
Akhirnya, setelah lebih dari satu jam perjalanan aku tiba di sekolah.
"Kak, aku masuk dulu," kataku.
"Danny, hari ini aku tidak bisa menjemputmu pulang. Aku ada lembur. Kau bisa pulang sendiri?"
"Tentu."
"Ya sudah, kau masuk sana! Nanti dimarahi gurumu! Aku pergi, ya!" sahutnya.
Aku hanya mengangguk.
Dia meluncur pergi.
Jam tanganku menunjukkan pukul 07.16. Aku sudah terlambat 16 menit. Segera aku masuk ke dalam gerbang yang hendak dikunci penjaga sekolah. Berlari menuju kelasku sebelum pelajaran dimulai.
"Eni Karta!"
"Hadir, Bu!"
"Fluorescene Tungsten!"
"Ya. Saya hadir, Bu!"
Bu Reini sedang mengabsen para siswa. Aku pasti akan dimarahi karena keterlambatanku ini. Bu Reini adalah guru Matematika yang paling disiplin dan galak sesekolahan. Minggu kemarin saja teman kelasku Gyshell dijemur di lapang upacara karena hanya terlambat 10 menit.
"Permisi, Bu. Maaf saya terlambat," kataku halus.
Perasaan malu menghinggapiku. Seumur-umur baru kali ini aku terlambat. Ini gara-gara aku mimpi aneh itu.
"Oh! Danny, silakan masuk!" pinta Bu Reini.
Suaranya selembut sutra. Itu awalnya, sebentar lagi harimaunya pasti akan keluar dari kandang.
Dengan perasaan waswas aku melangkah menuju sang antagonis itu. Langsung menunduk di hadapan wajah yang tengah siap menerkamku bulat-bulat.
Beberapa detik guru itu tak berucap barang sepatah kata pun padaku. Walaupun aku tidak melihatnya, aku tahu kalau saat ini matanya sedang menatap tajam ke arahku.
Kelas mendadak sehening kuburan.
"Jelaskan alasannya!" perintahnya akhirnya berkata.
Nada bicaranya masih terdengar halus tapi dengan senyum yang tampak mengancam.
"Aku ... maksudku, eh maksud saya ... kesiangan ... bangun, Bu," kataku dengan nada bicara sepelan mungkin.
Malu bercampur takut membuatku salah tingkah. Alasan klasik itu pasti akan ditolak mentah-mentah olehnya.
Seluruh mata menatapku gamang.
Kembali hening.
Bu Reini mendekati mejanya lalu duduk di kursinya dengan kaku. Ini adalah bagian yang mengkhawatirkan. Lebih baik aku ditampar dan dimakinya habis-habisan ketimbang didiamkan. Bila sudah begini aku pasti tidak akan dianggap sebagai muridnya lagi.
"Danny ...," katanya. "Kau tahu, 'kan Ibu adalah orang yang menjunjung tinggi kedisiplinan. Ibu tidak suka bila ada murid yang terlambat masuk di pelajaran Ibu!" imbuhnya. Nadanya sedikit tinggi, ditekankan dengan sengaja.
"Iya, Bu. Maafkan saya ...."
"Biasanya Ibu tidak memberikan toleransi pada siapa pun karena keterlambatan ini. Tapi untukmu, karena selama ini kau mengikuti pelajaran Ibu dengan baik, dan karena kau adalah murid terpintar di sini. Kali ini Ibu tidak akan menghukummu."
Rasa cemas itu menguap seketika. Detak jantung yang sedari tadi memburu berangsur surut.
"Terima kasih, Bu."
"Tapi ingat, Danny! Lain kali jika kau terlambat lagi, jangan masuk pelajaran Ibu!" katanya. "Oh ya, sebelum kau duduk, tolong absen teman-temanmu sebagian lagi!"
"Baik, Bu."
Aku mengambil daftar absen itu dari mejanya. Mulai menyebutkan nama anak-anak dalam daftar.
"Gyshell Gylenhill ... Johanes Brown ... Nori Nora ...."
Saat aku sedang mengabsen mereka, aku rasa aku melihat sesuatu di belakang kelas. Tampak seperti sesosok bayangan hitam di dinding. Awalnya aku berpikir mungkin itu bayangan salah satu dari mereka. Tapi lama kelamaan bayangan itu terlihat ganjil. Seperti sebuah objek transparan. Kalaupun itu bayangan yang disebabkan oleh lampu neon yang menempel di langit-langit kelas, tidak akan mungkin bayangan tersebut tampak senyata ini di mataku. Aku coba untuk tidak menghiraukannya.
Setelah selesai mengabsen, aku langsung duduk di bangkuku. Sekilas aku melirik kembali ke sosok bayangan tadi. Bayangan itu telah lenyap.
Selama tiga jam, kami belajar Matematika yang menjemukan sampai akhirnya waktu istirahat tiba.
"Danny, kita ke kantin, yuk!" ajak Nora.
"Tentu. Ayo Flo!" ajakku pada Fluorescene yang sering aku panggil Flo karena namanya yang aneh itu terlalu panjang untuk disebutkan.
