Kie Light 1: Sandekala

Kie Light 1: Sandekala
Terusik Dalam Ketakutan 1


__ADS_3

Aku tidak tahu berada di mana sekarang. Seingatku, setelah pulang sekolah aku langsung tidur.


Jika ini mimpi, kenapa lenganku sakit saat aku cubit?


Kedua lenganku dipenuhi cairan hitam. Aku tidak tahu apa itu tapi baunya amis seperti darah.


Mataku mengedar ke sekeliling. Mengerjapkannya beberapa kali hingga pandanganku yang awalnya kabur mulai tampak lebih jelas.


Aku mendapati diriku tengah berdiri di atas bongkahan batu di tengah-tengah hutan belantara yang tidak kuketahui. Pepohonan membentang luas sejauh mata memandang. Tampak acak, berbagai jenis pohon menyesaki setiap celah daratan yang tampak landai ini.


Banyak abu hitam bertebaran di mana-mana. Menutupi setiap dedaunan pepohonan dan membuatnya hitam kelam.


Suara langkah kaki terdengar mendekat. Saat aku mulai mencari asal suara tersebut, sepasang lengan menyeruak di antara pinggang dan lenganku, kemudian memeluk tubuhku dari belakang dibarengi dengan suara sesenggukan yang tak bisa dia tahan.


Aku melepas kedua lengannya yang tengah melingkar di perutku. Menoleh ke belakang untuk meneliti wajahnya dengan saksama. Rambutnya merah sebahu dan tampak acak-acakan. Sama halnya dengan tubuhnya yang kotor—bau amis darah bercampur keringat, lumpur, logam berkarat, dan parfum wanita menguar dari luka-luka di sekujur tubuhnya.


Aku mencoba mendongakkan kepalanya yang sedari tadi menunduk. Wajahnya bersimbah air mata dan bercak darah.


Wajahnya tak bisa aku pandangi dengan jelas.


Tampak samar.


Blur.


Tapi kuyakin bahwa dia adalah seorang gadis.


Mataku memperhatikan detail gadis itu berkali-kali dari ujung kepala hingga ujung kaki. Tak ada yang bisa kuingat lebih jauh.


Aku tidak bisa memandangi wajahnya dengan jelas lebih dari ini. Yang dapat kurekam dalam kepalaku hanya sosok gadis berambut merah dengan pakaian yang terlalu rumit untuk diingat.


Aku belum pernah sekalipun bertemu dengan gadis itu, tapi, sepertinya dia mengenal baik diriku.


Kedua telapak tangannya yang kasar, meremas kedua tanganku dengan erat.


Dia menggelengkan kepala berkali-kali.


"Danny ... jangan Danny! Aku mohon! Aku mohon jangan tinggalkan aku!" bisiknya parau.


Dengan gemetar dia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat hingga setetes darah mengalir di sudut bibirnya.


Siapa dia?


Aku tidak mengerti apa yang sedang dia bicarakan.


Kenapa dia tahu namaku?


Tubuhnya gemetaran hebat dan rasa takutnya tak bisa dia redam sama sekali. Mengalahkan hawa dingin yang merasuk tiba-tiba dan rasa sakit yang menggerogoti sekujur badannya.


Aku ingin bicara padanya tetapi entah kenapa mulut ini tak mau terbuka seakan terkunci oleh waktu.


Tanpa kusadari, sesosok lengan lain telah melingkar di perutku seperti ular.


Kupandangi lekat-lekat.


Lengan itu hitam legam.


Jari-jarinya kurus kering nyaris seperti tulang yang terlapisi sehelai kulit.


Kedua lengannya terbungkus kain hitam compang-camping.

__ADS_1


Makhluk aneh entah apa yang berada di belakangku memeluk erat tubuhku. Sedikit sesak tapi entah kenapa pula aku sama sekali tidak berusaha melepaskannya.


Tubuhku, mendadak terangkat dari gundukan batu yang kupijak. Melayang di udara dan perlahan, aku dibawa melayang mundur olehnya.


"Tidak! Tidak! Danny, jangan! Apa yang kau lakukan?!" racau gadis itu.


Histeris.


Berusaha mencengkeram kembali tanganku yang terlepas darinya.


Aku bergeming.


Hanya menerima dengan pasrah apa yang terjadi.


Makhluk ini, membuatku semakin dan semakin jauh dari gadis yang tak hentinya meneriakkan namaku.


Bisa kurasakan hangat tubuh makhluk ini membuat jiwaku tenang dan damai.


Makhluk apa ini?


Apa dia manusia?


Kalau dia manusia, tidak mungkin dia dapat melayang bagai angin seperti ini.


