Ketua Osis Dan Gadis Asma

Ketua Osis Dan Gadis Asma
PENASARAN


__ADS_3

...PENASARAN...


Nanta menghentak-hentakkan kakinya kesal. Padahal dia baru saja bilang pada Aldo untuk tidak baik ke semua wanita namun Aldo malah mengaplikasikannya terlalu cepat.


“IH! Dasar kak Aldo! Kak dika juga kenapa gak mau tolong sih? Kan Cuma tinggal ngasih.”


Deg. Langkahnya terhenti setelah berpapasan dengan Zara.


Ah. Sial! Sainganku. - Batin Nanta


Zara menatap sweater yang di genggam Nanta “sweater siapa?”


“oh, punya orang mau kubalikin.” Balas Nanta lalu buru-buru pergi


“punya Adi?” sial.sial.sial Nanta kembali menghentikan langkahnya


“iya kak!”


“sini kasih aku, aku yang balikin.”


Nanta sejenak berpikir namun ia menolak tawaran Zara pada akhirnya


“gak usah kak aku sendiri aja yang kasih”


“Adi sibuk banget! Dia aja gak sempet masuk kelas hari ini.”


Setelah mendengar kalimat itu, Nanta kembali menyadari betapa dunia Adi dan dirinya sangatlah berbeda namun, Ia tetap bertekad memberikan sweater itu sendiri


“masih ada hari lain kak. Gak perlu hari ini kalo emang kak Adi sibuk! Makasih.”


Dengan langkah sigap Nanta meninggalkan Zara. Semakin jauh hingga Zara melihat punggung gadis itu semakin lama semakin menghilang karena langkahnya yang cepat


“dasar si Adi. Kenapa dia milih cewek yang kurang sopan? Ah sudahlah masalahku lebih banyak sekarang!!!!” Zara pun berlalu pergi


Nanta mengintip ruang OSIS itu dari balik kaca. Yang ia lihat adalah Adi yang masih bersama beberapa anggota OSIS lain yang sedang berdiskusi menyiapkan kegiatan sekolah ini.


“ck. Kak Adi emang sibuk ya ternyata?”


“WOI!” satu suara itu berhasil mengejutkan Nanta dengan sempurna


“eh! Ihhh kenapa kak?” tanya Nanta pada perempuan yang baru saja mengejutkannya. Ia tebak, kakak kelas itu adalah anggota OSIS.


“ngintip siapa? Ayang? Gak sopan kamu ya!” katanya tegas


“eh enggak kok. Cuma ada urusan sedikit! Yaudah makasih ya kak” ia buru-buru ngibrit setelah di tegur. Malas sekali jika Nanta harus di pandangi kakak kelas lain di dalam


“itu cewe yang asma kemaren gak sih? Liat apa ya? Adi?” gumamnya sembari celingukan melihat Adi yang sedang rapat di dalam.


Wanita itu tidak menindak lanjuti kecurigaannya karena ia sudah harus menyusun acara bersama anggota OSIS lainnya. Sedangkan Nanta kembali lagi ke kelas dengan kesal.


Anggota OSIS baru saja pulang ke rumah masing-masing sekitar pukul 3 sore. Sedangkan siswa lain sudah pulang ke rumah pukul 11 tadi. Tentu saja karena acara nya akan diadakan minggu depan, persiapan harus segera dilakukan.


Nanta masih mematung di depan cermin kamarnya. Ia belum selesai bergumam sejak kembali ke sekolah


“Kak Adi nyembunyiin apa ya? kenapa dia musuhan sama Papa nya? Kenapa rumah mama nya kak Adi kayaknya punya banyak misteri?” wajahnya penuh tanya terlihat dari pantulan cermin itu.


“apa aku cari tau aja? tanya siapa? Kak Aldo?” Nanta dengan cepat menggelengkan kepalanya. Malas jika sudah berurusan dengan Aldo lagi.


“dia masih dalam tahap PDKTAN sama kak Zara! Aku gak boleh ganggu.” Kini ia kembali berpikir memikirkan sosok yang tepat untuk ia tanyai


“kak Dika?” Nanta mengerutkan dahi “GAK SUDI JUGA SI” wajahnya kemudian berubah merah. Ia menatap langit-langit kamar nya


“BANG PREMAN!!!!!”


Benar. Jawaban atas pertanyaannya sedniri kini sudah ia temukan. Hanya tinggal mencari mantan preman satu itu, Gio.