__ADS_1
Nora dan Flo adalah sahabat pertamaku saat aku menginjak kelas X di sekolah ini. Ke mana pun pergi, kami pasti selalu bertiga.
SMA CA ini berstandar Internasional. Tak heran kenapa setengah siswanya yang masuk setiap tahun adalah warga asing ataupun keturunan blasteran dengan rambut dan mata yang berwarna-warni. Karenanya, di sini aku jadi merasa bukan orang aneh karena memiliki mata biru sebagai orang keturunan Indo asli. Semua pikir aku adalah imigran dari negeri antah berantah.
"Dane, kau ingin apa? Biar aku pesankan!" tanya Nora.
"Es teh saja."
"Kalau kau, Flo?" tanyanya.
"Terserah kau saja."
"Oke, tunggu di sini sebentar."
Gadis tomboi itu menuju ke kerumunan orang-orang kelaparan. Mengantre untuk mengambil makanan pesanannya. Sementara kami duduk di kursi sudut dekat pohon mangga.
Sekali lagi, aku melihatnya.
Bayangan itu.
Kali ini tampak seperti kain hitam yang melayang.
Sosok itu mengintip dari balik kaca ruang kelas di depanku. Aku perhatikan baik-baik bayangan tersebut. Berharap itu halusinasiku saja. Aku gosok kedua mataku tapi bayangan itu tidak kunjung hilang. Tetap berdiri di sana seperti seonggok patung atau mungkin pakaian menggantung.
"Apa kau melihatnya?" tanyaku pada Flo dengan mata tertuju pada bayangan itu.
"Melihat apa?" tanyanya menengok ke wajahku.
Aku menoleh pada lelaki berkacamata di sampingku ini.
"Bayangan itu!" tunjukku pada jendela kelas.
Bayangan itu telah hilang bak ditelan udara.
"Aku tidak melihat apa-apa. Memangnya apa yang kau lihat?"
"Hei, kawan-kawan! Ini dia!" sergah Nora.
"Ya. Terima kasih, Nor."
"Hei, Lihatlah tiga serangkai itu! Sedang minum-minum di bawah pohon mangga. Romantisnya!" ledek Shen pada semua orang.
"Sialan dia!" gumam Nora kesal.
"Biarkan saja, Nor. Jangan diladeni. Itu hanya akan membuat dirinya semakin di atas angin. Lebih baik kita pergi dari sini!" saran Flo.
Kami hendak beranjak tapi orang berwajah blasteran Indo-Amerika berambut pirang itu menahanku. Menggenggam erat pergelangan tanganku begitu kuat. Tinggi badan kami sepantar.
Dia membisikkan sesuatu di telingaku.
"Sangat memalukan, seorang Danny Rhamdan, yang paling dibanggakan semua guru harus bergaul dengan orang-orang seperti mereka. Harusnya kau bergaul dengan rasmu sendiri."
"Dengar Alvaconi, setidaknya aku tidak lebih memalukan dari orang yang merasa dirinya sok ganteng dan ingin mendapat perhatian lebih dari semua orang dengan mempermalukan orang lain," balasku berbisik sinis.
Aku menarik lenganku hingga lepas dari cengkeramannya.
Meninggalkannya.
Kembali pada Nora dan Flo yang menunggu.
"Apa yang kau katakan padanya?" tanya Nora.
Aku diam. Hanya tersenyum puas sembari menoleh ke wajah Shen yang tampak kesal.
Bel berbunyi, kami semua bergegas memasuki kelas.
"Anak-anak buka halaman 37!" sahut Pak Randie, guru sastra kami. "Danny, tolong bacakan di depan!" pintanya.
Dengan terpaksa, mau tak mau aku harus membaca buku pelajaran yang sedikit membosankan itu.
"A. Pengertian Cerpen. Cerpen ialah kisahan pendek kurang dari sepuluh ribu kata yang memberikan kesan tunggal yang dominan dan memusatkan diri pada satu tokoh dalam satu situasi ..."
Sewaktu aku sedang membaca buku paket Indo itu, bayangan menutupi buku tersebut. Lampu yang berada di atas kepalaku terhalangi sesuatu sehingga aku tak bisa dengan jelas membacanya.
Sewaktu kulihat ke atas, lagi-lagi bayangan hitam itu muncul. Kali ini semakin tampak nyata dan tidak transparan. Wujudnya seperti manusia yang terbungkus pakaian hitam compang-camping. Kepalanya tertutupi tudung hitam sehingga aku tak dapat dengan jelas melihat makhluk itu. Tapi tatapan dari mata biru itu, membuatku mendadak lemas.
"Danny ...," bisik suara entah dari mana.
Seperti angin yang berembus dekat telinga.
Kuyakin suara itu berasal dari sana. Karena terkejut, dengan sontak aku ambruk di lantai. Langsung aku pejamkan mata dan kututupi dengan telapak tanganku.
__ADS_1
Aku tidak peduli mereka menertawakanku. Aku sangat takut—rasa takutnya begitu aneh. Begitu ganas seperti ada sosok pembunuh yang berdiri tepat di sampingku.