Tapi, bila dia sosok gaib, hantu, kenapa aku tidak merasa takut sedikit pun?


Sebaliknya, aku merasa senang, merasa lega seperti telah berhasil menyelesaikan suatu masalah.


Kepalaku mendongak ke atas. Tudung hitam compang-camping yang menutupi kepalanya melambai-lambai tertiup angin senja.


Aku berusaha melihat ke dalam wajahnya yang tertutupi bayangan tudung hitamnya. Yang bisa aku lihat dari sana hanya sepasang bola mata biru menyala dengan pupil hitam pipih seperti mata kucing. Warna matanya sama persis dengan mataku sendiri—kecuali bagian pupil kucingnya.


Gadis tadi berlari mengejar kami—mengejarku dan makhluk yang membawaku. Sembari bercucuran air mata, gadis itu terus berteriak memanggil namaku.


Aku tidak tahu harus berbuat apa. Sepertinya gadis itu sangat mengkhawatirkanku. Dia terus berlari dan tak peduli dengan tubuhnya sendiri yang dipenuhi luka-luka.


Apakah dia berusaha menyelamatkanku?


Apakah makhluk yang membawaku ini begitu berbahaya?


Apakah aku orang yang teramat penting baginya?


Tetapi, bila dia adalah bagian dari hidupku kelak, kenapa aku tidak mengerti dan tidak mau meraih lengan yang diulurkannya padaku?


Semakin jauh aku dibawa melayang mundur oleh makhluk hitam ini.


Sebuah jalan setapak, yang terdapat di tengah-tengah hutan belantara kini memudar. Terganti oleh daratan rata batu yang tampak seperti lapangan. Dan dia membawaku menuju ujung dari lapangan beralas batu yang kurasa adalah puncak dari sebuah tebing curam di tengah gunung.


Gadis itu masih mengejarku.


Walau terjatuh, dia bangkit, dan bangkit lagi berusaha untuk meraihku. Sayatan-sayatan di kakinya yang sebelumnya tertutup, kini terbuka kembali dan lelehan darah membasahi lantai batu lapangan itu.


"Danny! Danny! Jangan pergi! Jangan tinggalkan aku! Masih ada cara lain. Jangan lakukan hal itu! Percayalah padaku! Danny!" pekiknya tak hentinya berurai air mata.


Aku benar-benar tidak mengerti apa yang sedang terjadi di sini.


Apa mungkin dia adalah kunci jawaban dari semua ini?


Sesaat aku terdiam dalam suatu kebimbangan yang teramat sangat.

__ADS_1


Apakah semua kejadian-kejadian yang menurutku tidak masuk akal ini mengisyaratkan sesuatu?


Di saat puncak kebingungan telah berada di ubun-ubun, aku tidak bisa berpikir jernih tentang segala hal.


Aku coba ulurkan tanganku pada gadis itu. Berharap dia dapat memberikan jawaban atas semua yang terjadi di sini. Tapi, di saat dia hampir berhasil meraih jemariku, dia terjatuh. Terjatuh dari ujung tebing ke dasar jurang yang teramat dalam. Jeritannya terdengar melengking memekakan telinga dan kemudian tergantikan oleh suara wanita dewasa yang tak asing di telingaku.


"Danny! Danny! Bangun!" sahut Ibu membangunkanku dari dunia mimpiku yang aneh. "Sudah siang. Cepat mandi! Nanti kau terlambat sekolah, lagi!" perintahnya sambil membuka gorden jendela kamarku yang masih tampak gelap.


"Iya, Bu. Sebentar lagi," balasku enggan seraya menguap memejamkan mataku kembali dan menarik selimut di ujung kaki.


"Ayo, cepat bangun! Tidak biasanya kau malas-malas begini. Jangan sampai kau terlambat sekolah! Cepatlah bersiap-siap, nanti Ian keburu datang!" gerutu Ibu melangkah keluar kamar.


Sembari menguap, dalam keadaan setengah linglung aku melangkah menuju kamar mandi di sisi kamar. Kucuci mukaku dan kuperhatikan wajahku dalam cermin lekat-lekat.


Aku kerap terkejut tiap kali memandang wajah sendiri. Rasanya seperti menatap wajah orang lain di cermin itu. Ayah, Ibu dan kakakku adalah warga Java Island dan keturunan asli Indo. Tetapi aku tak mengerti kenapa wajahku blasteran Jepang-Belanda, kulit seputih salju, dan mata Cat Eyes biru cerah. Padahal seluruh keluargaku memiliki mata segelap malam. Dan tubuhku ini terlalu tinggi untuk lelaki Indo 16 tahun.