__ADS_1


Hari esoknya, Nanta masih berusaha menemui Adi namun nihil. Adi selalu mendekam di ruang OSIS dan meskipun mereka berpapasan, Adi terlihat selalu sibuk. Entah membaca prposal acara, mengatur waktu acara, memantau latihan paskibraka dan lainnya.


Dunia nya dan dunia Nanta kini begitu terasa berbanding terbalik. Apa aku mampu jatuh cinta dengan sosok Adi yang sempurna itu?


Sepulang sekolah, Nanta tidak langsung pulang melainkan pergi ke bengkel Gio.


Jalanan menuju bengkel Gio benar-benar rumit! Padahal ada banyak orang yang membuka bengkel di pinggir jalan raya tapi kenapa Gio memilih jalan ini. – batin Nanta.


Sampai.


Kini nanta sudah tepat berdiri di bengkel Gio. Dengan seragam batik SMAN 2 ADMADJA nya dia mengetuk bengkel itu dengan ragu.


“hallo! Baaaaang!!! BANG GIOOOO HALOOOO”


sudah hampir putus pita suara Nanta memanggil Gio namun Gio tak kunjung membuka pintu bengkelnya.


Terakhir kali dia kesini bersama Gio pun bengkel nya di tutup! Jika kata Adi benar adanya jika Gio adalah orang kaya kenapa dia tidak memperkerjakan orang?


Sudahlah. Usaha nanta mengetahui sisi Adi yang lain karena penasaran pun harus ia musnahkan. Nanta menyusuri jalanan yang sepi itu dengan pikiran yang sudah melayang. Entah apa yang ia pikirkan namun yang pasti raut wajahnya bisa berubah seperkian detik


“siapa dia? Kenapa anak sekolah bisa sampe ke sini?” seorang pria berbisik pada sosok tubuh besar, kekar dan berotot. Tak jauh beda dari Gio hanya lebih tinggi beberapa centimeter saja.


3 orang itu menghampiri Nanta


“siapa lo? Kenapa bisa sampe ke sini?” terkejut. Nanta yang sedang melamun reflek menatapnya dengan tatapan takut.


“a-anu gak papa Cuma ada urusan sedikit!”


merinding. Nanta buru-buru pergi meninggalkan 3 orang pria itu.


wajah salah satu preman itu terlihat tidak asing dengan seragam yang dipakai Nanta


“itu...Seragam sekolah anak dari kholiq kan? Apa gue salah liat?”


kini 3 preman itu saling menatap. Mereka kemudian mengejar Nanta untuk menanyai nya


“hah? Eh? Kenapa?”


Mereka menatap sekilas baju yang dikenakan Nanta “kamu satu SMA sama Adi?”


Deg. Kenapa ini? Kenapa ni orang nanyain kak Adi?


Nanta melepaskan tangan pria itu ragu


“om...tau Adi dari mana?”


“kalo lo berani dateng ke sini untuk ketemu sama si Gio penghianat itu, artinya lo barang penting untuk Adi kan?” pria itu mendekat membuat Nanta melangkah mundur karena takut.


“JANGAN GANGGU GUE!!!!!!”


Nanta kemudian berlari sekuat tenaga nya dengan melewati celah-celah jalanan yang sempit. Entah karena ingin menyembunyikan diri atau memang mengecoh preman itu namun kali ini Nanta memilih jalan yang salah.


Ia tertangkap.


Kini ia tiba di gang buntu. Naik pun tak mungkin karena banyak kawat


“bilang ke gue apa hubungan lo sama Gio?”


semakin mendekat semakin membuat Nanta panik. Ia berulang kali mencoba menarik napasnya lagi setelah berlari dan sembari menangkan diri.


Ia tidak boleh hanya diam menerima segala serangan dari 3 pria brengsek ini.


Nanta menutup matanya, menarik napas yang sama berulang kali. Hingga tiba hanya 2 meter jarak antara dia dan preman itu, Nanta memukul wajah salah satu preman dengan genggamannya.


Preman jatuh kemudian memegangi pipi nya kuat “SIALAN! MAJU LO SINI!”

__ADS_1


Nanta adalah seorang gadis yang memiliki sabuk hitam di karate. Dia juga pernah beberapa kali menghajar orang sewaktu kecil.


Jika tidak tertutup asma nya, mungkin Nanta dan preman itu memiliki kekuatan setara. Namun agak mustahil jika 3 orang pria berbadan besar bisa nanta kalahkan sendirian. Ia pun terbentur tembok beberapa kali di kepalanya dan terkena tinjuan preman itu.


“ANJING MAJU KALIAN PREMAN BRENGSEK!!!!!!!” lega rasanya Nanta mengatakan itu setelah sekian lama. kini amarah yang ia pendam lama seakan memendar bebas di angkasa.


