hampir 12 milyar! Uang sedikit kayak gitu kamu gunain untuk apa si?”


“belanja dan kebutuhan kecil lainnya.”


“untuk siapa? Pacar kamu ya?”


“bukan pacar. Tapi belum!”


“WOOOOOOOOOO! KEPONAKANKU PUNYA PACAR!!!”


Adi menutup wajahnya malu. Ia tak menyangka paman nya yang biasanya santai dan kalem akan berteriak sedemikian kerasnya.


“OM!” ketus Adi kesal.


Belum sempat OM Aris membalas, Sekretarisnya yaitu Gia datang membawa laporan hari ini.


“Pak aris? Maaf menganggu tapi pak dzikri baru akan kembali 1 minggu lagi dari semarang. Bisa kita tetap memulai rapatnya di hari jumat? Proyek ini sudah harus segera ditangani.”


“astaga! Gia masih aja produktif dan semangat! Lama ya gak ketemu?” sapa Adi pada Gia.


Gia menatap wajah yang sudah tidak asing itu


“Adi? Apa kamu belum tertarik menjalankan perusahaan milik ibumu tersayang ini?”


Adi memutar bola matanya malas. Ia kemudian buru-buru pergi dari meja resepsionis itu


“Nanti transfer aja ya om! Makasih!”


Gia dan Aris tertawa kecil melihatnya.


“untuk proyek itu bisa kita lakukan secepatnya! Kita tidak perlu lagi menyusahkan Dzikri kali ini.”


“Baik.”


...@yupi_yipiiie/@yupipoem...

__ADS_1


__ADS_2