Aku menatap ke atas. Makhluk itu masih bertengger di situ seperti kain jemuran yang diikat pada batang lampu neon itu.
Apa mereka tidak bisa melihatnya?
"Danny, kau kenapa?" tanya Pak Randie.
Aku mengerjapkan mata berkali-kali. Sosok itu menghilang lagi. Ini seperti permainan petak umpet. Dia muncul ketika aku tidak sedang mencarinya. Tapi, di saat aku ingin dia memunculkan dirinya agar aku bisa menunjukkan pada mereka apa yang aku lihat, dia malah sembunyi. Menunggu sampai aku tidak mengacuhkannya lagi.
"Ti-tidak, Pak. Saya tidak apa-apa," jawabku gagap seraya bangkit berdiri. Tanpa kusadari mataku memerah. "Permisi, Pak, saya ijin ke toilet," pintaku langsung keluar kelas berniat membasuh wajah.
Selangkah dari pintu kelas aku teringat sesuatu. Kuurungkan niat dan kembali masuk kelas.
"Maaf, Pak, saya tidak jadi."
Aku langsung duduk di bangkuku. Begitu takut jika aku sendiri di toilet, makhluk itu menampakkan dirinya lagi.
Aku tidak peduli mereka semua memandangku aneh. Aku langsung menyembunyikan wajahku yang kemerahan ke dalam kedua telapak tanganku hingga pelajaran berakhir.
"Dane, sebenarnya apa yang terjadi padamu tadi?" tanya Nora heran.
"Hei, Rhamdan! Memalukan. Kau menangis seperti bayi!" sosor Shen dari belakang melintas ke hadapanku. Menyenggol bahuku dengan kasar.
Aku memandangnya tajam tapi tak sudi menggubris perkataannya.
"Nora ..., " kataku pelan.
"Ya?" tatapan matanya penasaran. Menunggu aku mengatakan sesuatu.
"Aku tidak apa-apa. Aku baik-baik saja. Jangan khawatirkan aku," kataku berbohong.
Aku tidak mau menceritakan hal itu pada mereka dulu. Aku kira mungkin semua ini hanya halusinasi. Imajinasiku saja. Tapi, bila sekali lagi aku melihat sosok hitam itu, maka ... itu berarti sesuatu.
"Kau yakin?"
"Tentu saja."
"Dane, hari ini sepupumu tidak menjemput?" tanya Nora.
"Tidak. Dia kerja lembur sampai malam."
Kami bertiga masih menunggu bus muncul ketika semua anak-anak lain telah pulang mengendarai mobil pribadi ataupun dijemput oleh sopir pribadi orangtua mereka.
Tak lama kemudian sebuah bus abu-abu perak muncul. Kami bergegas naik ke dalamnya sebelum didahului anak-anak lain. Dengan naik bus, butuh waktu ekstra lama untuk mencapai rumah.
"Dane, kami duluan, ya!" kata Flo.
"Jangan berpikiran macam-macam. Itu hanya akan membuat hatimu tidak tenang," timpal Nora melihatku yang sedari tadi tampak melamun memikirkan sesuatu. Lalu mereka berdua pun turun dari bus.
Hari ini cuaca sangat panas. Mungkin karena memang ini adalah musim panas. Bus yang aku tumpangi semakin lama semakin sesak oleh penumpang. Terpaksa aku harus berbagi oksigen yang harusnya untuk satu orang tapi dihirup oleh lima orang sekaligus. Ditambah dengan celotehan anak-anak lain di sepanjang perjalanan yang membuat kepalaku pening tak keruan.
Rumahku sekitar tiga kilo meter lagi. Kakiku tak kuat lagi menopang tubuhku yang sedari tadi terus berdiri. Rasanya hari ini aku begitu lemah. Hanya lenganku yang aku andalkan untuk menggantungkan tubuhku pada sebatang pipa besi yang melintang di tengah bus.
"Dimohon untuk bersiap-siap bagi penumpang yang ingin turun di Jalan Prakhala!" sahut sopir bus.
Akhirnya aku turun dari bus. Jarak antara rumah dengan halte bus ini pun masih jauh. Ratusan meter harus aku tempuh dengan kakiku yang mulai kaku.
Langit begitu merah oleh lembayung senja. Suasana perumahan di daerah rumahku begitu mati. Rumah-rumah megah di pinggiran jalanan utama tampak seperti kota mati.
Hening.
Dan itu membuatku tak nyaman.
Setiap kaki yang aku langkahkan seperti ada yang mengikuti.
Setiap mata yang aku pandangkan seperti ada yang menatapku balik.
Hidupku mulai terusik.
Aku masih percaya bahwa itu halusinasiku karena sepanjang perjalanan pulang, aku tidak lagi melihatnya.
Setiap sudut yang tersembunyi aku pandangi lekat-lekat.
Setiap pojok yang misterius aku dekati tanpa ragu.
Tetap, aku tidak melihatnya.
Tapi ...
Aku merasa dia berada dekat denganku walau hanya sebatas perasaan.
__ADS_1