Aku selalu berpikir apakah aku anak adopsi?


Tiap kali aku tanyakan hal itu pada orangtuaku, mereka selalu menyangkalnya dan mengatakan bahwa mataku ini memiliki kelainan. Penjelasan yang tak masuk akal menurutku.


Dengan rasa malas aku bergegas mandi dan memakai seragam sekolahku dengan cepat. Kemeja biru lengan pendek, dasi merah, sweater hijau lumut tanpa lengan yang terbuat dari wol, celana pendek selutut berwarna coklat dengan banyak saku di kedua sisinya serta sepasang sepatu hitam yang terbuat dari kulit mengilap yang tingginya sebetis. Itulah seragam yang diwajibkan dipakai oleh seluruh murid SMA Cerenity Albian. Salah satu sekolah terkemuka di Vanjava City.


"Danny! Cepatlah! Ian sudah datang!" panggil Ibu dari lantai bawah.


"Iya, Bu! Tunggu!"


Sebuah tas berisi buku-buku pelajaran aku selendangkan di bahuku dan segera kuturuni tangga.


"Bu, aku berangkat sekarang!"


"Sarapan dulu."


Kulirik jam dinding. "Aku sudah telat."


Buru-buru aku habiskan segelas susu di meja makan dan mengambil sepotong sandwich untuk kumakan di jalan.


Dengan tergesa, aku berlari ke pintu depan. Langsung melompat duduk di jok belakang motor sepupuku, Endycian, yang sudah menunggu sedari tadi.


"Kesiangan, eh?" tanyanya memberiku helm.


"Begitulah. Sebaiknya kita berangkat. Guruku pagi ini tidak begitu menyenangkan."


Ian menghidupkan motornya. Segera melesat dengan cepat sampai-sampai aku hampir terjungkal ke belakang jika aku tidak memeluknya dengan erat.


Ian berumur 20 tahun. Sama seperti umur kakakku sendiri. Sekarang dia bekerja shift pagi di perusahaan besar bernama KIE LIGHT CORPORATION. Sebuah perusahaan terkenal yang memproduksi barang-barang mulai dari peralatan rumah tangga, pakaian, obat-obatan hingga senjata perang. Perusahaan yang menyenangkan, katanya, karena dia hanya bekerja hingga jam satu siang dengan gaji yang lumayan besar.


Untunglah sekolahku terletak beberapa kilo meter dari tempat Ian bekerja, jadi sekalian saja aku menumpang berangkat bareng dia. Jarak antara sekolah dan rumahku memang kelewat jauh. Sekitar lima puluh kilo meter. Melewati dua kota bagian dari Vanjava City, yaitu Den Lag, distrik di mana rumahku berada dan Albian, distrik SMA Cerenity Albian itu berada.


Java Island memang unik, terdapat kumpulan distrik dalam sebuah kota. Seperti negara serikat, hanya saja dalam skala yang lebih kecil.


Aku memang lebih akrab dengan Ian ketimbang Ronny—kakakku sendiri. Sekarang Ronny bekerja di perusahaan otomotif di Vereyon, bagian lain dari Vanjava City. Jadi aku tak bisa diantarkan olehnya karena arah kami berbeda. Lagi pula dia jarang pulang ke rumah. Apalagi besok Ronny hendak melamar pacarnya. Aku tidak akan mungkin bisa meminta bantuan remeh-temeh seperti mengantarku sekolah padanya seperti dulu.


Di perjalanan, aku berpapasan dengan adiknya Ian, Siman Chachyan. Umurnya lebih muda satu tahun dariku, tapi dia bisa mengendarai sepeda motor sebesar milik kakaknya sendiri.


"Man, mau berangkat?" tanya Ian.


"Iya," jawabnya. "Aku duluan, ya," sahutnya meninggalkan kami.


Sepupuku itu memang tidak bersekolah di SMA CA bersamaku. Katanya terlalu jauh dan menurutnya sekolahku terlalu ketat penjagaannya mirip penjara.

__ADS_1


Siman sekolah di SMA 37 Prakhala Vanjava. Dengan rambut acak-acakan dan celana SMA bergaya pensil yang lagi model musim ini, dia tetap berangkat sekolah tanpa rasa takut meski kutahu sudah beberapa kali digunting penjaga sekolah.


Siman memang selalu bicara sopan pada orang yang lebih tua darinya, tetapi di luar itu, dia sedikit nakal. Dia selalu kebut-kebutan di jalanan dan terkadang balapan motor dengan teman-temannya. Tidak seperti kakaknya yang sangat berwibawa dan bijaksana.


__ADS_2