Di tengah pertengkaran itu, Gio dan motornya behenti setelah melihat seragam sekolah yang di pakai Nanta.


“WOI ANJING! PENGECUT LO BERANI LAWAN CEWE!”


BUGH.


BUGH


BUGH.


Hanya dengan belasan tinjuan mereka semua hampir tumbang. Tentu ini juga berkat bantuan pukulan maung Nanta meskipun ia mendapat banyak tatto di wajahnya.


“lo orang paling brengsek yang pernah gue temuin! Dasar penghianat!” mereka pergi setelah salah satu diantaranya mengatakan itu. Kini hanya tingal Nanta dan Gio.


...************...


“KENAPAAAAAAA? KENAPAA LO LAWAN 3 PREMAN ITU ANJIR!” Gio menjambak rambutnya kasar setelah melihat wajah Nanta yang penuh luka dan memar


Nanta menggertakan gigi nya kuat “YA KALO GUE GAK LAWAN GUE MATI! KAN GUE GAK SALAH APA-APA” katanya membela diri


Benar juga, Gio akan semakin dimarahi jika Nanta pingsan lagi.


Ia mencoba menenangkan diri karena sadar gadis ini akan bertingkah seperti cermin. Jika ia membentak akan dibentak. Pukul akan dipukul. Tampar akan ditampar


Gio menarik napasnya dalam-dalam kemudian mengubah raut wajahnya menjadi senyum yang sumringah


“wahai Nanta, lo kenapa ke sini? Lo udah ijin sama Adi? Tempat ini berbahaya sayang.....” katanya bertanya dengan nada selembut sutera


Nanta melirik Gio sekilas, ia pun kemudian mulai menjelaskan maksud dan tujuan nya


“gue mau ke sini mau tanya sedikit soal Kak Adi. Penasaran! Terus mau balikin sweater juga sama kepo aja mau liat bengkel ini”


“dia belum kasih tau soal mamanya? Atau soal papanya yang nerobos masuk?”


Gio heran. Ia kira Adi dan Nanta sudah setengah jalan namun Adi bahkan belum membiarkan Nanta masuk ke jalan hidup Adi


Nanta menggeleng pelan “dia aja belum kasih tau kenapa pohon Ek itu serasa kaya mamanya. Emang ini bener ya bang? Gapapa kalo kayak gini? Kak Adi sibuk terus di sekolah dan di rumah juga gak tau dia ngapain aja. gak tau juga dia di rumah yang mana! Gue sempet mikir apa bisa nyukain orang kalo kaya gini? Gue wajar kan kalo baper?”


Gio kembali menelaah omongan Nanta. benar juga, Adi yang sibuk itu apa bisa jika harus bersanding dengan Nanta yang memiliki penyakit sama seperti mamanya?


Bisa jadi suatu saat, Adi akan menganggap Nanta itu beban seperti apa yang dilakukan ayahnya dulu.


Gio berlutut “Bener si.... dia belum cerita banyak tapi udah bisa ngasih banyak perhatian itu agak rumit! Tapi Nanta, lo bisa tunggu sebentar lagi? Gue tau nungguin seseorang itu butuh perjuangan tapi percaya sama gue, Adi bakal bisa pegang janjinya!”


Suasana kembali tenang setelah Nanta diberi salep dan di kompres oleh Gio meski terjadi percekcokan kecil diantara mereka. Nanta tertidur setelah bertarung hebat dengan ketiga preman itu sedangkan Gio sedang panik bagaimana cara memberi tau Adi soal ini


Brak!!!


Pintu bengkel Gio terbuka secara paksa oleh seseorang dan dapat di tebak, itu Adi. Ketakutan Gio menjadi nyata. Diberi tau atau tidak Adi pasti tau! dia memiliki banyak mantan informan di sekitarnya.


“MANA NANTA?” wajah itu terlihat jelas. Panik, marah dan takut. Wajah yang selama ini Adi sembunyikan dihadapan banyak orang


“dia tidur, lo santai dul---”


Adi langsung lewat begitu saja tanpa mendengarkan ucapan Gio. Gio yang sudah hafal mengiyakan saja tindakannya. Ia bosan.


“NANTA! KAMU TAU GAK APA YANG KAMU LAKUIN?”


[Selamat hari raya idul adha❣minal aidzin walfaidzin mohon maaf lahir dan batin. - Leaniz👩🏻‍💻 ]

__ADS_1


...@yupi_yipiiie/@yupipoem...


__ADS_2